Friday, 2 March 2012

Seni Jurnalisme


Seni Jurnalisme

Oleh UBAY KPI

Kembali saya membuka buku usang berjudul Jurnalisme Dasar karya Luwi Ishwara. Buku itu “usang” karena buku tersebut di bagian akhirnya banyak jamur yang disebabkan oleh tumpahan kopi. So pasti, takkan seindah sebelum tumpahan kopi itu. Apalagi seperti baru, nda’ banget.
Mau tahu siapa yang membuat “usang” buku, tersebut. Ialah adik kelas di kampus saya saat meminjam buku itu untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Jurnalistik. Filga Ayong Sari, ya itu orangnya. Meskipun usang dengan jamur yang semakin menyebar, setumpuk ilmu tetap ada di dalamnya, setumpuk pengetahuan bisa kita dapat bila membacanya.
Sebelum saya menulis tentang ilmu jurnalistik, sedikit saya menceritakan mengenai tumpahan kopi.  Filga pada mulanya ingin mengganti buku tersebut, bahkan ia telah membelinya yang baru di toko buku Gramedia Pontianak. Namun saya menolaknya, bukan karena tak ingin merepotkan, dan bukan sok punya. Ada satu alasan yang sangat mahal bila dibanding dengan buku baru tersebut. Ialah coretan-coretan penjelasan mengenai suatu kata atau kalimat yang tak mudah dimengerti di buku itu. Hanya itu saja alasan saya.
Terus, Filga tetap dalam kondisi terpaksa membeli buku yang sama. Andai tidak menumpahkan kopi ke buku milik saya, mungkin Filga tidak akan membeli buku baru. “Abang ambil yang lusuh, ade’ ambil yang baru,” begitulah kira-kira ungkapan saya saat Filga mengembalikan buku.
Saat itu, saya juga pikiran motifasi. Saya mengandaikan seorang cewek atau cowok. Bila ada cewek yang cantik, atau cowok yang cakep, tentu kita betah melihatnya dan bisa saja tertarik mengetahui lebih jauh pada orang tersebut. Pikiran saya mengarah kesitu. Harapan saya, dengan buku yang masih bagus dan bersih, Filga semakin enak dan betah membacanya. Semakin sering membuka buku itu. Alhasil, semakin banyak pengetahuan yang didapat.
Wah, panjang ceritanya neh. Langsung saja ke topic yang akan saya tulis pagi ini. Eh, dimana dan kapan ya saat ini. Saat ini saya berada di rumah, sambil jaga bapak yang lagi sakit. Hari Sabtu, 3 Februari 2012. Pukul 03.18.
Kali ini saya membaca kembali tulisan Luwi Ishwara yang menulis tentang seni dan profesi. Jurnalisme bukan hanya mengandalkan profesi atau pengetahuan semata. Tulisan yang diawali dengan jurnalisme itu bukan mesin menegaskan, bahwa jurnalisme itu adalah sebuah seni plus profesi yang didukung dengan tanggung jawab profesionalisme. Paham tidak?
Maksudnya, jurnalisme bukanlah orang yang hanya pandai menulis. Seorang jurnalis tidak cukup hanya pandai menulis. Jurnalisme menuntut berbagai kompenen, termasuk memiliki seni. Kalau hanya pandai menulis, mungkin orang hanya akan menulis apa yang orang sampaikan. Tapi tidak melihat sisi lainnya. seperti melihat kondisi suatu kejadian. Melihat dengan mata yang segar setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik atau pendukung untuk sebuah berita. Itu merupakan satu bagian yang dimaksud seni.
Memfokuskan pandangan ke setiap sudut peristiwa, atau memandang fokus pada kejadian tersebut. Sehingga, data-data wawancara mengenai peristiwa bisa dikombinasikan dengan sudut pandang yang kita lihat.
Seperti perkataan Dave Barry seorang kolumnis yang dikutip Luwi Ishwara bahwa jurnalisme bukanlah tentang menulis saja, namun belajar tentang apa sesungguhnya mencari itu dan apa sebenarnya bertanya mengenai hal-hal pelik dengan kegigihan.
Di situlah kita dituntut untuk memiliki jiwa seni. Setiap seseorang akan memiliki sudut pandang yang berbeda, meskipun dalam suatu peristiwa. Contohnya yang pernah saya alami, ketika melakukan liputan wafatnya imam masjid Mujahidin tahun 2011 lalu. Saya mengangkat dari sisi sejarah dan pengabdian semasa menjadi imam besar. Tapi berbeda dengan rekan saya di media lain, ia lebih menonjolkan pada sisi organisasinya. Yang kebetulan, imam masjid tersebut merupakan kader Muhammadiyah.
Nah, itu sudah berbeda sudut pandang. Ditambah lagi dengan reportase di lapangan yang pasti akan lebih beda. Setuju kan kalau itu disebut seni?
Contoh lain, ketika ada peristiwa kebakaran, bisa jadi kita akan lebih fokus pada berapa korban, berapa kerugian, berapa ruko, atau berapa pemadam kebakaran yang membantu memadamkan. Itu akan menjadi sudut pandang utama pada berita yang akan tulis. Ditambah lagi kondisi saat terjadinya kebakaran. Ketakutan dan raut muka masam korban. Disitu kita kita dituntut punya insting seni tinggi. Sebab, itu akan menjadi warna dalam tulisan kita. Berita akan semakin hidup dengan banyak ornament pendukung.
Contoh lagi, dalam suatu peristiwa kebakaran  bisa jadi fokus pandangan kita tertuju pada sumber air pemadam kebakaran. Sehingga personil pemadam susah memadamkan api karena tidak adanya sumber air yang memadai.
Jadi, begitulah yang dimaksud dengan jurnalisme yang tidak hanya sekedar pandai menulis, namun harus punya seni.
Wallahu a’lam. Mator Sekelangkong.
Di rumah, 3 Februari 2012, 03.46

No comments:

Post a Comment