Sunday, 16 February 2014

12 Februari, Cuti Melahirkan



Nyenyaknya Si Dedek Tidur

12 Februari, Cuti Melahirkan

Oleh Ubay KPI

Semenjak usia kandungan masih usia 8 bulan, istri telah memberitahu kepada bos tempat ia bekerja. Di usia kandungan Sembilan bulan, ia akan mengambil cuti untuk persiapan melahirkan. Hasil USG yang dilakukan di Rumah Bersalin Jeumpa, diperkirakan istri saya akan melahirkan pada tanggal 22 Februari.
Sebagaimana disampaikan sejak kandungan 8 bulan, istri saya akan memilih cuti sementara waktu di bulan dua. Tepatnya tanggal 12 Februari. Pilihan itu untuk lebih mempersiapkan persalinan. Meskipun, dr. Ester Selawa, pemilik Klinik tempat istri bekerja memintanya untuk menambah tiga hari, namun istri tetap berikukuh, mengambil cuti di tanggal 12 Februari bertepatan dengan hari Rabu.
Kamisnya, 13 Februari. istri tidak masuk kerja meski telah diminta untuk masuk kerja. Ia memilih berada dirumah untuk istirahat.
Kami berpikir, waktu sekitar 9 hari sesuai prediksi dari dokter cukup untuk istirahat. Namun tidak disangka, ternyata persalinan oleh Allah dipercepat pada tanggal 13 Februari, atau satu setelah terakhir kerja.
Amat tidak diduga akan melahirkan lebih cepat, bukan masalah financial yang menjadi persoalan. Namun lebih kepada cepatnya Allah memberikan saya kepercayaan. Dan yang menjadi amat mengherankan, Allah memberikan kemudahan dalam persalinan. Tanda-tanda untuk melahirkan sama sekali tidak dirasakan oleh istri. Bukan hanya sehari sebelum melahirkan, namun  Kamis pagi. Ia hanya merasakan sakit perut yang ia kira hanya sakit biasa.
Sakit perut ia rasakan semenjak pagi menjelang siang. Saat itu ia tengah beres-beres buku milik saya yang dipindah dari kamar kerja, karena kamar itu akan digunakan keponakan saya bersama istrinya.
Lebarnya Si Dedek Nguap. Padahal Malam Pertama Sampai Ketiga Dedek Jarang Tidok Malam

Ia merapikan semua buku-buku, computer, dan lainnya sampai rapi. Tanpa saya ketahui juga, ia mengangkat meja kaca yang agak berat. Sampai monitor computer ia telah pindahkan semua yang sebelumnya berada di ruang tamu. Buku-buku semua telah tertata rapi di rak sederhana di samping kamar menuju arah dapur.
Itu semua ia lakukan sejak jam tiga dini hari. Saat adzan Subuh tiba, saya lihat buku-buku hamper semua tersusun rapi, hanya tersisa sedikit saja. Ia masih menyempatkan salat berjamaah bersama saya. Selepas salat, saya memilih tidur karena semalaman belum ada tidur. Sedangkan ia melanjutkan berkemas yang menyisakan computer dan tas-tas yang belum dikemas.
Saya berpikir, apa istri saya tidak capek. Padahal pada malam Rabu malam selepas kerja, ia masih mengajak saya ke Mega Mall untuk membeli J-Co untuk ibu di kampong. Kemudian ba’da Isya’, saya bersama dia ke kampong mengantarkan J-CO tersebut ke ibu, sekaligus ke rumah Kak Sum yang sedang melakukan persiapan untuk acara satu tahunnya Alm. Ismail. Malam itu, saya sampai di rumah sekitar jam 10 malam.
Sesampainya di rumah, istri langsung tidur, sedang saya masih membuka konter pulsa sampai subuh. Saya tidak tahu, jam berapa pekerjaan itu ia selesaikan. Saya dibangunkan oleh istri sekitar jam 11.30. memberitahukan kalau ia sakit perut. Sontak saya bangun menanyakan keadaannya. Sempat saya menanyakan apakah ia sudah sarapan. Ternyata belum makan sama sekali sejak pagi. Pikir saya ia sakit perut karena tidak sarapan, saya merasakan kaget, dan mencoba terus tenang. Saya coba mengelus perutnya meski muka masih belum dicuci. Bahkan, masih sempat mengangkat telepon dari kawan.
Saya melihat istri masih meringis menahan sakit di bagian perutnya. Saya terus membawa pikiran ini tenang. Sempat saya akan membelikan ia makanan siang itu. Namun tak lama berselang, dalam keadaan masih di tempat tidur, istri menjerit dan memberitahu saya ada sesuatu yang keluar. Saya lihat ternyata  darah keluar dari kemaluannya. Istri saya langsung menangis, mungkin tak tahan dengan rasa sakit. Saya terus bersikap tenang memberitahu kepada mertua kondisi saat itu.
Tak lama berselang, Abah datang dan langsung menghidupkan mobil di garasi rumah. Istri saya turunkan dari tempat tidur, dan seseorang menyusul Ummi yang berada tak jauh dari rumah. jam 12-an lansung tancap gas ke RS Bhayangkara di Jalan KS Tubun.
Ada 3 orang selain Abah dan Ummi, Bibi’ Tum, Umi, dan Bibi’ Sa’idah yang menemani istri dalam mobil. Saya memilih pakai motor sendiri, dan berangkat lebih akhir. Jiwa saya tetap tenang saat itu, meski kondisi istri dalam keadaan akan mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan si buah hati. Saya berganti pakaian, dan mempersiapkan segala kemungkinan administrasi yang akan dibutuhkan. KTP, Kartu Keluarga, kartu BPJS, kartu USG, sampai buku pink dari Puskesmas tempat istri biasa periksa kehamilan.
Setelah semuanya dirasa lengkap, saya berangkat menyusul istri yang lebih dulu ke rumah sakit. Betul saja, di sana istri masih belum ditangani oleh medis. IGD RS Bhayangkara masih menanyakan surat rujukan dari Puskesmas. Surat itu ditanyakan lantaran prosedur BPJS memang harus melewati tempat kesehatan terdekat. Tanpa surat rujukan, biasanya pasien tidak langsung ditangani.
Dengan alasan yang sangat meyakinkan, saya sampaikan kepada pihak rumah sakit dan petugas BPJS di rumah sakit tersebut bahwa istri sudah emergency, karena telah mengeluarkan darah semenjak dari rumah. alasan tersebut kemudian diterima pihak rumah sakit, dan istri segera dibawa ke ruang persalinan.
Di Teras Rumah Menjaga Counter Pulsa
Senin, 17 Februari 2014. Pukul 2.20

No comments:

Post a Comment