Monday, 17 March 2014

DELL, Bukan Laptop Murahan

DELL, Bukan Laptop Murahan

Oleh Ubay KPI

Bicara soal tekhnologi, khususnya sejenis laptop atau notebook. Mungkin akan banyak beda pandangan.
Terutama bagi pemakai komputer yang notabeni banyak ragam merk.
Catatan saya kali ini akan meluapkan soal pengalaman saya menggunakan komputer. Semenjak laptop atau notebook laris menjadi perbincangan bahkan trend di kalangan mahasiswa. Saya tidak terlalu menghiraukan merk dan jenis digital tersebut. Namun, sejak alat tersebut menjadi kebutuhan saya dalam melaksanakan tugas sehari-hari, saya mulai memikirkan semestinya saya punya laptop, setidaknya notebook.

Mulailah saya berpikir, berpikir bukan soal merk dan jenis, melainkan bagaimana caranya saya punya notebook dalam kondisi keuangan yang sangat memprihatinkan.
Awal 2010, dimana saya baru bergabung dengan Borneo Tribune dan dengan gaji layaknya kontributor berita. Alat tulis tersebut menjadi kebutuhan sehari-hari guna menulis berita, terutama saat waktu santai usai liputan di lapangan, bisa langsung menulis hasil liputan tanpa harus menyelesaikan di kantor. Namun tuntutan tersebut tak dibarengi dengan financial yang mencuukupi.
Saya terus mencari cara, pertama mengajukan kredit ke salah satu finan. Namun ditolak. Kedua, saya mengajkan kredit notebook ke kantor. Sukur, pengajuan tersebut diterima, dengan perjanjian cicilan dilakukan dengan pemotongan gaji setiap bulan. Saya sepakati perjanjian tersebut tanpa tahu notebook merk apa yang akan diberikan kepada saya. Sebuah kesepakatan buta sebab tidak tahu jenis barang tersebut. Saking ingin sekali memiliki barang tersebut. Pandangan saya, mungkin merk Acer atau Axio yang biasa dipakai oleh kawan-kawan saya di kampus.
Tapi ternyata dugaan itu salah. Ternyata notebook yang diberikan kepada saya adalah jenis Dell. Merk notebook yang sangat asing bahkan saya sama sekali tidak tahu. Tanda tanya besar sekali dalam benak saya, notebook jenis apa yang pegang? bagaimana dengan kualitasnya? pertanyaan itu muncul lantaran yang saya tahu hanya jenis Axio dan Acer yang umum digunakan oleh teman-teman saya.
Pertama kali saya membawanya ke kampus, saya cukup minder ketika notebook itu diketahui teman-teman kelas, lantaran tidak sama dengan yang lain. Selain merk-nya sangat asing bahkan kawan di kampus yang ada yang menggunakan merk tersebut, bentuk baterai yang bulat dan menonjol ke bawah di bagian depan, sehingga ketika dibuka di bagian depan posisi notebook akan terangkat tidak sejajar dengan yang di bawah keyboard, menambah saya sekamin mender. "Ini laptop bagus apa ndak ya"?
Ketidaktahuan saya tentang Dell akhirnya saya menanyakan ke teman-teman saya di luar kampus. Alhasil, pendapat teman-teman saya yang telah lama menggunakan laptop, ternyata DELL bukanlah laptop murahan dan kelas bawah. Dell merupakan komputer yang kualitas di atas merk yang kebanyakan dipakai teman-teman saya. "Itu laptop bagus wak, itu Amerika punya. Pasti puas kau makai itu," kata teman saya di warung kopi.
Pernyataan itu membuat saya memutar pikiran saya pada harga. Bila di total, harga notebook ukuran 11" tersebut ternyata hampir 4 jutaan. Setelah dipikir-pikir lumayan lebih mahal ketimbang dengan yang lain.
DELL kemudian menjadi teman baik bagi saya. Untuk menulis, blogging, browsing, sampai main game, setia menemani saya meski bentuknya mungil dan bentuknya terbilang kurang beken.
Satu tahun berlalu, notebook warna putih dengan LCD yang sudah dilapisi plastik anti gores tersebut tak menunjukkan sedikit pun ada masalah. Dua tahun kemudian, sama saja. tiga tahun pemakaian, masih menunjukkan komputer yang berkualitas meski hardiscnya telah disesaki dengan banyak file. Kapasitas 300 GB lebih di dalamnya hampir penuh semua. Soal bateray, sampai 3 tahun pemakaian, masih tahan 4 jam.
Dengan kondisi tersebut, saya baru geleng-geleng kepala dengan notebook merk tersebut. Benar-benar bandel dan tahan, padahal beberapa kali barang itu pernah jatuh ke lantai, bahkan ke aspal.
Saya mulai salut dan kagum dengan notebook pertama saya itu. Betul-betul memberikan kepuasan sekaligus menjadi bagian penyokong dalam mencari uang.
Kondisi notebook saya mulai berdahak setelah memasuki tahun ke empat. Tepatnya awal tahun 2014. Saya juga tidak apa penyebabnya, tampilan wallpaper tidak penuh, bila sebuah foto dijadikan wallpaper, maka di bagian bawahnya tidak akan nampak. Atau biasa saya sebut tampilan komputer turun. Begitu juga saat membuka panel. Draff atau file paling tidak akan tampak, bahkan tanda panah di samping bagian kanan tertutup. Namun ketika di minimize-kan, semua tampilan terlihat.
Masalah kedua yang menyerang notebook idaman ini, adalah jaringan wifinya terputus. Bahkan ketika dicek pada program file, driver wifi notebook hilang. Selain dua kendala tersebut, sama sekali tidak ada masalah. Semua masih berfungsi dengan baik, bahkan bateray bila penuh saat ini masih bisa digunakan sampai 3 jam.

PPOB Weisha
Selasa, 18 Februari 2014. Pukul 00.38


No comments:

Post a Comment