Friday, 9 May 2014

"Tak Aduh"

"Tak Aduh"

Catatan Ubay KPI

Simple, hanya dua kata kawan. Cuma maknanya cukup luas.
Tak aduh, bukan ber-arti tak sakit. Tak aduh yang saya maksud ini sebuah istilah yang kerap terlontar dari rekan-rekan wartawan. Sandi ini berkaitan dengan rupiah. Kadang ada sebagian wartawan di daerah tempat saya bekerja, mengkonfirmasi ulang bila ada informasi liputan. Tak ada lain yang dikonfirmasi. Selain “aduh”.
Lebih jelasnya, liputan tersebut berpotensi membawa amplop berisi tidak. Itulah yang dimaksud aduh. Kadangkala, saking semangatnya liputan sebuah kegiatan yang berpotensi aduh, namun nyatanya setelah kegiatan selesai, potensi itu nihil. “taka duh”.
Ungkapan tersebut lebih pada gurauan belaka. Cerita ini bukan berarti melambangkan kami peminta layaknya wartawan bodrex. Wartawan-wartawan yang sering kumpul dengan saya, merupakan wartawan punya status yang jelas. Media yang punya integritas serta punya kerja jurnalistik di jalur yang benar.
100 persen dari mereka bukanlah wartawan peminta. Namun, guyonan lain yang kadang muncul adalah intinya tak meminta. Bila diberi sekedarnya untuk makan atau bensin, plus rokok. Kenapa tidak. Selama keyakinan kita uang tersebut murni berasal dari uang yang halal.
Hanya saja, prinsip tak baik diterapkan bila kita ingin menjadi wartawan yang punya integritas dan kredibel. Saya ingat pesan dosen sekaligus redaktur saya di kantor, Dr. Yusriadi. “Jangan pernah mengambil uang dari narasumber. Sebab hal itu akan merusak nama dan kinerja jurnalistik anda”.
Saya ingat betul dengan pesan itu, meskipun kadang pernah nyeleweng dengan penuh keterpaksaan. Selama keadaan tak menuntut saya untuk memungut lembaran ru-pi-ah itu. Saya tidak pernah memungutnya.
Malah, prinsip saya pribadi. Lebih baik meminta dengan jujur kepada relasi kita, bila itu memang sangat dibutuhkan. Meminta maksud saya, menjelaskan duduk persoalan kenapa kita sampai minta. Mintanya pun jangan sampai menekan relasi. Sekedar untuk menyambung hidup. Itu yang pernah saya lakukan.
Alternative jalan itu bagi saya lebih terhormat ketimbang menerima pemberian. Sebab, bila narasumber yang member kita, dipastikan ada udang di balik bakwan. Namun bila kita yang meminta, diberi atau tidak, selama kita murni dengan kebutuhan, maka tidak ada beban bagi kita dan relasi.
Virus tak aduh juga sangat berbahaya. Terlebih bila sampai terjangkit pada jurnalis pemula. Sebab akan mempengaruhi semangat jurnalismenya. Bila aduh, semangat jalan terus. Tak aduh, lemes mules untuk melakoni tugas jurnalistik.

Table 20 WK Aming
Jalan Setia Budi, Pontianak Selatan

Sabtu, 10 Mei 2014. Jam 09.44

No comments:

Post a Comment