Thursday, 7 January 2016

Keluarga Kecilku Pindah Rumah Baru

H-1 Kemas2 rumah diabadikan oleh istri
Keluarga Kecilku Pindah Rumah Baru

Catatan Ubay KPI

5 Januari 2015 menjadi malam terakhir bagi kami di rumah lama yang saya tempati sejak hampir tiga tahun silam.
Banyak kenangan di rumah yang sempat saya jadikan tempat usaha pembayaran online dan konter pulsa tersebut. Suka duka bersama istri saya, pergulatan beda pendapatan dan gaya hidup kerap mewarnai hidup kami. 
Begitu juga dengan suka, makan seadanya namun terasa nikmat bersama istri. Di rumah itu kami berdua diam tanpa banyak ikut arus perbincangan masyarakat sekitar. 

Kami selama tiga tahun memang sangat membatasi interaksi dengan keadaan luar. Kalaupun keluar ke rumah tetangga seperlunya saja. Maklum saja, kawasan kami termasuk kawasan comel alias sarat dengan gosip yang muncul dari ibu-ibu.
Di rumah itu juga, kami pernah menangis dan tertawa. Dalam kesendirian maupun bersama. Uang Rp 15.000 juga pernah kami bagi berdua di tengah ekonomi saya yang belum stabil. Makan dengan teri nasi, bahkan kadang dengan tempe atau ikan asin seadanya. Hal itu pernah kami alami semasa berdua.
Berat melepas kenangan itu semua, masih teringat dalam hati bagaimana kisah tiga tahun kami bersama Settiyawati.
Istri juga kerap saya tinggal malam-malam sendiri di rumah, kebiasaan saya ngopi hingga larut malam belum hilang hingga menjelang kehadiran anak kami tercinta Weisha Zahira Nufus Semali yang kini sudah hampir berusia 2 tahun. Tangis dan marah kerap mewarnai kebiasaan buruk itu. Seorang perempuan ditinggal sendiri di rumah tanpa memikirkan hal buruk yang terjadi.
Baru, pada 13 Februari 2014, ada warna baru dalam keluarga kami. Hari dimana Weisha lahir, tiga hari kemudian Weisha bersama kami di gubuk pemberian mertua berwarna hijau itu. Semenjak itu, hari kami semakin penuh warna. Tangis tiap  hari si kecil menjadi warna baru, begitu juga ibu yang hingga sebulan ada di rumah kami.
Sejak itu, saya coba inisiatif membuka usaha loket pembayaran dan pulsa. Ruang garasi kami sulap menjadi tempat usaha kecil-kecilan meskipun hasilnya kadang tak jelas karena sifat boros yang melekat pada saya pribadi. Sempat kami kembangkan buka percetakan undangan yang kami beri nama Weisha Payment Creative. Namun akhirnya usaha ini buyar karena habis modal dan amburadulnya managemen keuangan saya sendiri.
Sempat kami ingin merombak penataan ruangan rumah itu, namun kami masih menjaga ego karena rumah itu bukan sepenuhnya hak kami. Kami hanya diberi ijin menempati rumah itu oleh mertua.
Sepintas bila kawan-kawan saya datang ke rumah mengira saya ber-uang punya rumah yang permanen dengan ukuran 8x14 meter. Padahal itu hanya tempat berteduh saya.
Setelah hampir tiga tahun di gubuk itu, akhirnya kami harus meninggalkannya. Mertua saya berinisiatif merubah rumah itu menjadi tempat usaha copier dan game online. Akhirnya kami dipindah ke rumah sebelah yang tak kalah lebih bagus. Rumah yang baru dibangun itu menjadi tempat kami selanjutnya yang entah sampai kapan. Sebab kami hanya numpang berteduh dari hujan dan panas. Memang, rumah itu nampak gagah dan lebih mewah, berukuran 6,5x25 meter. Ruang tamu luas, WC dan kamar mandi ada dua, di kamar dan di dapur. Semua permanen, keramik penuh begitu juga dengan cat dinding yang semi kilat. Bagi saya, itu adalah rumah yang cukup mewah sebab untuk saat ini tidak akan mampu membangun rumah sebesar itu. 
Ismail, pekerja rumah melakukan finishing cat dinding

Rabu malam, tepat 6 Januari 2015, kami resmi pindah ke rumah itu atas izin mertua. Saya sebagai menantu tidak banyak berkomentar dengan kebaikan hati mertua. Dalam hati saya hanya membulatkan keyakinan, bahwa saya hanya menumpang, rumah itu untuk anaknya begitu juga cucunya (Weisha), saya hanya menumpang pada keduanya. 
Malam terakhir di rumah itu, kami tidak tidur semalaman, Weisha malam itu asyik bermain bersama kami hingga subuh tiba. Saya bersama istri lebih banyak mengikuti apa yang diinginkan Weisha. Terakhir dari kenangan rumah itu, kami berdua menemani Weisha bermain mukenah mamanya yang sempat kami abadikan menggunakan smartphone saya. Gelak tawa malam itu akan menjadi pengiring bagi sebelum meninggalkan kamar sarat cerita itu.



No comments:

Post a Comment