Sebuah Catatan Pra-Konferwil X Ansor Kalbar (1)
Malam cukup cerah, meski BMKG memprediksi malam itu akan terjadi hujan, beda dari hari biasanya yang kerap diselimuti oleh hujan ataupun gerimis. Langit bibir Kubu Raya yang tak jauh dari batas Kota Pontianak hiruk-pikuk oleh kendaraan berlalu lalang. Pun Dennys Cafe di samping Alimoer Hotel Kubu Raya nampak riuh oleh suara para tamu yang berkolaborasi hingga telinga tak bisa mendeteksi apa yang mereka bicarakan.
Sabtu, 14 Desember 2024 Ansor Kalbar melaksanakan kegiatan
Pra-Konferwil yang dihadiri oleh 12
pimpinan cabang, minus Melawi dan Landak.
Acara yang seyogyanya terjadwal sampai pleno 2 sekitar
jam 12.00 WIB tersebut bergeser lantaran ruang aula hotel harus steril pada
pukul 22.00 WIB. Sebab esok paginya akan digunakan untuk kegiatan lain. Malam
itu, Pra-Konferwil X harus selesai sampai pleno 1.
Pra-Konferwil ditutup dengan hamdalah yang sebelumnya
diisi silaturahim antarpimpinan yang melibatkan ketua pimpinan wilayah dan
ketua pimpinan cabang atau yang dimandatkan.
Saya tetap asyik dengan tugas sebagai juru berkas. Diberi
amanah sebagai Koordinator Divisi Kesekretariatan dan Acara, saya tak banyak
mencampuri urusan lain, termasuk pleno yang membahas draft Konferwil X Ansor
Kalbar. Hari itu dari pagi lebih banyak memasang wajah datar dan ramah, meski
kadang di beberapa kegiatan Ansor, khususnya pengkaderan Banser dominan dengan
mimik wajah melotot menghilangkan sifat manis dan raut manis yang nyata saya
miliki.
Berkas demi berkas saya cek apa yang perlu dipersiapkan
sterring committee, pun berkas lain seperti absensi pleno dan kehadiran tak
luput dari pencermatan. Usai isya malam itu, pleno diawali dengan pengecekan
berkas akreditasi setiap pimpinan cabang, yang kemudian dilanjutkan dengan pleno
1.
Sebagai koordinator saya memastikan melayani apa yang
dibutuhkan SC dan OC, termasuk keberlangsungan acara saya punya tanggung jawab
bersama seluruh anggota di divisi yang biasa saya sebut Divisi Secar (kesekretariatan
dan acara).
Akreditasi pimpinan cabang yang dibagi menjadi dua kelompok
serta pleno 1 usai sekira jam 22.00 WIB. Karena perubahan penggunaan ruangan
yang dimajukan, silaturahim antarpimpinan yang seyogyanya dilaksanakan usai
pleno 2 turut dimajukan. Pleno 2 membahas draft Konferwil X Ansor Kalbar yang dijadwalkan
dibahas di Pra-Konferwil ini dicoret.
Silataruhim antarpimpinan yang dikuti hanya 16 orang
termasuk Ketua dan Sekretaris PW GP Ansor Kalbar pun usai. Saya bersama anggota
Divisi Secar mengemas segala berkas termasuk perlengkapan seperti; papan meja nama
pimpinan cabang dan pimpinan wilayah, printer, berkas akreditasi dan lainnya.
Batin bersyukur cara ini selesai lebih awal, saya lebih punya waktu untuk
istrirahat menyambut hari esoknya yang bersamaan dengan resepsi nikahan
keponakan di daerah Sungai Malaya, Kubu Raya. Maklum saja, Jumat-Sabtu yang
semestinya saya membantu persiapan di acara resepsi, rela saya barter dengan
kesibukan menyiapkan acara Pra-Konferwil X Ansor Kalbar.
Lega hati acara selesai lebih awal meskipun ketiak sudah
mulai basah oleh keringat yang sedari pagi tak sempat mandi. Seperti enteng
saja tugas di divisi ini, namun nyatanya nyaris tak memiliki waktu istirahat.
Terlebih, saya bersama anggota sudah berada di lokasi acara sedari jam 07.30
pagi. Dari pagi hingga tengah malam menjelang dilewati seakan tidak lama. Itu karena
meja registrasi yang kami tempati berada di lorong jalan pintu karyawan. Aula
yang digunakan juga berada di lantai 6 hotel tersebut yang difungsikan sebagai
cafe dan tempat makan para tamu hotel. Sehingga kami melayani pimpinan sedari siang
bisa sambil ngopi yang saya bekal dari Aming Coffee, tak lupa asap tembakau
yang mengepul hingga tak sengaja sampai tengah malam nyaris menghabiskan tiga
bungkus Sampoerna Kretek.
Acara usai, tak ada lagi tugas yang perlu dilaksanakan,
pun perlengkapan sudah dikemas dan siap angkut dengan roda dua bersama anggota
divisi. Saya merencanakan pulang ke rumah sekira tengah malam. Anggota divisi
juga sekitar hanya satu saja yang akan menginap.
Berkas dan perlengkapan divisi yang dikemas telah kami
bagi siapa saja yang akan membawa ke markas kembali. Namun, melihat jam masih
pukul 11 malam, saya berencana membawa anggota divisi sejenak ngopi di cafe
sebelah. Rencana berubah, beberapa berkas dan perlengkapan niatnya dititipkan
sejenak di kamar panitia pada lantai tiga hotel tersebut. Saya menunggu lebih
dulu di pelataran hotel tersebut, disusul Ahmad dan Samsuri kemudian. Sedangkan
Abdul Rokib dan Ubaidillah menyusun skenario tak ber-adegan di kamar panitia.
Saya bertiga kemudian beranjak Dennys Coffee yang berada
pas di sisi kiri Alimoer Hotel Kubu Raya. Saya masih dengan tas berisi laptop
serta sebungkus nasi lengkap lauk sisa makan malam acara yang diberikan kepada
divisi. Ahmad dan Samsuri melenggang bak anak bujang tiada beban, walaupun nyatanya
di rumah, anak Samsuri sudah menunggu susu kemasan, serta Ahmad yang istrinya
sudah hamil 9 bulan.
Kami bertiga memilih meja paling depan bagian outdoor
cafe tersebut. Kami harus memesan minuman ke bagian kasir, cafe ini tak
dilayani datang ke meja tamu oleh waiters.
Samsuri memesan kopi susu es, sedangkan Ahmad hanya
memesan kopi hitam. Saya mencoba kopi susu panas Dennys Coffee.
Belum datang pesanan, Pukul 23.07 WIB mungkin lewat
sekian detik, smartphone-ku berdering, panggilan melalui aplikasi whatsapp
masuk. Saya lihat pimpinan menelpon. Lekas saya angkat panggilan itu, menanyakan
posisi saya sekaligus memberi perintah untuk tidak pulang dulu. Alasannya,
kemungkinan akan ada berkas yang di-print oleh unsur pimpinan cabang. Tak
banyak saya ucap, hanya Siap we (panggilan pendek ketua) saya masih di sekitaran
hotel. Atas perintah itu, saya siap melaksanakan tugas yang diberikan oleh pimpinan.
Jleb, pulang tengah malam alias tidur di rumah sepertinya
batal. Itu firasat yang saya rasakan. Saya juga menyampaikan kepada Ahmad dan
Samsuri terkait perintah itu.
Dalam hati, menghadiri resepsi lamaran keponakan
sepertinya tak bakal bisa terpenuhi. Perintah juga tidak jelas sampai jam
berapa saya harus menunggu.
Sejenak saya lewatkan soal Pra-Konferwil meskipun harus terus
memantau smartphone harga 1 jutaan yang ada di atas meja tepat di depan saya. Malam
itu, menikmati tegukan kopi berlangit cerah. Malam itu sungguh cerah, malam minggu yang tak sesuai dengan perkiraan
BMKG.
Tak lama berselang setelah kami bertiga menikmati minuman
masing-masing, Arifin Cnoer yang merupakan demisioner Ketua PC GP Ansor Kubu
Raya menyapa saya. Ia mengolok dengan candaan terkait sikap saya yang akan
turut maju sebagai calon Ketua PW GP Ansor Periode 2024-2028. Candaan itu saya
balas dengan tegas tetap komitmen maju membersamai dua kandidat lainnya.
Dalam hati dengan tegas saya menghentak bahwa; Saya akan berkhidmat
di Ansor! Saya memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai ketua PW! Saya
ini peserta Susbanpim VI dengan nilai tertinggi! Saya satu angkatan dengan Ketua
Umum PP GP Ansor, Addin Jauharudin pada Susbanpim VI! saya pernah magang
sebagai sekretaris PW GP Ansor ketika Sekretaris PW GP Ansor Kalbar kurang aktif!
Saya tak akan peduli sebesar apa para pemegang hak suara
meremehkan kemampuan saya, baik kemampuan saya dalam memimpin, maupun kemampuan
dalam finansial. Terpenting saat ini, saya akan melanjutkan warisan para pendiri.
Kalau Allah meridloi dan Mbah Wahab memberkahi, maka saya akan menjadi Ketua PW
GP Ansor Kalimantan Barat periode berikutnya.
Lamunan sejenak itu kembali saya geser mengobrol bersama
Ahmad dan Samsuri. Saya juga telepon Abdul Rokib dan Ubaidillah untuk ikut
bergabung. Meng-evaluasi apa yang kurang hari ini di Divisi Kesekretariatan dan
Acara bersama Ahmad dan Samsuri. Keduanya masih banyak menjadi makmum,
dalam pelaksanaannya lebih banyak menunggu perintah. Sebab keduanya masih
sangat awam dengan kegiatan seperti ini. Mereka saya rekrut pertama, satu kecamatan
dengan saya, sehingga bisa membantu kapan saja ketika dibutuhkan saat persiapan
hari sebelumnya. Kedua, mereka punya semangat dalam pengkhidmatan di Ansor
tanpa melihat peluang ini dan itu dari organisasi.
Hinga hari berganti ke Minggu. Saya masih mengobrol asyik
bersama Ahmad dan Samsuri. Menantikan Abdul Rokib dan Ubaidillah tak kunjung
datang. Tepat arah jam 11 di depan saya, duduk beberapa unsur pimpinan. Saya
tak menghiraukan apa yang mereka bicarakan, pun juga tidak kedengaran. Mau
gabung, tak enak hati bagi saya saat situasi saat itu, khawatir ada pembicaraan
rahasia yang tak boleh saya dengar.
Posisi saat itu saya sebagai panitia yang bertugas
melayani pimpinan. Sepanjang acara dari siang saya juga sangat menghindari mendekati
para unsur pimpinan, sebab bagi saya hari itu mereka unsur pimpinan yang hadir adalah
undangan yang harus saya bedakan seperti hari biasa.
Di acara Pra-Konferwil, unsur pimpinan tetap saya
panggil dengan sebutan pimpinan dalam melayani atau memanggilnya. Beda dengan
hari biasa, walaupun unsur pimpinan kadang saya panggil we (sebutan
pengganti ketua), atau sebut namanya. Karena posisi saya di luar acara adalah
sebagai wakil ketua di pimpinan wilayah, walaupun hanya bagian live tiktok yang
isinya ngalor-ngidul.
Kami bertiga akhirnya bubar sekirang jam setengah satu
dini hari dari Denny Coffee setelah Abdul Rokib datang memberikan kunci kamar. Dia
tak ikut gabung ngopi bersama kami, dia langsung bergabung dengan unsur
pimpinan yang ada di meja lain tadi. Mungkin karena lebih se-frekuensi dalam
hal visi dan pissi. Samsuri memilih menginap di hotel bersama Ubaidillah,
sedangkan Ahmad memilih pulang ke rumah menemani istrinya tidur.
Saya ke hotel menemui Samsuri meminta carger laptop untuk
antisipasi adanya permintaan cetak berkas sebagaimana dimaksud perintah pimpinan.
Saat itu saya memiliku kamar sendiri menggantikan kamar salah satu pimpinan
cabang yang memilih pulang malam itu juga. Sehingga saya tidak sibuk lagi untuk
keluar masuk kamar.
Berbekal setengah gelas kopi susu yang saya bungkus dari
Dennys Coffee. Kopi itu adalah sisa pesanan saya di cafe tersebut yang tidak
habis, yang kemudian saya masukan dalam cup plastik. Saya menunggu intruksi
atau permintaan sebagaimana ditugaskan dari kamar. Mengelus gawai, scroll
tiktok dan sosial media lainnya. Hingga saya merasa jenuh di kamar karena tak
bisa merokok. Permintaan untuk print berkas juga tidak ada, namun saya tidak
berani untuk meninggalkan apa yang diperintahkan, khawatir ada permintaan
dadakan.
Sekira jam 01.48 WIB, permintaan print berkas tidak ada,
perintah lanjutan dari pimpinan juga tidak ada, saya memilih keluar kamar.
Tujuan saya ke rooftop yang berada di atasnya lantai 6 Alimoer Hotel. Saya pikir
di jam tersebut sudah tidak ada orang di tempat itu. Sebab sudah menjelang waktunya
ayam bertelur. Setelah kelaur lift, saya langsung menuju tangga menuju rooftop,
ketika hampir sampai ke rooftop, terdengar suara samar-samar, sejenak saya
dengarkan dari mana sumber suara itu. Belum selesai saya fokus mencari sumber
suara, terdengar panggilan dari rooftop. “dan (penggalan panggilan komandan)”.
Saya kaget, ternyata masih ada orang di rooftop pada saat
itu. Saya kenal dengan suara yang memanggil tadi. Seketika saya turun
membatalkan niat untuk nyantai duduk sambil merokok di rooftop hotel.
Saya memilih duduk merokok sambil ngopi di lantai 6 tepat
di panggung mini yang biasa digunakan live musik di cafe hotel.
Tak lama berselang ketika saya sudah enak duduk, sekitar
jam 01.54 WIB, pimpinan tertinggi menelpon, tidak saya angkat. Tindakan saya
naik ke rooftop malam ini sungguh di luar kesengajaan dan mengganggu pimpinan yang mungkin ada hal penting yang
dibicarakan. Meskipun saya tidak mengetahui pimpinan bersama siapa malam itu.
Saya memilih tidak bergabung sama dengan alasan ketika saya
di cafe sebelumnya. Khawatir yang mestinya memberikan hal yang penting atau
privacy antarpimpinan, lantas tidak jadi dibicarakan lantaran adanya saya. Kedua,
saat itu saya merasa tidak pantas membersamai mereka yang notabeni pimpinan,
sedang saya hanyalah panitia bagian salah satu divisi.
Panggilan whatsapp pimpinan yang tidak saya jawab
kemudian saya balas pada pukul 02.34 WIB dengan kalimat “lanjut we”.
“Saya ngerokok saja di lantai 6,” sambung pesan saya yang
dikirim.
Malam itu, saya tidak sempat konsolidasi dengan pimpinan
cabang terkait rencana pencalonan saya sebagai ketua pimpinan wilayah. Fokus
saya dari pagi adalah melaksanakan tugas dan perintah dari pimpinan untuk kelancaran
acara Pra-Konferwil X Ansor Kalbar.
Pun melaksanakan tugas menunggu permintaan print berkas rekomendasi
sebagaimana perintah pimpinan. Walau hingga pagi tiba, tak satu pun unsur
pimpinan yang melayangkan permintaan.
Saya berprasangka baik, ungkin unsur pimpinan sedang tidur malam itu, atau mungkin
mereka akan meminta cetak berkas pada pagi hari, atau juga rekomendasi diberikan dalam bentuk file kepada calon yang direkomendasikan. Itu yang saya pikirkan. Hingga
pukul 07 pagi lewat sejengkal, mata saya sudah tidak kuat menahan ngantuk,
karena pada Jumat malamnya, saya hanya tidur dua jam, sambil scrool smartphone,
tak terasa saya pun tertidur.
Saya bangun sebelum waktunya check out hotel, sebelum jam
12 siang, saya sudah di lobby hotel menunggu pimpinan melakukan check out
kamar. Sembari memeriksa pimpinan mana saja yang belum check out. Pembagian
kamar dari check in hingga check out saya merasa masih merasa tanggung jawab divisi
kami. Karenanya saya ada di lobby lebih awal dan pulang setelah memastikan
semua kamar yang kami gunakan telah check out semua.
Lega rasanya bisa pulang dari hotel, sebab bisa langsung
membersamai saudara yang lagi hajatan resepsi pernikahan. Minggu siang itu,
saya pulang dengan sedikit bahagia karena acara berjalan lancar meski pleno 2 batal
dilaksanakan sesuai jadwal.
Menunggu karena melaksanakan perintah dari jam 11 malam
sampai pagi meski tidak ada satu pun yang meminta cetak berkas, juga tidak saya
sesali dan tak merasa membuang waktu.
Selain saya, ada dua calon yang terang-terangan akan menjadi
calon Ketua PW GP Ansor Kalbar periode berikutnya. Ialah Rajuini, Ketua PW GP
Ansor Kalbar saat, serta Khairuddin Dzaky, Wakil Ketua PW GP Ansor Kalbar Bidang
Lembaga Bantuan Hukum.
Kalau ada yang tanya kenapa tidak mengabari pimpinan
kalau tidak ada yang print berkas, atau menelpon untur pimpinan PC? Atau
menanyakan kepada pimpinan kepastian pimpinan mana saja yang membutuhkan print
berkas? Jawaban saya, saya ingin patuh pada perintah, dan tak ingin mengganggu
konsentrasi pimpinan saat itu.
Kok bisa menunggu tanpa kepastian sepanjang itu? Jawabannya,
saya patuh pada perintah pimpinan sampai ada perintah selanjutnya.
Kenapa tidak mangkel? Saya mengingat apa yang pernah
disampaikan Gus Baha soal kisah seorang alim diminta datang kepada seseorang,
setelah orang alim itu datang, seseorang itu kemudian berkata bahwa sudah tidak
perlu lagi pada orang alim itu. Si alim pulang ke rumahnya. Tak lama berselang,
kemudian seseorang itu memanggil orang alim itu lagi, setelah datang kembali
seseorang itu mengatakan sudah tidak perlu lagi pada si alim. Begitu seterusnya
sampai beberapa kali. Namun si alim tidak merasa jengkel apalagi ngedumel, si
alim hanya menjawab ia demikian karena Allah.
Saya pun juga begitu dalam ber-Ansor. Selalu memprioritaskan
ketika dibutuhkan pimpinan, sebab saya diberi amanah sebagai pembantu pimpinan
yakni di wakil ketua. Sebab patuh selama dalam rel kebaikan tidak akan membuat
kita jatuh.
Bila sudah patuh apa tidak takut untuk dijatuhkan? Bahwa Allah
telah menuliskan takdir dimana saya berada, termasuk saya berkhidmat di PW GP
Ansor Kalbar karena mengikuti jalan yang ditunjukkan Allah SWT.
Kepatuhan tidak menjatuhkan diriku, paling hanya
menjatuhkan jabatan pengkhidmatan. Jadi, tidak ada kerugian. Selamat ber-Konferwil
X Gerakan Pemuda Ansor Kalbar. *
No comments:
Post a Comment