Sunday, 22 December 2024

Yang Patuh Tak akan Jatuh

Sebuah Catatan Pra-Konferwil X Ansor Kalbar (1)

Malam cukup cerah, meski BMKG memprediksi malam itu akan terjadi hujan, beda dari hari biasanya yang kerap diselimuti oleh hujan ataupun gerimis. Langit bibir Kubu Raya yang tak jauh dari batas Kota Pontianak hiruk-pikuk oleh kendaraan berlalu lalang. Pun Dennys Cafe di samping Alimoer Hotel Kubu Raya nampak riuh oleh suara para tamu yang berkolaborasi hingga telinga tak bisa mendeteksi apa yang mereka bicarakan.

Sabtu, 14 Desember 2024 Ansor Kalbar melaksanakan kegiatan Pra-Konferwil  yang dihadiri oleh 12 pimpinan cabang, minus Melawi dan Landak.

Acara yang seyogyanya terjadwal sampai pleno 2 sekitar jam 12.00 WIB tersebut bergeser lantaran ruang aula hotel harus steril pada pukul 22.00 WIB. Sebab esok paginya akan digunakan untuk kegiatan lain. Malam itu, Pra-Konferwil X harus selesai sampai pleno 1.

Pra-Konferwil ditutup dengan hamdalah yang sebelumnya diisi silaturahim antarpimpinan yang melibatkan ketua pimpinan wilayah dan ketua pimpinan cabang atau yang dimandatkan.

Saya tetap asyik dengan tugas sebagai juru berkas. Diberi amanah sebagai Koordinator Divisi Kesekretariatan dan Acara, saya tak banyak mencampuri urusan lain, termasuk pleno yang membahas draft Konferwil X Ansor Kalbar. Hari itu dari pagi lebih banyak memasang wajah datar dan ramah, meski kadang di beberapa kegiatan Ansor, khususnya pengkaderan Banser dominan dengan mimik wajah melotot menghilangkan sifat manis dan raut manis yang nyata saya miliki.

Berkas demi berkas saya cek apa yang perlu dipersiapkan sterring committee, pun berkas lain seperti absensi pleno dan kehadiran tak luput dari pencermatan. Usai isya malam itu, pleno diawali dengan pengecekan berkas akreditasi setiap pimpinan cabang, yang kemudian dilanjutkan dengan pleno 1.

Sebagai koordinator saya memastikan melayani apa yang dibutuhkan SC dan OC, termasuk keberlangsungan acara saya punya tanggung jawab bersama seluruh anggota di divisi yang biasa saya sebut Divisi Secar (kesekretariatan dan acara).

Akreditasi pimpinan cabang yang dibagi menjadi dua kelompok serta pleno 1 usai sekira jam 22.00 WIB. Karena perubahan penggunaan ruangan yang dimajukan, silaturahim antarpimpinan yang seyogyanya dilaksanakan usai pleno 2 turut dimajukan. Pleno 2 membahas draft Konferwil X Ansor Kalbar yang dijadwalkan dibahas di Pra-Konferwil ini dicoret.

Silataruhim antarpimpinan yang dikuti hanya 16 orang termasuk Ketua dan Sekretaris PW GP Ansor Kalbar pun usai. Saya bersama anggota Divisi Secar mengemas segala berkas termasuk perlengkapan seperti; papan meja nama pimpinan cabang dan pimpinan wilayah, printer, berkas akreditasi dan lainnya. Batin bersyukur cara ini selesai lebih awal, saya lebih punya waktu untuk istrirahat menyambut hari esoknya yang bersamaan dengan resepsi nikahan keponakan di daerah Sungai Malaya, Kubu Raya. Maklum saja, Jumat-Sabtu yang semestinya saya membantu persiapan di acara resepsi, rela saya barter dengan kesibukan menyiapkan acara Pra-Konferwil X Ansor Kalbar.

Lega hati acara selesai lebih awal meskipun ketiak sudah mulai basah oleh keringat yang sedari pagi tak sempat mandi. Seperti enteng saja tugas di divisi ini, namun nyatanya nyaris tak memiliki waktu istirahat. Terlebih, saya bersama anggota sudah berada di lokasi acara sedari jam 07.30 pagi. Dari pagi hingga tengah malam menjelang dilewati seakan tidak lama. Itu karena meja registrasi yang kami tempati berada di lorong jalan pintu karyawan. Aula yang digunakan juga berada di lantai 6 hotel tersebut yang difungsikan sebagai cafe dan tempat makan para tamu hotel. Sehingga kami melayani pimpinan sedari siang bisa sambil ngopi yang saya bekal dari Aming Coffee, tak lupa asap tembakau yang mengepul hingga tak sengaja sampai tengah malam nyaris menghabiskan tiga bungkus Sampoerna Kretek.

Acara usai, tak ada lagi tugas yang perlu dilaksanakan, pun perlengkapan sudah dikemas dan siap angkut dengan roda dua bersama anggota divisi. Saya merencanakan pulang ke rumah sekira tengah malam. Anggota divisi juga sekitar hanya satu saja yang akan menginap.

Berkas dan perlengkapan divisi yang dikemas telah kami bagi siapa saja yang akan membawa ke markas kembali. Namun, melihat jam masih pukul 11 malam, saya berencana membawa anggota divisi sejenak ngopi di cafe sebelah. Rencana berubah, beberapa berkas dan perlengkapan niatnya dititipkan sejenak di kamar panitia pada lantai tiga hotel tersebut. Saya menunggu lebih dulu di pelataran hotel tersebut, disusul Ahmad dan Samsuri kemudian. Sedangkan Abdul Rokib dan Ubaidillah menyusun skenario tak ber-adegan di kamar panitia.

Saya bertiga kemudian beranjak Dennys Coffee yang berada pas di sisi kiri Alimoer Hotel Kubu Raya. Saya masih dengan tas berisi laptop serta sebungkus nasi lengkap lauk sisa makan malam acara yang diberikan kepada divisi. Ahmad dan Samsuri melenggang bak anak bujang tiada beban, walaupun nyatanya di rumah, anak Samsuri sudah menunggu susu kemasan, serta Ahmad yang istrinya sudah hamil 9 bulan.

Kami bertiga memilih meja paling depan bagian outdoor cafe tersebut. Kami harus memesan minuman ke bagian kasir, cafe ini tak dilayani datang ke meja tamu oleh waiters.

Samsuri memesan kopi susu es, sedangkan Ahmad hanya memesan kopi hitam. Saya mencoba kopi susu panas Dennys Coffee.

Belum datang pesanan, Pukul 23.07 WIB mungkin lewat sekian detik, smartphone-ku berdering, panggilan melalui aplikasi whatsapp masuk. Saya lihat pimpinan menelpon. Lekas saya angkat panggilan itu, menanyakan posisi saya sekaligus memberi perintah untuk tidak pulang dulu. Alasannya, kemungkinan akan ada berkas yang di-print oleh unsur pimpinan cabang. Tak banyak saya ucap, hanya Siap we (panggilan pendek ketua) saya masih di sekitaran hotel. Atas perintah itu, saya siap melaksanakan tugas yang diberikan oleh pimpinan.

Jleb, pulang tengah malam alias tidur di rumah sepertinya batal. Itu firasat yang saya rasakan. Saya juga menyampaikan kepada Ahmad dan Samsuri terkait perintah itu.

Dalam hati, menghadiri resepsi lamaran keponakan sepertinya tak bakal bisa terpenuhi. Perintah juga tidak jelas sampai jam berapa saya harus menunggu.

Sejenak saya lewatkan soal Pra-Konferwil meskipun harus terus memantau smartphone harga 1 jutaan yang ada di atas meja tepat di depan saya. Malam itu, menikmati tegukan kopi berlangit cerah. Malam itu sungguh cerah,  malam minggu yang tak sesuai dengan perkiraan BMKG.

Tak lama berselang setelah kami bertiga menikmati minuman masing-masing, Arifin Cnoer yang merupakan demisioner Ketua PC GP Ansor Kubu Raya menyapa saya. Ia mengolok dengan candaan terkait sikap saya yang akan turut maju sebagai calon Ketua PW GP Ansor Periode 2024-2028. Candaan itu saya balas dengan tegas tetap komitmen maju membersamai dua kandidat lainnya.

Dalam hati dengan tegas saya menghentak bahwa; Saya akan berkhidmat di Ansor! Saya memenuhi syarat untuk mencalonkan diri sebagai ketua PW! Saya ini peserta Susbanpim VI dengan nilai tertinggi! Saya satu angkatan dengan Ketua Umum PP GP Ansor, Addin Jauharudin pada Susbanpim VI! saya pernah magang sebagai sekretaris PW GP Ansor ketika Sekretaris PW GP Ansor Kalbar kurang aktif!

Saya tak akan peduli sebesar apa para pemegang hak suara meremehkan kemampuan saya, baik kemampuan saya dalam memimpin, maupun kemampuan dalam finansial. Terpenting saat ini, saya akan melanjutkan warisan para pendiri. Kalau Allah meridloi dan Mbah Wahab memberkahi, maka saya akan menjadi Ketua PW GP Ansor Kalimantan Barat periode berikutnya.

Lamunan sejenak itu kembali saya geser mengobrol bersama Ahmad dan Samsuri. Saya juga telepon Abdul Rokib dan Ubaidillah untuk ikut bergabung. Meng-evaluasi apa yang kurang hari ini di Divisi Kesekretariatan dan Acara bersama Ahmad dan Samsuri. Keduanya masih banyak menjadi makmum, dalam pelaksanaannya lebih banyak menunggu perintah. Sebab keduanya masih sangat awam dengan kegiatan seperti ini. Mereka saya rekrut pertama, satu kecamatan dengan saya, sehingga bisa membantu kapan saja ketika dibutuhkan saat persiapan hari sebelumnya. Kedua, mereka punya semangat dalam pengkhidmatan di Ansor tanpa melihat peluang ini dan itu dari organisasi.

Hinga hari berganti ke Minggu. Saya masih mengobrol asyik bersama Ahmad dan Samsuri. Menantikan Abdul Rokib dan Ubaidillah tak kunjung datang. Tepat arah jam 11 di depan saya, duduk beberapa unsur pimpinan. Saya tak menghiraukan apa yang mereka bicarakan, pun juga tidak kedengaran. Mau gabung, tak enak hati bagi saya saat situasi saat itu, khawatir ada pembicaraan rahasia yang tak boleh saya dengar.

Posisi saat itu saya sebagai panitia yang bertugas melayani pimpinan. Sepanjang acara dari siang saya juga sangat menghindari mendekati para unsur pimpinan, sebab bagi saya hari itu mereka unsur pimpinan yang hadir adalah undangan yang harus saya bedakan seperti hari biasa.

Di acara Pra-Konferwil, unsur pimpinan tetap saya panggil dengan sebutan pimpinan dalam melayani atau memanggilnya. Beda dengan hari biasa, walaupun unsur pimpinan kadang saya panggil we (sebutan pengganti ketua), atau sebut namanya. Karena posisi saya di luar acara adalah sebagai wakil ketua di pimpinan wilayah, walaupun hanya bagian live tiktok yang isinya ngalor-ngidul.

Kami bertiga akhirnya bubar sekirang jam setengah satu dini hari dari Denny Coffee setelah Abdul Rokib datang memberikan kunci kamar. Dia tak ikut gabung ngopi bersama kami, dia langsung bergabung dengan unsur pimpinan yang ada di meja lain tadi. Mungkin karena lebih se-frekuensi dalam hal visi dan pissi. Samsuri memilih menginap di hotel bersama Ubaidillah, sedangkan Ahmad memilih pulang ke rumah menemani istrinya tidur.

Saya ke hotel menemui Samsuri meminta carger laptop untuk antisipasi adanya permintaan cetak berkas sebagaimana dimaksud perintah pimpinan. Saat itu saya memiliku kamar sendiri menggantikan kamar salah satu pimpinan cabang yang memilih pulang malam itu juga. Sehingga saya tidak sibuk lagi untuk keluar masuk kamar.

Berbekal setengah gelas kopi susu yang saya bungkus dari Dennys Coffee. Kopi itu adalah sisa pesanan saya di cafe tersebut yang tidak habis, yang kemudian saya masukan dalam cup plastik. Saya menunggu intruksi atau permintaan sebagaimana ditugaskan dari kamar. Mengelus gawai, scroll tiktok dan sosial media lainnya. Hingga saya merasa jenuh di kamar karena tak bisa merokok. Permintaan untuk print berkas juga tidak ada, namun saya tidak berani untuk meninggalkan apa yang diperintahkan, khawatir ada permintaan dadakan.

Sekira jam 01.48 WIB, permintaan print berkas tidak ada, perintah lanjutan dari pimpinan juga tidak ada, saya memilih keluar kamar. Tujuan saya ke rooftop yang berada di atasnya lantai 6 Alimoer Hotel. Saya pikir di jam tersebut sudah tidak ada orang di tempat itu. Sebab sudah menjelang waktunya ayam bertelur. Setelah kelaur lift, saya langsung menuju tangga menuju rooftop, ketika hampir sampai ke rooftop, terdengar suara samar-samar, sejenak saya dengarkan dari mana sumber suara itu. Belum selesai saya fokus mencari sumber suara, terdengar panggilan dari rooftop. “dan (penggalan panggilan komandan)”.

Saya kaget, ternyata masih ada orang di rooftop pada saat itu. Saya kenal dengan suara yang memanggil tadi. Seketika saya turun membatalkan niat untuk nyantai duduk sambil merokok di rooftop hotel.

Saya memilih duduk merokok sambil ngopi di lantai 6 tepat di panggung mini yang biasa digunakan live musik di cafe hotel.

Tak lama berselang ketika saya sudah enak duduk, sekitar jam 01.54 WIB, pimpinan tertinggi menelpon, tidak saya angkat. Tindakan saya naik ke rooftop malam ini sungguh di luar kesengajaan dan mengganggu pimpinan yang mungkin ada hal penting yang dibicarakan. Meskipun saya tidak mengetahui pimpinan bersama siapa malam itu.

Saya memilih tidak bergabung sama dengan alasan ketika saya di cafe sebelumnya. Khawatir yang mestinya memberikan hal yang penting atau privacy antarpimpinan, lantas tidak jadi dibicarakan lantaran adanya saya. Kedua, saat itu saya merasa tidak pantas membersamai mereka yang notabeni pimpinan, sedang saya hanyalah panitia bagian salah satu divisi.

Panggilan whatsapp pimpinan yang tidak saya jawab kemudian saya balas pada pukul 02.34 WIB dengan kalimat “lanjut we”.

“Saya ngerokok saja di lantai 6,” sambung pesan saya yang dikirim.

Malam itu, saya tidak sempat konsolidasi dengan pimpinan cabang terkait rencana pencalonan saya sebagai ketua pimpinan wilayah. Fokus saya dari pagi adalah melaksanakan tugas dan perintah dari pimpinan untuk kelancaran acara Pra-Konferwil X Ansor Kalbar.

Pun melaksanakan tugas menunggu permintaan print berkas rekomendasi sebagaimana perintah pimpinan. Walau hingga pagi tiba, tak satu pun unsur pimpinan yang melayangkan permintaan.

Saya berprasangka baik, ungkin unsur pimpinan sedang tidur malam itu, atau mungkin mereka akan meminta cetak berkas pada pagi hari, atau juga rekomendasi diberikan dalam bentuk file kepada calon yang direkomendasikan. Itu yang saya pikirkan. Hingga pukul 07 pagi lewat sejengkal, mata saya sudah tidak kuat menahan ngantuk, karena pada Jumat malamnya, saya hanya tidur dua jam, sambil scrool smartphone, tak terasa saya pun tertidur.

Saya bangun sebelum waktunya check out hotel, sebelum jam 12 siang, saya sudah di lobby hotel menunggu pimpinan melakukan check out kamar. Sembari memeriksa pimpinan mana saja yang belum check out. Pembagian kamar dari check in hingga check out saya merasa masih merasa tanggung jawab divisi kami. Karenanya saya ada di lobby lebih awal dan pulang setelah memastikan semua kamar yang kami gunakan telah check out semua.

Lega rasanya bisa pulang dari hotel, sebab bisa langsung membersamai saudara yang lagi hajatan resepsi pernikahan. Minggu siang itu, saya pulang dengan sedikit bahagia karena acara berjalan lancar meski pleno 2 batal dilaksanakan sesuai jadwal.

Menunggu karena melaksanakan perintah dari jam 11 malam sampai pagi meski tidak ada satu pun yang meminta cetak berkas, juga tidak saya sesali dan tak merasa membuang waktu.

Selain saya, ada dua calon yang terang-terangan akan menjadi calon Ketua PW GP Ansor Kalbar periode berikutnya. Ialah Rajuini, Ketua PW GP Ansor Kalbar saat, serta Khairuddin Dzaky, Wakil Ketua PW GP Ansor Kalbar Bidang Lembaga Bantuan Hukum.

Kalau ada yang tanya kenapa tidak mengabari pimpinan kalau tidak ada yang print berkas, atau menelpon untur pimpinan PC? Atau menanyakan kepada pimpinan kepastian pimpinan mana saja yang membutuhkan print berkas? Jawaban saya, saya ingin patuh pada perintah, dan tak ingin mengganggu konsentrasi pimpinan saat itu.

Kok bisa menunggu tanpa kepastian sepanjang itu? Jawabannya, saya patuh pada perintah pimpinan sampai ada perintah selanjutnya.

Kenapa tidak mangkel? Saya mengingat apa yang pernah disampaikan Gus Baha soal kisah seorang alim diminta datang kepada seseorang, setelah orang alim itu datang, seseorang itu kemudian berkata bahwa sudah tidak perlu lagi pada orang alim itu. Si alim pulang ke rumahnya. Tak lama berselang, kemudian seseorang itu memanggil orang alim itu lagi, setelah datang kembali seseorang itu mengatakan sudah tidak perlu lagi pada si alim. Begitu seterusnya sampai beberapa kali. Namun si alim tidak merasa jengkel apalagi ngedumel, si alim hanya menjawab ia demikian karena Allah.

Saya pun juga begitu dalam ber-Ansor. Selalu memprioritaskan ketika dibutuhkan pimpinan, sebab saya diberi amanah sebagai pembantu pimpinan yakni di wakil ketua. Sebab patuh selama dalam rel kebaikan tidak akan membuat kita jatuh.

Bila sudah patuh apa tidak takut untuk dijatuhkan? Bahwa Allah telah menuliskan takdir dimana saya berada, termasuk saya berkhidmat di PW GP Ansor Kalbar karena mengikuti jalan yang ditunjukkan Allah SWT.

Kepatuhan tidak menjatuhkan diriku, paling hanya menjatuhkan jabatan pengkhidmatan. Jadi, tidak ada kerugian. Selamat ber-Konferwil X Gerakan Pemuda Ansor Kalbar. *

No comments:

Post a Comment