Sunday, 23 March 2014

Ibu Tak Pernah Lelah Memperhatikanku

Seorang Ibu Tak Akan Pernah Lelah Memperhatikan Anaknya

Catatan Ubay KPI

Saya piker, sejak saya melepas lajang awal 2013 lalu. Kehidupanku akan lepas dari perhatian
satu-satunya orang tua yang terisa, yakni Ibu.
Namun dugaan itu salah, sangat salah. Ibu masih kerap memperhatikanku saat-saat saya bermain ke rumah ibu di kampung.
Yang amat saya rasakan. Ialah saat istri saya hamil. Dengan penuh keikhlasan yang tampak dari raut wajahnya. Ibu tak membiarkan istri saya melakukan hal-hal berat saat berada di rumah. Segala sesuatu ibu lakukan sendiri meskipun sebenarnya hal itu pekerjaan ringan dan tak membahayakan. Seperti membuat kopi dan menyiapkan makanan.
Apalagi istri saya dilihatnya mengangkat perabot kotor di dapur untuk dicuci ke parit. Ibu dengan segera mengambil pekerjaan itu. Saya paham dengan gerakan itu, Ibu sangat sayang pada istri saya. Ibu tak menginginkan hal yang tak diinginkan terjadi pada menantunya yang sedang hamil. Meskipun hal itu sangat kecil sekali.
Ibu juga kerap membawakan buah-buahan untuk istri saya saat saya bermain sendiri ke rumah di kampung. Selalu berpesan, hati-hati dan pelan-pelan saat berkendara ketika saya dan istri akan pulang.
Perhatian Ibu tak sampai di situ. Saat istri saya lahir. Ia dengan segera meminta diantarkan ke rumah sakit. Meski dengan pakaian seadanya, Ibu berangkat, bahkan sampai tak sempat membawa pakaian ganti.
Kasih sayang ibu terus berlanjut, Ibu selama tiga hari menunggui istri dan anak saya di rumah sakit. Bergantian menjaga Weisha yang masih kecil. Malam, siang, pagi, dan petang. Ibu selalu untuk saya, untuk istri, dan anak saya.
Bahkan, selama di rumah sakit. Ibu rela rebahkan badan di lorong rumah sakit. Lorong itu tak lain, adalah tempat keluar masuk pasien dan pengunjung menuju WC.
Selepas dari rumah sakit. Ibu masih menetap di rumah saya selama beberapa Minggu. Membantu pekerjaan rumah. Kondisi istri saya yang masih belum sehat pasca operasi persalinan, membuat tidak bisa banyak melakukan aktifitas. Pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan istri, digantikan oleh Ibu. Mulai masak, mencuci perabot, sampai mencuci pakaian Weisha. Semua dilakukan.
Ya Allah, berikanlah kesehatan kepada Ibu.  Jikalau nanti Engkau berkehendak mengambilnya.
Tempatkanlah ia di tempat yang sangat setimpal dengan kasih sayangnya.
Tempat yang layak menurut engkau sebagaimana ia memberikan kasih sayang kepada keluarga saya.
Namun, bila Saya boleh meminta ya Allah. Janganlah Engkau ambil dia sebelum saya membalas semua jasa dan kasih sayangnya. Meskipun tak semuanya mampu saya balas.

Di Konter PPOB Weisha
Senin, 24 Maret 2014. Pukul 00.38


No comments:

Post a Comment