Tuesday, 18 March 2014

Ragam Bahasa Madura, Beda Daerah Beda Bahasa

Ragam Bahasa Madura, Beda Daerah Beda Bahasa

Catatan Ubay KPI

Pada sebuah kesempatan, saya pernah memperkenalkan blog ini kepada mahasiswa Madura. Selain blog saya, turut diperkenalkan blog Subro dan Qomaruzzaman.
Kedua rekan saya ini cukup aktif melakukan penulisan, khususnya tentang budaya.
Tak lupa juga, saya ikut memperkenalkan blog Bapak A Latief Wiyata. Seorang Antropolog Nasional, lebih khusus tentang Madura.
Sejak memperkenalkan blog itu, ada beberapa mahasiswa Madura yang aktif masuk ke blog saya ini. Bahkan ada yang sampai menghubungi saya melalui telepon. Meminta sebuah referensi sampai bahan untuk makalah kebudayaan. Padahal saya sendiri belum tahu banyak tentang budaya Madura meskipun saya 100 persen keturunan Madura.
Namun, di blog saya ini ada beberapa tulisan kecil tentang kebudayaan Madura. Itu pun yang ringan-ringan.
Nah kali ini, sebagai wujud kepedulian saya kepada Madura sendiri, dan menunaikan setengah janji. Saya katakana setengah janji, dalam jiwa saya seakan menjadi hutang setelah pengenalan blog kepada kawan-kawan mahasiswa. Hutang untuk kembali aktif menuliskan tentang kebudayaan Madura. Berikut akan saya tuliskan beberapa kosa kata Madura menurut masing-masing daerah di Madura.
Munculnya ide untuk menulis coretan kecil ini, saat saya mendengarkan sebuah lagu yang dibawakan oleh Ustad Anwar atau yang lebih dikenal dengan Al-Abror. Sebuah grup music yang aktif menciptakan lagu dengan bahasa Madura.
Satu per satu saya kutip per lirik dari lagu tersebut melalui youtube. Sebagaimana diketahui, Madura memiliki empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Bangkalan dan Sampang daerahnya cukup dekat, namun punya bahasa yang berbeda dalam penyebutan sesuatu yang pada dasarnya sama. Begitu juga Pamekasan dan Sumenep, punya jarak yang dekat namun beda dalam pengucapan sebuah istilah. Namun ada juga sebuah kata yang berbeda maknanya ketika dibawa ke daerah lainnya di Madura.
Seperti kata ‘jadi’. Orang Bangkalan menyebutnya ‘tolos’. Sedangkan orang Sampang menyebut ‘deddih’. Tolos itu sendiri kalau di daerah Sampang bermakna ‘subur’.
Kedua adalah ‘ngantuk’. Orang Bangkalan menyebutnya “katondu’. Sedangkan orang sampan menyebut ‘ngantok’. Tak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia.
Ketiga adalah ‘kamu’. Orang sampang menyebut ‘kakeh’. Sedangkan Bangkalan menyebut ‘seedeh’. Begitu juga istilah mau bertengkar, orang Sampang menyebut atokarah (mengajak kelahi). Sedangkan orang Bangkalan menyebut akekedeh.
Istilah lain misal kata belum. Sampang menyebut ghi tak, orang Bangkalan menyebut ghi lok. Kata rumah di Bangkalan disebut bengkoh, sedangkan Sampang menyebut roma. Hehe, kayak tim sepak bola di Seri A Liga Italia kan. AS Roma.
Nah ini yang agak lucu ketika dibandingkan ke istilah bahasa Madura di Pontianak. Kata makan di warung. Orang Sampang menyebut ngakan e berung, tapi Bangkalan menyebut ngandok. Kata ngandok ini kalau di bawa ke Pontianak lebih seru. Kenapa saya bilang seru, sebab kata ngandok kalau di daerah Tanjung Hilir, kata tersebut berarti adu merpati. Ahay.
Kita kembali ke kosat kata. Berikutnya istilah orang jago. Di Bangkalan orang jagi disebut blater, atau bengal. Tapi di Sampang orang menyebutnya bejingan. Mirip sebuah umpatan kan, ialah BAJINGAN.
Air keruh, orang Bangkalan menyebut ketto, tapi orang Sampang menyebut lekko. Tidak suka di Bangkalan menyebutnya lok ledur, di Sampang jadi tak lebut. Kata tidak tajam. Bangkalan menyebut lok meddes, di Sampang jadi tak eddik.
Neh sekatang salah satu nama buah. Kelapa, di Bangkalan disebut enyur. Tapi di Sumenep orang menyebut nyior. Daun nyiur melamban dalam sapaan angin di tepi laut. Hehehe.
Settong atau sittung artinya satu. Yang ini saya kurang tahu berasal dari daerah mana. Namun di lingkungan saya yang kebanyakan orang Sampang, keseringan menyebut sittung. Mungkin kata sittung ini yang biasa digunakan di Sampang sana.
Ini yang terakhir yang sangat rinci, ialah sebuah tumbuhan pokok di Madura. Ubi. Tahu ubi kan, itu yang biasa dimasak jadi nasi dicampur beras, atau dicampur beras jagung. Atau yang biasa dijadikan tapai, atau ini neh yang sangat popular, menjadi isi dalam kue kroket. Uhuy.
Ini sangat jauh berbeda antara satu daera dan lainnya. Hanya Sampang dan Pamekasan yang menyebutnya sama, yakni tenggeng. Sedangkan Sumenep menyebut sabreng, dan Bangkalan menyebutnya buhung. Hahaha, jangan buhung ya, tak baik menurut agama.
Berikut ada beberapa kosa kata yang tidak saya ketahui dari mana asal daeranya.
Seperti oddih/coba’ (coba). Senat/terak (terang), tandes/santak (kencang). Kepatean/kapotongan (berduka cita). Akentelan/aguncingan (goncengan). Sala/benni (salah atau bukan). Lopot/keleroh (meleset/salah). Tak bender/tak tepak (tak benar).  Motak/kettang (kera). Bagi yang yang tahu kosa kata tersebut silahkan tinggalkan komentar.
Selain kosa kata tersebut, ada beberapa persamaan kata dalam bahasa Madura. Seperti gileh, pening, tak beres, stress, miring, tapengsor. Artinya gila.
Bodoh dalam bahasa Madura ada banyak istilah. Bhuduh, bugeng, gudung, de’dung, gendeng, asluhu goblok.
Wassalam

Di Konter PPOB Weisha
Rabu, 19 Maret 2014. Pukul 01.00


No comments:

Post a Comment