Friday, 10 August 2012

Warna-warni Jembatan Kapuas Pontianak


Warna-warni Jembatan Kapuas Pontianak
Narasi dan Foto: Ubay KPI

Jembatan Kapuas tak seperti dulu lagi. Gelap di bagian bawahnya. Anda-anda yang tidak ada di Pontianak setelah bulan Juli. Inilah perubahan jembatan Kapuas Pontianak saat ini. Lampu mercusuar warna-warni mengihasi di bagian bawah jembatan Kapuas.
Menambah eksotikme Sungai Kapuas yang jauh memanjang. Silih berganti lampu sorot itu memberi gemerlap pantulan air sungai. Sungguh elok dipandang mata.
Keinginan Pontianak mendesign Sungai Kapuas dilakukan sedikit-demi sedikit. Alun-alun Kapuas mulai ditata dengan baik. Steger di tepian sungai mulai akan dilakukan. Pontianak menuju WATER FRONT CITY.








































Slekoran di Masyarakat Madura

Slekoran di Masyarakat Madura
Ditulis; Ubay KPI

Tarsia, ibu yang sudah berusia lebih 70 tahun, sore kemarin sibuk memasak di dapur beratap daun sagu di rumahnya. Di Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya.
Hari kemarin tak seperti buka puasa pada sebelumnya. Sebab, tadi malam adalah awal memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadan. Di kalangan umum, dikenal dengan sebutan selikuran. Sedangkan di kalangan masyarakat Madura, dikenal dengan malam slekoran.
Ayam, telur, serta kelapa muda telah siap sejak matahari condong ke barat. Tarsia tinggal memasak bahan-bahan yang telah lengkap itu.
Wajah tua dengan uban di kepalanya yang tumbuh rata. Serta dalam kondisi berpuasa, tak menyurutkan ibu dengan sebelas anak tersebut untuk mempersiapkan masakan menyambut malam slekoran.
“Kalau dulu saat saya masih kecil, slekoran ini kayak lebaran kecil bagi kami, sebab masakan untuk buka puasa akan berbeda dengan biasanya,” kata Nursiti anak kesepuluh Tarsia yang juga ada di dapur siang kemarin.
Perayaan slekoran, di kalangan masyarakat Madura masih kental dilestarikan. Mereka menyambut dengan penuh persiapan. Tak heran, bila malam slekoran selalu menjadi persiapan lebih dini ketimbang lebaran.
Di malam slekoran, masyarakat Madura tak hanya memasak untuk kebutuhan di rumah. Namun mereka juga mengirim makanan tersebut ke tetangga dekat dan keluarga. Istilah dalam lingkungan Madura adalah ter ater (saling antar) makanan.
“Nanti kami sesama tetangga saling kirim makanan. Dan malamnya doa bersama dengan keluarga,” ujar Tarsia sambil memarut kelapa tua di dekat tungku masak.
Ter ater di malam slekoran masih melekat pada generasi Madura. Tak hanya bagi Madura yang ada di pulau garam. Namun di Pontianak tak ada perbedaan. Ter ater dalam buku Suara Kami Untuk Perdamaian sebagaimana dituliskan oleh Subro diartikan sebagai pererat silaturahmi antartetangga. Khususnya tetangga dekat.
Ter ater tak hanya dilakukan pada saat slekoran. Namun juga dilakukan saat salah satu keluarga menggelar selamatan. Seperti haul atau pesta pernikahan.
Ter ater ke tetangga menjadi tradisi yang tak pernah lekang oleh zaman dan waktu. Khususnya mereka yang ada di pedalaman. Bahkan, Subro dalam buku di atas menuliskan, di Sambas sebelum terjadi kerusuhan tahun 1999, Madura dan Melayu kerap saling melakukan tradisi tersebut. “Madura mengirim makanan ke orang Melayu, begitu juga sebaliknya,” kata Subro saat dihubungi kemarin.
Di malam slekoran, selain melakukan doa bersama di rumah masing-masing. Masyarakat Madura, juga melakukan antaran ke musolla atau masjid-masjid. Makanan tersebut disatukan dengan anataran lain dari masyarakat. Kemudian disuguhkan kepada jamaah dan masyarakat yang ada. Biasanya, tradisi doa bersama malam slekoran dilakukan usai salat taraweh.
“Ayam ayam ayam. Malam slekoran pasti ada ayam dan masakan lezat,” ujar Apin, cucu ibu Tarsia.
Perayaan slekoran memang tak seperti lebaran yang juga dibarengi dengan minuman dan kue beraneka ragam. Tapi bagi kalangan anak-anak, slekoran merupakan malam istimewa.
Salah satu budayawan Madura, A Latief Wiyata saat dihubungi via telepon kemarin siang menjabarkan, tradisi slekoran di kalangan Madura telah lekat sejak dahulu. Esensi slekoran tak hanya sebatas selamatan. Namun menyambut dan menyongsong sepuluh terakhir bulan Ramadan yang di dalamnya turunnya lailatul qadar.
Lekoran (hitungan ganjil antara 20-30) menurut Latief Wiyata adalah malam-malam ganjil yang terdapat di sepuluh terakhir bulan Ramadan yang dibuka dengan malam slekor (malam 21). Ritual yang dilakukan masyarakat Madura menyambut malam tersebut tak lepas dari ajaran agama.
Masyarakat melakukan selamatan yang substansinya adalah sedekah. “Sedekah merupakan ajaran Islam, dengan sedekah menambahkan kecintaan pada Allah,” ujarnya kemarin.
Selametan (selamatan) di kalangan Madura diidentikkan dengan memohon keselamatan keluarga. Tidak terjadi apa-apa dalam keluarga. “Konsep selamat tidak ada batas. Tidak ada musibah, tidak ada masalah dalam keluarga,” ujarnya.
Selamatan intinya adalah sedekah kepada orang lain.   


Keriang Bandong Terangi Tugu Digulis Pontianak


Keriang Bandong Terangi Tugu Digulis Pontianak
Narasi dan Foto: UBAY KPI

Susah sekali menghapus sebuah budaya. Sekecil apapun budaya itu. Akan tetap sulit untuk menggesernya. Meskipun sebuah budaya itu bernilai kecil dan terkesan memberi manfaat.
Seperti keriang Bandung ini, hanyalah lentera biasa. Yang dulu mungkin sebagai hiasan oleh Masyarakat. Entah apakah hanya sebagai hiasan pada waktu itu, atau untuk hiburan. Saya masih belum memahami.
Saya juga mencari cikal bakal lahirnya keriang Bandong. Apakah kebiasaan ini lahirnya di Bandung sesuai dengan namanya. Atau muncul di tempat lain dan Bandung hanya penamaan. Bisa jadi karena Bandung lautan api sehingga kebiasaan yang juga punya penampakan api ini diikutkan ke nama itu.
Namun yang jelas, keriang Bandung yang saat ini sebagian, sepengetahuan  saya sudah dimodifikasi dengan barang yang lebih mudah didapatkan. Seperti kaleng minuman dan lainnya. Tetap memberi kesemarakan dan keindahan lebih. Meskipun sebenarnya telah ada petanding yang lebih modern dari keriang Bandong. Ialah lampu hias yang bisa berwarna apa saja dan bentuk apa saja.
Namun keriang Bandung tetap eksotik bila ditata dengan baik dan punya nilai tarik tersendiri.
Saat kecil, saya di kampung membiasakan membuat keriang Bandong. Tepatnya ketika masuk tanggal 21 Ramadan. Saya dulu sering membuat dua jenis. Yang satuan. Maksudnya bambu di potong pada ruas hingga ada lubangnya. Kemudian diberi sumbu dan minyak tanah. Dan ditancapkan ke kayu penyanggah ditempatkan di tepi jalan depan rumah-rumah.
Jenis satunya, ialah bentuk memanjang. Satu batang bambu dibentang mengangkang jalan dan hanya dilubangi untuk sumbu saja yang juga digunakan utk mengisi minyak tanah.
Yah, menurut saya. Keriang Bandong punya magnet tersendiri meski sangat sederhana dan punya tantangan besar seiring pesatnya teknologi saat ini.
Sebenarnya banyak bentuk keriang Bandong yang diciptakan dengan beragam modifikasi. Bahkan tak lagi menggunakan sumbu dan minyak tanah. Di Pontianak sendiri merayap keriang Bandong dengan ekspresi lebih unik. Seperti menggunakan lilin. Ini biasanya keriang bandung yang dibuat lebih berseni. Dengan model ikan-ikanan. Pesawat, dan lainnya. Sedangkan lenteranya yang diganti dengan lilin di tempatkan di dalam.
Nah, di Pontianak masih tetap menggelar budaya ini. Menghidupkan keriang Bandong di malam 21 Ramadan.
Seperti Ramadan 1433 tahun ini. Bertepatan dengan tanggal 9 Agustus 2012, malamnya di bundaran Digulis, Jalan Ahmad Yani Pontianak sesak dengan keriang Bandong yang terbuat dari plastic bekas minuman yang diberi sumbu. Ratusan lentera duduk manis di atas kayu penyanggah di sekitar dan dalam kawasan tugu Digulis.
Tadi malam, saya menyempatkan bermain ke sana. Yang kebetulan menjadi momen bagus bagi saya yang sedang belajar potografi.  
Di bawah ini hasil jepretan saya tadi malam di bundaran tugu Digulis yang menjadikan keriang Bandong sebagai objeknya.













































Thursday, 9 August 2012

Gara-gara Huruf D


Gara-gara Huruf D

Oleh UBAY KPI

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya 1 Juli 2012 saya berada di Jakarta usai melaksanakan tugas liputan bersama Persipon. Kebetulan, pertandingan lanjutan Divisi I Liga Indonesia dilaksanakan di Kabupaten Bekasi. Tak jauh dari Jakarta.
Sebelum keberangkatan saya dengan tim Persipon ke Bekasi. Saya sempat komunikasi dengan istrinya Mas Andreas Harsono. Kak Sapariah Saturi. Sekaligus ia memberikan nomor kontak agar mudah komunikasi bila ada di Jakarta.
Dari dulu, semenjak saya membaca buku Agama Saya Adalah Jurnalisme yang ditulis Andreas Harsono. Punya keingin bertemu dengannya. Sebelumnya saya pernah ke Jakarta. Sekitar bulan Mei usai mengikuti KPI’S Day di Semarang. Pada kesempatan itu saya sempat komunikasi via twitter dengan Mas AH. Namun karena waktunya sudah malam, Mas AH meminta besok siangnya ketemu. Tapi waktu itu saya yang tak bisa, karena saya harus segera pulang ke Pontianak.
Waktu di Jakarta beberapa waktu lalu, saya memang punya waktu luas untuk bersantai dan jalan. kurang lebih sepuluh hari. Sekalian menunggu kawan-kawan mahasiswa KPI dari Pontianak yang mengikuti Kongres Forkomnas KPI di Solo.
Yah, tanggal 1 Juli, sejak sore saya kontak istri Mas AH melalui SMS. Menanyakan waktu Mas AH malam itu. Dan Kak Sapariah mengatakan Mas AH malam itu ada di rumah. Usia Magrib saya lancur meluncur ke lokasi yang dikirimkan Kak Sapariah dari daerah Salemba UI, bascamp kawan-kawan PP IPNU. Bersama keponakan, Khalili saya naik taksi ke kawasan DPRD DKI Jakarta.
“Ga jauh dr Gambir. Sama2 jakpus. Di belakang dprd (samping kantor Gramdia kompas). Jl palmerah selatan. Kav 20. Apartemen permata senayan, unit ....................., jakpus” demikian isi SMS yang dikirim Kak Sapariah ke nomor ponselku.
Saya dengan keponakan bujur saja kepada sopir taksi bilang tujuan DPRD DKI Jakarta. Sesampainya di gedung DPRD, saya dengan keponakan yang sudah lama di Jakarta kelimpungan mencari Jalan Palmerah. Sampai sayya berjalan kaki hilir mudik dan bertanya kepada orang-orang yang ada di sana.
“Jalan Pal Merah dimana pak,” tanya saya ke orang berjualan minuman.
“Kayaknya kalau Pal Merah di sono mas, di dekat Senayan,” jawan orang itu.
Jalan ke sana kemari, bertanya kepada satpam juga belum ketemu. Pikirku, masak mungkin Kak Sapariah memberi alamat palsu kepada saya? kayak Ayu Ting Ting aja yah?
Saya coba hubungi Kak Sapariah dan memberitahukan kalau saya ada di dekat kantor DPRD DKI Jakarta.
“Bukan di situ, tapi di dekat Senayan, kamu naik Busway nanti nyambung ojek ke belakang pasar pas samping rel kereta,” kata Kak Sapariah di telepon.
Walah ternyata salah tempat. Saya dan keponakan langsung mengikuti petunjuk Kak Sapariah. Melanjutkan perjalanan naik Busway dari Halte BI dan turun di salah satu pusat perbelanjaan.
Dari situ, saya memilih naik taksi ketimbang naik ojek seperti yang diarahkan Kak Sapariah. “Apartemen Permata Senayan mas, belakang pasar,” kata saya kepada sopir.
Kargo langsung hidup. Hanya beberapa menit, saya sudah sampai.
Sebenarnya Kak Sapariah menyuruh saya naik ojek. Alasannya karena malam takut macet. Tapi keponakan nekat naik taksi.
Sesampainya di depan apartemen, saya kembali kontak Kak Sapariah. Dia mengarahkan ketemu penjaga apartemen menunjukkan apartemen Mas AH.
“Mau ketemu Mas Andreas,” kata saya ke satpam di sana.
“Sudah janji,” tanya si satpam.
“Iya mas,” jawab saya.
Langsung rekan satpam itu mengantar saja ke lift dan mengarahkan saya naik ke tingkat belasan. Entah, saya lupa. Tingkat berapa tempat Mas AH.
Keluar dari lift. Belok kanan , kanan lagi, dan kiri. Pas tempus ke apartemennya.
Langsung saya lihat bel rumahnya. Eh ternyata sudah sumbing. Kali’ kenak cokol si Tionghoa-Madura alias muka Chines idung Madura. Jkkkkkkkkkk.
Beberapa kali saya pencet. Lama sekali mau buka pintu. Pikir saya bel itu rusah. Saya SMS memberitahukan posisi saya di depan pintu. Tak lama, Kak Sapariah keluar.
“Ayo masuk, masuk. Tuh Mas AH ada,” kata Kak Sapariah dengan ramah. (Tak tahulah, emang ramah apa pura-pura ramah, Jkkkkkkkkkkkkkkkkkkk)
“Iya Kak,” jawab saya.
Langsung nyelenong lepas sandal. Dan salaman ma Mas Andreas, si Norman, dan penjaga si Tionghoa-Madura. Jkkkkkk.
Belum juga duduk, Kak Sapariah tanya kok bisa nyasar ke DPRD DKI Jakarta. Langsung saya tunjukkan SMS-nya. Dan dia baru sadar kalau SMS yang dikirimnya watu sore memang ada huruf D.
“Kok bisa ya. Kepikiran kemana tadi pas saya nulis,” tanya Kak Sapariah sambil ketawa.
“Maaf, maaf banget,” lanjutnya.
Andai saja tak ada huruf D. Mungkin saya langsung ke Senayan. Sebab keponakan saya tahu lokasi itu. Gara-gara huruf D itu, nyesat tanpa batas. Jkkkkkkk.
Tapi, semua terbalas dengan obrolan santai bersama Mas Andreas malam itu.
Nantikan tulisan saya selanjutnya tentang obrolan bersama Mas AH. Apa yang akan saya bagi. Tentang Sambaskah, tentang Acehkah, tentang Sampitkah, tentang Pontianakkah, atau tentang ilmu jurnalistik?
Sering-sering saja mampir ke sini kawan-kawan semua.