Monday, 5 March 2012

Dosakah aku?


Dosakah Aku?                
Oleh Gie

Hiruk pikuk kota tak menjadikan hidupku dan ibu juga ikut ribut, tetap hening tapi hampa. Namun dengan segala upaya aku yang kini tumbuh menjadi sosok gadis yang berbeda dari ibu, ibu kandung yang yang melahirkan, membesarkan, dengan keringat sendiri tanpa seorang suami ataupun seorang ayah bagiku, itu sangat membuat aku ikhlas menerima kondisi ibu, lingkungannya dan pekerjaannya. Mungkin lebih tepat mencoba untuk menerima dengan hati yang bisa dipastikan kacau melihat ibu yang aku sayangi dan aku hormati di depan mataku menjadi seorang pelacur. Ya…pekerjaan yang sudah dicap sebagai pekerjaan yang sangat mudah untuk menghasilkan uang dan halal bagi ibu, hanya dapat direspon olehku dengan senyum dan itu terus-menerus aku lakukan  untuk bisa menjalani kehidupan yang tidak lazim ini menjadi lebih baik untuk dinikmati.
Tapi sayangnya bukan hanya sebatas untuk mencoba menerima tapi juga yang ada dalam otak gadis 19 tahun seperti aku adalah “siapa aku?”
“Apa aku hanya anak haram yang dilahirkan oleh seorang pelacur?”
Tangis akan mengucur sejadi-jadinya saat pertanyaan demi pertanyaan yang menguras batin itu akan bersorak dengan leluasa di setiap waktu. Rasa kesal, rasa benci, rasa lelah, bahkan rasa ingin menyalahkan Tuhan atas hidup yang diberikan sempat menghinggapi. Tapi aku akan berusaha untuk tersenyum, karena aku selalu menemukan jawaban atas pertanyaaan-pertanyaanku, aku hanya seorang anak dari pelacur yang tak pernah tau siapa ayahku. Cukup hanya itu yang aku bisa uraikan di sela-sela senyum tipisku untuk menghadapi dunia yang begitu kejam ini. Dan tentu bagi mereka yang mungkin akan mencemo’oh bahkan meludahi kami dari belakang, aku siap. Aku siap untuk menjalani kisahku dengan segala kekurangan ataupun segala hinaan yang akan aku lewati karena memang pada kenyataannya kami adalah sampah yang tak perlu dijamah dan tak usah disentuh.
                             *****************************
“Iya, tenang saja. Saya akan buat anda puas dengan apa yang saya berikan”.
Suara menggoda ibu sudah terdengar pertanda sudah mulai akan beroperasi untuk memuaskan nafsu birahi para laki-laki hidung belang yang tak punya pendidikan di luar sana. Hahh.. aku malu sekaligus benci jika mendengar nada-nada menggoda seperti itu. Wajahku secara drastis akan mengalami perubahan 180 derajat, dan ibu tak akan menemukan wajah tersenyumku pagi ini walaupun bisa dipastikan ibu tak akan ambil pusing akan wajah masamku. Aku bukan penghalang baginya untuk mencetak uang selama aku tak berontak atau membuatnya gila.
“Sinar hari ini pulang terlambat Bu,” ujarku seraya mengambil segelas susu yang sudah aku siapkan sendiri di atas maja makan. Ibu tak menggubris, ia sibuk membalas sms-sms mesra dari laki-laki yang akan menjadi pelanggannya. “Ibu.. Sinar bicara sama Ibu” seruku dengan nada yang lumayan tinggi mulai kesal.
“Ibu gak tuli” jawab Ibu sambil beranjak dari sofa dan berlalu pergi meninggalkan aku sendiri yang berharap ada sapaan lain selain kata-kata berusan. “ok” ujarku pada diri sendiri, malang sekali hidup di dunia yang kotor ini. “Sinar pergi” ujarku lagi seraya melangkah menuju luar rumah.
          Sesampainya di kampus Arif yang juga baru sampai langsung menyapaku ramah disertai senyum termanisnya sebagai gerbang awal untuk  melupakan dengan sejenak masalah yang ada. Laki-laki tampan ini menjadi pemadam api bagiku jika aku api di dalam dada ini siap berkobar dengan dahsyatnya membakar rasa, semangat, bahkan hidupku, Arif mampu menjadi pendingin untukku jika hati ini mulai gerah dengan keadaan yang menyiksaku. Mendengar suara seraknya, tawa renyahnya, senyum termanisnya, dan gurau konyolnya, aku anggap lebih lebih ampuh dan hebat dibanding obat-obat dokter handal, karena apa yang dimiliki Arif benar-benar obat dari segala obat. Tak akan ada yang namanya rasa gundah dengan masalah-masalah yang ada di sekelilingku. Akulah orang yang beruntung aku memiliki kekasih seperti Arif yang selalu membuat aku tersenyum kecil dengan pernyataannya “Aku gak perduli apapun yang ada dihidup kamu sekarang. Baik atau tidak baiknya hidup kamu yang jadi tujuan aku adalah kamunya, bukan sekeliling kamu,” dan dengan rasa percaya diri aku akan pertahankan segalanya sekali pun aku terus menerus menjadi topik obrolan seluruh dunia karena ternyata Arif memacari seorang gadis dari anak seorang pelacur. Dan itu juga telah aku siapkan untuk mengenyampingkan ucapan sinis manusia-manusia datar itu jauh di ruang hatiku. Katakan saja aku sudah takkan terkecoh atau aku kebal dengan semuanya.
Seharian ini aku menjalani aktivitasku seperti biasa hanya di kamus sampai pukul 4 sore, setelah perkuliahan selesai aku memutuskan tidak langsung pulang ke rumah melainkan ikut bersama Arif ke sebuah tempat favorit kami di pinggir jalan raya yang sangat sederhana tapi membuat kami nyaman di sana.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
“nar,selama pacaran kita gak pernah ngelewatin malam minggu sama-sama ya?” ujar arif dengan pertanyaan yang aku sudah duga akan di utarakan oleh nya suatu saat,dan saat itu hari ini. Karena memang selama 2 tahun menjadi kekasih arif tak pernah sekalipun menyambut malam minggu  bersama dan sudah sepantasnya jika arif merasa ada yang kurang dan memilih untuk mengutarakan hal tersebut.
“aku udah ngira kalau kamu bakalan tanya soal ini” jawabku tersenyum kecil.
“iya lah,kita kan bukan pasangan apnormal. Udah 2 tahun gini masih aja malam minggu sendiri,gak asyik ah!” ujarnya sedikit menggoda.
“ibu gak bakalan ngizinin, rif. Aku pernah bilangkan sama kamu”
“memang pernah?” arif tampak mengingat-ingat.
“Perasaan gak pernah deh,iyakan?” ujarnya semakin menggoda lalu mengecup keningku lembut. Aku tersenyum kecil seraya mengelus pipi mulus pujaan hatiku ini “udah kok”
“kapan?”
“barusan” arif terkikik kecil.
“aku gak akan mati karena malam minggu tanpa kamu. Tadi aku Cuma bercanda sayang” ucapnya lagi.
Hmm..walaupun aku tau itu bukan sekedar bercandaannya ataupun kalimat gombal tapi aku berusaha untuk menghindari pembahsan itu karena aku merasa tak berani untuk memberi janji untuk bisa padanya. Tapi bukan rasa beruntung lagi kali ini memiliki arif,melainkan rasa cintaku yang semakin meraja lela. Aku mungkin benar-benar bisa gila jika sosok yang ku anggap sempurna ini hilang ataupun lari dari hidupku. Sama seperti aku kehilangan ibu yang sudah menjadi malaikat hidupku,walaupun harus hidup tak wajar dibanding yang lainnya. Tapi aku tetap bertahan,bertahan demi mereka yang aku cintai.
“Oh iya,gimana kabar ibu kamu? Baik-baik aja kan?”
Aku mengangkuk pasti,senang mendengar kalimat dari arif yang menanyakan keadaan ibu,paling tidak arif sudah menunjukkan rasa keperduliannya bukan hanya padaku tapi juga pada ibuku.
“ibu baik-baik aja. Sehat selalu dalam kondisinya sekarang”
Arif tertawa renyah sekarang,kenapa?
“gak perlu ada kalimat penjelas lagi lah sayang. Cukup kamu bilang ibu baik-baik aja aku udah ngerti perasaan kamu”
Akupun ikut tersenyum dan larut dalam obrolan asyik arif sampai waktu tak terara larutnya,tepat waktu 22.01 kamipun mengakhiri keasyikan mengobrol kami,dan  seperti biasa  arif mengantarku pulang sampai depan rumah.
“selamat malam sinar” untuk terakhir kalinya sebelum berpisah arif mengecup kening dan bibirku sekilas,dan kamipun berlalu pergi dengan memperlihatkan senyum masing-masing.
Tepat di depan pintu rumah,aku menyempatkan diri sesaat meneliti kondisi sekitar yang tampaknya memang masih sepi karena ibu tak mungkin pulang awal,paling tidak sekarang ini ibu tengah asyik-asyiknya bermesraan dengan pasangannya,entah…laki-laki mana lagi yang ikut serta untuk menciptakan dosa-dosa besar didiri wanita yang usianya hampir berkepala empat itu. Huh..sudahlah,fikiranku tak boleh menerawang kacau lagi kearah ibu,biarkan saja dulu untuk kali ini karena aku sangat amat sadar kalau aku tak punya keberanian dan kekuatan untuk mendemonstrasikan ketidaksenanganku terhadap pekerjaan yang beliau geluti sekarang,aku memang pecudang kelas berat yang bodoh.
Lampu di seluruh ruangan aku hidupkan, agar tak terlalu tampak kesuraman yang ada pada rumah ini setelah membuka pintu depan. Tak tau kenapa rasa lelah hari ini membuat aku sesekali mengeluh keras dan akhirnya aku hempaskan tubuh ini ke atas sofa,ku tatap pintu kamar tepat didepanku sekarang,tampak sekali menyimpan banyak kisah pahit disana,kamar ibu.. yang tak pernah kumasuki karena selalu terkunci rapat. Kenapa harus dikunci? Aku fikir rumah kecil ini cukup aman dan dirumah ini juga cukup terjaga karena ada aku yang menjadi penghuni terbetah dirumah ini,atau malah ibu menghindari kamarnya dimasuki tangan jahilku? Aaagh..kenapa fikiran buruk melintas di otakku saat menatap jelas pintu itu? Seketika rasa ingin mengetahui semua yang ada didalam sana mulai menggapai,dengan pelan aku melangkah menuju daun pintu tersebut. Ternyata pintu yang biasa terkunci dengan rapat itu sekarang berbeda,tak ada kunci yang membuat pintu ini tak bisa dibuka,mungkin kali ini memang kesempatan yang diberikan tuhan agar aku mengetahui sedikit tentang ibu melalui kamar ini.
Ku buka perlahan kamar yang masih gelap itu dan dari ambang pintu sudah tercium aroma varfum yang biasa digunakan oleh ibu,perlahan aku masuk kemudian ku hidupkan lampu yang ternyata berwarna merah.
Merah?? Apa maksud ibu memilih lampu berwarna merah untuk penarangan dikamarnya? Suasana seram dikamar ini menjadi semakin terasa akibat lampu berwarna eksotis tersebut dinyalakan. Sekarang aku berdiri tepat dihadapan sebuah cermin besar yang terlihat antic,meja rias yang penuh dengan alat-alat kosmetik,ranjang berwarna coklat tua dan sebuah lemari hitam yang sudah usang terpajang dipojok kiri kamar disamping tempat tidur,disitulah rasa penasaranku tertumpuk sekarang. Aku membuka lemari itu dengan sangat hati-hati. Seakan jantungku berhenti sejenak untuk berdetak dan seperti tersambar petir aku melihat barang-barang yang ada didalamnya. Sebuah kardus berukuran sedang tersimpan disana,didalam kardus tersebut begitu banyak foto-foto yang sudah sangat usang. Foto yang bergambarkan aku berumur sekitar 2 sampai 4 tahun disana. Tuhan..semuanya tersimpan dengan rapi disini?
Apa ini sengaja disembunyikan?
Untuk apa?
Apa ibu tak pernah mau foto-foto itu menghiasi seluruh pojok rumah karena mungkin ibu tak terlalu menginginkan aku?
Rasa penasaranku berubah menjadi rasa sedih sekarang. Terlalu banyak cerita yang membuat aku merasa keliru,bingung,kesal. Seketika tubuhku melemas,akhirnya aku terduduk diranjang ibu yang masih terasa hangatnya tubuh ibu. Berfikir,berfikir,berfikir,terus berfikir,apa yang terjadi dihidup hina ku ini bersama seorang ibu pelacur. Apa dosaku? Bolehkah aku menyesal lahir dari rahim seorang pelacur? Dadaku terara sesak sekarang,air mataku mengalir juga akhirnya sekarang, sampai mataku sangat sembab dan kemudian yang dialami oleh mataku adalah rasa berat untuk terjaga,aku memejamkan mata berharap bisa menenangkan hati dalam beberapa menit dan terbangun sebelum ibu pulang.
                   ****************************************
Terkejut aku terduduk tiba-tiba diatas ranjang yang aku tiduri semalam.  Hah?? Tampaknya kali ini masalah serius menantiku karena ketahuan tertidur pulas diranjang ibu. Dengan cepat aku beranjak dari ranjang itu dan berlalu keluar kamar.
“ibu..” gumamku setengah berbisik,melihat ibu yang masih tertidur disofa,mungkin gara-gara ibu melihatku tertidur dikamarnya dan memutuskan untuk tidur diluar karena tak ingin mengganggu atau apalah…yang membuatnya lebih nyaman melelapkan matanya disofa. Sekarang fikiran negatifku juga ikut berpartisipasi, juga rasa bersalah sekaligus takutku. Yang telah menyadarkanku bahwa harus melakukan sasuatu, akupun langsung menuju dapur berniat menyiapkan makanan untuknya,pasti ibu sangat lelah.
Tak lama kemudian ibu terbangun. Aku yang berharap ibu tak marah melihatku memasuki kamarnya hanya berdiri dengan penuh kegelisahan disamping meja makan,memampangkan wajah memelas adalah waktu yang tepat sekarang. Ibu menatapku lekat,selekat-lekatnya.
“apa saja yang kamu dapat dari kamar ibu?” Tanya ibu dengan nada datar.
“mmm..sinar..sinar..”
“apapun yang kamu lihat dikamar itu gak ada yang penting buat ibu” timpalnya secara cepat. Jawaban apa itu? Seperti sebuah lelucon yang ia lontarkan.
“apa foto-foto yang ada dalam lemari itu juga gak penting buat ibu?” sekarang aku bertanya dengan sedikit kesal. Ibu malah tersenyum kecil kearahku.
“apapun itu,sinar” jawabnya seraya berlalu pergi kearah kamar kecil. Aku mencoba menghalangi ibu dengan menghadangnya masuk kekamar kecil.
“termasuk sinar?” tanyaku menahan geram.
“kurang jelas?” jawab ibu lantas kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar kecil.
Oh…aku tak bisa bersuara saat ini, mendengar jawaban konyol,gila bahkan sinting seperti barusan. Kenapa tuhan memberikan hidup yang tak bisa ku nikmati seperti manusia-manusia lainnya? 8 menit kemudian ibu keluar dari kamar kecil dan langsung menyantap makanan yang aku siapkan,pembawaan ibu yang cuek memang terkadang mengecohkan ku akan sikap kerasnya. Sungguh membuat aku sperti orang gila dirumah ini.
“ibu kenapa sih gak bisa sedikitpun ngerti apa maunya sinar?” aku mulai berontak sekarang,rasa tak terimaku atas kejadian-kejadian bersama ibu akhir-akhir ini membulatkan tekatku agar aku harus BERONTAK sekalipun harus mengorbankan sesuatu yang mungkin bisa membuat hati ibu terketuk.
“ trus apa? Apa mau kamu? Ibu Tanya” Tanya ibu menantang.
“mau sinar,hidup sinar bisa normal seperti orang-orang diluar sana. Sinar pengen ibu,bukan materi yang selalu ibu beri. Itu yang sinar mau” seruku dengan nada tinggi. Mendengar itu ibu seketika meletakkan makanan yang ada ditangannya. Lama ia terdiam,seolah tengah memikirkan apa yang harus ia jawab atas pemberontakan awal dariku. Mungkin.
Ibu beranjak dari tempat duduknya dan mendekatiku yang sedang berdiri disamping jendela. “saya bukan ibu yang  terbaik untuk anaknya. Saya ibu yang berbeda,sinar” jawabnya enteng. Ya..ibu yang tak punya hati seperti ini memang akan terlihat berbeda. Atau mungkin hati yang ada didalam tubuhnya itu terbuat dari batu yang keras dan tak punya rasa.
“sinar tau. Ibu memang berbeda dari ibu-ibu yang lain. Tapi sayang bukan hanya ibu yang berbeda,sinar juga ikut menjadi anak yang berbeda dari yang lainnya. Sinar menjadi anak yang selalu dicemo’oh,dihina,dianggap sampah,dianggap rendah,itu semua karena hidup sinar yang kurang beruntung mempunyai ibu seorang pelacur” sampai disini nafasku sudah terengah-engah karena luapan emosiku yang sangat luar biasa.
“Dan kita sudah buktikan kalau kita memang ibu dan anak,kita sama,kita sama-sama berbeda dibanding orang-orang diluar sana. Kita sampah” aku berujar tangkas,mencoba mengeluarkan apapun yang aku pendam dari berbelas tahun yang lalu. Aku bukan anak seorang pelacur yang bodoh sekarang,yang akan diam dengan segala keburukan yang tercipta.
“bagaimana? Sudah puas dengan apa yang kamu lontarkan?”
“ya..sinar puas walaupun semua ini gak akan pernah bisa ngerubah hidup sinar menjadi lebih baik”
“saya merasa hidup saya sudah sangat baik. Bahkan saya yang merasa aneh karena kamu gak merasakan kenyamanan yang saya rasakan”
“tentu ibu merasa baik dan nyaman dengan apa yang ada,karena ibu terlahir gak punya perasaan,hati ibu terbuat dari batu” pekikku seraya meninggalkan ibu.
Ya tuhan..aku adalah pecundang yang terlalu terpaku pada jalur kehidupan. Tak tahan dengan keadaan, aku memutuskan untuk menghampiri arif dikontrakannya, berharap bisa tenang dan nyaman bila berada didekatnya. Arif yang ternyata masih sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya tetap menyambutku dengan hangat. Sekitar 10 menit arif membiarkan aku menangis sesenggukan sendiri tanpa pertanyaan-pertanyaan yang ia keluarkan dari bibirnya. Setelah itu ia baru mendekatiku dan membawaku dalam pelukannya.
“udah siap cerita?” tanyanya memecahkan suasana. Aku mengangguk pelan,walau sedikit sulit untukku menceritakannya tapi aku terus mencobanya agar mendapat solusi atas masalah ini.
“lama-lama aku bisa mati karena terus berada dalam kekangan”
“kalian memang berbeda,amat sangat berbeda. Tapi apa kamu pernah mikir perbedaan yang kalian punya itu justru menjadikan kalian special dari yang lainnya” arif mencoba memberikan argumennya tentang masalah ku. Tapi yang membuat aku bingung kali inni adalah perbedaan yang kami miliki akan terlihat special. Apa yang special dengan hidup yang kacau seperti ini.
“special?”
“iya dong,karena masih ada wanita yang tangguh seperti kalian,tangguh menghadapi kerasnya kehidupan ini dengan kemampuan yang luar biasa ,kan?”
Hmm…ok. Cukup menghibur untuk sekarang. Aku tersenyum kecil seraya melepaskan pelukannya.
“aku nginap ya?” ujarku sedikit lega. Arif mengangguk. Dan dengan perlahan arif mendekatkan wajahnya kewajahku,dan dengan hangat bibir tipis arif menyentuh bibirku dengan lembut,terasa..sangat terasa sentuhan bibir itu menyentuh bibirku lekat hingga susah untuk dipisahkan. Semakin lama,semakin membuat aku tak ingin mengakhirinya dan terus ingin menikmatinya. Hingga satu titik saat nafsu yang mencapai puncaknya. Aku melewati seluruh hari dan malamku dengan adegan-adegan mesra yang kami ciptakan dengan menyerahkan seluruh ragaku tanpa terkecuali untuk laki-laki ini miliki,laki-laki yang aku cintai. Hingga fajar muncul sekarang  aku tetap berada dipelukan arif. Melihat laki-laki berkulit putih ini masih  tertidur pulas dan telanjang dada didalam selimutnya,hanya ada rasa ingin memilikinya untuk selama-lamanya tanpa ada yang bisa memisahkan,karena secara batin aku sudah seperti terikat dengannya. Tak akan mampu aku hidup tanpa arif,tanpa suaranya dan kata-kata yang menjadi obat penenang untukku ini.
“hey” sapaku manja pada arif yang masih tertidur pulas. Wajah tampan itu sekarang berada tepat didepan wajahku. Dengan sedikit susah arif mencoba membuka matanya dan aku sudah siap untuk menyambut bangun tidurnya dengan senyuman. Ia membalas senyumanku dengan memberi kecupan mesra dikeningku.
“aku pulang ya?” ujarku lembut seraya mengelus wajah mulus arif,Arif mengangguk dengan senyuman yang tak pernah absen.
Akupun menjauh dari tubuh arif yang masih lemas dan pulang untuk memastikan apa reaksi ibu atas sikapku kemarin.
“sinar pulang” ujarku datar pada ibu yang ternyata tengah menghisap batang rokoknya didepan jendela.
“dari mana kamu?” Tanya ibu tanpa menoleh.
“dari kontrakan arif. Kenapa bu?”
“gak ada tempat lain untuk kabur selain rumah pacarmu itu?”
“ibu kira ada yang sudi berteman denganku selain arif? Gak akan ada”
Ibu tersenyum sinis dan kembali menghisap sisa dari batang rokoknya.
Akupun berlalu pergi kearah kamar degan cepat. Dibenakku kali ini hanyalah rasa benci melihat sikap acuh ibu,semua perasaan itu berkecamuk disana. Aku lelah harus terus terikat dengan perasaan yang menyiksa raga maupun batinku ini. Aku lelah,tuhan..
                    
                   *****************************************
Hari ini tepat seminggu aku tak bertegur sapa dengan ibu,ibupun demikian tak terlalu berniat untuk memperbaiki semuanya. Berat memang,tapi aku hanya seorang anak yang akan terus mengikuti arus yang dibawa oleh ibu,menurutinya sekalipun itu salah. Dan yang paling terpenting sekarang adalah,rasa berontakku berakhir sudah setelah ada penawarnya.
“sinar pergi” ujarku sekaligus meluncurkan sapaan perdana pada ibu setelah kejadian seminggu yang lalu yang mengakibatkan miss komunikasi diantara kami,ibu tengah terduduk asyik dengan ponselnya,melihat reaksi itu dengan segera aku meninggalkan rumah yang penuh dengan dosa itu.
Diselasar rumah aku berhenti sejenak untuk menoleh kebelakang melihat ibu yang masih saja dengan lakonnya sendiri,nafasku seakan ingin ikut mengeluh dengan helaan yang panjang. Ini hidupku..ini duniaku..batinku juga ikut berdemonstasi. Dengan susah payah kucoba seret kedua kakiku menyusuri jalan yang mulai akan menggelap sebentar lagi dan aku ingin menyaksikan matahari itu tenggelam seperti rasa berharapku kisah pahit ini tenggelam dengan sempurna dan hanya menjadi sebuah kenangan. Berjalan..terus berjalan..hingga aku merasa lelahnya kaki ini,hingga aku merasakan tak kuat untuk melangkahkan kakiku ini ,hingga aku tak mampu untuk berdiri lagi,sampai akhirnya aku menyaksikan matahari itu tenggelam dengan sempurna. Ah..aku bisa nikmati itu.
“neng” sapaan itu sepertinya tertuju untukku. Aku menoleh,disana seorang bapak-bapak tersenyum lebar kearahku.
“mampir dulu daripada disitu berbahaya” ajaknya seraya menunjuk kearah warung kecilnya. Sedang aku…aku menoleh kanan kiri dan memutarkan tubuhku beberapa kali melihat sekelilingku,ternyata aku dari tadi berdiri dengan tanpa sadarnya ditengah-tengah jalan raya,tapi memang tak begitu banyak kendaraan yang melewati jalan ini. Aku tersenyum kecil kearah bapak itu.
“iya,pak” jawabku sembari menuju warung kecilnya.
“neng ini keasyikan sampai lupa kalau berada ditengah-tengah jalan. Menikmati matahari itu memang sesuatu yang menyenangkan neng,tapi jangan gara-gara itu neng jadi ketabrak kendaraan” ujar bapak itu sembari menawarkan segelas air putih. Mungkin bapak ini mengira aku kehausan,melihat keringatku yang bercucuran.
“Ini buat saya?” tanyaku menunjuk segelas air putih yang berada didepanku. Bapak itu malah tertawa renyah lantas mengangguk.
“oh terima kasih pak,jadi ngerepotin. Sebenarnya saya gak haus,tapi boleh lah buat ngilangin rasa kaget saya barusan ada ditengah jalan raya” aku meraih gelas berukuran tinggi itu dan mengeguknya. Aku memang agak sedikit kaget melihat posisiku yang kurang strategis tadi,fuuh..
 Setelah sedikit menghilang rasa kagetku,aku kembali memperhatikan langit yang sudah menggelap,tanpak mendung malam ini, paling sebentar lagi akan turun hujan. Seketika ingatanku kembali berputar kearah belakang,aku baru ingat kalau rencana semulaku ingin pergi kekampus ternyata buyar oleh keindahan yang menurutku jarang aku amati dan aku nikmati,sampai aku berada ditempat ini,warung kecil yang jaraknya sekitar kurang lebih 200 meter,dan aku tempuh tanpa merasakan jauhnya. Kejadian yang langka aku alami. Aku tersenyum kecil,geli dengan kejadian aneh yang baru pertama kali terjadi padaku ini. Barangkali karena aku  sering melewatkan hari-hariku dengan segala macam masalah jadi aku tak begitu menyadari banyak sekali kejadian-kejadian alam yang bisa membuat aku terhipnotis sejenak.
“mendung ya neng,sepertinya bakalan turun hujan. Lebih baik neng pulang sebelum hujan,nanti neng malah terjebak gara-gara hujannya deras” saran bapak itu dengan ramahnya. Aku mengangguk. “saya pulang ya,pak. Makasih” aku beranjak dari kursi dan kembali berjalan menuju rumah.
“sinar pulang” seruku seraya membuka pintu rumah. Kulihat ibu sudah siap dengan segala atribut kerjanya didepan pintu yang juga akan keluar,muak melihat dandanan itu,pakaian mini itu,wangi varfum itu,semuanya aku muak.
“ibu pergi” ujar ibu seraya berpose bak model-model professional yang memampangkan lekuk-lekuk tubuhnya yang indah diatas panggung ,hmm..wajar jika banyak laki-laki yang menginginkan malamnya dilalui bersama ibu yang sangat sexi ini,ditambah dengan polesan-polesan kosmetik yang membuat ibu benar-benar tampak cantik dan menarik.
“hati-hati” ujarku pada ibu yang melanjutkan perjalanannya keluar rumah.
Merasa lelah telah berjalan kaki,aku memilih duduk diselasar rumah memikirkan kejadian seminggu yang lalu dikontrakan arif. Dosa yang aku nikmati ketika itu,aku jadi merasa kalau aku sama saja dengan ibu yang notabennya seorang pelacur. Tapi biarpun seperti itu,aku lebih baik daripada ibu,aku lebih memilih menyerahkan keperawananku kepada kekasihku yang selama ini memberi banyak ketenangan dan kebahagiaan dan tidak memilih untuk menukarkan keperawananku untuk berlembar-lembar uang dari laki-  laki yang bukan siapa-siapa dihidupku,itu lah ibuku..sang pelacur yang berpengalaman.
Setelah kejadian itu,aku dan arif akan merasa lebih terikat. Terlebih untukku sendiri,tak akan rela kisah ini berakhir dan menjadikan hidupku hampa tanpa arif ,paling tidak suatu saat nanti arif bisa menggandengku sebagai nyonya arif yudistira. Ya..aku berharap itu.
Disela-sela ingatanku yang berpusat pada arif,tiba-tiba ibu datang dengan langkah yang cepat menuju kedalam rumah. Aneh,aku mengikuti langkah ibu kedalam rumah. Disofa ibu membaringkan tubuhnya ditemani oleh sebatang rokok yang tengah asyiknya ia hisap.
“pulang cepat?” tanyaku sok basa-basi padahal aku sangat ingin tau penyebab kepulangan ibu yang cepat itu.
“hmm..” itu saja jawabannya,ya..ya..ya.. paling ibu sedang ada masalah diluar sana dan aku tak tertarik untuk mencampurinya ataupun mengetahuinya. Aku ralat atas rasa penasaranku tadi yang sekarang berubah menjadi rasa tak mau tau. Lebih baik aku menjauh dari ibu,biarkan ia sendiri dulu saat ini. Tanpa sengaja di otakku terbersit metode arif dalam menenangkan fikiranku jika sedang ruwet,metode yang bisa aku terapkan sekarang pada ibu.
Melangkah jauh dari ibu hal yang sangat benar sembari mengirim sms untuk arif.
“rif,telfon yah” sms terkirim. Sekitar 2 menit kemudian ponselku berdering dengan keras dan di lcd-nya tertera nama “my arief” dengan segara aku mengangkatnya.
“hallo,rif”
“kenapa nar?” tanyanya seperti tengah mengerjakan sesuatu,itu terdengar dari suara-suara rebut dibelakangnya.
Aku menarik nafas panjang “gak ada sih,Cuma mau ditelfon aja. Bête”
keluhku.
“oh ya? Memangnya bête kenapa sugar?” tanyanya  mesra.
“gak tau,mungkin….”
“ampuuuuuuuuuuuunn!!” teriakan itu membuat jantungku seperti dipukul keras,sangat keras hingga nyerinya membuat seluruh badanku tiba-tiba bergetar. Aku tersentak,bahkan mungkin beku sesaat mendengar teriakan histeris minta ampun itu. “ibu…” fikiranku sekarang langsung tertembak pada ibu yang hari ini sedikit tak biasa. Ingin beranjak dari ranjang,namun arif disebarang telfon memanggilku berulang-ulang kali.
“rif,nanti aku telfon lagi” ujarku kemudian memutuskan telfon tanpa mendengar jawaban arif. aku berlari kecil kearah tadi ibu membaringkan tubuhnya.
Oh tuhan…
Ada apa ini?
Aku berlari mendekati ibu yang sudah terlihat ketakutan disudut ruang tamu. Dari hidungnya mengelurkan sebercak darah segar,aku menoleh kearah laki-laki bertubuh besar,kekar,dan wajah yang penuh dengan amarah sedang menatap kami tajam. Dengan tanpa rasa takut aku berdiri lantas mendekati laki-laki asing yang baru saja menyakiti ibuku. “siapa kamu?” tanyaku dengan sangat tenang.
Laki-laki berkulit hitam itu tersenyum sinis. “aku orang yang ibu kamu tipu”
“menipu apa?”
“uangku yang sudah sangat lama ia belum lunasi,tepatnya 1 tahun yang lalu”
Hah?? Uang? Uang apa?
“berapa?” aku mencoba bertanya lagi.
“enam juta”
Yaaah…percuma saja aku menanyakan hal itu,aku tag akan bisa untuk melunasinya.
“sekarang aku tidak mau memberi ibumu kesempatan lagi. Kalian harus lunasi secepatnya” ujar laki-laki itu seraya membalikkan badannya kearah pintu keluar.
Melihat lagat berkuasa itu,sesaat amarahku memuncak,karena rugi bila aku tak membalas apa yang ia lakukan pada ibuku. Dengan sangat pelan aku meraih sepatu sebelah kiri ibu yang aku tau ujung sepatu tinggi itu bisa menjadi senjata karena ujungnya cukup kecil dan mungkin bisa melukai.
Aku mengikuti langkah laki-laki itu dengan cepat,sampai aku tepat berada dibelakangnya “hey …” sapaku,laki-laki itu menolehkan kepalanya kearahku. Secara cepat aku mengayunkan tangan kananku kearah wajah laki-laki brengsek ini,dan dengan tenaga yang aku keluarkan secara total,ujung sepatu itu aku persilahkan untuk mencium kepala laki-laki asing itu dengan sangat keras. Seketika laki-laki itu terkapar dan mengaduh kesakitan seraya memegang kepalanya,dari kepala itu keluar dengan derasnya darah segar,begitu banyak hingga baju kaus abu-abunya berubah warna dipenuhi oleh darah yang dengan sangat hebatnya mengucur.
Dan aku…
Tubuhku melemas,mungkin sekarang wajahku seperti wajah mayat yang darahnya telah beku sangat pucat,seluruh tubuhku bergetar hebat. Rasa takut itu kini mulai menyerang syaraf-syaraf diseluruh ruang yang ada didalam tibuhku,jantungku juga tak kalah berdegup dengan sangat kencang,seakan degupan itu ingin berlari dari tubuhku,supaya ia bukan menjadi bagian dari tubuh yang pasti akan mendapat sapaan baru sebagai seorang pembunuh ini. Tak kuat lagi kakiku menopang tubuh lemas ini,aku terduduk sejanak menatap laki-laki bertubuh besar itu mengerang kesakitan sampai tak berdaya dan akhirnya tak bergerak.
“kamu pergi!!!!!” sebuah tangan menarik pergelangan tanganku dengan keras. Tersentak hebat,aku menoleh kearah tangan itu,ternyata ibu yang telah menarik tanganku begitu juga dengan ekspresi ketakutannya yang kini berubah menjadi mimic wajah paniknya.
Tangannya terus menarik dengan kencang pergelangan tanganku,menyuruhku cepat beranjak dari posisiku yang tepat berada dihadapan laki-laki yang aku buat tak berdaya dan tak bergerak sekarang.
Masih dalam kondisi yang lemas aku mencoba berdiri. Lantas ibu membawaku keluar rumah,diselasar tepatnya.
“pergi sejauh mungkin” ujar ibu semakin mempererat pegangannya atas lenganku. Baru saja aku ingin mengatakan bahwa aku tak ingin pergi dari sampingnya dan ingin bertanya uang untuk apa yang ia pinjamkan sampai memiliki masalah seperti ini. Tapi aku juga ingin mengatakan bahwa aku siap dengan segala yang terjadi setelah ini. Ibu meneteskan airmatanya menatapku  “pergi sinar” timpalnya dengan sedikit memohon padaku.
“ibu..” seruku terisak seraya memeluknya,aku takut tuhan…
“pergi dan jangan kembali dalam waktu dekat”
“sinar tanggung jawab,bu”
Ibu melepaskan pelukannya dan memegang kedua pundakku cukup kuat hingga terasa cengkraman itu penuh amarah.
“jangan! Kamu harus pergi” ujar ibu lantas mengecup keningku dan menolak tubuhku dengan pelan kearah jalan.
Ibu…
kecupan pertama itu membasahi keningku untuk pertama kalinya disaat situasi buruk seperti ini. Kenapa harus saat seperti ini tuhan??
Kulihat tangan ibu memberi isyarat untuk beranjak pergi dengan cepat. Baik…langkah pengecut ini akan pergi meninggalkan semuanya,meninggalkan tanggung jawab,situasi buruk dan ibu,aku meningggalkan ibu disana yang aku tak tau apa yang ada dalam fikirannya sekarang dan kembali lagi tak tau maksud dari sebuah kecupan hangat itu. Sekarang yang harus aku lakukan adalah berjalan tak ada ujungnya,dengan tangan yang sudah kotor,dengan kaki yang sudah melemas,dengan hati yang merasa kacau,dengan fisik yang sudah tak punya daya,dengan mulut yang sudah tak menyimpan kata dan dengan mata yang sudah mulai mengering akan airmata.
Hari ini,detik ini,bukan hanya masalah-masalah lama yang aku emban,bukan hanya aku si anak seorang pelacur,bukan aku yang tak pernah mendapat kenyamanan dan keindahan hidup,tapi masalah baru sudah siap menginginkanku menjadi seorang pembunuh kecil yang mengerrikan.
Dimana kau tuhan?
Dimana pembelaanmu atas hidup yang telah kau atur ini?
Apa kau akan muncul setelah semuanya benar-benar lebur tertelan dosa-dosa besar yang aku buat?
Aku lebih memilih hidup menjadi manusia yang cacat, daripada hidup seperti sampah bahkan kotoran yang dimanapun akan menimbulkan bau busuk bahkan penyakit bagi manusia lainnnya.
Atau aku takkan memilih untuk lahir didunia ini.
          Dimana kau tuhan?????
Kulirik jam arlojiku,waktu sudah menunjuk pukul 7 malam. Kufikir tak akan lama lagi kakiku akan ikut mengeluh karena lelah,aku terduduk lemas dibawah pohon rindang ditepi jalan raya,kendaraan yang lalu lalang didepanku tak cukup berhasil membawaku keluar dari fikiran kacau.
Aaaaaagh!!! Harus kemana lagi setelah ini..aku tak banyak kenalan diluar untuk sebuah persinggahan.
“kenapa duduk sendirian ditepi jalan mbak” goda sekilas tiga orang laki-laki yang melintas didepanku,ketiganya tampak lebih muda dariku,alias ABG.
“arif..” ya arif…kenapa aku tidak kekontakan arif saja. Aku meraba-raba seluruh kocek celana bermaksud mencari ponselku.
Uuuuuhh,ponselku aku lempar diatas ranjang tadi. Mau tak mau aku melanjutkan perjalananku kerumah arif dengan berjalan kaki,untung rumah arif tak terlalu jauh dari tempat aku beristirahat tadi.
Setelah kurang lebih 15 menit berjalan akhirnya sekarang aku berada tepat didepan kontrakan arif. Mengetuk pintu itu yang pertama kali cepat dilakukan.
“rif..” sapaku dengan suara serak. Tak lama terdengar langkah kaki yang mengarah kepintu dan pintu terbuka sekarang.
“sinar..” dengan wajah herannya ia membawaku masuk dan menyodorkan segelas air putih kepadaku,tanpa basa basi lagi ku teguk saja air putih itu sampai habis karena kebetulan tenggorokanku juga mengering setelah berjalan dengan jarak yang mencapai berkilo-kilo meter itu.
“ada masalah lagi?” arif membuka pembicaraan.
Aku mengangguk. Arif mendekat dan merapikan poniku yang berantakkan,ia tak berbicara namun polahnya yang sedang berbicara yaitu dengan sentuhan-sentuhan lembutnya yang mengusap rambutku,pipiku,dan bahuku sebagai pengganti ucapan-ucapannya yang bisa membuat aku akan tenang sedikit. Tapi kenapa rasanya kali ini semua respon itu tak peka terhadapku,aku tak merasa tenang sama sekali. Bersyukur arif langsung mengerti akan sikapku.
“kalau udah siap cerita aku ada diluar” arif meninggalkanku dikamarnya sendirian. Itu..itu senjata ampuh arif saat menghadapi aku yang seperti ini,manusia bermasalah.
10 menit…
20 menit…
30 menit…
1 jam…
Aku baru berniat mencari arif. Kulihat arif tengah memperhatikan sesuatu dengan sangat serius dilaptop-nya. Aku duduk disampingnya,ternyata foto-foto konyolku bersama arif yang terpampang.
“liat deh,kita kayak orang gila ya gaya ginian?” ujar arif seraya terkikik kecil. Memang,difoto itu aku dan arif bergaya ala monyet yang lagi jatuh cinta,lucu,gila plus pede. Aku ingat benar kalau foto itu diambil 6 bulan yang lalu saat kami merayakan ulang tahun arif yang ke 21 tahun.
“jadi pengen ngulangin masa-masa itu lagi” lanjut arif seraya merebahkan kepalaku kebahunya dengan tangannya. Tapi apa arif akan tetap ingin mengulang masa-masa itu dan tetap akan seperti ini setelah tau aku adalah seorang…
Aku terisak dibahu arif,menangis dengan suara keras lantas memeluk erat arif. Sudah tak mampu untuk menahannya,sudah tak mampu untuk menampungnya. Tak mampu gadis seperti aku harus menjalani semuanya sendiri tanpa ada yang menemani.
“jangan cuma bisa numpahin semuanya dengan menangis nar. Itu memang bisa buat hati kita lega,tapi gak akan bisa mecahin masalah kita.  kalau kamu memang mau ngelaga..”
“mungkin airmata aku bakalan kering sebentar lagi,tapi kenapa rasa lega itu gak aku nikmati” kupotong saja pembicaraan arif dan belum kulepas pelukanku,melainkan semakin ku eratkan pelukan itu,karena mungkin pelukan ini yang bisa melegakan aku.
“mungkin..kalau kamu terus menangis tanpa berusaha membicarakannya”
Akhirnya kulepaskan pelukan itu dengan pelan,arif kali ini tidak menatap wajahku seperti biasanya saat mengalami masalah,ia tetap memperhatikan foto-foto kami dilaptopnya.
“aku gak akan Tanya-tanya kamu,kecuali kamu yang ingin cerita. Kamu memang pacar aku,kamu yang milikin dan yang ada dihati aku,tapi masalah aku bukan punya kamu begitu juga sebaliknya,aku berharap kamu gak akan salah faham dengan kata-kataku barusan”
Ujarnya sesaat berlalu pergi. Aku takkan pernah tersesat dalam kalimat bijakmu barusan rif,karena aku tau betul kamu selalu memberi hak pribadi itu padaku.
Haaaahh…apa yang terjadi dirumah begitu juga ibu. Apa semuanya baik-baik saja setelah ibu menyuruhku pergi? Aku menyandarkan kepalaku kedinding kemudian memejamkan mata,mengatur nafas dengan sangat baik,melemaskan tubuhku agar begitu santai dan menikmati bunyi jangkrik yang tengah bersorak ria dihalaman kontrakan arif.
Tenang..tenang..dan tenang..itu yang berusaha aku ciptakan sekarang,mencoba menjernihkan pandangan. Ya..ketenangan itu menghampiri sekarang,walau hanya dalam presentase yang tak banyak tapi akan aku syukuri.
Entah sudah berapa lama aku terlelap menikmati ketenangan yang menghampiri,terkejut,…aku membelalakkan mataku dengan cepat,karena merasakan tubuhku terangkat dari sandaran. Ternyata arif menggendongku kearah kamarnya dan membaringkan tubuhku diranjang.
Dengan cepat kembali aku memejamkan mataku saat arif memandang wajahku,mungkin ia memandangku dengan sangat lekat. Yang aku rasakn hanyalah pipiku,keningku,dan bibirku telah dikecupnya.
                            
                             *******************************
          “rif…” aku beranjak dari ranjang arif yang empuk menuju ruang depan. Tak ada sosok arif aku temui,hanya segelas teh dan sepiring nasi goreng yang masih panas diatas meja dan secarik kertas yang tertulis…
“aku pergi keluar kota untuk keperluan skripsiku dan secepatnya pulang. Sarapan sudah siap,tinggal dinikmati,maaf kalau sedikit terasa aneh dicerna oleh lidah sarapannya. Love you,arif” ocehku sambil tersenyum kecil. Kemudian menyantap sarapan itu tanpa berniat membersihkan segala sesuatunya setelah bangun tidur.
Arif memang sebentar lagi akan menjadi sarjana,sekitar satu bulan kedepan semuanya akan rampung dan arif siap untuk mengenakan toga diacara wisudanya. Sayang,dimomen yang sangat penting bagi arif itu sepertinya ia akan melewatinya dengan sendiri,selain orang tuanya yang sudah lama tiada ia memiliki satu-satunya saudara laki-laki pun tak bisa hadir diacara penting itu,dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan,dan jarak juga menjadi perhitungan kakak beradik ini,maklum yang biasa disapa mas aris ini karirnya yang sangat diperlukan oleh perusahaan disalah satu kota dinegara AS tengah berkibar. biarpun dalam kondisi seperti itu,mas aris tidak pernah menyia-nyiakan adik satu-satunya yang berumur tiga tahun dibawahnya ini,contohnya seperti membiayai sekolah arif sampai datik ini dan hari wisuda bulan depan bisa terwujud tidak lepas dari peranan mas aris. Jadi semuanya memang akan menimbulkan kata maklum untuk arif sekarang ini.
          Waktu sudah berlalu sangat lama,dan aku hanya menghabiskan waktu yang kurang lebih dua belas jam didepan TV,tak begitu bersemangat untuk melakukan aktivitas yang lain,semuanya akan terasa terpaksa aku lakukan karena otak yang masih sangat penuh dengan fikiran-fikiran yang tak karuan.
“aku pulang” ujar arif seraya menghempaskan tubuhnya disampingku. Tampak lelah lelaki jangkung ini. Akupun menyodorkan segelas air putih,ia tersenyum kearahku seraya meraih gelas itu dan meneguknya hingga habis.
“huuh..akhirnya semuanya selesai. Kemungkinan gak lama lagi aku akan sidang skripsi” ucapnya semangat,aku mengangguk pasti.
Arif beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi. Kenapa aku begitu sedih mendengar kalimat yang dilontarkan arif,atau rasa takutku yang sangat berkuasa sekarang? takut jika aku akan merusak semangat dan kebahagiaan itu,karena hari ini aku siap untuk menceritakan semuanya pada arif tentang apa yang terjadi denganku. Bahkan mungkin setelah ini arif akn berubah terhadapku,terserah…
“oh iya,gimana masakannya tadi pagi? Gak bikin kamu pengen muntah kan nar?” Tanya arif sesaat keluar dari kamar mandi dengan tubuhnya yang sudah bersih dan segar.
“nggak…tadi aku lahap-lahap aja makannya. Laper juga,jadi rasanya apa udah gak perduli” jawabku,membuat arif tertawa renyah dan kembali duduk disampingku.
“beleguk” ujarnya seraya melentirkan ujung hidungku.
aku terdiam,di ikuti arif yang asyik mencari channel TV  yang menarik.
“rif” sapaku “hmmm?” jawab arif tanpa menoleh. Tapi tiba-tiba tubuhku terasa dingin dan jantungku berdegup kencang. Arif menoleh kearahku.
“kenapa sayang?”
“kamu masih cinta sama aku kalau kamu tau aku punya segudang masalah?” tanyaku standar sebelum pada titik pembicaraan yang sebenarnya. Arif tersenyum kecil. Masih santai.
“dari dulu kamu memang punya segudang masalah,apa aku pernah bilang menyerah?”
“kamu masih cinta sama aku kalau kamu tau aku bukan sinar yang dulu?”
“memangnya sinar beda dari yang dulu? Kalau iya,apa bedanya?” arif mulai serius.
“kamu masih cinta sama aku kalau perbedaan itu adalah masalah terbesar buat kita?”
Arif terdiam,entah ia tengah bingung harus menjawab apa,atau tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu,tapi yang aku tau arif tak akan kehabisan jawaban ataupun kalimat yang bijak atas pertanyaan-pertanyaanku.
“apa rif?” aku kembali bertanya dan mendesaknya. Arif tetap bungkam dalam tatapan matanya yang sukar ditebak.
“kamu masih cinta sama aku kalau aku seorang kriminal rif?” tanyaku untuk kesekian kalinya dan telah mencapai puncak pembicaraan.
Wajah arif berubah. Wajah yang menggambarkan perasaan kaget,tidak percaya,syok,sangat sangat jelas disana.
“apaan sih kamu? kriminal apa?” Tanya arif dengan nada jengkel.
“mencoba mencelakai orang dengan melemparkannya sepatu yang akhirnya bikin orang itu gak sadar sama sekali. gak tau sekedar pingsan atau malah udah mati. Itu masalah aku rif,itu yang buat aku berada disini” airmataku mulai bersorak sekarang.
“aku udah bunuh orang. Orang yang bikin ibu terluka. Aku pembunuh” rasa yang aku tahan dari semalam sekarang aku tumpahkan disamping arif yang terpatung. Suasana bungkam mengurung kami dalam beberapa menit,tak ada kata,yang ada hanya suara isak tangisku yang tak bisa aku kendalikan lagi dengan posisi duduk yang membelakangi arif. sampai akhirnya arif beranjak dari tempatnya dan memilih keluar rumah. Tak ada niat untuk mengejarnya,tak ada niat untuk membuatnya bisa menerima yang telah terjadi,karena aku tak terlalu mengharapkan itu.
Terserah tuhan…
Jika kau menginginkan arif menjauhi sosok kotor sepertiku,terserah…
Mungkin detik ini juga arif akan menarik kata-kata manisnya dulu untuk selalu menerima aku dengan segala kondisiku,aku ikhlas…
Kurang lebih 32 menit aku terisak sendiri disini,hingga aku memutuskan untuk keluar dari rumah dengan sisa-sisa tenaga yang ada dan saatnya aku kembali kerumah ibu,menghadapi segala akibatnya,juga tak perduli dengan arif. Hanya berharap arif akan baik-baik saja.
Sampai didepan rumah,semua mata tertuju padaku,mungkin makian-makian yang keluar dari mulut orang-orang yang tertarik melihat kondisi rumah dan ibuku sudah membusuk ditubuh ini. Semua memandangku sinis sepanjang dari depan rumah sampai kini berada didepan ibu yang tengah terduduk dengan tangan yang berada dikeningnya.
“ibu” sapaku pelan. Salah satu polisi yang berada disekitar kami dengan cepat memegang tanganku dan salah seorang polisi yang lain memborgol tangan yang seperti tak punya tulang ini,benar-benar seperti tak punya tenaga sedikitpun saat ini semuanya aku pasrahkan.
Ibu terperangah lantas berdiri mendekatiku.
“kenapa kamu kembali sinar? Kamu gak denger apa kata ibu,jangan kembali!!” seru ibu seketika terisak mengguncang bahuku dengan keras.
“kenapa kamu kembali nar” sekarang ibu terlutut didepanku. Aku tak ingin menjawab dan mengeluarkan airmata disituasi ini,mati rasa yang ada. Polisi-polisi yang pasti sudah dari kemarin mencariku sekarang tak sabar membawakan aku ketempat dimana seharusnya aku berada. Polisi membawaku pergi keluar rumah. Dengan spontan ibu menarik baju salah satu polisi mencoba menghadang kepergian kami.
“jangan bawa dia pak,jangan bawa dia” seru ibu histeris seperti orang yang sudah kehilangan akal sehat. Niatku yang semula tak ingin seteteskan airmata ternyata tak terwujud,setetes airmata yang aku tahan itu akhirnya membasahi pipiku bahkan semakin menyesakkan dadaku. Tak tahan melihat reaksi ibu yang membuat aku sekarang tau betapa besar rasa sayangnya padaku walau untuk yang pertama kali semuanya terungkap saat peristiwa gila ini muncul.
Ibu semakin berang,ibu ingin menikam polisi yang membawaku dengan sebuah asbak rokok tapi ditahan oleh polisi lainnya,ibu benar-benar marah besar. Aku tetap dibawa dan dimasukkan kedalam mobil tahanan yang tak pernah ku bayangkan jika aku akan berada didalamnya untuk menuju jeruji besi.
                                      ************************


1 bulan…
3 bulan…
6 bulan…
10 bulan 8 hari…
 Berada dijeruji besi yang pengap,sempit,dingin jika malam,membuat aku sedikit susah untuk beradaptasi bukan tak bisa menerima situasi. Mungkin tingkat rasa sadarku yang tinggi akan akibat kelakuanku,aku bisa dengan sangat ikhlas menerima keadaaan ini. Aku difonis penjara selama 1 tahun penjara oleh jaksa,tapi tuntutan fonis yang diajukan oleh korban yang ternyata hanya mengalami geger otak kecil dan masih diberi kesempatan bernafas itu adalah 3 tahun penjara,karena jasa loyer yang dibayar oleh ibu,aku dibantu hingga sisa tahanan hanya sampai 1 tahun. Lagi-lagi ibu yang mendampingiku,dan yang lebih membuat aku tidak menyesal peristiwa ini terjadi adalah ibu ku yang seorang pelacur kini telah bersiap menyonsong hari sebagai seorang ibu normal tanpa ada embel-embel yang membuat pandangan orang negatif lagi terhadapnya,ibu berhenti dari pekerjaan kotor yang ia geluti selama berbelas-belas tahun itu. Tak salah jika ku katakan bahwa peristiwa kemarin bukanlah musibah melainkan lembaran cerita yang baru aku buka,sebut saja aku orang gila yang senang berada dalam hidup yang seperti ini. Ku telah mendapatkan ibuku,tuhan…walau kurang lengkap rasanya karena arif tak berada disini,tapi aku berusaha untuk mengikuti cara arif untuk memasukkan kata maklum dalam perjalanan hidup yang panjang ini,karena memang tak mudah untuk arif terima hal yang mungkin paling buruk yang pernah ia alami. Dan aku tak pernah menyesal semuanya pernah aku berikan pada lelaki yang memiliki bibir tipis itu,jiwaku telah ia miliki,dan hal yang sangat terpenting bagi seorang wanita telah ia ambil,itu juga tak aku sesali.
“saudari sinar,ada yang ingin bertemu dengan anda” ujar polisi penjaga padaku seraya membuka pintu sel.
“ibu saya ya pak?”
“bukan”
Siapa? Aku berjalan menuju ruang besuk dimana biasanya aku dan ibu biasa bertemu.
Deggg!!! Jantungku berdegup dengan sekencang mungkin melihat sosok laki-laki jangkung,berkulit putih,dengan sisiran rambut yang sangat rapi mengenakan stelan kemeja kotak-kotak berwarna biru muda berdiri tegak menugguku. Orang yang selama 10 bulan 8 hari tak pernah muncul dihidupku lagi,kini berada didepanku. Arif datang menjengukku. Aku melanjutkan langkahku dan duduk tepat didepannya kemudian diikuti oleh laki-laki tampan ini. Mataku tak lepas darinya,bibir tipis yang merah,alis yang tebal,potongan rambut yang selalu rapi dan wangi varfum yang tak berbeda dari 10 bulan yang lalu. Tak ada yang berubah. Kecuali stelan yang sekarang ia kenakan lebih terlihat sangat rapi,berbeda dengan stelan kaos oblong,jeans,atau jacket jeansnya yang berwarna usang karena selalu dipakai dulu,sekarang arif terlihat beribawa dengan stelan kemaja vs jeans yang terlihat masih cerah. Hmmm…begitu banyak yang tidak aku ketahui tentang arif,mungkin sekarang aku tak mengenal sosok arif yang baru.
Tapi…apalagi yang ia inginkan hari ini? Aku fikir semuanya telah berakhir dan tanpa ditanya lagi aku pasti menerima itu.
“apa kabar nar?” basa basi arif.
“baik. Sangat baik” jawabku tersenyum kecil.
“kamu?” arif mengangguk.
“baik. Dan aku tiga bulan yang lalu diterima kerja disalah satu perusahaan besar dijakarta. Lamayan menyita waktu. Maklumlah baru tahap percobaan jadi harus memberi yang terbaik untuk perusahaan” jelas arif ringan. Seolah menyodorkan sekilas hidupnya selama 10 bulan ini,selama tak bersamaku.
“aku ikut senang dengernya”
Suasana yang terasa asing bagi ku mungkin bagi arif juga. Tidak nyaman untuk dinikmati.
Kemudian arif tersenyum kecil. “terlalu banyak basa-basi ya?” ujar arif yang tampak tak tahan dengan suasana garing seperti ini begitu juga aku. Aku tersenyum tipis.
“pasti kamu bingung kenapa arif yang menghilang sekarang memutuskan untuk jenguk kamu” ujar arif lagi dan aku tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Arif memainkan alisnya berharap ada jawaban dari bibirku.
“iya..aku bingung kenapa kamu datang tiba-tiba. Setelah semuanya aku anggap sudah berakhir dan sebagai sebuah kenangan” tiba-tiba aku dapat menjawab pertanyaan arif didampingi munculnya rasa jengkel mejawab pertanyaan itu. Apa selama ini hanya perasaan yang berbentuk klise jika aku ikhlas melepaskan arif?
“terlalu sulit buat mendengar pernyataan kamu saat itu”
“iya..aku ngerti. Itu gak mudah. Alasan itu yang membuat aku gak berusaha ngejar kamu saat pergi”
“aku tersiksa sinar. Aku tersiksa dalam kondisi seperti itu. Hidup tanpa kamu seperti orang gila,seperti orang bodoh,goblok,semuanya kacau. Kamu tau sidang skripsiku yang dijadwalkan akan sidang minggu itu,gak bisa aku lanjutin karena fikiran aku yang kacau,aku putusin untuk menundanya sampai semester depan sambil menenangkan diri sebentar. Aku gak bisa tanpa kamu,sulit” suara arif bergetar dan matanya berkaca-kaca.
Ia kembali tersenyum “benar-benar bodoh rasanya” ujar arif pelan.
“dan maksud kamu ngejelasin semuanya?” aku mulai semakin kesal tanpa sebab.
“aku mau kamu jadi istri aku” ujar arif sangat hati-hati. Yang membuat puncak kemarahanku pecah.
“gila!” seruku.
“kenapa?”
“kamu ya…datang dengan tiba-tiba,setelah hampir setahun menghilang dan sekarang kamu minta aku jadi istri kamu. Kemana otak kamu,ha? Kamu gak mikirin perasaan aku yang sekian lama kamu tinggal,dan tanpa kabar lagi. Kamu ternyata benar-benar gila,gak punya perasaan,dan kamu bukan arif yang aku kenal. Kamu pergi dan jangan pernah kesini lagi,semuanya udah berakhir rif.” jelasku sekaligus untuk yang pertama kalinya berbicara kasar pada arif. Baru saja arif ingin berbicara secepat kilat aku memanggil polisi yang berjaga untuk membawa aku kembali masuk ke sel.
“sinar..” panggil arif.
“pergi kamu!!” seruku seraya berlalu pergi.
Bingung,kesal,marah semuanya berkecamuk didada ini. Rasa ikhlas yang aku coba jalankan kemarin ternyata hanya sebagai penghibur saja dan sekarang rasa marah karena arif meniggalkan aku dan membiarkan aku sendirian dengan masalah yang berkepanjangan kini berperan besar. Aku tak bisa melupakan arif dengan mudah,seperti terombang ambing dalam ketidakpastian saja rasanya.
Malam ini fikiran ku didatangi oleh wajah yang akan ku katakan pengganggu semenjak dia datang kembali,seperti terulang dalam masa-masa indah bersamanya,aku tak bisa tertidur nyenyak. Sampai sepagi ini aku masih tetap terjaga. Arif benar-benar kembali dihidupku.
         
          ***********************************************
Suasana hari demi hari setelah kedatangan arif begitu membuat waktuku seperti diambil setir olehnya,tak bisa pergi dari sosok itu.
“nih ibu bawakan makanan kesukaan kamu” ibu membuka rantang makanannya seperti biasa saat menjangukku.
“iya buk” jawabku lesu.
“kenapa nar?”
“nggak” jawabku seraya tersenyum kearah ibu.
“pagi semua” suara itu..suara arif,aku menoleh juga ibu. Dengan sangat santun arif langsung menyalami tangan ibu kemudian dipersilahkan oleh ibu untuk duduk disampingnya.
“siapanya sinar?” Tanya ibu dengan hangat.
“saya arif bu” ibu langsung melirik kearahku,ibu memang telah mengetahui keberadaan arif dihidupku,jadi ibu tak begitu kaget melihat sosoknya. Tapi tak bisa disembunyikan ibu sedikit mengadakan penelitian diam-diam dengan menatap sosok arif dari ujung rambut sampai ujung kaki,mungkin ibu ingin tau kenapa arif beberapa saat yang lalu bisa menjadi orang yang sangat aku cintai. Bahkan mungkin ibu masih mengetahui jika aku masih menyimpan rasa pada arif,karena ibu sesekali memandangku dengan senyum centilnya. Oough,ibu!!
“apa kabar nar?”
“baik”
“mmm…ibu ganggu ya?” tiba-tiba ibu menatap kami berdua secara bergiliran seakan ia mengerti bahwa kami butuh tempat untuk berdua. “oh..nggak bu,ibu sama sekali gak ganggu. Dan…” arif menarik nafas panjang “saya butuh ibu disini” sambungnya.
“butuh saya?”
“iya,saya butuh ibu disini”
Haaahh..jangan pernah berbuat konyol arif. Batinku mulai menerawang apa yang akan dilakukan laki-laki ini.
“ Buk, saya mau ibu tau kalau saya menginginkan anak ibu ” ujar arif akhirnya. “dari dulu” lanjutnya. Keras kepala.
“mmmm..” ibu yang ingin menjawab pernyataan arif langsung kusambar dengan celotehanku.
“arif!!” pekikku,tak perduli orang diruangan itu memandangku aneh. Orang seperti arif bisa-bisa membuat aku stress dalam jangka waktu yang lama karena tingkahnya.
“udah…jangan pernah bahas masalah itu lagi. Kamu gak ngerti atau goblok sih? Kenapa kamu masih ngarapin aku yang gak mungkin bisa jadi yang terbaik buat kamu. Jangan pura-pura gak pengen ambil tau kamu soal ini”
“apanya yang pura-pura nar? Ini bukan sesuatu yang bisa aku mainin,aku serius”
“kita bicara masa depan,arif!”
“iya aku tau!” seru arif yang sekarang tampak mulai ikut emosi.
“justru itu yang mau aku capai sekarang,masa depan itu aku mau ada kamu sinar. Dosa menurut kamu aku cinta sama kamu,atau salah aku nerima kamu yang sekarang menjadi penghuni penjara?” ujar arif dengan nada gusarnya.
“atau ini hanya sebagai wujud rasa marah kamu setelah aku menghilang selama 10 bulan? Jangan bermain dengan kata munafik sekarang,karena aku tau kamu gak begitu ahli untuk melakukannya” mata arif berubah memerah menatapku,sumpah..aku tak pernah melihat arif begitu marah seperti ini. Aku,arif dan ibu membungkam. Dan arif beberapa saat untuk kedua kalinya mencoba menarik nafas panjang,seketika sikapnya berubah sedikit tenang.
“ mmm rif, ibu harap nak arif mengerti keadaan sinar selama hampir setahun belakangan ini. Ini bukan perkara yang mudah untuk dilalui oleh seorang sinar. Apalagi nak arif tiba-tiba datang dan ingin menjjadikan sinar sebagai seorang istri, tentu sangat membuat sinar semakin bingung. Apa gak bisa tunggu sinar benar-benar dalam keadaan yang baik untuk membicarakan ini?” jelas ibu berusaha menengahi kami.
“gak bu,ini waktunya biar sinar tau” arif tak mau kalah.
“aku bukan menghilang nar. Aku berusaha cari kepastian tentang jawaban atas pertanyaan kamu” kata arif lagi padaku.
Aku bisa terka jawaban tentang apa yang dibicarakan arif,jawaban dari  pertanyaan tempo hari tentang perasaan arif terhadapku setelah tau aku sinar yang berbeda.
“lupain rif..” aku memutuskan untuk bersuara dan juga untuk pertama kalinya setelah 10 bulan yang lalu tidak meneteskan airmata sekarang tertumpah sudah. Terlalu merasa kesal melihat mimik wajah arif yang berusaha meyakinkan itu. Dengan pelan arif mmeraih tangan kananku dan menggenggamnya erat.
“demi tuhan sinar,diruang ini,didepan ibu kandung kamu,aku masih cinta sama kamu dalam kondisi yang kurang bersahabat seperti ini” oh tuhan…aku harus bagaimana menghadapi arif?
“dan demi tuhan,jadi istri aku”
                            
                   ************************************
Tepat 11 bulan aku didalam penjara pengap ini dengan mengenakan setelan yang rapi dari biasanya,aku berada disamping arif yang juga tak kalah rapi. Dan dijari manis kananku sekarang sudah melingkar sebuah cincin emas polos pemberian ARIF YUDISTIRA pada hari kamis tepat pukul 11 WIB masih diruang jenguk rutan telah resmi menjadi imamku. Ya…arif menikahiku dengan suasana yang hikmat. Sekarang lembar pertama dihidupku mulai ku buka,bersama laki-laki yang aku cintai.
Perjalanan hidup yang lalu memang membuat aku sempat menyalahkan tuhan atas semua yang tak akan pernah sempurna ini,tapi..ternyata tuhan memberi kesempatan padaku untuk menikmati hidup itu dengan hampir sempurna. Karena tuhan memberikan aku bermacam rasa untuk memperjuangkan hidup yang tak biasa ini dan merubahnya menjadi  hidup yang luar biasa. Tuhan sayang aku..
          “One inspiration 4 nidji songs”

                                                                                      11062010 

BUKU KECIL


BUKU KECIL
Oleh GIE 

Menyusuri jalan raya yang masih lembab karena hujan deras tadi sore. Dan fikiranku mulai menerawang, lebih khususnya untuk masalah Ibu. Pasti Ibu akan berkomentar tentang kepulanganku yang terlambat dari biasanya karena aku lama berteduh menunggu hujan reda. Di dalam hatiku, aku hanya bisa berharap ada terselip kata-kata ‘MAKLUM’ yang terlintas difikiran beliau malam ini, ketika melihatku tiba di rumah dengan keadaan basah kuyup diterpa hujan saat di perjalanan pulang. Kenapa aku berkata demikian? karena Ibuku tak akan menggubris atau pun menerima alasanku begitu saja, jawabannya seperti biasa Ibu akan mengatakan…
“Tidak ada alasan lain yang bisa kamu lontarkan saat terlambat pulang?”, begitulah ucapannya setiap aku menjelaskan kenapa aku bisa pulang terlambat dan tentu dengan wajah yang tak pernah kutemui tersenyum sedikitpun. Di situ sudah cukup bisa dipastikan Ibu tak pernah mau menerima alasanku.
Setelah serkitar 30 menit aku menyusuri jalan raya dengan berjalan kaki, akhirnya aku tiba di depan rumah. Dengan pelan aku membuka pagar teras rumah, agar aku tak terlalu berisik dan mengganggu ibu yang biasanya jam segini tengah mengerjakan jahitan pakaian pesanan para tetangga atau teman-temannya. Saat kubuka pintu yang kebetulan kuncinya selalu aku bawa setiap bekerja atau berpergian, aku melirik kearah kiri dimana tempat ibu biasa menjahit, namun tak ada sosok ibu di sana, yang tampak hanyalah mesin jahit yang terbungkus rapi dengan kain putih bercorak dan kacamata yang selalu setia menemani beliau saat bakerja. Mungkin ibu sudah tidur atau sedang beristirahat di kamar. Aku mulai berjalan ke arah dapur bermaksud mengambil segelas air putih di lemari es, tapi…… aku sedikit terkejut. Segelas teh, lauk pauk, nasi yang semuanya masih hangat dan 1 tablet obat anti flu tersusun rapi di atas meja. Ternyata ibu masih sempat menyiapkan semua ini untukku, padahal aku tau pekerjaannya sudah cukup menyita waktu, dan aku juga tak berharap segalanya dipersiapkan oleh Ibu.
 “Jangan dipandang saja makanannya, Dis” suara yang kucari-cari dari tadi akhirnya terdengar. Ibu keluar dari kamarnya.
“Terus jangan lupa dimakan obat anti flu-nya. Tapi kalau memang tidak mau dimakan ya tarserah kamu,” ucap Ibu lagi tanpa menoleh ke arahku dan sedang mencari sesuatu di laci masin jahitnya. Kemudian kembali masuk ke kamar. Hmm, kata-kata seperti tak perduli lagi yang kudengar kali ini.
“Iya Bu. Nanti gadis makan kok,” Jawabku lesu. Aku menarik nafas dalam-dalam seraya menikmati makanan yang disiapkan Ibu untukku. Tapi sedikit heran juga, tumben beliau tak bartanya alasanku pulang terlambat kali ini. Mungkin beliau sudah mengerti jika hujan aku tak bisa berjalan kaki dengan lancar agar datang ke rumah tepat waktu. Begitulah Ibu, dengan sifatnya yang tertutup pada siapa saja termasuk aku, anak kandungnya sendiri. Kami seperti orang asing yang hidup dalam satu rumah, itu dikarenakan minimnya komunikasi yang terjalin diantara kami. Bisa dikatakan Ibu berubah setelah ayahku tiada saat aku masih berusia 7 tahun. Ibu berubah menjadi seorang wanita tegas, keras, tangguh, tak pernah atau tak mengenal kata-kata mengeluh di hidupnya. Bahkan semua itu berlaku juga untukku, aku harus anti dengan sifat-sifat manja, karena menurutnya manja hanya dimliki oleh anak-anak yang lemah yang hanya bisa merengek tak ada gunanya. Apalagi, Ibu paling murka melihat aku mengeluarkan airmata, sekali pun itu hanya setetes. Yang ia inginkan adalah aku menjadi wanita yang mandiri, kuat dan tidak tergantung pada orang lain. Contohnya dulu saat kecil, aku pernah merengek agar Ibu mau membelikanku boneka. Tapi yang terjadi bukannya Ibu membelikanku boneka, melainkan  beliau memberiku sebuah celengan yang terbuat dari tanah liat barbentuk ayam berwarna merah, dan beliau barkata..
“Kalau kamu menginginkan boneka itu, dari sekarang mulailah untuk mengisi celengan ini setiap hari dari sisipan uang jajananmu,dan jangan pernah kamu merengek tak jelas seperti itu,” begitu katanya.
Otomatis, semenjak itu aku tak pernah sekalipun meminta ibu membelikanku sesuatu kecuali Ibu siap merogoh koceknya hanya untuk pendidikanku. Untung dalam soal ini beliau tak perhitungan karena beliau juga orang tua normal yang ingin anaknya berhasil dalam bidang akademik. Selain itu contoh lain yang pernah kualami bersama Ibu adalah saat aku mendapat tugas dari guru kesenian untuk menggambar, karena aku benar-benar tak bisa menggambar, aku bermaksud meminta bantuan Kak Tika, tetanggaku yang kebetulan mahir dalam menggambar. Awalnya aku mengira Ibu akan baik-baik saja dengan ideku ternyata malah sebaliknya. Ibu merebut buku gambarku kemudian memegang tanganku dengan erat dan sedikit sakit.
“Gunakan tanganmu sendiri, jangan pernah meminta bantuan orang lain selagi kamu bisa,” ujar Ibu tajam. Aku ingat betul, biarpun rasa sakit hati dan  takut  berkecamuk saat itu, namun aku tak mengeluarkan airmata sedikit pun karena aku tau Ibu tak akan suka jika itu terjadi.  bisa-bisa Ibu akan lebih mengamuk. Setelah itu aku malah berlari ke kamar kemudian bersembunyi di belakang pintu untuk menangis, menangis sejadi-jadinya, dengan tanpa suara agar tak didengar oleh Ibu. Kulampiaskan kesedihanku dengan airmata di balik pintu hingga beberapa menit.
Jadi, jangan salahkan aku jika akhirnya aku menjadi wanita yang sedikit tomboi, dan tak punya sesuatu yang menarik sebagai keturunan hawa yang terkenal dengan keayuan, kelembutan, dan kecantikannya, mungkin yang terlihat dari sosok GADIS ADYANINGSIH adalah kekakuan.
Setelah menyantap makanan di atas meja, aku langsung menyeret kakiku ke arah kamar. Ah… sepertinya aku akan tertidur lelap malam ini  lantaran seharian ini aku terlalu memorsirkan tenagaku di kantor. Sekaligus aku tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan surat-surat untuk keberangkatanku Minggu depan ke LA, di sana aku melanjutkan kuliahku yang sempat terhenti tahun lalu akibat kurangnya biaya. Dengan santai aku membaringkan badanku di atas ranjang dan mulai memejamkan mata.

Hari ini lagi-lagi aku pulang terlambat lantaran malam ini aku pamitan ke kediaman keluarga besarku. Karena malam ini adalah malam terrakhir aku berada di Indonesia dan mungkin akan kembali 4 tahun kemudian. Dan berarti juga malam terakhir aku bersama dan menemani Ibu. Jujur, aku belum siap untuk meninggalkan beliau begitu saja, karena mungkin sebelumnya aku tak pernah jauh dari sosok Ibu sekali pun aku tak pernah dekat secara emosional padanya.
“Gadis pulang, Bu” ucapku menoleh ke arah sofa ruang tamu. Ternyata Ibu sedang duduk dan ditemani buku sejenis novel yang sedikit telah usang. Sedikit senang, mungkin Ibu sengaja menungguku dan mengajak mengobrol untuk terakhir kalinya malam ini. Ibu menatapku sekilas kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang tengah.
“Bi Tuti lagi sakit. Jadi dia tidak bisa cuci pakaian hari ini,” ujarnya sembari masuk kamar dan menutup pintu, aku baru ingat tadi pagi aku minta tolong pada Ibu untuk menyuruh Bi’ Tuti mencuci pakaianku. Oh, ternyata aku keliru kali ini, Ibu tak akan pernah bisa menjadi yang aku inginkan. Tak disadari setetes airmataku terjatuh, ini benar-benar membuatku ingin berteriak dan membanting semuanya yang ada di sekitarku, namun aku tak berdaya untuk itu. Semuanya sudah terlanjur tercipta seperti ini, Ibu benar-benar membuatku kecewa kali ini, apa Ibu tak ingin menghabiskan malamnya bersamaku malam ini? Apa sebenarnya yang ada difikirannya saat ini?. Tanya besar dalam benakku.
“Oh Tuhan, kenapa begitu sakit rasanya hati ini melihat Ibu seperti itu. Beliau Ibuku, yang seharusnya selalu memberi ketenangan dan kenyamanan padaku. Tapi malah banyak memberi keperihan yang mendalam,” rintihku pada Tuhan mempertanyakan kejanggalan.
Pasrah aku berjalan menuju dapur. Pandanganku langsung tertuju pada sesuatu di atas meja, aku mendekat, ternyata sepiring nasi uduk kesukaanku tersedia di sana. ”Ibuuuuuuu” spontan kupanggil Ibu dan refleks aku menoleh ke arah kamar Ibu. Tapi, yang kudapati hanya pintu yang tertutup rapat dan lampu yang sudah tak menyala. Niatku hanya ingin mengucapkan terima kasih sudah menyiapkan makanan kesukaanku, karena hal seperti ini jarang terjadi. Senang rasanya melihat ada sedikit respon dari Ibu kali ini. Dengan cepat Aku menyantap nasi uduk buatan Ibu yang kebetulan Aku juga tengah lapar. Paling tidak mengumpulkan tenaga untuk mencuci pakaian setelah ini fikirku.
Akhirnya selesai dan sekarang saatnya aku menuju kamar mengganti pakaian dan siap untuk mencuci. Aku berjalan ke arah  kamar, tarik nafas dalam-dalam sebelum malihat isi kamarku yang berantakan. Tapi, sepertinya tidak. Kamarku tak berantakan, pakaian sudah tersusun rapi di atas ranjang, seprai juga sudah diganti dengan seprai baru. Lagi-lagi aku menoleh ke arah kamar Beliau. Kenapa tak ada inisiatif untuk bersama malam ini? kenapa harus dengan cara seperti ini tanpa ada kecakapan yang terlontar?. Aku kembali memandang kamarku, semangatku semakin menurun presentasenya. Namun.. lagi-lagi ada sesuatu yang membuat pandanganku lekat, di pojok ranjangku terdapat sebuah kotak kecil berwarna hitam. Dengan perlahan aku meraihnya, tentu dengan perasaan yang cukup penasaran. Aku mulai membuka kotak tersebut, sungguh amat tidak kusangka apa yang kulihat dari isi kotak itu. Sebuah kalung emas yang biasa dikenakan Ibu di saat momen-momen tertentu, dan sebuah buku kecil berwarna merah yang sedikit usang. Apa ini? Hatiku mulai tak tenang.
Aku mulai membuka halaman pertama buku itu. Di sana tertulis. “Untuk anakku Gadis”. Aku mulai membaca. Ternyata semuanya dari Ibu, rasa penasaranku kini mencapai puncaknya.
“Ibu tahu pasti ada rasa kecewa di hatimu saat ini. Saat kau membaca surat ini Ibu harap kau sudah mengerti kenapa Ibu hanya bisa melakukan ini. Ibu takut Ibu tak mampu mengendalikan perasaan Ibu sendiri, Ibu takut akan terlihat lemah di depanmu”.
Kali ini perasaanku berubah menjadi rasa kesal dan airmataku sontak tertumpah. Sekarang aku mulai punya gambaran tersendiri tentang Ibu, Ibuku ternyata sama seperti ibu-ibu yang lain yang juga memiliki perasaan halus jauh di lubuk hatinya. Beliau hanya tak ingin terlihat lemah di depanku.
“Ibu berharap kamu menjadi anak yang selalu Ibu banggakan sampai kapan pun. Dan kalung emas itu untukmu, mungkin kau bisa gunakan jika perlu. Jaga dirimu baik-baik. Maafkan Ibu telah membuat hari-harimu penuh dengan kekosongan, Ibu menyayangimu, nak. Sampai kapan pun…”.
Membaca rentetan kata yang tersusun di lembaran buku itu yang murni Ibu tulis sebagai ungkapan hatinya, airmataku benar-benar tak bisa kutahan, aku menangis sejadi-jadinya. Ingin rasanya mengetuk pintu kamar Ibu kemudian memeluknya seerat mungkin. Namun, aku sadar tidak mungkin aku menampakkan mata sembabku pada Ibu. Beliau tetap tidak akan suka.
Semalaman aku tak bisa tidur sedikit pun, bayangan Ibu tak bisa lepas dari ingatanku. Buku kecil berwarna hitam itu menjadi pilihan Ibu untuk menyampaikan segala isi hatinya untukku yang terakhir kalinya, dibanding harus diutarakan langsung kepadaku karena itu bisa saja membuat ibu menjadi down. Dan setelah ini aku akan hidup sendiri tanpa Ibu di sisiku, dihadang masalah, cuaca, tanpa ibu. Aku benar-benar sendiri.

Hari Ini aku siap untuk menuju bandara. Dengan setelan baju berwarna merah jambu andalannya, ibu tampak sangat cantik. Dan sepanjang jalan Ibu tak sedikit pun melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, walau dengan kondisi seperti ini tak terlihat ada perpisahan baginya, di wajahnya hanya tampak rasa tak ingin melewati detik-detik terakhir bersamaku, itu sangat terasa dari genggaman hangat tangannya yang erat. Sekarang aku baru menyadari aku termasuk orang yang beruntung memiliki Ibu seperti beliau, wanita tangguh, itu julukan yang pantas untuk seorang Ibu seperti beliau.
Sekaranglah detik terakhir kebersamaan kami. Ibu memelukku erat seraya mengusap bahuku dengan lembut, ia tersenyum kecil lantas mengecup keningku. Sejuk melihat senyum itu, senyum pertama yang telah lama hilang berbelas-belas tahun lamanya.
“Hati-hati, Nak” ucap Ibu sedikit berbisik. Sekaligus ucapan manis terakhir untukku.
“Gadis pasti rindu Ibu,” ucapku mencoba membendung tangis dan berusaha tersenyum. Ibu mengangguk kemudian melepaskan genggamannya. Karena pesawat akan segara take off. Di jendela pandanganku tak berpaling dari sosok Ibu yang melambaikan tangannya, dan pasti di lubuk hatinya berharap aku akan pulang dengan segera dan kembali menemaninya. Airmataku tertumpah sudah sekarang. Dan kini di tanganku terpegang erat buku kecil kepunyaan Ibu yang berisikan curahan hati dan pesan terakhirnya untukku. Juga akan menjadi satu-satunya kenangan dari beliau. Love you, Mom.

Penulis: Mahasiswa Jurusan Sejarah STKIP-PGRI Pontianak

My Hipotesis


My Hipotesis
By : Gie
Memulai pagi ini dengan melakukan rutinitas seperti biasa ketika fajar mulai menampakkan cahayanya, yaitu  menggerakkan tubuhku dengan tenaga yang hanya tersisa sekitar 50% saja, karena aku baru terbangun dari tidur setelah samalaman otakku telah dicuri oleh laki-laki bertubuh besar, tegap, berkulit putih bersih, tampan, dan menurutku memiliki pribadi yang menarik untuk ditelusuri. Seorang laki-laki dewasa yang umurnya jauh di atasku yang sekitar 1 bulan belakangan ini  membuat benakku selalu dipenuhi dangan pernyataan-pernyataan konyol, maki, kagum, terharu, iba, terlontar disana. Kenapa aku bisa berujar demikian, karena sosok yang satu ini terkadang membuatku terpaksa mengatakan “orang gila…” dalam tanda kutip. Sosok fantastisnya yang membuatku berkata demikian. Aku ingin katakan dia sosok inspirasiku kali ini.
 Semalam aku baru saja meyakini bahwa NO BODY IS PERFECT. Ini aku dapati dari seorang laki-laki yang menurutku mendekati kata sempurna jika dilihat dari fisik, punya pribadi yang sederhana dan bijaksana, apalagi ia memiliki talenta yang sangat mengesankan dalam bidang seni. Itu semua bagiku mengagumkan untuk seorang laki-laki. Tapi siapa disangka ia juga memiliki kelemahan dan kekurangan didirinya  yang membuat ia rapuh akan hidup ini. Semalam saat aku duduk seorang diri dipojok ruangan seraya memegang cermin, ia datang dan menanyakanku pelan “kamu kenapa?” tanyanya sembari duduk disebelahku.
Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. Semalam ia tampak tampan dengan stile yang ia kenai. Lalu ia mengambil cermin ditanganku dan bercermin.
“Ganteng gak abangmu ini?” ia kembali bertanya padaku. Pertanyaan yang aneh yang ia lontarkan padaku.
“ Ya, abang memang ganteng,” jawabku polos seraya tersenyum.
“Kira-kira kalau nembak cewek diterima gak ya?,” ujarnya lagi membuatku sedikit mengkerutkan keningku heran.
“Siapa sih yang bisa nolak abang,” jawabku kini dengan tertawa kecil.
“Tapi kenapa wanita malah menjauh dari abang,?” tanyanya mulai serius. Aku terdiam sampai akhirnya datang satu persatu anak komunitas yang sama denganku mengerumuninya.
“Kenapa wanita selalu meninggalkan abang dengan laki-laki lain?”.
“Mereka hanya melihat abang dari sisi penampilan saja. Tapi kalau mereka tau abang yang supple, yang hanya memakai kaos oblong, celana pendek, mereka jijik sama abang,” serunya dengan nada cukup tinggi. Aku tetap diam, namun mulai bermain dengan pendapat dan hipotesisku tentang masalah ini. Dengan seksama aku memperhatikan mimik wajah yang sedang asik berbicara itu, wajah yang penuh dengan kekecewaan, kemudian rasa harap yang besar atas perubahan nasibnya dan amarah yang sedang memuncaknya di sana, terlihat dari nada bicaranya. ya… aku rasakan itu. Di sampingnya aku tetap bungkam, namun tetap menjadi pendengar yang baik. Detik itu aku memiliki kesimpulan dari dirinya, bahwa ia memang memiliki sesuatu yang menarik untuk dipandang. Tapi ia juga memiliki satu titik dimana ia bisa menjadi rapuh dan lelah. Di situ pula aku mendapat pelajaran hidup, walaupun hanya berupa hipotesisku saja.
            Berawal dari terimanya aku disebuah kampus ternama di sebuah kota, yang mengharuskan aku mengikuti program mahasiswa baru atau biasa disebut dengan pengenalan program studi. Di sana, pertemuan perdana antara aku dan laki-laki itu, karena ia salah satu dari sekian banyak panitia penyelenggara program tersebut. Pertemuan perdana saja aku sudah punya pendapat tersendiri tentangnya. “Laki-laki menyeramkan bertubuh besar, berwajah sangar seperti seorang penjahat. “Benci”. Itu kalimatnya, yang aku deskripsikan untuk laki-laki itu. Dan dengan suara besar dan lagat yang tampak mencerminkan seorang yang keras dan tegas,itu tambahan dari kalimatku barusan. Selama tiga hari itu tak ada kata-kata yang wajar setiap melihat sosoknya, dan artinya setiap hari juga aku telah mencetak lebih banyak angka jika dosa bisa dipresentasekan jumlahnya. Dan ada satu kejadian yang aku sangat amat ingat pada saat itu, kakiku terasa keram akibat terlalu lama duduk hingga aku tak mampu untuk berdiri. Tentu aku mengeluh kesakitan. Tiba-tiba dari arah sampingku terdengar suara
“Kamu kenapa duduk terus?” begitu ucapnya. Aku menoleh dan kukatakan alasannya. Kemudian dengan tangan yang berada di dalam saku ia menatapku.
“Jinjitkan kakimu,” ucapnya dengan nada datar dan wajah  menyeramkan, kemudian berlalu pergi. Mendengar itu rasanya ingin melemparnya dengan kerikil yang berserakan di sekelilingku. Tepat di wajahnya agar wajah menyeramkan itu takkan ada lagi. Paling tidak men-doer kepalanya dengan sekuat tenaga, supaya tak ada lagi gaya kaku dan menyebalkan seperti tadi. Rasa benciku semakin meluas saja rasanya. Benar-benar benci.




Setelah momen itu aku tak sering lagi melihat sosoknya,dan tak ada lagi maki bahkan rasa kesal yang berkadar tinggi. Semuanya berjalan seperti biasa,ya..seperti mahasiswa biasa.
            Sekitar sebulan setelah aku resmi menjadi mahasiswa,sebuah acara program studi kembali exis. Lagi-lagi disana aku menemui laki-laki yang aku masih tak tau siapa namanya. Tak penting dan tak ingin tau,Itu fikirku. Ia disana bertugas memberikan gambaran tentang komunitas yang ia geluti. Dan untuk kesekian kalinya pendapatku  tetap sama,
“huh…laki-laki dewasa yang mengerikan “ ujarku dalam hati. Dan memang nyatanya yang aku temui disitu ialah lagat yang mengerikan. Berbicara saja ia harus punya emosi yang menurutku berlebihan saat itu,tak mengerti apa maunya. Tapi,tak dipungkiri ada sedikit tambahan atau bisa dibilang ada kemajuan dalam pendapatku saat itu. Saat dilihat dan diteliti secara detail laki-laki itu,yang keluar dari benakku kalimat “manis juga”. Dan mulai ada sedikit rasa berkurang dihati ini melihat senyum manisnya mengembang. Aku juga tidak munafik kalau aku cukup tertarik dengan tampang yang menarik. Karena aku gadis biasa yang punya  penilaian tersendiri tentang laki-laki. Setelah selesai semuanya,hari-hariku pun kembali seperti biasa. Rumah,kampus,rumah,seperti itu setiap hari.
Sampai akhirnya aku benar-benar bertatap muka dengan laki-laki itu pada saat niat awalku hanya mengantarkan teman,untuk mendaftar dalam komunitas yang telah di utarakan oleh  sosok yang ku anggap mengerikan. Itu niat awalku sebelum akhirnya aku memutuskan juga untuk mengambil formulir perndaftaran,walau jujur aku masih dalam keragu-raguan saat itu. Namun,laki-laki itu membuatku mulai menepiskan rasa keragu-raguanku,dengan argument nya tentang komunitas  tersebut. kemudian Dari cara bicaranya sampai ia menyanggah pertanyaanku,membuatku memiliki pendapat baru tentangnya.
“sosok yang sangat formal,tegas,keras” seperti itu hipotesisku. Dan lagi-lagi, kali ini ia mengurangi kadar ketidaksenanganku padanya.
            Aku pun memulai aktivitasku dikomunitas ini. Jika boleh jujur,saat memutuskan masuk kelingkungan komunitas ini dihatiku cukup merespon tentang keberadaan laki-laki itu tapi sekarang tentu tidak,karena aku juga punya keinginan untuk maju dibidangku. Tapi, Entah kenapa aku memiliki rasa ingin tau tentangnya,tapi bukan berusaha untuk mengetahui semua isi jasad dan jiwanya. Disini,difikiran ini terlintas kata-kata
“ siapa dia?”
“bagaimana dia?”
Kata-kata itu pula yang membuatku terkadang berfikir,apa urusanku untuk itu? Rasa tidak berhak dan tidak seharusnya membuatku terkadang menerawang kearah kepribadiannya. Mungkin…lucu,goblok,cari perhatian,malu-maluin,bahkan tidak penting bagi orang lain jika mengatahui ini. Yang pastinya juga membuat seisi tubuhku ini menjadi melemah jika memikirkan pendapat orang lain. Dan kini walaupun tidak dekat namun mengenal aku mulai menghapus  kata-kata menyeramkan,mengerikan,kaku,berwajah sangar, semuanya berubah menjadi..
“ia laki-laki dewasa yang baik” itu saja. Karena aku melihat dan mengeluarkan pendapat itu berdasarkan cara berkelakuannya saat momen-momen yang tidak terllalu membutuhkan keformalan. Sampai disitu rasa tertarikku tentang kepribadiannya semakin aku nikmati. Aku mulai menikmati bila berhadapan dengannya,berdialog dengannya. Itu semata-mata demi mengumpulkan kembali hipotesis-hipotesis baruku tentangnya. Dan aku ingin mengatakan bahwa aku mulai mengagumi laki-laki itu sebagai pribadi yang menurutku berbeda dari laki-laki yang lain,khususnya mereka yang ada disekeliling komunitas. Lagi-lagi itu hipotesisku.
Melihat…terlukis  Wajah yang sejuk dan teduh
Menyimak…terlihat gerak yang santai dan lentur
Menatap…terpancar pesona yang selalu menggema_
Tajam!!! Tetap tenang namun berkobar
Tapi apa itu nyata?
mungkin tidak…..
dihatinya masih ada goresan
disana tersimpan rasa kekakuan
simpan saja semua itu jika kau bisa!!
Sembunyikan saja dilemma itu jika kau mampu!!
Ditempat ini aku tersenyum bahkan tertawa
Bukan karena aku meninggikan derajatku didepanmu
Namun sikap kecilmu yang mempersilahkanku berseru
                                                                                                            02 des 09
Itu juga adalah bentuk dari dunia hipotesisku setelah menganal laki-laki itu. Sebuah hipotesis berbentuk puisi yang terangkai 1 minggu yang lalu saat aku tak bisa tertidur lelap dalam kesunyian malam,tetap….fikiranku tetap pada makhluk tuhan yang satu itu. Sampai akhirnya aku terbangun dari tempat tidurku dan menggapai sebuah pena dan buku. Mulai berimajinasi.

                                                   ******
Sekarang aku akan gambarkan sedikit tentang dia dan bermaksud meralat ucapanku yang dulu pernah aku lontarkan sebelum aku mengenalnya. Dulu aku menganggapnya sebagai laki-laki berlagat kaku sekarang TIDAK,yang aku temui adalah keramahan dan keperduliannya.
Dulu menurutku ia keras,ya…ia keras namun keras tegas untuk kebaikan orang lain atau dirinya sendiri.
Dulu menurutku ia sosok mengerikan tapi sekarang yang aku temui adalah sosok yang wise,nice, dan humble.
Itu yang aku dapati dalam beberapa pengamatan.
Jadi paling tidak sekarang aku bisa menjawab pertanyaan yang sempat terlintas dibenakku beberapa waktu lalu. 
“siapa dia?”
“ bagaimana dia?”
Kini,di otakku ini tersusun sudah semua tentang laki-laki itu,dari awal melihat,awal kenal,mengenal,sampai akhirnya aku terbawa dalam dunia penerawanganku.
Dunia yang berhasil membuat aku bingung dengan fikiran yang mengatakan bahwa aku seseorang yang konyol,telah menjadikan sosok LAKI-LAKI ITU sebagai bagian dari hipotesisku. But end now,he is my inspiration. Laki-laki berbadan besar tegap dan gaya berjalannya yang sedikit seperti rentenir yang sibuk menagih hutang pada rakyat jelata,tentu dengan tampang seriusnya,itu dia. Sampai aku bisa merangkai sebuah cerita pendek yang aku tulis berdasarkan dugaan sementara (HIPOTESIS) Karena aku bukan orang yang hebat untuk sebuah kepastian tentang isi hati seseorang,Ataupun puisi sederhana yang kurangkai 1 minggu lalu. Benar-benar laki-laki yang bisa membuat aku masuk dengan mudah dalam dunia ini,dunia imajinasi. Dan tak hanya itu,mengenalnya adalah sesuatu untukku karena bukan hanya sebuah pelajaran hidup yang kudapat,tapi life is struggle.

Saturday, 3 March 2012

Seni Jurnalisme


Seni Jurnalisme

Oleh UBAY KPI

Kembali saya membuka buku usang berjudul Jurnalisme Dasar karya Luwi Ishwara. Buku itu “usang” karena buku tersebut di bagian akhirnya banyak jamur yang disebabkan oleh tumpahan kopi. So pasti, takkan seindah sebelum tumpahan kopi itu. Apalagi seperti baru, nda’ banget.
Mau tahu siapa yang membuat “usang” buku, tersebut. Ialah adik kelas di kampus saya saat meminjam buku itu untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Jurnalistik. Filga Ayong Sari, ya itu orangnya. Meskipun usang dengan jamur yang semakin menyebar, setumpuk ilmu tetap ada di dalamnya, setumpuk pengetahuan bisa kita dapat bila membacanya.
Sebelum saya menulis tentang ilmu jurnalistik, sedikit saya menceritakan mengenai tumpahan kopi.  Filga pada mulanya ingin mengganti buku tersebut, bahkan ia telah membelinya yang baru di toko buku Gramedia Pontianak. Namun saya menolaknya, bukan karena tak ingin merepotkan, dan bukan sok punya. Ada satu alasan yang sangat mahal bila dibanding dengan buku baru tersebut. Ialah coretan-coretan penjelasan mengenai suatu kata atau kalimat yang tak mudah dimengerti di buku itu. Hanya itu saja alasan saya.
Terus, Filga tetap dalam kondisi terpaksa membeli buku yang sama. Andai tidak menumpahkan kopi ke buku milik saya, mungkin Filga tidak akan membeli buku baru. “Abang ambil yang lusuh, ade’ ambil yang baru,” begitulah kira-kira ungkapan saya saat Filga mengembalikan buku.
Saat itu, saya juga pikiran motifasi. Saya mengandaikan seorang cewek atau cowok. Bila ada cewek yang cantik, atau cowok yang cakep, tentu kita betah melihatnya dan bisa saja tertarik mengetahui lebih jauh pada orang tersebut. Pikiran saya mengarah kesitu. Harapan saya, dengan buku yang masih bagus dan bersih, Filga semakin enak dan betah membacanya. Semakin sering membuka buku itu. Alhasil, semakin banyak pengetahuan yang didapat.
Wah, panjang ceritanya neh. Langsung saja ke topic yang akan saya tulis pagi ini. Eh, dimana dan kapan ya saat ini. Saat ini saya berada di rumah, sambil jaga bapak yang lagi sakit. Hari Sabtu, 3 Februari 2012. Pukul 03.18.
Kali ini saya membaca kembali tulisan Luwi Ishwara yang menulis tentang seni dan profesi. Jurnalisme bukan hanya mengandalkan profesi atau pengetahuan semata. Tulisan yang diawali dengan jurnalisme itu bukan mesin menegaskan, bahwa jurnalisme itu adalah sebuah seni plus profesi yang didukung dengan tanggung jawab profesionalisme. Paham tidak?
Maksudnya, jurnalisme bukanlah orang yang hanya pandai menulis. Seorang jurnalis tidak cukup hanya pandai menulis. Jurnalisme menuntut berbagai kompenen, termasuk memiliki seni. Kalau hanya pandai menulis, mungkin orang hanya akan menulis apa yang orang sampaikan. Tapi tidak melihat sisi lainnya. seperti melihat kondisi suatu kejadian. Melihat dengan mata yang segar setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik atau pendukung untuk sebuah berita. Itu merupakan satu bagian yang dimaksud seni.
Memfokuskan pandangan ke setiap sudut peristiwa, atau memandang fokus pada kejadian tersebut. Sehingga, data-data wawancara mengenai peristiwa bisa dikombinasikan dengan sudut pandang yang kita lihat.
Seperti perkataan Dave Barry seorang kolumnis yang dikutip Luwi Ishwara bahwa jurnalisme bukanlah tentang menulis saja, namun belajar tentang apa sesungguhnya mencari itu dan apa sebenarnya bertanya mengenai hal-hal pelik dengan kegigihan.
Di situlah kita dituntut untuk memiliki jiwa seni. Setiap seseorang akan memiliki sudut pandang yang berbeda, meskipun dalam suatu peristiwa. Contohnya yang pernah saya alami, ketika melakukan liputan wafatnya imam masjid Mujahidin tahun 2011 lalu. Saya mengangkat dari sisi sejarah dan pengabdian semasa menjadi imam besar. Tapi berbeda dengan rekan saya di media lain, ia lebih menonjolkan pada sisi organisasinya. Yang kebetulan, imam masjid tersebut merupakan kader Muhammadiyah.
Nah, itu sudah berbeda sudut pandang. Ditambah lagi dengan reportase di lapangan yang pasti akan lebih beda. Setuju kan kalau itu disebut seni?
Contoh lain, ketika ada peristiwa kebakaran, bisa jadi kita akan lebih fokus pada berapa korban, berapa kerugian, berapa ruko, atau berapa pemadam kebakaran yang membantu memadamkan. Itu akan menjadi sudut pandang utama pada berita yang akan tulis. Ditambah lagi kondisi saat terjadinya kebakaran. Ketakutan dan raut muka masam korban. Disitu kita kita dituntut punya insting seni tinggi. Sebab, itu akan menjadi warna dalam tulisan kita. Berita akan semakin hidup dengan banyak ornament pendukung.
Contoh lagi, dalam suatu peristiwa kebakaran  bisa jadi fokus pandangan kita tertuju pada sumber air pemadam kebakaran. Sehingga personil pemadam susah memadamkan api karena tidak adanya sumber air yang memadai.
Jadi, begitulah yang dimaksud dengan jurnalisme yang tidak hanya sekedar pandai menulis, namun harus punya seni.
Wallahu a’lam. Mator Sekelangkong.
Di rumah, 3 Februari 2012, 03.46

Thursday, 1 March 2012

David dan Herman


David Maryansyah bersama Bung Herman di sebuah pantai. Keduanya adalah sahabat yang setia dan saling mengisi. Harmonis meski keduanya beda latar belakang. David adalah politisi, Bung Herman adalah pengusaha muda. David adalah generasi Madura yang menghargai segala etnis, Bung Herman keturunan Tionghoa. 

David M


David Maryansyah, Politisi PDIP Perjuangan Kota Pontianak (kedua dari kiri) bersama kader PDI Perjuangan Kalimantan Barat lainnya pada sebuah acara di Kota Pontianak.

David Maryansyah bersama Prof. Mien Rifai


David Maryansyah (berkaos merah) dengan penulis kamus Madura, Mien A Rifa'i (berbatik) di Taman Alun-alun Kapuas Pontianak. Sedang lainnya, adalah rekan-rekan panitia Festival Lanceng Praben Kota Pontianak. Kehadiran Mien Rifa'i ke Pontianak dan melihat langsung Festival Lanceng Praben bagi David merupakan sebuah penghargaan. 

David Maryansyah


David Maryansyah yang pada tahun 2012 ini duduk di Komisi D DPRD Kota Pontianak. Bersama Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pontianak, Bang Eka. David Maryansyah duduk di DPRD Kota Pontianak melalui daerah pemilihan Pontianak Utara. Sedangkan Bang Eka dari Dapil Pontianak Kota

David Ingatkan Aparat Untuk Tidak Brutal


Sosok yang perawakannya seram. Namun bila mengenalnya ia adalah sosok yang lembut dalam berteman, mudah akrab, dan humoris.

Suarakalbar.com - Pengeroyokan oknum aparat terhadap penjual bensin yang mangkal di Jalan Sultan Hamid II, tepat di kaki jembatan Kapuas I, sempat menimbulkan ketegangan di kawasan Pontianak Timur pada hari Sabtu yang lalu. Ribuan warga sekitar tumpah ruah mencari dan melampiaskan kekesalan kepada pelaku. Akibatnya, jalur vital  transportasi di Kota Pontianak ini sempat lumpuh beberapa jam.
Berdasarkan informasi yang didapatkan Suarakalbar.com,  korban bernama Farid adalah penjual bensin eceran di Jalan Sultan Hamid II. Dia dikeroyok oleh lima orang sekitar pukul tiga sore, sabtu lalu. Beberapa orang diduga mabuk.  Farid dikeroyok hingga tak sadarkan diri. Wajahnya memar, kepalanya bocor dan punggungnya luka serius. Saat ini dia tengah dirawat di RS Yarsi, Jalan Tanjungraya 1.
“Saya dipukul, ditendang. Udah jatuh diinjak-injak lagi. Saya dengar ada yang mengaku anggota TNI,” ujarnya.
Melihat Farid dikeroyok, warga sekitar ramai-ramai berusaha mengejar para pelaku. Namun para pelaku berhasil kabur. Ada salah seorang anggota TNI, berinisial Dk berpangkat Pratu  yang berada di antara keributan itu, ikut dikejar warga. Merasa terpepet, dia lalu masuk ke Pos Polisi yang tak jauh dari lokasi kejadian. “Orang itu anggota tapi tak tahu hukum. Main pukul orang sembarangan. Kami tak terima. Serahkan dia ke kami,“ teriak salah seorang anggota massa.

Tak ayal keramaian itu menimbulkan kemacetan. Jalan Sultan Hamid II dan Jembatan Kapuas macet total. Sementara jalan Imam Bonjol, Tanjungpura, hingga ke Gajah Mada terkena imbasnya, jalan padat merayap. Kemacetan ini berlangsung hingga jam tujuh malam, ketika Dk berhasil diamankan. Malam itu, Dk dijemput oleh mobil barakuda milik tim gegana Polda Kalbar. Massa yang emosi meneriakinya dengan kata-kata kasar.Warga mengira dia adalah pelaku pengeroyokan. Warga yang awalnya berjumlah puluhan orang menjadi semakin banyak. Ribuan orang dari berbagai penjuru sekitar TKP berkumpul  menuntut agar Dk diserahkan ke mereka. Mereka berasal dari  Tambelan Sampit, Kampung Dalam Bugis, Tanjung Hilir dan Tanjung Hulu, Banjar Serasan, Parit Mayor dan Saigon.  Seluruh badan jalan depan Pos itu dipenuhi oleh massa.
Polisi sempat melepaskan tembakan  peringatan sebanyak lima kali,  untuk membubarkan massa. Namun massa tetap tidak beranjak. Karena merasa tidak terima dengan ulah oknum anggota TNI.  Keinginan massa yakni oknum TNI yang diamankan di dalam pos agar dikeluarkan. Joni (34) warga setempat menuturkan teman pelaku berhasil melarikan diri. Namun pelaku tidak sempat menyelamatkan diri. Hingga harus menyelamatkan diri ke Pos Polisi. Setelah dikejar warga. Bahkan, lanjut dia, tercium bau alkohol dari mulut pelaku. Pelaku mengakui jika sedang dalam pengaruh alkohol ketika diinterogasi warga.
Kapolresta Pontianak, Dandim Pontianak, Dansat Brimob, pemuka masyarakat Pontianak Timur tampak berupaya meredam situasi. Guna menenangkan warga. Sekaligus mengimbau agar membubarkan diri.  “Kita hanya mengamankan,” kata Kapolresta Pontianak Komisaris Besar Muharom Riyadi.
Sementara itu, salah seorang pimpinan dari kesatuan Pratu Dk membantah kalau anggotanya itu terlibat pengeroyokan. Dia mengatakan Dk justru orang yang ingin menolong Farid saat dikeroyok orang tak dikenal. Versi TNI AU, Pratu Dk yang sedang tidak dinas hendak mengisi bensin di kios milik Farid. Di sana sudah ada beberapa orang yang lebih duluan datang, juga mau isi bensin. Belakangan terjadi keributan antara orang-orang itu dengan Farid yang juga berujung pengeroyokan. Melihat itu, Dk langsung melerai pertengkaran tersebut.
“Apes sekali nasib dia. Karena ada di lokasi itu. Dia menolonglah. Tapi warga yang melihat dari jauh, mengira dia ikut ngeroyok. Padahal dia datang sendiri. Ada salah paham di sini. Saya tahu dia orangnya baik, tidak pernah mabuk,“ kata pria berpangkat kapten itu minta namanya dirahasiakan.

Berkaitan dengan kasus itu, anggota DPRD Kota Pontianak David Maryansyah mengutuk pemukulan pedagang bensin eceran oleh oknum aparat di Pontianak Timur, Sabtu (28/1) sore. Kejadian itu menodai kepercayaan masyarakat terhadap aparat negara. "Kejadian itu sangat memalukan," tegasnya, kemarin.
Dengan kejadian di Pontianak Timur itu, David meminta aparat mengambil pelajaran agar tidak bertindak brutal. Masyarakat, kata dia, tidak akan bersikap seperti peristiwa tersebut jika tidak ada yang menyulut. Masyarakat menurutnya akan segan serta hormat dengan aparat jika diperlakukan manusiawi."Harus ada hubungan saling menguntungkan. Masyarakat ikut aturan, aparat bertindak sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan begitu kondisi akan aman," ungkap David yang juga warga Pontianak Timur itu.
Kepada atasan pelaku dan institusinya David berharap pelaku ditindak sesuai ketentuan. Perkembangan penindakan kasus tersebut sedianya dapat diakses masyarakat agar tidak ada kecurigaan. "Agar ada kepuasan masyarakat saya harap pelaku ditindak sesuai dengan perlakuannya," harap politisi PDIP itu. 
Bagi aparat secara umum, dirinya meminta tidak ada lagi kejadian serupa. Pembinaan anggota baik TNI maupun Polri mesti ditingkatkan lagi. "Walau hanya oknum yang melakukannya, institusi tidak akan bisa lepas dari tindak tanduk anggotanya," katanya.

David Kritik Sekolah yang Dikomersilkan


Sosok yang vokal dalam menyampaikan aspirasi. Dan tak malu untuk meminta maaf bila bersalah

David Kritik Sekolah yang Dikomersilkan
Sumber: Pontianak Post

PONTIANAK – Anggota Komisi D DPRD Kota Pontianak David Maryansyah berniat mengecat sekolah disertai dengan lambang partainya. Dia bersedia mengeluarkan dana pribadi jika ada sekolah yang mau. Ungkapan itu dilontarkannya karena kecewa dengan kondisi SDN 29 Pontianak Timur yang dicat dan ditaburi logo salah satu operator selular. “SD 29 boleh seperi itu. Kalau begitu, jika ada sekolah yang mau katakan pada saya. Nanti saya cat warna merah semua dan dibuat lambang PDIP di sekolah itu. Semuanya (dana) saya yang tanggung,” ujarnya, kemarin (13/1).

 David menyesalkan ada sekolah di Pontianak seperti SDN 29. Hal itu menurutnya boleh saja dilakukan swasta asal biaya pendidikan baik fisik maupun prasarana ditanggung. “Boleh swasta seperti itu, tapi sekolah itu dia yang bangun, bangku, meja, papan tulis mereka yang beli. Begitu juga lapangan upacara dan olahraga swasta yang bangun, itu baru boleh mereka cat semua sekolah semaunya,” ungkapnya kesal.  Anggota komisi D lainnya, Mujiono mempertanyakan apa kontribusi operator selular itu sehingga sekolah menggadaikan semuanya. Dengan mengecat semua bangunan termasuk atap disertai logo produk, Mujiono menilai semua kegiatan di sekolah itu operator selular tersebut yang membiayai. “Sepertinya sekolah itu bukan pemerintah yang biayai. Selain bangunan dan isinya, mungkin saja guru di sekolah itu yang gaji operator selular tersebut,” katanya.
Mujiono mengingatkan kepala sekolah tidak berlebihan dalam berkreatifitas. Kreatif yang berlebihan justru berdampak tidak baik. “Kreatif boleh asal yang konstruktif, bukan seperti itu,” ujarnya. Kepada operator selular dan perusahaan lainnya, Mujiono mengatakan, boleh saja membantu, namun tidak memanfaatkan lembaga pendidikan sebagai ajang promosi berlebihan. Banyak yang dapat dilakukan dalam membantu dunia pendidikan. “Seperti memberikan beasiswa dan kegiatan yang bermanfaat bagi siswa,” ungkapnya.   Pemerintah pun diminta Mujiono memberi ketegasan bagi sekolah dalam berkreatifitas, sesuaikan dengan kebijakan. Siswa SD dilarang membawa telepon genggam, namun sekolah mengizinkan operator selular masuk dengan cara berpromosi. “Inikan terbalik dengan aturan. Siswa dilarang bawa HP, tetapi perusahaan telekomunikasi dibolehkan masuk sekolah,” tegasnya. (hen)

David. Sosok yang Tak Lupa Pemilih


David Maryansyah berlatar belakang sebuah klenteng

Dapat Tumpangan Gratis, Boyongan Berangkat ke ‘Kota Amoy’
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang memang menyedot perhatian. Meski di Pontianak juga ada perayaan serupa, namun banyak yang menilai tidak semeriah di kota seribu klenteng itu. Buktinya, ratusan warga Tionghoa di Pontianak Utara, rela ke ‘Kota Amoy’ itu dengan mencarter bus.
Hendy Erwindi, Pontianak
Halaman Klenteng Kwan Im Tong di Jalan Gusti Situt Mahmud, Pontianak Utara, Minggu (5/2) sore, tampak ramai. Warga berkumpul di beberapa sudut klenteng. Ada yang duduk di bawah pagar sambil berbincang dengan rekannya. Sebagian besar membawa tas, layaknya pelancong hendak berangkat menuju tempat wisata.
Tak lama berselang, seorang pemuda meminta warga yang berkumpul di bawah pintu gerbang menyingkir. Dia berteriak, mengarahkan bus yang masuk ke halaman klentengn
Setelah empat bus kota terparkir di halaman klenteng, kemudian menyusul tiga bus antarkota dan satu bus sekretariat DPRD Kota Pontianak. “Sore ini kami akan ke Singkawang karena mau lihat Cap Go Meh besok (hari ini, Red),” ujar salah seorang warga, Lisa.
Memilih Singkawang untuk merayakan Cap Go Meh karena berbeda dengan perayaan yang ada di Pontianak. Jika di Pontianak hanya ada naga, di Singkawang lebih lengkap. “Di Singkawang ada tatungnya. Saya dengar dari teman di sana juga ada replika Tembok Besar Cina. Kalau di Pontianak biasa saja,” ucapnya.
Warga lainnya Ajan bertutur serupa. Meski tidak berangkat, kehadirannya di Klenteng Kwan Im Tong sekedar mengantar ibu dan kakaknya. “Ibu dan kakak tahun lalu juga ke Singkawang pakai bus umum. Sekarang ada yang sediakan bus gratis, mereka mau pergi lagi,” ungkapnya.
Pengurus Klenteng Kwan Im Tong Ahu mengatakan, baru kali ini warga sekitar klenteng pergi bersama-sama ke Singkawang. Biasanya warga yang ingin menyaksikan perayaan Cap Go Meh di Kota Amoy tersebut, pergi masing-masing. “Ini karena Pak David yang punya ide. Dia menyediakan bus untuk warga, biar sama-sama ke Singkawang. Ini bagus semuanya jadi berbaur, tidak membedakan suku dan agama,” kata dia.
Anggota DPRD Kota Pontianak David Maryansyah, membenarkan hal itu. Ia mengatakan idenya mengajak warga ke Singkawang berawal dari banyak dari mereka yang ingin melihat Cap Go Meh ke kota tersebut, namun tidak kesampaian. Kebanyakan orang menilai Singkawang sebagai pusat perayaan Cap Go Meh di Kalbar. “Ini bentuk apresiasi kami terhadap masyarakat. Tidak hanya warga Tionghoa yang pergi, dalam rombongan ini ikut juga warga lain. Ini wujud kebersamaa dan keberagaman di Kalbar,” ungkapnya.
David menanggung semua biaya transportasi. Delapan bus disediakannya. Selain itu rombongan juga ada yang menggunakan kendaraan pribadi, mobil dan sepeda motor. Namun dia tidak sempat lagi memesan tempat menginap, semua hotel dan penginapan di Singkawang penuh. Setelah berembuk dengan warga yang ingin berangkat, mereka sepakat tidak menginap di hotel, tetapi di Pasir Panjang. “Walau tidak dapat hotel mereka rela tidur di Pasir Panjang asal ke Singkawang. Mereka mau backpacker,” kata anggota komisi D ini.
Dia ingin keberagaman itu tetap terpelihara pada masyarakast Pontianak dan Kalbar, apalagi provinsi ini menghadapi pemilihan gubernur. “Sejak dulu kita ini beragam, hal itu harus dipelihara terus agar Kalbar aman dan masyarkatnya sejahtera,” tuturnya.

sumber: Pontianak Post

David Marsyansyah Peduli Sepak Bola


David Maryansyah sebagai penjaga gawang pada skuad tim DPRD Kota Pontianak. Baik saat saat melaksanakan olahraga bersama atau dalam pertandingan eksebisi

David Marsyansyah Peduli Sepak Bola
Sumber; RRI Pontianak

Sebagai wakil rakyat yang membindangi Olahraga Komisi D DPRD Kota Pontianak berkeinginan agar olahraga di daerah ini bisa maju dan berkembang karena dengan prestasi olahraga mampu mengangkat nama daerah hingga tingkat nasional. hal itu diungkapkan anggota Komisi D DPRD Kota Pontianak David Maryansyah Kepada sejumlah wartawan.

Menurutnya pembinaan atlet sepak bola muda di Kota Pontianak terus gencar di lakukan club-club yang ada, namun jika hanya melakukan pembinaan saja tanpa adanya kompetisi, atlet muda tersebut tidak akan terpacu memiliki kemampuan handal dan mental untuk berjuang meraih prestasi tertinggi tentu tidak akan tercipta.maka dari itu dirinya sangat mengapresiasi dengan terlaksananya kompetisi sepak bola U-21 yang digagas langsung Ketua Umum Persipon Pontianak Paryadi yang juga selaku Wakil Walikota Pontianak.

Anggota Komisi D DPRD Kota pontianak David Maryansyah mengakui Kompetisi sepak Bola U21 yang digelar saat ini sangat berdampak positif bagi kemajuan olahraga sepak bola di Kota Pontianak..menurutnya ajang tersebut sebagai ajang melahirkan bibit sepak bola muda yang bakal mengabdikan dirinya demi memajukan sepak bola kota pontianak kedepannya.selain itu politisi PDI Perjuangan Kota Pontianak itu sangat mengapresiasi club-club yang berlaga pada ivent tersebut selalu bertanding secara fair play sehingga menyemarakkan persaingan meraih juara secara terhormat. ( Vico Alhadi )

David Pengkritik yang Lembut


David

David Pengkritik yang Lembut

PONTIANAK- Anggota DPRD Kota Pontianak David Maryansyah mengutuk pemukulan pedagang bensin eceran oleh oknum aparat di Pontianak Timur, Sabtu (28/1) sore. Kejadian itu menodai kepercayaan masyarakat terhadap aparat negara. "Kejadian itu sangat memalukan," tegasnya, kemarin.Dikatakan David, kondisi Kota Pontianak dan Kalbar sudah aman. Masyarakat menjaga hubungan vertikal dan horizontal dengan baik. Namun sekarang justru aparat yang menodainya. "Gubernur dan wali kota serta masyarakat telah menjaga keamanan dengan baik, mengapa justru aparat merusak kondisi ini," ujarnya.
Dengan kejadian di Pontianak Timur itu, David meminta aparat mengambil pelajaran agar tidak bertindak brutal. Masyarakat, kata dia, tidak akan bersikap seperti peristiwa tersebut jika tidak ada yang menyulut. Masyarakat menurutnya akan segan serta hormat dengan aparat jika diperlakukan manusiawi."Harus ada hubungan saling menguntungkan. Masyarakat ikut aturan, aparat bertindak sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan begitu kondisi akan aman," ungkap David yang juga warga Pontianak Timur itu.
Kepada atasan pelaku dan institusinya David berharap pelaku ditindak sesuai ketentuan. Perkembangan penindakan kasus tersebut sedianya dapat diakses masyarakat agar tidak ada kecurigaan. "Agar ada kepuasan masyarakat saya harap pelaku ditindak sesuai dengan perlakuannya," harap politisi PDIP itu.Bagi aparat secara umum, dirinya meminta tidak ada lagi kejadian serupa. Pembinaan anggota baik TNI maupun Polri mesti ditingkatkan lagi. "Walau hanya oknum yang melakukannya, institusi tidak akan bisa lepas dari tindak tanduk anggotanya," katanya.
Seperti diberitakan kemarin, ketengan terjadi di Pontianak Timur. Pemicunya adalah seorang penjual bensin bernama Farid dipukul dan dikeroyok oleh lima oknum aparat. Korban yang sempat melawan, mengalami cidera berat di kepala dan dirawat intensif di Rumah Sakit Islam Yarsi. Warga sekitar tidak terima dan dapat melampiaskan kepada seorang pelaku yang tak berhasil kabur. Ketegangan sempat memacetkan arus lalu lintas di jembatan Kapuas I sekitar empat jam. Karena ribuan massa memadati titik sentral jalan negara itu.  Untung pihak kepolisian cepat tanggap bisa mengamankan dan menguasai situasi dan pelaku diamankan dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku. (hen)
Sumber: Pontianak Post

David Maryansyah yang Low Profile


Pemuda Madura yang Toleran dan Masuk ke Berbagai Kalangan Etnis

Gagas Pemilihan Lanceng Praben
Oleh Ubay KPI

Terlepas jabatannya sebagai anggota DPRD Kota Pontianak, David Maryansyah sebagai tokoh Madura di Kota Pontianak, mengajak kepada muda-mudi (Lanceng Praben) Madura yang ada di Kota Pontianak untuk mendukung Festival Pemilihan Lanceng Praben Kota Pontianak yang akan digelar di PCC, 19-21 Oktober mendatang.
“Yang sekiranya masuk dalam kriteria dan memiliki bakat serta kemampuan, silahkan berkompetisi bersama Lanceng Praben lainnya,” kata David Maryansyah kemarin.
Festival tersebut menurut David, yang juga sebagai Koordinator Lomba bukan hanya bertujuan untuk menjadikan satu dari banyak Lanceng Praben yang ada di Kota Pontianak. Namun, ia nantinya juga eksis bersama duta lainnya, seperti Bujang Dara, Duta Lingkungan Hidup, Duta Pariwisata dalam membangun Kota Pontianak dari sisi yang bisa dilakukan.
Hal yang terpenting menurut David. Bagaimana, Kota Pontianak yang sangat multi etnis tetap harum dengan kedamaian, hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Kita menginginkan, festival ini bukan hanya seremonial, namun mereka punya rasa tanggung jawab terhadap daerah. Yakni, memperkaya budaya dan berbaur dengan indah,” ungkapnya.
“Kepada kawan-kawan Lanceng Praben yang ada di Kota Pontianak, silahkan berkompetensi dengan bersih. Ayo wujudkan Kota Pontianak yang berbudaya,” tambahnya.
David Maryansyah juga mengingatkan, pendaftaran bisa dilakukan melalui jejaring social Facebook dan Blogger. Serta bisa langsung menghubungi panitia di nomor 081256448116.

David Maryansyah, S. Sos, Gaul namun Merakyat


David Maryansyah, S. Sos




Suami dari Indah Suryani. Saat ini menjabar sebagai Wakil Komisi B. Anggota Badan Anggaran dan Anggota Badan Legislasi DPRD Kota Pontianak. Melakukan perubahan untuk kesejahteraan rakyat merupakan tekadnya dalam menjalankan amanah di dewan perwakilan rakyat. Pria muda ini kelahiran Ketapang, 25 Juni 1981 dan mempunyai motto, lakukan yang terbaik untuk hidup dan kehidupan.
Hobi David Maryansyah selain travelling, tak lepas membaca kitan suci Alquran. KH. Abdurahman Wahid dan film Avatar dalam dirinya adalah sebagai inspirasi. 
Sumber; dprd.pontianakkota.go.id