Monday, 5 March 2012

BUKU KECIL


BUKU KECIL
Oleh GIE 

Menyusuri jalan raya yang masih lembab karena hujan deras tadi sore. Dan fikiranku mulai menerawang, lebih khususnya untuk masalah Ibu. Pasti Ibu akan berkomentar tentang kepulanganku yang terlambat dari biasanya karena aku lama berteduh menunggu hujan reda. Di dalam hatiku, aku hanya bisa berharap ada terselip kata-kata ‘MAKLUM’ yang terlintas difikiran beliau malam ini, ketika melihatku tiba di rumah dengan keadaan basah kuyup diterpa hujan saat di perjalanan pulang. Kenapa aku berkata demikian? karena Ibuku tak akan menggubris atau pun menerima alasanku begitu saja, jawabannya seperti biasa Ibu akan mengatakan…
“Tidak ada alasan lain yang bisa kamu lontarkan saat terlambat pulang?”, begitulah ucapannya setiap aku menjelaskan kenapa aku bisa pulang terlambat dan tentu dengan wajah yang tak pernah kutemui tersenyum sedikitpun. Di situ sudah cukup bisa dipastikan Ibu tak pernah mau menerima alasanku.
Setelah serkitar 30 menit aku menyusuri jalan raya dengan berjalan kaki, akhirnya aku tiba di depan rumah. Dengan pelan aku membuka pagar teras rumah, agar aku tak terlalu berisik dan mengganggu ibu yang biasanya jam segini tengah mengerjakan jahitan pakaian pesanan para tetangga atau teman-temannya. Saat kubuka pintu yang kebetulan kuncinya selalu aku bawa setiap bekerja atau berpergian, aku melirik kearah kiri dimana tempat ibu biasa menjahit, namun tak ada sosok ibu di sana, yang tampak hanyalah mesin jahit yang terbungkus rapi dengan kain putih bercorak dan kacamata yang selalu setia menemani beliau saat bakerja. Mungkin ibu sudah tidur atau sedang beristirahat di kamar. Aku mulai berjalan ke arah dapur bermaksud mengambil segelas air putih di lemari es, tapi…… aku sedikit terkejut. Segelas teh, lauk pauk, nasi yang semuanya masih hangat dan 1 tablet obat anti flu tersusun rapi di atas meja. Ternyata ibu masih sempat menyiapkan semua ini untukku, padahal aku tau pekerjaannya sudah cukup menyita waktu, dan aku juga tak berharap segalanya dipersiapkan oleh Ibu.
 “Jangan dipandang saja makanannya, Dis” suara yang kucari-cari dari tadi akhirnya terdengar. Ibu keluar dari kamarnya.
“Terus jangan lupa dimakan obat anti flu-nya. Tapi kalau memang tidak mau dimakan ya tarserah kamu,” ucap Ibu lagi tanpa menoleh ke arahku dan sedang mencari sesuatu di laci masin jahitnya. Kemudian kembali masuk ke kamar. Hmm, kata-kata seperti tak perduli lagi yang kudengar kali ini.
“Iya Bu. Nanti gadis makan kok,” Jawabku lesu. Aku menarik nafas dalam-dalam seraya menikmati makanan yang disiapkan Ibu untukku. Tapi sedikit heran juga, tumben beliau tak bartanya alasanku pulang terlambat kali ini. Mungkin beliau sudah mengerti jika hujan aku tak bisa berjalan kaki dengan lancar agar datang ke rumah tepat waktu. Begitulah Ibu, dengan sifatnya yang tertutup pada siapa saja termasuk aku, anak kandungnya sendiri. Kami seperti orang asing yang hidup dalam satu rumah, itu dikarenakan minimnya komunikasi yang terjalin diantara kami. Bisa dikatakan Ibu berubah setelah ayahku tiada saat aku masih berusia 7 tahun. Ibu berubah menjadi seorang wanita tegas, keras, tangguh, tak pernah atau tak mengenal kata-kata mengeluh di hidupnya. Bahkan semua itu berlaku juga untukku, aku harus anti dengan sifat-sifat manja, karena menurutnya manja hanya dimliki oleh anak-anak yang lemah yang hanya bisa merengek tak ada gunanya. Apalagi, Ibu paling murka melihat aku mengeluarkan airmata, sekali pun itu hanya setetes. Yang ia inginkan adalah aku menjadi wanita yang mandiri, kuat dan tidak tergantung pada orang lain. Contohnya dulu saat kecil, aku pernah merengek agar Ibu mau membelikanku boneka. Tapi yang terjadi bukannya Ibu membelikanku boneka, melainkan  beliau memberiku sebuah celengan yang terbuat dari tanah liat barbentuk ayam berwarna merah, dan beliau barkata..
“Kalau kamu menginginkan boneka itu, dari sekarang mulailah untuk mengisi celengan ini setiap hari dari sisipan uang jajananmu,dan jangan pernah kamu merengek tak jelas seperti itu,” begitu katanya.
Otomatis, semenjak itu aku tak pernah sekalipun meminta ibu membelikanku sesuatu kecuali Ibu siap merogoh koceknya hanya untuk pendidikanku. Untung dalam soal ini beliau tak perhitungan karena beliau juga orang tua normal yang ingin anaknya berhasil dalam bidang akademik. Selain itu contoh lain yang pernah kualami bersama Ibu adalah saat aku mendapat tugas dari guru kesenian untuk menggambar, karena aku benar-benar tak bisa menggambar, aku bermaksud meminta bantuan Kak Tika, tetanggaku yang kebetulan mahir dalam menggambar. Awalnya aku mengira Ibu akan baik-baik saja dengan ideku ternyata malah sebaliknya. Ibu merebut buku gambarku kemudian memegang tanganku dengan erat dan sedikit sakit.
“Gunakan tanganmu sendiri, jangan pernah meminta bantuan orang lain selagi kamu bisa,” ujar Ibu tajam. Aku ingat betul, biarpun rasa sakit hati dan  takut  berkecamuk saat itu, namun aku tak mengeluarkan airmata sedikit pun karena aku tau Ibu tak akan suka jika itu terjadi.  bisa-bisa Ibu akan lebih mengamuk. Setelah itu aku malah berlari ke kamar kemudian bersembunyi di belakang pintu untuk menangis, menangis sejadi-jadinya, dengan tanpa suara agar tak didengar oleh Ibu. Kulampiaskan kesedihanku dengan airmata di balik pintu hingga beberapa menit.
Jadi, jangan salahkan aku jika akhirnya aku menjadi wanita yang sedikit tomboi, dan tak punya sesuatu yang menarik sebagai keturunan hawa yang terkenal dengan keayuan, kelembutan, dan kecantikannya, mungkin yang terlihat dari sosok GADIS ADYANINGSIH adalah kekakuan.
Setelah menyantap makanan di atas meja, aku langsung menyeret kakiku ke arah kamar. Ah… sepertinya aku akan tertidur lelap malam ini  lantaran seharian ini aku terlalu memorsirkan tenagaku di kantor. Sekaligus aku tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan surat-surat untuk keberangkatanku Minggu depan ke LA, di sana aku melanjutkan kuliahku yang sempat terhenti tahun lalu akibat kurangnya biaya. Dengan santai aku membaringkan badanku di atas ranjang dan mulai memejamkan mata.

Hari ini lagi-lagi aku pulang terlambat lantaran malam ini aku pamitan ke kediaman keluarga besarku. Karena malam ini adalah malam terrakhir aku berada di Indonesia dan mungkin akan kembali 4 tahun kemudian. Dan berarti juga malam terakhir aku bersama dan menemani Ibu. Jujur, aku belum siap untuk meninggalkan beliau begitu saja, karena mungkin sebelumnya aku tak pernah jauh dari sosok Ibu sekali pun aku tak pernah dekat secara emosional padanya.
“Gadis pulang, Bu” ucapku menoleh ke arah sofa ruang tamu. Ternyata Ibu sedang duduk dan ditemani buku sejenis novel yang sedikit telah usang. Sedikit senang, mungkin Ibu sengaja menungguku dan mengajak mengobrol untuk terakhir kalinya malam ini. Ibu menatapku sekilas kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ruang tengah.
“Bi Tuti lagi sakit. Jadi dia tidak bisa cuci pakaian hari ini,” ujarnya sembari masuk kamar dan menutup pintu, aku baru ingat tadi pagi aku minta tolong pada Ibu untuk menyuruh Bi’ Tuti mencuci pakaianku. Oh, ternyata aku keliru kali ini, Ibu tak akan pernah bisa menjadi yang aku inginkan. Tak disadari setetes airmataku terjatuh, ini benar-benar membuatku ingin berteriak dan membanting semuanya yang ada di sekitarku, namun aku tak berdaya untuk itu. Semuanya sudah terlanjur tercipta seperti ini, Ibu benar-benar membuatku kecewa kali ini, apa Ibu tak ingin menghabiskan malamnya bersamaku malam ini? Apa sebenarnya yang ada difikirannya saat ini?. Tanya besar dalam benakku.
“Oh Tuhan, kenapa begitu sakit rasanya hati ini melihat Ibu seperti itu. Beliau Ibuku, yang seharusnya selalu memberi ketenangan dan kenyamanan padaku. Tapi malah banyak memberi keperihan yang mendalam,” rintihku pada Tuhan mempertanyakan kejanggalan.
Pasrah aku berjalan menuju dapur. Pandanganku langsung tertuju pada sesuatu di atas meja, aku mendekat, ternyata sepiring nasi uduk kesukaanku tersedia di sana. ”Ibuuuuuuu” spontan kupanggil Ibu dan refleks aku menoleh ke arah kamar Ibu. Tapi, yang kudapati hanya pintu yang tertutup rapat dan lampu yang sudah tak menyala. Niatku hanya ingin mengucapkan terima kasih sudah menyiapkan makanan kesukaanku, karena hal seperti ini jarang terjadi. Senang rasanya melihat ada sedikit respon dari Ibu kali ini. Dengan cepat Aku menyantap nasi uduk buatan Ibu yang kebetulan Aku juga tengah lapar. Paling tidak mengumpulkan tenaga untuk mencuci pakaian setelah ini fikirku.
Akhirnya selesai dan sekarang saatnya aku menuju kamar mengganti pakaian dan siap untuk mencuci. Aku berjalan ke arah  kamar, tarik nafas dalam-dalam sebelum malihat isi kamarku yang berantakan. Tapi, sepertinya tidak. Kamarku tak berantakan, pakaian sudah tersusun rapi di atas ranjang, seprai juga sudah diganti dengan seprai baru. Lagi-lagi aku menoleh ke arah kamar Beliau. Kenapa tak ada inisiatif untuk bersama malam ini? kenapa harus dengan cara seperti ini tanpa ada kecakapan yang terlontar?. Aku kembali memandang kamarku, semangatku semakin menurun presentasenya. Namun.. lagi-lagi ada sesuatu yang membuat pandanganku lekat, di pojok ranjangku terdapat sebuah kotak kecil berwarna hitam. Dengan perlahan aku meraihnya, tentu dengan perasaan yang cukup penasaran. Aku mulai membuka kotak tersebut, sungguh amat tidak kusangka apa yang kulihat dari isi kotak itu. Sebuah kalung emas yang biasa dikenakan Ibu di saat momen-momen tertentu, dan sebuah buku kecil berwarna merah yang sedikit usang. Apa ini? Hatiku mulai tak tenang.
Aku mulai membuka halaman pertama buku itu. Di sana tertulis. “Untuk anakku Gadis”. Aku mulai membaca. Ternyata semuanya dari Ibu, rasa penasaranku kini mencapai puncaknya.
“Ibu tahu pasti ada rasa kecewa di hatimu saat ini. Saat kau membaca surat ini Ibu harap kau sudah mengerti kenapa Ibu hanya bisa melakukan ini. Ibu takut Ibu tak mampu mengendalikan perasaan Ibu sendiri, Ibu takut akan terlihat lemah di depanmu”.
Kali ini perasaanku berubah menjadi rasa kesal dan airmataku sontak tertumpah. Sekarang aku mulai punya gambaran tersendiri tentang Ibu, Ibuku ternyata sama seperti ibu-ibu yang lain yang juga memiliki perasaan halus jauh di lubuk hatinya. Beliau hanya tak ingin terlihat lemah di depanku.
“Ibu berharap kamu menjadi anak yang selalu Ibu banggakan sampai kapan pun. Dan kalung emas itu untukmu, mungkin kau bisa gunakan jika perlu. Jaga dirimu baik-baik. Maafkan Ibu telah membuat hari-harimu penuh dengan kekosongan, Ibu menyayangimu, nak. Sampai kapan pun…”.
Membaca rentetan kata yang tersusun di lembaran buku itu yang murni Ibu tulis sebagai ungkapan hatinya, airmataku benar-benar tak bisa kutahan, aku menangis sejadi-jadinya. Ingin rasanya mengetuk pintu kamar Ibu kemudian memeluknya seerat mungkin. Namun, aku sadar tidak mungkin aku menampakkan mata sembabku pada Ibu. Beliau tetap tidak akan suka.
Semalaman aku tak bisa tidur sedikit pun, bayangan Ibu tak bisa lepas dari ingatanku. Buku kecil berwarna hitam itu menjadi pilihan Ibu untuk menyampaikan segala isi hatinya untukku yang terakhir kalinya, dibanding harus diutarakan langsung kepadaku karena itu bisa saja membuat ibu menjadi down. Dan setelah ini aku akan hidup sendiri tanpa Ibu di sisiku, dihadang masalah, cuaca, tanpa ibu. Aku benar-benar sendiri.

Hari Ini aku siap untuk menuju bandara. Dengan setelan baju berwarna merah jambu andalannya, ibu tampak sangat cantik. Dan sepanjang jalan Ibu tak sedikit pun melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, walau dengan kondisi seperti ini tak terlihat ada perpisahan baginya, di wajahnya hanya tampak rasa tak ingin melewati detik-detik terakhir bersamaku, itu sangat terasa dari genggaman hangat tangannya yang erat. Sekarang aku baru menyadari aku termasuk orang yang beruntung memiliki Ibu seperti beliau, wanita tangguh, itu julukan yang pantas untuk seorang Ibu seperti beliau.
Sekaranglah detik terakhir kebersamaan kami. Ibu memelukku erat seraya mengusap bahuku dengan lembut, ia tersenyum kecil lantas mengecup keningku. Sejuk melihat senyum itu, senyum pertama yang telah lama hilang berbelas-belas tahun lamanya.
“Hati-hati, Nak” ucap Ibu sedikit berbisik. Sekaligus ucapan manis terakhir untukku.
“Gadis pasti rindu Ibu,” ucapku mencoba membendung tangis dan berusaha tersenyum. Ibu mengangguk kemudian melepaskan genggamannya. Karena pesawat akan segara take off. Di jendela pandanganku tak berpaling dari sosok Ibu yang melambaikan tangannya, dan pasti di lubuk hatinya berharap aku akan pulang dengan segera dan kembali menemaninya. Airmataku tertumpah sudah sekarang. Dan kini di tanganku terpegang erat buku kecil kepunyaan Ibu yang berisikan curahan hati dan pesan terakhirnya untukku. Juga akan menjadi satu-satunya kenangan dari beliau. Love you, Mom.

Penulis: Mahasiswa Jurusan Sejarah STKIP-PGRI Pontianak

My Hipotesis


My Hipotesis
By : Gie
Memulai pagi ini dengan melakukan rutinitas seperti biasa ketika fajar mulai menampakkan cahayanya, yaitu  menggerakkan tubuhku dengan tenaga yang hanya tersisa sekitar 50% saja, karena aku baru terbangun dari tidur setelah samalaman otakku telah dicuri oleh laki-laki bertubuh besar, tegap, berkulit putih bersih, tampan, dan menurutku memiliki pribadi yang menarik untuk ditelusuri. Seorang laki-laki dewasa yang umurnya jauh di atasku yang sekitar 1 bulan belakangan ini  membuat benakku selalu dipenuhi dangan pernyataan-pernyataan konyol, maki, kagum, terharu, iba, terlontar disana. Kenapa aku bisa berujar demikian, karena sosok yang satu ini terkadang membuatku terpaksa mengatakan “orang gila…” dalam tanda kutip. Sosok fantastisnya yang membuatku berkata demikian. Aku ingin katakan dia sosok inspirasiku kali ini.
 Semalam aku baru saja meyakini bahwa NO BODY IS PERFECT. Ini aku dapati dari seorang laki-laki yang menurutku mendekati kata sempurna jika dilihat dari fisik, punya pribadi yang sederhana dan bijaksana, apalagi ia memiliki talenta yang sangat mengesankan dalam bidang seni. Itu semua bagiku mengagumkan untuk seorang laki-laki. Tapi siapa disangka ia juga memiliki kelemahan dan kekurangan didirinya  yang membuat ia rapuh akan hidup ini. Semalam saat aku duduk seorang diri dipojok ruangan seraya memegang cermin, ia datang dan menanyakanku pelan “kamu kenapa?” tanyanya sembari duduk disebelahku.
Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. Semalam ia tampak tampan dengan stile yang ia kenai. Lalu ia mengambil cermin ditanganku dan bercermin.
“Ganteng gak abangmu ini?” ia kembali bertanya padaku. Pertanyaan yang aneh yang ia lontarkan padaku.
“ Ya, abang memang ganteng,” jawabku polos seraya tersenyum.
“Kira-kira kalau nembak cewek diterima gak ya?,” ujarnya lagi membuatku sedikit mengkerutkan keningku heran.
“Siapa sih yang bisa nolak abang,” jawabku kini dengan tertawa kecil.
“Tapi kenapa wanita malah menjauh dari abang,?” tanyanya mulai serius. Aku terdiam sampai akhirnya datang satu persatu anak komunitas yang sama denganku mengerumuninya.
“Kenapa wanita selalu meninggalkan abang dengan laki-laki lain?”.
“Mereka hanya melihat abang dari sisi penampilan saja. Tapi kalau mereka tau abang yang supple, yang hanya memakai kaos oblong, celana pendek, mereka jijik sama abang,” serunya dengan nada cukup tinggi. Aku tetap diam, namun mulai bermain dengan pendapat dan hipotesisku tentang masalah ini. Dengan seksama aku memperhatikan mimik wajah yang sedang asik berbicara itu, wajah yang penuh dengan kekecewaan, kemudian rasa harap yang besar atas perubahan nasibnya dan amarah yang sedang memuncaknya di sana, terlihat dari nada bicaranya. ya… aku rasakan itu. Di sampingnya aku tetap bungkam, namun tetap menjadi pendengar yang baik. Detik itu aku memiliki kesimpulan dari dirinya, bahwa ia memang memiliki sesuatu yang menarik untuk dipandang. Tapi ia juga memiliki satu titik dimana ia bisa menjadi rapuh dan lelah. Di situ pula aku mendapat pelajaran hidup, walaupun hanya berupa hipotesisku saja.
            Berawal dari terimanya aku disebuah kampus ternama di sebuah kota, yang mengharuskan aku mengikuti program mahasiswa baru atau biasa disebut dengan pengenalan program studi. Di sana, pertemuan perdana antara aku dan laki-laki itu, karena ia salah satu dari sekian banyak panitia penyelenggara program tersebut. Pertemuan perdana saja aku sudah punya pendapat tersendiri tentangnya. “Laki-laki menyeramkan bertubuh besar, berwajah sangar seperti seorang penjahat. “Benci”. Itu kalimatnya, yang aku deskripsikan untuk laki-laki itu. Dan dengan suara besar dan lagat yang tampak mencerminkan seorang yang keras dan tegas,itu tambahan dari kalimatku barusan. Selama tiga hari itu tak ada kata-kata yang wajar setiap melihat sosoknya, dan artinya setiap hari juga aku telah mencetak lebih banyak angka jika dosa bisa dipresentasekan jumlahnya. Dan ada satu kejadian yang aku sangat amat ingat pada saat itu, kakiku terasa keram akibat terlalu lama duduk hingga aku tak mampu untuk berdiri. Tentu aku mengeluh kesakitan. Tiba-tiba dari arah sampingku terdengar suara
“Kamu kenapa duduk terus?” begitu ucapnya. Aku menoleh dan kukatakan alasannya. Kemudian dengan tangan yang berada di dalam saku ia menatapku.
“Jinjitkan kakimu,” ucapnya dengan nada datar dan wajah  menyeramkan, kemudian berlalu pergi. Mendengar itu rasanya ingin melemparnya dengan kerikil yang berserakan di sekelilingku. Tepat di wajahnya agar wajah menyeramkan itu takkan ada lagi. Paling tidak men-doer kepalanya dengan sekuat tenaga, supaya tak ada lagi gaya kaku dan menyebalkan seperti tadi. Rasa benciku semakin meluas saja rasanya. Benar-benar benci.




Setelah momen itu aku tak sering lagi melihat sosoknya,dan tak ada lagi maki bahkan rasa kesal yang berkadar tinggi. Semuanya berjalan seperti biasa,ya..seperti mahasiswa biasa.
            Sekitar sebulan setelah aku resmi menjadi mahasiswa,sebuah acara program studi kembali exis. Lagi-lagi disana aku menemui laki-laki yang aku masih tak tau siapa namanya. Tak penting dan tak ingin tau,Itu fikirku. Ia disana bertugas memberikan gambaran tentang komunitas yang ia geluti. Dan untuk kesekian kalinya pendapatku  tetap sama,
“huh…laki-laki dewasa yang mengerikan “ ujarku dalam hati. Dan memang nyatanya yang aku temui disitu ialah lagat yang mengerikan. Berbicara saja ia harus punya emosi yang menurutku berlebihan saat itu,tak mengerti apa maunya. Tapi,tak dipungkiri ada sedikit tambahan atau bisa dibilang ada kemajuan dalam pendapatku saat itu. Saat dilihat dan diteliti secara detail laki-laki itu,yang keluar dari benakku kalimat “manis juga”. Dan mulai ada sedikit rasa berkurang dihati ini melihat senyum manisnya mengembang. Aku juga tidak munafik kalau aku cukup tertarik dengan tampang yang menarik. Karena aku gadis biasa yang punya  penilaian tersendiri tentang laki-laki. Setelah selesai semuanya,hari-hariku pun kembali seperti biasa. Rumah,kampus,rumah,seperti itu setiap hari.
Sampai akhirnya aku benar-benar bertatap muka dengan laki-laki itu pada saat niat awalku hanya mengantarkan teman,untuk mendaftar dalam komunitas yang telah di utarakan oleh  sosok yang ku anggap mengerikan. Itu niat awalku sebelum akhirnya aku memutuskan juga untuk mengambil formulir perndaftaran,walau jujur aku masih dalam keragu-raguan saat itu. Namun,laki-laki itu membuatku mulai menepiskan rasa keragu-raguanku,dengan argument nya tentang komunitas  tersebut. kemudian Dari cara bicaranya sampai ia menyanggah pertanyaanku,membuatku memiliki pendapat baru tentangnya.
“sosok yang sangat formal,tegas,keras” seperti itu hipotesisku. Dan lagi-lagi, kali ini ia mengurangi kadar ketidaksenanganku padanya.
            Aku pun memulai aktivitasku dikomunitas ini. Jika boleh jujur,saat memutuskan masuk kelingkungan komunitas ini dihatiku cukup merespon tentang keberadaan laki-laki itu tapi sekarang tentu tidak,karena aku juga punya keinginan untuk maju dibidangku. Tapi, Entah kenapa aku memiliki rasa ingin tau tentangnya,tapi bukan berusaha untuk mengetahui semua isi jasad dan jiwanya. Disini,difikiran ini terlintas kata-kata
“ siapa dia?”
“bagaimana dia?”
Kata-kata itu pula yang membuatku terkadang berfikir,apa urusanku untuk itu? Rasa tidak berhak dan tidak seharusnya membuatku terkadang menerawang kearah kepribadiannya. Mungkin…lucu,goblok,cari perhatian,malu-maluin,bahkan tidak penting bagi orang lain jika mengatahui ini. Yang pastinya juga membuat seisi tubuhku ini menjadi melemah jika memikirkan pendapat orang lain. Dan kini walaupun tidak dekat namun mengenal aku mulai menghapus  kata-kata menyeramkan,mengerikan,kaku,berwajah sangar, semuanya berubah menjadi..
“ia laki-laki dewasa yang baik” itu saja. Karena aku melihat dan mengeluarkan pendapat itu berdasarkan cara berkelakuannya saat momen-momen yang tidak terllalu membutuhkan keformalan. Sampai disitu rasa tertarikku tentang kepribadiannya semakin aku nikmati. Aku mulai menikmati bila berhadapan dengannya,berdialog dengannya. Itu semata-mata demi mengumpulkan kembali hipotesis-hipotesis baruku tentangnya. Dan aku ingin mengatakan bahwa aku mulai mengagumi laki-laki itu sebagai pribadi yang menurutku berbeda dari laki-laki yang lain,khususnya mereka yang ada disekeliling komunitas. Lagi-lagi itu hipotesisku.
Melihat…terlukis  Wajah yang sejuk dan teduh
Menyimak…terlihat gerak yang santai dan lentur
Menatap…terpancar pesona yang selalu menggema_
Tajam!!! Tetap tenang namun berkobar
Tapi apa itu nyata?
mungkin tidak…..
dihatinya masih ada goresan
disana tersimpan rasa kekakuan
simpan saja semua itu jika kau bisa!!
Sembunyikan saja dilemma itu jika kau mampu!!
Ditempat ini aku tersenyum bahkan tertawa
Bukan karena aku meninggikan derajatku didepanmu
Namun sikap kecilmu yang mempersilahkanku berseru
                                                                                                            02 des 09
Itu juga adalah bentuk dari dunia hipotesisku setelah menganal laki-laki itu. Sebuah hipotesis berbentuk puisi yang terangkai 1 minggu yang lalu saat aku tak bisa tertidur lelap dalam kesunyian malam,tetap….fikiranku tetap pada makhluk tuhan yang satu itu. Sampai akhirnya aku terbangun dari tempat tidurku dan menggapai sebuah pena dan buku. Mulai berimajinasi.

                                                   ******
Sekarang aku akan gambarkan sedikit tentang dia dan bermaksud meralat ucapanku yang dulu pernah aku lontarkan sebelum aku mengenalnya. Dulu aku menganggapnya sebagai laki-laki berlagat kaku sekarang TIDAK,yang aku temui adalah keramahan dan keperduliannya.
Dulu menurutku ia keras,ya…ia keras namun keras tegas untuk kebaikan orang lain atau dirinya sendiri.
Dulu menurutku ia sosok mengerikan tapi sekarang yang aku temui adalah sosok yang wise,nice, dan humble.
Itu yang aku dapati dalam beberapa pengamatan.
Jadi paling tidak sekarang aku bisa menjawab pertanyaan yang sempat terlintas dibenakku beberapa waktu lalu. 
“siapa dia?”
“ bagaimana dia?”
Kini,di otakku ini tersusun sudah semua tentang laki-laki itu,dari awal melihat,awal kenal,mengenal,sampai akhirnya aku terbawa dalam dunia penerawanganku.
Dunia yang berhasil membuat aku bingung dengan fikiran yang mengatakan bahwa aku seseorang yang konyol,telah menjadikan sosok LAKI-LAKI ITU sebagai bagian dari hipotesisku. But end now,he is my inspiration. Laki-laki berbadan besar tegap dan gaya berjalannya yang sedikit seperti rentenir yang sibuk menagih hutang pada rakyat jelata,tentu dengan tampang seriusnya,itu dia. Sampai aku bisa merangkai sebuah cerita pendek yang aku tulis berdasarkan dugaan sementara (HIPOTESIS) Karena aku bukan orang yang hebat untuk sebuah kepastian tentang isi hati seseorang,Ataupun puisi sederhana yang kurangkai 1 minggu lalu. Benar-benar laki-laki yang bisa membuat aku masuk dengan mudah dalam dunia ini,dunia imajinasi. Dan tak hanya itu,mengenalnya adalah sesuatu untukku karena bukan hanya sebuah pelajaran hidup yang kudapat,tapi life is struggle.

Saturday, 3 March 2012

Seni Jurnalisme


Seni Jurnalisme

Oleh UBAY KPI

Kembali saya membuka buku usang berjudul Jurnalisme Dasar karya Luwi Ishwara. Buku itu “usang” karena buku tersebut di bagian akhirnya banyak jamur yang disebabkan oleh tumpahan kopi. So pasti, takkan seindah sebelum tumpahan kopi itu. Apalagi seperti baru, nda’ banget.
Mau tahu siapa yang membuat “usang” buku, tersebut. Ialah adik kelas di kampus saya saat meminjam buku itu untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Jurnalistik. Filga Ayong Sari, ya itu orangnya. Meskipun usang dengan jamur yang semakin menyebar, setumpuk ilmu tetap ada di dalamnya, setumpuk pengetahuan bisa kita dapat bila membacanya.
Sebelum saya menulis tentang ilmu jurnalistik, sedikit saya menceritakan mengenai tumpahan kopi.  Filga pada mulanya ingin mengganti buku tersebut, bahkan ia telah membelinya yang baru di toko buku Gramedia Pontianak. Namun saya menolaknya, bukan karena tak ingin merepotkan, dan bukan sok punya. Ada satu alasan yang sangat mahal bila dibanding dengan buku baru tersebut. Ialah coretan-coretan penjelasan mengenai suatu kata atau kalimat yang tak mudah dimengerti di buku itu. Hanya itu saja alasan saya.
Terus, Filga tetap dalam kondisi terpaksa membeli buku yang sama. Andai tidak menumpahkan kopi ke buku milik saya, mungkin Filga tidak akan membeli buku baru. “Abang ambil yang lusuh, ade’ ambil yang baru,” begitulah kira-kira ungkapan saya saat Filga mengembalikan buku.
Saat itu, saya juga pikiran motifasi. Saya mengandaikan seorang cewek atau cowok. Bila ada cewek yang cantik, atau cowok yang cakep, tentu kita betah melihatnya dan bisa saja tertarik mengetahui lebih jauh pada orang tersebut. Pikiran saya mengarah kesitu. Harapan saya, dengan buku yang masih bagus dan bersih, Filga semakin enak dan betah membacanya. Semakin sering membuka buku itu. Alhasil, semakin banyak pengetahuan yang didapat.
Wah, panjang ceritanya neh. Langsung saja ke topic yang akan saya tulis pagi ini. Eh, dimana dan kapan ya saat ini. Saat ini saya berada di rumah, sambil jaga bapak yang lagi sakit. Hari Sabtu, 3 Februari 2012. Pukul 03.18.
Kali ini saya membaca kembali tulisan Luwi Ishwara yang menulis tentang seni dan profesi. Jurnalisme bukan hanya mengandalkan profesi atau pengetahuan semata. Tulisan yang diawali dengan jurnalisme itu bukan mesin menegaskan, bahwa jurnalisme itu adalah sebuah seni plus profesi yang didukung dengan tanggung jawab profesionalisme. Paham tidak?
Maksudnya, jurnalisme bukanlah orang yang hanya pandai menulis. Seorang jurnalis tidak cukup hanya pandai menulis. Jurnalisme menuntut berbagai kompenen, termasuk memiliki seni. Kalau hanya pandai menulis, mungkin orang hanya akan menulis apa yang orang sampaikan. Tapi tidak melihat sisi lainnya. seperti melihat kondisi suatu kejadian. Melihat dengan mata yang segar setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik atau pendukung untuk sebuah berita. Itu merupakan satu bagian yang dimaksud seni.
Memfokuskan pandangan ke setiap sudut peristiwa, atau memandang fokus pada kejadian tersebut. Sehingga, data-data wawancara mengenai peristiwa bisa dikombinasikan dengan sudut pandang yang kita lihat.
Seperti perkataan Dave Barry seorang kolumnis yang dikutip Luwi Ishwara bahwa jurnalisme bukanlah tentang menulis saja, namun belajar tentang apa sesungguhnya mencari itu dan apa sebenarnya bertanya mengenai hal-hal pelik dengan kegigihan.
Di situlah kita dituntut untuk memiliki jiwa seni. Setiap seseorang akan memiliki sudut pandang yang berbeda, meskipun dalam suatu peristiwa. Contohnya yang pernah saya alami, ketika melakukan liputan wafatnya imam masjid Mujahidin tahun 2011 lalu. Saya mengangkat dari sisi sejarah dan pengabdian semasa menjadi imam besar. Tapi berbeda dengan rekan saya di media lain, ia lebih menonjolkan pada sisi organisasinya. Yang kebetulan, imam masjid tersebut merupakan kader Muhammadiyah.
Nah, itu sudah berbeda sudut pandang. Ditambah lagi dengan reportase di lapangan yang pasti akan lebih beda. Setuju kan kalau itu disebut seni?
Contoh lain, ketika ada peristiwa kebakaran, bisa jadi kita akan lebih fokus pada berapa korban, berapa kerugian, berapa ruko, atau berapa pemadam kebakaran yang membantu memadamkan. Itu akan menjadi sudut pandang utama pada berita yang akan tulis. Ditambah lagi kondisi saat terjadinya kebakaran. Ketakutan dan raut muka masam korban. Disitu kita kita dituntut punya insting seni tinggi. Sebab, itu akan menjadi warna dalam tulisan kita. Berita akan semakin hidup dengan banyak ornament pendukung.
Contoh lagi, dalam suatu peristiwa kebakaran  bisa jadi fokus pandangan kita tertuju pada sumber air pemadam kebakaran. Sehingga personil pemadam susah memadamkan api karena tidak adanya sumber air yang memadai.
Jadi, begitulah yang dimaksud dengan jurnalisme yang tidak hanya sekedar pandai menulis, namun harus punya seni.
Wallahu a’lam. Mator Sekelangkong.
Di rumah, 3 Februari 2012, 03.46

Thursday, 1 March 2012

David dan Herman


David Maryansyah bersama Bung Herman di sebuah pantai. Keduanya adalah sahabat yang setia dan saling mengisi. Harmonis meski keduanya beda latar belakang. David adalah politisi, Bung Herman adalah pengusaha muda. David adalah generasi Madura yang menghargai segala etnis, Bung Herman keturunan Tionghoa. 

David M


David Maryansyah, Politisi PDIP Perjuangan Kota Pontianak (kedua dari kiri) bersama kader PDI Perjuangan Kalimantan Barat lainnya pada sebuah acara di Kota Pontianak.

David Maryansyah bersama Prof. Mien Rifai


David Maryansyah (berkaos merah) dengan penulis kamus Madura, Mien A Rifa'i (berbatik) di Taman Alun-alun Kapuas Pontianak. Sedang lainnya, adalah rekan-rekan panitia Festival Lanceng Praben Kota Pontianak. Kehadiran Mien Rifa'i ke Pontianak dan melihat langsung Festival Lanceng Praben bagi David merupakan sebuah penghargaan. 

David Maryansyah


David Maryansyah yang pada tahun 2012 ini duduk di Komisi D DPRD Kota Pontianak. Bersama Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Pontianak, Bang Eka. David Maryansyah duduk di DPRD Kota Pontianak melalui daerah pemilihan Pontianak Utara. Sedangkan Bang Eka dari Dapil Pontianak Kota

David Ingatkan Aparat Untuk Tidak Brutal


Sosok yang perawakannya seram. Namun bila mengenalnya ia adalah sosok yang lembut dalam berteman, mudah akrab, dan humoris.

Suarakalbar.com - Pengeroyokan oknum aparat terhadap penjual bensin yang mangkal di Jalan Sultan Hamid II, tepat di kaki jembatan Kapuas I, sempat menimbulkan ketegangan di kawasan Pontianak Timur pada hari Sabtu yang lalu. Ribuan warga sekitar tumpah ruah mencari dan melampiaskan kekesalan kepada pelaku. Akibatnya, jalur vital  transportasi di Kota Pontianak ini sempat lumpuh beberapa jam.
Berdasarkan informasi yang didapatkan Suarakalbar.com,  korban bernama Farid adalah penjual bensin eceran di Jalan Sultan Hamid II. Dia dikeroyok oleh lima orang sekitar pukul tiga sore, sabtu lalu. Beberapa orang diduga mabuk.  Farid dikeroyok hingga tak sadarkan diri. Wajahnya memar, kepalanya bocor dan punggungnya luka serius. Saat ini dia tengah dirawat di RS Yarsi, Jalan Tanjungraya 1.
“Saya dipukul, ditendang. Udah jatuh diinjak-injak lagi. Saya dengar ada yang mengaku anggota TNI,” ujarnya.
Melihat Farid dikeroyok, warga sekitar ramai-ramai berusaha mengejar para pelaku. Namun para pelaku berhasil kabur. Ada salah seorang anggota TNI, berinisial Dk berpangkat Pratu  yang berada di antara keributan itu, ikut dikejar warga. Merasa terpepet, dia lalu masuk ke Pos Polisi yang tak jauh dari lokasi kejadian. “Orang itu anggota tapi tak tahu hukum. Main pukul orang sembarangan. Kami tak terima. Serahkan dia ke kami,“ teriak salah seorang anggota massa.

Tak ayal keramaian itu menimbulkan kemacetan. Jalan Sultan Hamid II dan Jembatan Kapuas macet total. Sementara jalan Imam Bonjol, Tanjungpura, hingga ke Gajah Mada terkena imbasnya, jalan padat merayap. Kemacetan ini berlangsung hingga jam tujuh malam, ketika Dk berhasil diamankan. Malam itu, Dk dijemput oleh mobil barakuda milik tim gegana Polda Kalbar. Massa yang emosi meneriakinya dengan kata-kata kasar.Warga mengira dia adalah pelaku pengeroyokan. Warga yang awalnya berjumlah puluhan orang menjadi semakin banyak. Ribuan orang dari berbagai penjuru sekitar TKP berkumpul  menuntut agar Dk diserahkan ke mereka. Mereka berasal dari  Tambelan Sampit, Kampung Dalam Bugis, Tanjung Hilir dan Tanjung Hulu, Banjar Serasan, Parit Mayor dan Saigon.  Seluruh badan jalan depan Pos itu dipenuhi oleh massa.
Polisi sempat melepaskan tembakan  peringatan sebanyak lima kali,  untuk membubarkan massa. Namun massa tetap tidak beranjak. Karena merasa tidak terima dengan ulah oknum anggota TNI.  Keinginan massa yakni oknum TNI yang diamankan di dalam pos agar dikeluarkan. Joni (34) warga setempat menuturkan teman pelaku berhasil melarikan diri. Namun pelaku tidak sempat menyelamatkan diri. Hingga harus menyelamatkan diri ke Pos Polisi. Setelah dikejar warga. Bahkan, lanjut dia, tercium bau alkohol dari mulut pelaku. Pelaku mengakui jika sedang dalam pengaruh alkohol ketika diinterogasi warga.
Kapolresta Pontianak, Dandim Pontianak, Dansat Brimob, pemuka masyarakat Pontianak Timur tampak berupaya meredam situasi. Guna menenangkan warga. Sekaligus mengimbau agar membubarkan diri.  “Kita hanya mengamankan,” kata Kapolresta Pontianak Komisaris Besar Muharom Riyadi.
Sementara itu, salah seorang pimpinan dari kesatuan Pratu Dk membantah kalau anggotanya itu terlibat pengeroyokan. Dia mengatakan Dk justru orang yang ingin menolong Farid saat dikeroyok orang tak dikenal. Versi TNI AU, Pratu Dk yang sedang tidak dinas hendak mengisi bensin di kios milik Farid. Di sana sudah ada beberapa orang yang lebih duluan datang, juga mau isi bensin. Belakangan terjadi keributan antara orang-orang itu dengan Farid yang juga berujung pengeroyokan. Melihat itu, Dk langsung melerai pertengkaran tersebut.
“Apes sekali nasib dia. Karena ada di lokasi itu. Dia menolonglah. Tapi warga yang melihat dari jauh, mengira dia ikut ngeroyok. Padahal dia datang sendiri. Ada salah paham di sini. Saya tahu dia orangnya baik, tidak pernah mabuk,“ kata pria berpangkat kapten itu minta namanya dirahasiakan.

Berkaitan dengan kasus itu, anggota DPRD Kota Pontianak David Maryansyah mengutuk pemukulan pedagang bensin eceran oleh oknum aparat di Pontianak Timur, Sabtu (28/1) sore. Kejadian itu menodai kepercayaan masyarakat terhadap aparat negara. "Kejadian itu sangat memalukan," tegasnya, kemarin.
Dengan kejadian di Pontianak Timur itu, David meminta aparat mengambil pelajaran agar tidak bertindak brutal. Masyarakat, kata dia, tidak akan bersikap seperti peristiwa tersebut jika tidak ada yang menyulut. Masyarakat menurutnya akan segan serta hormat dengan aparat jika diperlakukan manusiawi."Harus ada hubungan saling menguntungkan. Masyarakat ikut aturan, aparat bertindak sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan begitu kondisi akan aman," ungkap David yang juga warga Pontianak Timur itu.
Kepada atasan pelaku dan institusinya David berharap pelaku ditindak sesuai ketentuan. Perkembangan penindakan kasus tersebut sedianya dapat diakses masyarakat agar tidak ada kecurigaan. "Agar ada kepuasan masyarakat saya harap pelaku ditindak sesuai dengan perlakuannya," harap politisi PDIP itu. 
Bagi aparat secara umum, dirinya meminta tidak ada lagi kejadian serupa. Pembinaan anggota baik TNI maupun Polri mesti ditingkatkan lagi. "Walau hanya oknum yang melakukannya, institusi tidak akan bisa lepas dari tindak tanduk anggotanya," katanya.

David Kritik Sekolah yang Dikomersilkan


Sosok yang vokal dalam menyampaikan aspirasi. Dan tak malu untuk meminta maaf bila bersalah

David Kritik Sekolah yang Dikomersilkan
Sumber: Pontianak Post

PONTIANAK – Anggota Komisi D DPRD Kota Pontianak David Maryansyah berniat mengecat sekolah disertai dengan lambang partainya. Dia bersedia mengeluarkan dana pribadi jika ada sekolah yang mau. Ungkapan itu dilontarkannya karena kecewa dengan kondisi SDN 29 Pontianak Timur yang dicat dan ditaburi logo salah satu operator selular. “SD 29 boleh seperi itu. Kalau begitu, jika ada sekolah yang mau katakan pada saya. Nanti saya cat warna merah semua dan dibuat lambang PDIP di sekolah itu. Semuanya (dana) saya yang tanggung,” ujarnya, kemarin (13/1).

 David menyesalkan ada sekolah di Pontianak seperti SDN 29. Hal itu menurutnya boleh saja dilakukan swasta asal biaya pendidikan baik fisik maupun prasarana ditanggung. “Boleh swasta seperti itu, tapi sekolah itu dia yang bangun, bangku, meja, papan tulis mereka yang beli. Begitu juga lapangan upacara dan olahraga swasta yang bangun, itu baru boleh mereka cat semua sekolah semaunya,” ungkapnya kesal.  Anggota komisi D lainnya, Mujiono mempertanyakan apa kontribusi operator selular itu sehingga sekolah menggadaikan semuanya. Dengan mengecat semua bangunan termasuk atap disertai logo produk, Mujiono menilai semua kegiatan di sekolah itu operator selular tersebut yang membiayai. “Sepertinya sekolah itu bukan pemerintah yang biayai. Selain bangunan dan isinya, mungkin saja guru di sekolah itu yang gaji operator selular tersebut,” katanya.
Mujiono mengingatkan kepala sekolah tidak berlebihan dalam berkreatifitas. Kreatif yang berlebihan justru berdampak tidak baik. “Kreatif boleh asal yang konstruktif, bukan seperti itu,” ujarnya. Kepada operator selular dan perusahaan lainnya, Mujiono mengatakan, boleh saja membantu, namun tidak memanfaatkan lembaga pendidikan sebagai ajang promosi berlebihan. Banyak yang dapat dilakukan dalam membantu dunia pendidikan. “Seperti memberikan beasiswa dan kegiatan yang bermanfaat bagi siswa,” ungkapnya.   Pemerintah pun diminta Mujiono memberi ketegasan bagi sekolah dalam berkreatifitas, sesuaikan dengan kebijakan. Siswa SD dilarang membawa telepon genggam, namun sekolah mengizinkan operator selular masuk dengan cara berpromosi. “Inikan terbalik dengan aturan. Siswa dilarang bawa HP, tetapi perusahaan telekomunikasi dibolehkan masuk sekolah,” tegasnya. (hen)

David. Sosok yang Tak Lupa Pemilih


David Maryansyah berlatar belakang sebuah klenteng

Dapat Tumpangan Gratis, Boyongan Berangkat ke ‘Kota Amoy’
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang memang menyedot perhatian. Meski di Pontianak juga ada perayaan serupa, namun banyak yang menilai tidak semeriah di kota seribu klenteng itu. Buktinya, ratusan warga Tionghoa di Pontianak Utara, rela ke ‘Kota Amoy’ itu dengan mencarter bus.
Hendy Erwindi, Pontianak
Halaman Klenteng Kwan Im Tong di Jalan Gusti Situt Mahmud, Pontianak Utara, Minggu (5/2) sore, tampak ramai. Warga berkumpul di beberapa sudut klenteng. Ada yang duduk di bawah pagar sambil berbincang dengan rekannya. Sebagian besar membawa tas, layaknya pelancong hendak berangkat menuju tempat wisata.
Tak lama berselang, seorang pemuda meminta warga yang berkumpul di bawah pintu gerbang menyingkir. Dia berteriak, mengarahkan bus yang masuk ke halaman klentengn
Setelah empat bus kota terparkir di halaman klenteng, kemudian menyusul tiga bus antarkota dan satu bus sekretariat DPRD Kota Pontianak. “Sore ini kami akan ke Singkawang karena mau lihat Cap Go Meh besok (hari ini, Red),” ujar salah seorang warga, Lisa.
Memilih Singkawang untuk merayakan Cap Go Meh karena berbeda dengan perayaan yang ada di Pontianak. Jika di Pontianak hanya ada naga, di Singkawang lebih lengkap. “Di Singkawang ada tatungnya. Saya dengar dari teman di sana juga ada replika Tembok Besar Cina. Kalau di Pontianak biasa saja,” ucapnya.
Warga lainnya Ajan bertutur serupa. Meski tidak berangkat, kehadirannya di Klenteng Kwan Im Tong sekedar mengantar ibu dan kakaknya. “Ibu dan kakak tahun lalu juga ke Singkawang pakai bus umum. Sekarang ada yang sediakan bus gratis, mereka mau pergi lagi,” ungkapnya.
Pengurus Klenteng Kwan Im Tong Ahu mengatakan, baru kali ini warga sekitar klenteng pergi bersama-sama ke Singkawang. Biasanya warga yang ingin menyaksikan perayaan Cap Go Meh di Kota Amoy tersebut, pergi masing-masing. “Ini karena Pak David yang punya ide. Dia menyediakan bus untuk warga, biar sama-sama ke Singkawang. Ini bagus semuanya jadi berbaur, tidak membedakan suku dan agama,” kata dia.
Anggota DPRD Kota Pontianak David Maryansyah, membenarkan hal itu. Ia mengatakan idenya mengajak warga ke Singkawang berawal dari banyak dari mereka yang ingin melihat Cap Go Meh ke kota tersebut, namun tidak kesampaian. Kebanyakan orang menilai Singkawang sebagai pusat perayaan Cap Go Meh di Kalbar. “Ini bentuk apresiasi kami terhadap masyarakat. Tidak hanya warga Tionghoa yang pergi, dalam rombongan ini ikut juga warga lain. Ini wujud kebersamaa dan keberagaman di Kalbar,” ungkapnya.
David menanggung semua biaya transportasi. Delapan bus disediakannya. Selain itu rombongan juga ada yang menggunakan kendaraan pribadi, mobil dan sepeda motor. Namun dia tidak sempat lagi memesan tempat menginap, semua hotel dan penginapan di Singkawang penuh. Setelah berembuk dengan warga yang ingin berangkat, mereka sepakat tidak menginap di hotel, tetapi di Pasir Panjang. “Walau tidak dapat hotel mereka rela tidur di Pasir Panjang asal ke Singkawang. Mereka mau backpacker,” kata anggota komisi D ini.
Dia ingin keberagaman itu tetap terpelihara pada masyarakast Pontianak dan Kalbar, apalagi provinsi ini menghadapi pemilihan gubernur. “Sejak dulu kita ini beragam, hal itu harus dipelihara terus agar Kalbar aman dan masyarkatnya sejahtera,” tuturnya.

sumber: Pontianak Post

David Marsyansyah Peduli Sepak Bola


David Maryansyah sebagai penjaga gawang pada skuad tim DPRD Kota Pontianak. Baik saat saat melaksanakan olahraga bersama atau dalam pertandingan eksebisi

David Marsyansyah Peduli Sepak Bola
Sumber; RRI Pontianak

Sebagai wakil rakyat yang membindangi Olahraga Komisi D DPRD Kota Pontianak berkeinginan agar olahraga di daerah ini bisa maju dan berkembang karena dengan prestasi olahraga mampu mengangkat nama daerah hingga tingkat nasional. hal itu diungkapkan anggota Komisi D DPRD Kota Pontianak David Maryansyah Kepada sejumlah wartawan.

Menurutnya pembinaan atlet sepak bola muda di Kota Pontianak terus gencar di lakukan club-club yang ada, namun jika hanya melakukan pembinaan saja tanpa adanya kompetisi, atlet muda tersebut tidak akan terpacu memiliki kemampuan handal dan mental untuk berjuang meraih prestasi tertinggi tentu tidak akan tercipta.maka dari itu dirinya sangat mengapresiasi dengan terlaksananya kompetisi sepak bola U-21 yang digagas langsung Ketua Umum Persipon Pontianak Paryadi yang juga selaku Wakil Walikota Pontianak.

Anggota Komisi D DPRD Kota pontianak David Maryansyah mengakui Kompetisi sepak Bola U21 yang digelar saat ini sangat berdampak positif bagi kemajuan olahraga sepak bola di Kota Pontianak..menurutnya ajang tersebut sebagai ajang melahirkan bibit sepak bola muda yang bakal mengabdikan dirinya demi memajukan sepak bola kota pontianak kedepannya.selain itu politisi PDI Perjuangan Kota Pontianak itu sangat mengapresiasi club-club yang berlaga pada ivent tersebut selalu bertanding secara fair play sehingga menyemarakkan persaingan meraih juara secara terhormat. ( Vico Alhadi )

David Pengkritik yang Lembut


David

David Pengkritik yang Lembut

PONTIANAK- Anggota DPRD Kota Pontianak David Maryansyah mengutuk pemukulan pedagang bensin eceran oleh oknum aparat di Pontianak Timur, Sabtu (28/1) sore. Kejadian itu menodai kepercayaan masyarakat terhadap aparat negara. "Kejadian itu sangat memalukan," tegasnya, kemarin.Dikatakan David, kondisi Kota Pontianak dan Kalbar sudah aman. Masyarakat menjaga hubungan vertikal dan horizontal dengan baik. Namun sekarang justru aparat yang menodainya. "Gubernur dan wali kota serta masyarakat telah menjaga keamanan dengan baik, mengapa justru aparat merusak kondisi ini," ujarnya.
Dengan kejadian di Pontianak Timur itu, David meminta aparat mengambil pelajaran agar tidak bertindak brutal. Masyarakat, kata dia, tidak akan bersikap seperti peristiwa tersebut jika tidak ada yang menyulut. Masyarakat menurutnya akan segan serta hormat dengan aparat jika diperlakukan manusiawi."Harus ada hubungan saling menguntungkan. Masyarakat ikut aturan, aparat bertindak sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan begitu kondisi akan aman," ungkap David yang juga warga Pontianak Timur itu.
Kepada atasan pelaku dan institusinya David berharap pelaku ditindak sesuai ketentuan. Perkembangan penindakan kasus tersebut sedianya dapat diakses masyarakat agar tidak ada kecurigaan. "Agar ada kepuasan masyarakat saya harap pelaku ditindak sesuai dengan perlakuannya," harap politisi PDIP itu.Bagi aparat secara umum, dirinya meminta tidak ada lagi kejadian serupa. Pembinaan anggota baik TNI maupun Polri mesti ditingkatkan lagi. "Walau hanya oknum yang melakukannya, institusi tidak akan bisa lepas dari tindak tanduk anggotanya," katanya.
Seperti diberitakan kemarin, ketengan terjadi di Pontianak Timur. Pemicunya adalah seorang penjual bensin bernama Farid dipukul dan dikeroyok oleh lima oknum aparat. Korban yang sempat melawan, mengalami cidera berat di kepala dan dirawat intensif di Rumah Sakit Islam Yarsi. Warga sekitar tidak terima dan dapat melampiaskan kepada seorang pelaku yang tak berhasil kabur. Ketegangan sempat memacetkan arus lalu lintas di jembatan Kapuas I sekitar empat jam. Karena ribuan massa memadati titik sentral jalan negara itu.  Untung pihak kepolisian cepat tanggap bisa mengamankan dan menguasai situasi dan pelaku diamankan dan akan diproses sesuai hukum yang berlaku. (hen)
Sumber: Pontianak Post

David Maryansyah yang Low Profile


Pemuda Madura yang Toleran dan Masuk ke Berbagai Kalangan Etnis

Gagas Pemilihan Lanceng Praben
Oleh Ubay KPI

Terlepas jabatannya sebagai anggota DPRD Kota Pontianak, David Maryansyah sebagai tokoh Madura di Kota Pontianak, mengajak kepada muda-mudi (Lanceng Praben) Madura yang ada di Kota Pontianak untuk mendukung Festival Pemilihan Lanceng Praben Kota Pontianak yang akan digelar di PCC, 19-21 Oktober mendatang.
“Yang sekiranya masuk dalam kriteria dan memiliki bakat serta kemampuan, silahkan berkompetisi bersama Lanceng Praben lainnya,” kata David Maryansyah kemarin.
Festival tersebut menurut David, yang juga sebagai Koordinator Lomba bukan hanya bertujuan untuk menjadikan satu dari banyak Lanceng Praben yang ada di Kota Pontianak. Namun, ia nantinya juga eksis bersama duta lainnya, seperti Bujang Dara, Duta Lingkungan Hidup, Duta Pariwisata dalam membangun Kota Pontianak dari sisi yang bisa dilakukan.
Hal yang terpenting menurut David. Bagaimana, Kota Pontianak yang sangat multi etnis tetap harum dengan kedamaian, hidup berdampingan dalam keberagaman.
“Kita menginginkan, festival ini bukan hanya seremonial, namun mereka punya rasa tanggung jawab terhadap daerah. Yakni, memperkaya budaya dan berbaur dengan indah,” ungkapnya.
“Kepada kawan-kawan Lanceng Praben yang ada di Kota Pontianak, silahkan berkompetensi dengan bersih. Ayo wujudkan Kota Pontianak yang berbudaya,” tambahnya.
David Maryansyah juga mengingatkan, pendaftaran bisa dilakukan melalui jejaring social Facebook dan Blogger. Serta bisa langsung menghubungi panitia di nomor 081256448116.

David Maryansyah, S. Sos, Gaul namun Merakyat


David Maryansyah, S. Sos




Suami dari Indah Suryani. Saat ini menjabar sebagai Wakil Komisi B. Anggota Badan Anggaran dan Anggota Badan Legislasi DPRD Kota Pontianak. Melakukan perubahan untuk kesejahteraan rakyat merupakan tekadnya dalam menjalankan amanah di dewan perwakilan rakyat. Pria muda ini kelahiran Ketapang, 25 Juni 1981 dan mempunyai motto, lakukan yang terbaik untuk hidup dan kehidupan.
Hobi David Maryansyah selain travelling, tak lepas membaca kitan suci Alquran. KH. Abdurahman Wahid dan film Avatar dalam dirinya adalah sebagai inspirasi. 
Sumber; dprd.pontianakkota.go.id

Tuesday, 28 February 2012

Langkah Aman Merawat Kewanitaan


Langkah Aman Merawat Kewanitaan


Oleh UBAY KPI

Berawal dari sekedar ingin menikmati setengah gelas kopi atau biasa orang Pontianak bilang “kopi pancong” di kawasan Coffee Street Jalan Gajah Mada Pontianak. Saya mampir ke warung kopi favorit di kawasan ini. di WK Winny. Warkop yang sang sering saya kunjungi. Bahkan, 90 persen pegawai warkop tersebut sudah mengenal saya.
Sambil menikmati setengah gelas kopi, saya coba buka ransel bermerk Bodypack. Ada Koran Tempo terbitan Selasa, 28 Oktober 2012. Koran tersebut saya bawa dari kantor tempat saya bekerja. PT Borneo Tribune Press. Saya termasuk rajin membawa Koran dari kantor. Apalagi bila pulang akhir. bila ada Koran nasional yang masih ada, tetap saya bawa untuk bahan bacaan di rumah, sekaligus belajar menulis bak jurnalis nasional. Seperti Kompas dan Tempo.
Lembar demi lembar saya buka. Hingga akhirnya sampai ke halaman C5. Saya baca judulnya sangat menarik dan menggelitik saya untuk membacanya sampai selesai dari berita yang ditulis Cheta Nilawaty dan Dwi Wiyana. Berita hampir satu halaman bersama setengah foto lepas tersebut berjudul  “Cara Aman Membersihkan Organ Kewanitaan”.
Dan betul sekali, setelah saya membaca hingga selesai, betul-betul memberi pengetahuan baru bagi saya, khususnya berkaitan dengan organ perempuan yang sangat istimewa, bahkan mahkota dari mahkota yang paling berharga dari seorang perempuan ini.
Meski saya pribadi laki-laki, namun saya kerap berdiskusi dengan perempuan masalah yang berkaitan tentang perempuan, baik sifat, keinginan, dan lainnya. Termasuk yang satu  ini, itu saya lakukan karena saya menganggap perlu suatu saat nanti. Sebab khawatir atau siapa tahu pendamping saya tidak mengetahui atau kurang memahami masalah-masalah yang harus ia pecahkan.
Mengenai organ kewanitaan, hasil diskusi yang saya ingat dengan rekan perempuan, bahwa sangat efektif melakukan pembersihan organ kewanitaan dengan produk pembersih yang banyak dijual. Atau ada sebagian rekan yang mengatakan kadang menggunakan odol sebagai alternative. Dan untuk mengeringkan biasa menggunakan tisu.
Namun apa yang terjadi setelah membaca catatan di Tempo. Sangat berbeda dan bahkan sangat salah. Berita yang mengutip penjelasan dari dr. Yasmina Ismail, dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta menjelaskan tisu bukanlah alat yang baik untuk membersihkan kewanitaan usai buang air. Bahkan, tisu bisa menjadi media perkembangan jamur dan bakteri, sebab tisu mudah luruh dan mudah menempel ke bagian vagina.
Bukan hanya itu, tisu juga berbahaya dari sisi zat yang dikandungnya. Sebab tisu mengandung zat kimia berupa pemutih.
Alternatif yang ditawarkan Yasmina, ialah lebih baik menggunakan handuk lembut untuk membersihkan vagina. Karena handuk lebih aman sebab tak mudah luruh. Dan aman dari zat kimia.
Paradigma saya tentang pembersih cairan seperti daun sirih, resik dan lainnya mulai muncul. Pertanyaannya sekarang, apakah produk tersebut juga aman dianggap seperti menggunakan tisu untuk mengeringkan?
Ternyata eh ternyata, dalam lanjutan tulisan tersebut juga mengulas mengenai pembersih tersebut. Apa yang diutarakan Yasmira?
Ternyata, produk tersebut menurut Yasmira tidak ada bukti ilmiah, higienis atau steril. Bahkan, dalam kutipan yang ditulis Cheta Nilawaty dan Dwi Wiyana, Yasmira seakan melawan dan mengkampanyekan kepada kaun Hawa untuk tidak menggunakan produk-produk seperti itu. Pasalnya, pembersih yang dijual berbagai produk tersebut dipastikan banyak mengandung bahan kimiawi. Seperti pemutih dan pewangi sudah dipastikan ada dalam produk tersebut, contohnya adalah povidone.
Bahkan. Cheta Nilawaty dan Dwi Wiyana menuliskan, mengutip perkataan Yasmira, produk pembersih organ wanita tersebut merugikan wanita. Pasalnya, pembersih bukan malah menghilangkan bakteri, namun pembersih itu bisa menghilangkan cairan berguna pada vagina wanita.
“Cukup bersihkan dengan air bersih saat mandi atau sehabis buang air,” tulis Cheta Nilawaty dan Dwi Wiyana.
Puncaknya dari tulisan itu, Yasmira malah lebih pro pada bahan alami. Seperti daun sirih, rebusan air daun sirih. Sebab daun sirih sangat ampuh untuk mengusir bakteri. Dan saat ini, daun sirih merupakan antibiotik yang sangat ampuh dan sangat dianjurkan.
Jadi, cewek-cewek yang masih muda ataupun yang telah usia lanjut, jangan terlalu percaya dengan produk yang menawarkan bermacam kesempurnaan.
Wah, sepertinya daun sirih akan semakin laku ni. Bukan hanya untuk kebutuhan nyugi, kerok, atau pengantinan. Tapi juga akan digunakan untuk pembersih. Kayaknya, besok-besok saya mau ngintip cewek-cewek yang ke pasar tradisional nih untuk melihat, apa mereka beli sirih ye. Kalau iye, berarti die pakai daun sirih untuk membersihkan anunya. Laris manis daun sirih. Makmur si tukang penanam sirih. Makmur makmuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrr…………………

WK Winny Gajah Mada
Rabu, 28 Februari 2012. 19.14 WIB