Monday, 2 May 2011

Rekomendasi Pansus KP Belum Keluar

Rekomendasi Pansus KP Belum Keluar
Oleh Ubay KPI
Janji Ketua DPRD Kota Pontianak untuk mengeluarkan rekomendasi kepada Pemerintah Kota Pontianak pada 25 April 2011, ternyata hingga saat ini janji tersebut belum juga dipenuhi.
“Ini sudah akhir bulan Maret, namun rekomedasi hasil Pansus KP belum juga diserahkan ke Pemkot,” ungkap Sekretaris Asosiasi Pedagang Khatulistiwa Plaza (APKP), Santi kepada wartawan.
Dalam hidup bermasyarakat, Santi mengatakan, bahwa janji adalah hutang atau harga diri. Dan salah satu kepercayaan masyarakat adalah, ‘bila kita berjanji akan selalu menepati. Sehingga apa jadinya jika seseorang tidak dapat menepati janjinya dengan alasan-alasan yang terkadang dibuat-buat.
“Masyarakat sudah bisa menilai, sikap kita seperti apa kalau tidak bisa menepati janji,” kata Santi.
Padahal, Pansus DPRD Kota Pontianak sudah berani mengambil sikap demi kebenaran dan keadilan. Dan pihaknya merasa salut serta mengacungi jempol, sehingga saat ini para pedangan menunggu sikap dari Ketua DPRD Kota Pontianak.
Dijelaskan Santi, kasus yang sama pernah terjadi di DKI Jakarta. Dengan perjuangan yang keras dari pemilik pecahan sertifikat HGB, akhirnya pemilik pecahan sertifikat memenangkan dan dimenangkan dalam perkara tersebut.
“Di Indonesia, beberapa kasus yang sama juga pernah terjadi karena ulah oknum/aparatur Kantor Pertanahan,” katanya.
Menurut Santi, pihaknya diseret ke meja hijau karena perjanjian tersebut. Apakah DPRD Kota Pontianak tidak merasa bertanggung jawab atas penerbitan HGB 4322. Apalagi, tidak ada orang yang lebih mengerti perjanjian ini, selain Hartono Azas.
Lahirnya perjanjian ini di era DPRD pimpinan Ali Hanafia. Mereka duduk jadi anggota dewan yang terhormat. Mulai ribut di DPRD pimpinan Gusti Hersan, dimana Hartono Azas jadi wakil ketua. Sekarang pihaknya berharap, setelah Hartono duduk jadi Ketua DPRD untuk memberikan suara membela rakyatnya yang saat ini sedang dirundung kesusahan.
“Kembalikan hak pedagang yang telah dirampas PT Seroja. Apakah benar hukum yang berlaku di NKRI tajam ke bawah, tumpul ke atas. Tumpul terhadap buat yang kaya dan tajam terhadap pedagang KP yang miskin uang,” tegasnya.
Pedagang bersengketa karena tidak mau diperas dan dirampas haknya oleh pengusaha. Apakah Ketua DPRD Kota justru mau tunggu di pengadilan memutuskan bahwa pedagang KP mesti diperas dan dirampas haknya. Bukankan tugas Pak Hartono adalah memperjuangkan hak rakyat, sebab DPR adalah Dewan Perwakilan Rakyat.
“Sebagai wakil rakyat, mestinya keberatan rakyat itu diperlakukan tidak adil. Perjanjian itu Rp 3 Miliar untuk 50 tahun diputuskan Rp 5 juta per meter persegi, untuk 20 tahun. Berapa kerugian negara dan keuntungan PT Seroja dari secarik kertas perjanjian itu. Ini korupsi namanya,” tegas Santi.Coffee People, Donut Shop K-Cups for Keurig Brewers (Pack of 50)

Musda Muhammadiyah Kota Pontianak

Musda Muhammadiyah Kota Pontianak
29 Nama Calon Ketua Masih Digodok
Oleh Ubay KPI
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pontianak melaksanakan Musyawarah Daerah VIII untuk pemilihan ketua baru serta pemaparan petanggungjawaban ketua demisioner di Aula Asrama Haji Pontianak, Sabtu (30/4) kemarin.
Musyawarah Daerah (Musda) yang dijadwalkan satu hari tersebut diikuti oleh seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Kota Pontianak serta Pimpinan Aisiyah Pontianak, Pemuda Muhammadiyah, dan organisasi otonom lainnya.
Dalam Musda Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pontianak kemarin, terdapat sebanyak 29 nama calon ketua yang diumumkan yang pada hari kemarin juga ditetapkan menjadi 13 calon ketua. Dikatakan oleh Ketua Panitia Musda Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Pontianak, Achmad Muhfahir kemarin, Musda akan diselesaikan tadi malam. Hanya saja waktunya dimungkinkan malam.
29 nama calon yang menjadi kandidat Ketua PD Muhammadiyah Kota Pontianak yakni, Ismail Abdurahim dengan usulan 28 suara, Alimin Aziz Iskadar suara 26 usulan, Slamet Riyanto 24 suara, Supianto Agus 23 suara, Ahmad Zaini 17 suara, Musa 17 suara, Tajudin 15 suara, Achmad Muhfahir 13 suara, M. Sani 10 suara, Supardi 9 suara, Muhammin 8 suara, Rikza Thamrin 8 suara, Denny Harianto 7 suara, Johardi  Zainul 7 suara, Jumiran 7 suara, Hamzen Bunsu 6 suara, Zainul Arifin 6 suara, Sahid Hamdan 5 suara, Ali Rohman Nasution 4 suara, Lukmanul Hakim 4 suara, Idrus H Ismail 3 suara, Haryanto 2 suara, Masrin 2 suara, Sy. Yusmayuda Yusuf 2 suara, M. Ishak Jumarang 2 suara, Edi Purwanto 1 suara, Hendra 1 suara, dan Oliyan Miharja 1 suara.
Pada pertanggungjawaban kemarin yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan daerah Muhammadiyah Kota Pontianak, Abdus Samad juga diterima dengan baik oleh seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah serta organisasi terkait Muhammadiyah lainnya. Hanya saja ada koreksi dari beberapa pimpinan cabang terkait program, seperti perekonomian, kesehatan, dan sumber daya manusianya.
Menanggapi hal itu, Abdus Samad meenyampaikan akan menjadi PR untuk kepengurusan yang baru untuk dilakukan bersama dengan seluruh anggota dan jamaah.

Tanggap dan Paham Kesehatan Masyarakat

Tanggap dan Paham Kesehatan Masyarakat
Oleh Ubay KPI

Upaya menciptakan masyarakat yang tanggap dan paham akan kesehatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak akan melaksanakan seminar sehari bertajuk Peranan Promosi Kesehatan dalam Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat, di Hotel Randayan, Kubu Raya, Sabtu (30/4) besok pagi.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak, Drs. H. Mardjan, M. Kes saat ditemui di ruang kerjanya siang kemarin menjelaskan dalam seminar sehari tersebut akan memperkenalkan, mediasi, danfasilitasi kepada masyarakat tentang kesehatan yang merupakan hal penting dalam bidang lingkungan dan masyarakat.
Dikatakannya, kegiatan ini juga bekerjasama dengan Universitas Indonesia serta IAKMI Kalimantan Barat. Dua narasumber dalam seminar ini berasal dari Universitas Indonesia dan Ketua IAKMI, drg. Multi Jinto, B. MPPM yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak.
Selain itu, Mardjan juga mengatakan kegiatan ini juga sebagai promosi kesehatan dan aplikasi Fakultas Kesehatan Universitas Ilmu Muhammadiyah Pontianak dalam mewujudkan terciptanya Kalimantan Barat yang sehat. “Empat pilar kesehatan yakni promotif, prefentif, kuratif, dan rehabilitative. Namun kita di sini lebih menekankan kepada pilar promotif dan prefentif kepada mahasiswa yang nantinya dapat diaplikasikan kepada masyarakat. Jadi bukan mengobati dan mencegah namun promosi kesehatan yang lebih ditekankan sehingga masyarakat bisa mengerti,” ujarnya.

Bank Kalbar Bike Race

Bank Kalbar Bike Race
Hanya Butuh Tiga Jam Tempuh Pinyuh-Landak
Oleh Ubay KPI
Pebalap Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas), Nugroho Kisnan sukses merajai Kejuaraan Nasional Balap Sepeda “Kabupaten Landak-Bank Kalbar Bike Race”, Sabtu (30/4) pagi kemarin. Menariknya, para pembalap hanya butuh waktu sekitar tiga jam untuk menaklukkan rute yang terbilang berat ini.
Nugroho Kisnan sukses finish pertama menyisihkan pesaingnya termasuk dari Thailand dan Belanda serta rekan setimnya. Ia juga menyisihkan pebalap dari team CCC yang merupakan team balap sepeda terkenal di Indonesia.
Di finish ke dua, di tempati pebalap dari PSN, Herwin Jaya dan disusul pebalap dari CCC, Hartono Gunawan. Sedangkan pebalap Kalimantan Barat dan beberapa Pengcab ISSI yang ikut serta tak ada yang berhasil masuk enam besar.
Dalam enam besar, Pelatnas menempatkan tiga pebalapnya masing-masing Ryan Ariehan di posisi empat dan Reno Yudo yang finish ke enam. Sedangkan rekan Herwin Jaya dari CCC, Erik Suprianto finish di urutan ke lima.
Pimpinan Pertandingan, Erwin Anwar saat dihubungi sore kemarin menuturkan sejak start sudah mulai tampak persaingan yang ketat antar pebalap. “Kejar-kejaran langsung terjadi sejak start, dan salip menyalip juga terjadi. Suatu pertandingan yang sangat seru dan menegangkan untuk semua team, khususnya yang menempati posisi enam besar,” tutur Erwin.
Dijelaskan oleh Erwin, waktu tercepat yang dicapai oleh Nugroho ialah 3.06.40 detik. Dan tiga pembalap di belakangnya tidak jauh terpaut waktu. “Mereka yang tiga hanya kalah sprint saja. Selisih waktunya tidak jauh,” ujar Erwin.
Kelancaran pelaksanaan balapan kemarin juga didukung oleh kesadaran masyarakat serta sosialisasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Diterangkan oleh Erwin, pengguna jalan memberhentikan kendaraannya ketika berpapasan dengan pembalap sehingga tidak ada keraguan bagi pembalap untuk memacu sepeda. “Suatu kesadaran yang sangat baik, dan waktu start yang mencapai pukul 09.30 dengan terik matahari kemarin, suatu pencapaian yang baik bagi pembalap yang mampu memacu sepeda 44.2 kilometer per jam. Dan ini merupakan suatu catatan yang bagus dalam kejuaran balap sepeda selain Singkarak,” tuturnya.Kindle Wireless Reading Device, Wi-Fi, Graphite, 6" Display with New E Ink Pearl Technology

Slamet Riyanto Pimpin Muhammadiyah Pontianak

Slamet Riyanto Pimpin Muhammadiyah Pontianak
Oleh Ubay KPI

Pengurus Daerah Muhammdiyah Kota Pontianak terbentuk. Slamet Riyanto terpilih menjadi ketua melanjutkan estafet perjuangan Muhammadiyah di Kota Pontianak melalui Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kota Pontianak di Aula Asrama Haji Pontianak, Sabtu (30/4).
Musyawarah berakhir sekitar pukul 22.00 menetapkan sekaligus mengukuhkan Slamet Riyanto melalui rapat PDM 13 yang terdiri dari Ahmad Zaini, Slamet Riyanto, Alimin Aziz Iskandar, Ismail Abdurahman, Musa, Sufianto Agus, Ahmad Muazirin, Ahmad Tajudin, Ahmad Mufahir, M. Sani, Rizka, Jumiran, dan Zainul Arifin.
Ahmad Zaini yang mendapat suara terbanyak dengan 37 suara dalam tim 13 saat dikonfirmasi kemarin menjelasakan Muhammadiyah sangat mengutamakan kebersamaan dan yang paling tinggi tidak harus menjadi ketua. “Pada intinya ialah aplikasinya, siapa pun yang menjadi ketua akan mendapat dukungan dari seluruh anggota,” ujarnya. Dalam Muhammadiyah, prinsipnya, bila diamanahkan maka harus dijalankan..
Dengan terbentuknya kepengurusan sesuai dengan keputusan tim 13 tersebut, PD Muhammadiyah Kota Pontianak masih menunggu SK dari DPW Muhammadiyah Kalimantan Barat. Yang selanjutnya akan menyusun program.
Ditanya soal suara terbanyak yang dimiliki oleh Ahmad Zaini, ia menjawab dirinya masih belum siap memimpin Muhammadiyah. Dan dalam banyak sisi, Slamet Riyanto memiliki kemampuan serta bisa memimpin organisasi ini. “Saya ditunjuk rekan-rekan tim 13 menjadi sekretaris”.

Film Batas

Marcella Zalianty, Produser Film Batas
Film Batas
Promosikan Eksotika dan Dokumenter Kalbar
Oleh Ubay KPI

Film Batas ‘Antara Keinginan dan Kenyataan’ yang lokasi syutingnya di Entikong, Sanggau adalah suatu langkah dalam mempromosikan daerah sekaligus sebagai film dokumentar potret wajah masyarakat perbatasan Kalimantan Barat.
Film yang terinspirasi dari perjalanan Marcella Zalianty beberapa tahun lalu ketika mengikuti kegiatan seminar tentang perempuan di daerah perbatasan membawa angin segar untuk masyarakat Kalbar dalam dunia perfilman.
Marcella Zalianty yang sekaligus sebagai produsernya dalam jumpa pers di Mahkota Hotel, Sabtu (30/4) malam mengatakan, ini film yang penuh dengan tantangan untuk menggarapnya yang memotret wajah pedalaman yang sangat antusias untuk mengejar impian. Semangat menuntut yang diperankan anak berusia 9 tahun bernama Aliyandra atau Borneo menjadi ruh dari film ini. Serta dikomposisikan dengan peran lainnya yakni pendidik yang tabah, dan pemangku adat setempat yang kuat.
“Tantangan pertama yang kita alami ialah mengenal dunia perbatasan, kami harus belajar bahasa Dayak setempat selama satu bulan, begitu juga dengan bahasa Dayak Kanayatn. Dengan perjuangan yang gigih dan keinginan yang kuat, alhamdulillah kami bisa menyelesaikannya. Dan itu tak lepas dari dukungan masyarakat di sana serta pemerintah juga,” papar Marcella Zalianty.
Marcella juga mengakui, sangat tidak mudah dalam memainkan peran itu, namun suatu kebanggaan bagi semua aktor ketika film ini sudah siap tayang. Kebanggaan menjadi bagian dari Borneo dan merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di sana.
Marcella, memilihnya Kalbar sebagai lokasi pertama dari film pertamanya menyatakan dilandasi oleh perjalanan sebelumnya yang membawa inspirasi sehingga terbentuknya film ini. “Sebenarnya memang suatu tempat jauh, namun dengan niat yang bulat, kita tetap lanjutkan itu. Untuk pembelajaran budaya setempat kita memang hanya dengan observasi langsung,” tuturnya.
Aktor senior Piet Pagau yang turut membintangi film tersebut mengatakan, penuh pengorbanan perasaan dalam menyelesaikan film. Lingkungan yang berbeda dengan biasanya sungguh menjadi suatu dunia baru. “Hidup dengan budaya baru, kebiasaan baru. Bahkan, kawan-kawan yang tidak terbiasa dengan binatang di sana, harus merelakan perasaannya demi sebuah tujuan,” kata Piet Pagau yang berperan sebagai pemangku adat itu.
“Kita berharap film ini dapat diterima masyarakat. Suatu film inspirasi baik untuk anak-anak dan orang tua,” tambahnya.
Aliyandara yang memerankan Borneo sebagai pelajar yang semangat dan menginginkan sebuah perubahan dalam dirinya menuturkan banyak kesan yang diambil selama berada di perbatasan. “Saya sampai berperan dengan babi, dan banyak lagi pengalaman serta budaya baru yang saya ambil. Sungguh bangga saya menjadi bagian dari film ini,” ujarnya.
Seluruh aktor dan krue Keana Pruduction & Communication yang terlibat dalam film Batas berharap masyarakat Kalbar bisa menyaksikan film yang akan tayang perdana di bioskop mulai tanggal 19 Mei mendatang di seluruh Indonesia.

8 Atlet Anggar Mempawah Optimis Lolos PON


8 Atlet Anggar Mempawah Optimis Lolos PON
Oleh Ubay KPI

Delapan atlet anggar Mempawah Kabupaten Pontianak yang masuk dalam skuad tim anggar Kalimantan Barat  untuk Pra PON XVIII optimis lolos PON XVIII yang akan dilaksanakan di Riau, 2012 mendatang.
Delapan atlet Mempawah yang masuk dalam skuad tim anggar Pra PON yakni Verdiana Rihandini, Hardianus Samuel, Listia Anggraini, Tesya Dwi Anggraini, Eko Darmawan, Nuraya Kadafi, Rika Elvi Nurhasanah dan Zodit Hermawan.
Dua dari atlet Kabupaten Pontianak yakni Verdiana Rihandini dan Nuraya Kadafi saat tengah berada di Ukraini menjalani pemusatan latihan menghadapi Sea Games 2011. Pelatih Anggar Kabupaten Pontianak, Sunardi saat dihubungi sore kemarin menyatakan delapan atletnya tetap fokus dan serius melakukan latihan. Dan ia menegaskan target yang ingin dicapai atletnya ialah berjuang untuk lolos kualifikasi Pra PON 2011.
Sejak 1 April lalu, atlet-atlet yang terpilih sebagai skuad anggar Kalbar berlatih dengan intensif dengan berbagai teknik latihan. “Ia menjalankan segala arahan yang diberikan oleh pelatih. Mereka konsentrasi betul menatap Pra PON ini, dalam mereka bukan hanya membawa nama Kabupaten Pontianak, namun yang penting adalah nama Kalimantan Barat, Kalimantan Barat,” ujar Sunardi.
Sunardi juga berharap, upaya yang dilakukan atlet Kabupaten Pontianak untuk meraih target mendapat dukungan semua lapisan masyarakat.

LAA Komitmen Lestarikan Budaya

LAA Komitmen Lestarikan Budaya
Oleh Ubay KPI

Lembaga Adeb Asor (LAA) Kalbar sebagai lembaga sosial menyatakan berkomitmen melestarikan budaya sebagai program utama dalam pergerakannya.
Sesuai dengan namanya, Adeb Asor yang ditukil dari bahasa Madura yang maksudnya lemah lembut adalah sebuah lembaga pelstarian budaya Madura. Lembaga itu secara resmi terbentuk dengan melakukan dekalarasi dan pelantikan secara terbuka di Sungai Ambawang, Minggu (1/4) malam kemarin.
Kehadirannya berkomitmen melestarikan budaya Madura di Kalbar sebagai langkah menciptakan keselarasan antara etnis serta mempertahankan kekayaan budaya Indonesia.
Program pertama LAA dalam waktu dekat membentuk kepengurusan di kabupaten/kota dengan tujuan mensolidkan organisasi dalam melaksanakan program lainnya.
Tujuan lain, memasyarakatkan budaya Madura yang pada akhirnya nantinya bukan hanya untuk masyarakat Madura saja, namun juga untuk diketahui seluruh etnis yang ada di Kalbar, sehingga terwujudkan kedamaian dengan mengetahui budaya masing-masing etnis.
“Tujuan utama kita adalah pelestarian budaya, dan kita berharap dengan pelestarian budaya dan memperkenalkannya mampu tercipta keakuran,” ujarnya.
Acara pelantikan Minggu malam lalu, kepengurusan dikukuhkan oleh Syueb MS, selaku penasehat. Turut hadir pula dari Pemprov Kalbar, diwakili Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Rafiun, dan orasi ilmiah disampaikan oleh Dr. Syarif, M. Ag. Turut hadir pula Ketua Umum HIMMA Kalbar, Midin, dan Sekjen IKBM Kalbar, Nagian, S. Sos.

Piet Pagau

Piet Pagau
Tak Mudah Perankan Dayak
Oleh Ubay KPI

Aktor senior kelahiran Samalantan, Kabupaten bengkayang yang sudah melanglang buana di perfilman nasional, Piet Pagau akan kembali memuaskan fansnya. Ia tergabung dalam film Batas garapan sutradara Marcella Zalianty yang akan tayang di bioskop Indonesia, mulai tanggal 19 Mei mendatang.
Piet Pagau memerankan kepala suku Dayak dalam film Batas ini mengaku sangat bangga mampu memainkan peran sebagai orang Kalbar. Hal itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi dirinya. “Dengan dimulainya penggarapan film di tanah Kalbar saya berharap ini adalah awal pertama dan mampu membuka matahari untuk semua,” ujarnya dalam roadshow di Mega Mall Ayani Pontianak beberapa waktu lalu.
Yang mengesankan bagi Piet Pagau dalam film Batas itu, adalah peran yang dimainkannya sebagai pemangku adat Dayak. Meski sebagai putra daerah, ia mengatakan perlu belajar kembali baik bahasa atau pun karakter. “Bahasa yang digunakan dalam film Batas adalah bahasa Dayak Kanayatn, kami bersama kawan-kawan semua belajar bersama selama satu bulan, yang di dalam film itu memang banyak menggunakan bahasa Kanayatn,” katanya.
Diakui Piet, sebagai putra daerah yang lebih tahu tentang Kalbar, selama pengambilan gambar seakan ia menjadi penunjuk arah. “Ini adalah awal, dan secara pribadi saya sangat bangga dengan semangat kawan-kawan tim dan Marcella Zalianty khususnya. Saya berharap film ini mendapat sambutan baik dari masyarakat Kalbar dan Indonesia yang akan tayang pertama tanggal 19 Mei mendatang,” pungkasnya.

Nuruddin

Nuruddin
Oleh Ubay KPI
Aswaja ke Muatan Lokal
“Sebelum saya aktif di organisasi Nahdhatul Ulama (NU) saya sudah NU duluan, bahkan pertama kali saya menangis lahir dari rahim ibu, saya sudah NU, sebab orang tua saya memang orang NU,” kata sosok yang saat ini menjabat sebagai Ketua Ikatan Pemuda Nahdhatul Ulama Kalimantan Barat saat ditemui wartawan Borneo Metro di secretariat IPNU Kalbar di jalan Selat Panjang Pontianak Utara sore kemarin.
Amazon.com $25 Gift Card (0108)
Ia bercerita bagaimana upaya IPNU kalbar saat ini. Yang diperjuangkan dan diusahakan saat ini ialah memasukkan kurikulum Aswaja (ahlu sunnah wal jamaah) ke dalam muatan lokal di sekolah-sekolah swasta berbasis Nahdhatul Ulama. Upaya tersebut sedang dilakukan oleh PW. IPNU Kalbar bersama PW. NU Kalbar sebagai induk organisasi tersebut.
Nururdin, Aswaja merupakan pelajaran dasar untuk menanamkan ke-NU-an kepada generasi selanjutnya. Meski sangat susah sekali untuk menerapkan muatan lokal tersebut, namun segala kendala tersebut menurut Nuruddin terus dilanjutkan dengan usaha yang kontinyu untuk mencapai. Kerjasama anggota dan pengurus serta kimunikasi dengan senior IPNU sendiri terus dilakukan. Dalam beberapa tahun ini sudah ada sekolah swasta berbasis NU yang telah melaksanakan muatan lokal tersebut.
“Ini merupakan program lama, dari generasi kepengurusan terus dilanjutkan,” tuturnya.
Selain fokus pada muatan lokal Aswaja, IPNU Kalbar juga terus melakukan pengkaderan dan penanaman dasar ke-NU-an terhadap anggota melalui Pelatihan Kader Muda (Lakmud) NU serta dialog dan kejian ke-Nu-an, baik tingkat provinsi atau daerah.
“Alhamdulillah, pengkaderan terus berjalan di seluruh kabupaten/kota se-Kalbar,” katanya.
Tersandung Finansial
Batu kerikil pastinya pastilah ada dalam menjalankan niat baik. Dan itu merupakan hal yang lumrah dalam sebuah I’tikad baik. Masalah financial terutama yang menjadi batu sandungan. Akan tetapi, dengan kerjasama serta komunikasi seluruh anggota dan warga nahdhiyin, bagi Nuruddin mengemban tanggung jawab sebagai Ketua PW IPNU Kalbar bukanlah masalah yang urgen. Baginya, dengan kemauan yang tinggi dan kerjasama yang baik hambatan itu bisa dilewati. “Masalah financial bagi kami tidak terlalu menjadi masalah utama, yang utama dalam organisasi ialah militansi dan semangat anggota terhadap organisasi itu sendiri. Bila dua pokok itu sudah tertanam, insya Allah apapun bisa terwujud”.
“Kami selalu berusaha bagaimana tantangan itu bisa menjadi peluang, dalam tantangan ada sebuah teori terselubung dan makna yang bisa dipetik dan manfaatnya sangat besar,” kata Nuruddin.

Kurikulum Vitea;

Nama: Nuruddin
Tanggal lahir: Pontianak, 6 Juni 1982
Alamat: Parit Tengah Baru Mega Timur Sungai Ambawang
Jabatan: Ketua PW. IPNU Kalbar
Pendidikan: MIS dan MTs Miftahul Huda, MAS Mambaul Ulum Bata-bata Pamekasan Madura, STAIN Pontianak
Organisasi: PMII Kota Pontianak, IPNU Kalbar
Orang tua: Shaleh dan Surahma Amazon.com $25 Gift Card (0108)


Sunday, 1 May 2011

Ilalang Berbulu Jarum


Ilalang Berbulu Jarum
Oleh A’may Dewi Zentoel
Ilalang… oh ilalang
Kau begitu indah di mataku
Terpaku aku pada tenang perangaimu
Kau membanjiriku dengan bulu-bulu putihmu
Indah jelas indah
Bersih mungkin bersih
Apakah suci?
Aku terpesona..
Walau bukan pada pandangan pertama
Aku menari…
Tarian goyang gemulaimu
Aku mabuk…
Mabuk oleh arak tarianmu
Aku ingin menyentuh, menggenggam, dan memelukmu.
Mungkin akan aku bawa pulang
Dan aku akan katakan bahwa aku memetikmu di pinggir jalan tadi
Tapi saat aku ulurkan tanganku, kau malah menusuk
Kau menatap benci padaku
Aku berlari, kau mengejar
Aku berhenti, kau semakin cepat
Matamu menyiratkan dendam
Apa aku menyakitimu?
Kau ingin mencabik-cabik otakku?
Ketika kau dan aku lelah
Kita duduk merapat
Saat itu, kau melontarkan sesuatu yang masuk,
menerobos dan mengaliri hatiku dengan kehangatan
“Aku adalah ilalang.
Aku hidup di ruang terbuka.
Ilalang Berbulu Jarum
Rumahku yang tak akan tergantikan
Oleh hotel berbintang sekalipun.
Aku ilalang pada kasih.
Dan jarum pada pengusik.”
Dia benar.
Dia hidup dan aku hampir saja menjamah nyawanya
Dia tak butuh hotel mewah untuk tinggal.
Dia juga tak butuh spring bad untuk alas tidur.
Dia hanya butuh rumahnya
Alam lestari yang membawa angin kering
dan menerbangkannya dengan penuh keindahan.
Aku, “si makhluk yang paling mulia”
Telah menggusur rumah mereka perlahan dan kejam.
Tanpa pandang bulu.

Cinta

Cinta
Oleh A'may Dewi Zentoel
Aku adalah permata di tengah gunung merapi
Dan Aku adalah berlian di dasar gletser.

Jika kau membawa Aku pada gelora lahar birahi
Aku kan segera terbakar olehnya
Dan melebur menjadi abu kenafsuan

Jika kau merangkul Aku dengan kedinginan yang mendalam
Aku akan menjelma menjadi es terbeku di jagat raya
Hingga kau perlu seribu daya untuk melelehkan es itu

Tapi sebuah pelukan yang sehangat mentari pagi
Niscaya akan melebur aku melekat di hatimu

Aku adalah permata di tengah nafsu birahimu
Dan aku adalah berlian yang menyejukkan di dasar hatimu

Poleng

Poleng
Oleh A'may Dewi Zentoel
Hitam di atas putih
Putih di atas hitam
Hitam bercak putih
Putih bercak hitam
 

Hitam bernoda putih
Putih bernoda hitam
Hitam bergaris putih
Putih bergaris hitam

Hitam putih menyatu
Layaknya sebuah sulaman
Tak terpisahkan
Padu dalam satu

Hidup hitam dan putih
Tanpa hitam
Tiada putih
Mengikat janji dalam Poleng.

Air Mata Kekuatan Cinta


Air Mata Kekuatan Cinta

Oleh A'may Dewi Zentoel
Cinta itu datang secara tiba-tiba dan menerobos masuk tanpa logika. Dia muncul dari mana, sejak kapan, dengan cara yang bagaimana pun Ayu tidak paham. Tepatnya, dia tidak tahu. Yang Ayu tahu cinta telah ada dan membara di hati. Logikanya takut masa lalu akan terulang. Namun di sisi lain, hatinya telah terperangkap pada sosok baru yang timbul tiba-tiba. Gadis berkacamata ini berselimut kebingungan, bahkan hingga saat ini, banyak tanya yang tidak berpangkal pada dirinya.
Begitu banyak ketidaksengajaan yang terjadi saat dirinya bertemu dengan satu sosok lelaki lucu. Sebut saja namanya Putu. Kesan jenaka di dalam diri Putu telah membuat ayu begitu gampang terpedaya. Caranya dalam menghibur Ayu yang memang sedang membutuhkan tongkat penopang, telah membuat Ayu tergantung padanya. Dia begitu memahami keadaan Ayu yang sedang terombang-ambing oleh cinta. Putu mencoba masuk ke celah-celah terkecil yang tersisa di hati Ayu. Secara perlahan tetapi pasti.
Saat dia memiliki Ayu, bunga-bunga cinta menampakkan warna terang, seterang-terangnya. Membutakan mata saat cinta menyelubungi kepalsuan. Cinta ada saat dia datang dan pergi. Cinta tetap bertahta saat perduli tidak nampak pada Putu. Rasa percaya pada diri Ayu melindungi kebohongannya dari prasangka. Ayu seorang buta dan tuli. Buta yang melihat dan tuli yang mendengar. Ayu membutakan hati walau merasakan kebohongan Putu. Ayu menulikan telinga saat orang berkata kebenaran. Kebenaran yang menyakitkan, membuatnya terperosok ke dalam kebodohan yang berkepanjangan.
Pernah suatu hari Putu datang dalam keadaan sakit. Ayu merawatnya dengan sabar dan kasih sayang tanpa batas. Ayu terus terjaga tiga hari tiga malam untuknya. Ayu membeli bubur yang Putu minta dengan menerobos hujan deras walaupun akhrinya tidak dimakannya, dan memberikan waktu seutuhnya untuk merawat tubuhnya yang lemah. Saat itu Putu sempat berkata bahwa ayu adalah satu-satunya orang yang memberikan perhatian begitu besar terhadapnya. Namun saat kekuatan ada dalam dirinya, saat tubuhnya telah pulih dari sakitnya, dia pergi dan tidak berkabar kecuali membutuhkan bantuan. Sungguh Ayu menguatkan hati dan cintanya dalam air mata yang tumpah setiap malam, tanpa ada seorang pun yang tahu.
Detik demi detik berlalu, hari demi hari berganti, bulan pun telah beranjak. Begitu banyak waktu, air mata, pengorbanan dan logika yang Ayu curahkan untuk Putu. Dengan alasan cinta Ayu bertahan. Berlindungkan kekuatan cinta Ayu menepis segala nyata yang coba untuk dia ingkari. Dalam kesendirian dia berharap kedatangan Putu tapi tidak terealisasikan. Ayu menunggu Putu mengerti, tapi malah semakin menyakiti. Masa yang dia harap indah ternyata hanya tipu muslihat.
Saat Ayu mulai membuka mata dan telinga, ia mendapati kenyataan pahit yang tidak pernah dibayangkan terjadi, Ayu menemukan dirinya sebagai salah satu boneka Putu. Yaa… sebuah boneka yang dengan setia menemani Putu sebagai perhiasan keegoisannya sebagai laki-laki. Selain Ayu ternyata ada nama Rina dan Reni di dalam hidup Putu. Kenyataan menyakitkan yang harus Ayu terima sebagai tanda “cinta” Putu.
Ayu mencoba menahan segala pedih seorang diri, tidak ingin ada seorang pun yang tahu. Ia terus menunggu kedatangan Putu untuk melepas rindu yang menggunung. Tapi Putu tak pernah datang! Berlarut dalam kesendirian Ayu tak kuasa melindungi diri dari sakit. Saat dikabarkan pada Putu, tak ada kata manis yang terucap dari mulutnya. Tidak ada perhatian tanda kasih sayang. Yang terlontar dari mulutnya hanya amarah. Amarah yang semakin menusuk hati Ayu. Namun Ayu tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Hanya diam, diam, diam, dan diam yang menemani luka hatinya. Tapi kenapa Ayu bisa bertahan? Kenapa tidak ada sedikit pun amarah yang terasa padanya? Inikah kekuatan cinta? Ternyata cinta tidak hanya membahagiakan tetapi juga menyiksa batin seseorang yang menggenggamnya.
Lambat laun akhirnya Ayu memutuskan untuk berhenti berharap. Menghentikan langkah yang sia-sia. Berhenti menggelayutkan diri pada sebuah pohon harapan. Menyakitkan memang. Tapi ini lebih baik untuknya. Pengalaman ini tidak akan terlupa olehnya. Karena ini adalah pengalaman yang menyakitkan sekaligus menguatkan dirinya. Terdampar di pantai kepalsuan yang berlindung di bawah awan cinta. Tapi dari ini Ayu tersadar bahwa air mata bukan tanda rapuh melainkan arti dari kekuatan cinta itu. Cinta yang tulus adalah tanpa pamrih. Mencintai tanpa harus dicintai. Menyayangi tanpa harus disayangi. Air mata cinta memiliki kekuatan yang tak ternilai harganya. Semakin banyak air mata cinta tertumpah, semakin besar cinta itu membawa arti di dalam kehidupan. Harapan ayu saat ini hanyalah kebahagian Putu, keseriusannya dalam menghadapi cinta. Cinta yang utuh dan tulus laksana mawar putih yang memancarkan pesona kesucian arti cinta. Cinta itu agung jika kita mengenal dan memahami artinya.
Setelah lama Ayu berpisah dari Putu dan tidak mendengar kabarnya, tiba-tiba datang sebuah kabar yang mengatakan bahwa Putu telah mempunyai seorang pacar yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Kabar itu terdengar biasa, yang membuatnya terkejut adalah kabar yang menyatakan bahwa Putu telah dipermainkan oleh wanita itu. Kabar ini membuat Ayu bimbang. Apakah karma sudah berjalan? Dulu saat teman-temannya menyatakan kebencian mereka terhadap Putu, Ayu selalu menjawab, “Biarkan saja dia berbuat apapun yang ingin dia lakukan. Ingatlah bahwa karma phala itu ada. Nanti, entah itu kapan, dia akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatannya itu. Tuhan tidak buta.” Inikah realisasi dari pernyataan itu? Sebuah pernyataan yang sulit ditebak isinya. Apakah sebuah dendam, peringatan, doa, ataukah memang sebuah sikap dharma dari orang yang telah tersakiti? Dan bisa saja itu hanya seonggok ucapan dari seseorang yang frustasi.
Saat mendengar kabar itu Ayu merasa bingung, bagaimana cara memandang hal itu. Di satu sisi dia merasa itu pastas terjadi ,tetapi di sisi yang lain dia merasa sedih atas apa yang dialami oleh Putu. Bagaimana pun Putu adalah orang yang pernah dia cintai. Dan itu sangat sulit untuk dia lupakan. Walau sekejam apapun Putu menyakitinya, tetap saja rasa cinta itu bertahta di relung hatinya. Cinta telah benar-benar membunuh hama kebencian di hatinya. Cinta juga telah membuatnya menjadi “orang aneh” di mata orang lain. Apa tidak orang aneh namanya. Jika perlakuan yang begitu menyakitkan bagi dirinya dan dibenci oleh orang-orang yang mengetahui ceritanya ini, justru kebencian itu tidak ada pada dirinya yang notabene adalah objek penderita. Bahkan pohon-pohon kebencian dan dendam yang ditanamkan oleh teman-temannya, malah mati dimakan rayap-rayap yang disebut cinta. Mungkinkah kekuatan cinta demikian cinta sebegitu besarnya? Jika iya, pastinya kita akan dapat mendamaikan dunia hanya dengan cinta. Karena cinta bisa melenyapkan segala keangkuhan, benci, dan dendam. Sayangnya, tidak semua orang di dunia ini yang memiliki cinta yang memang benar-benar cinta. Cinta pada zaman ini telah banyak dibalut oleh kepalsuan, cinta juga telah banyak diplesetkan dengan obsesi semata. Memang susah membedakan cinta dan obsesi, karena letak perbedaannya ada pada ketulusan. Kenyataannya sangat sulit untuk melihat ketulusan itu, karena ketulusan ada di dalam hati seseorang dan itu tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Hidupmu, Karmamu!!

Hidupmu, Karmamu!!
Oleh A'may Dewi Zentoel
Jika kau pernah menyakiti. jangan takut disakiti
Jika kau pernah mendusta jangan takut didustai
Karna hidupmu adalah perbuatanmu
Hidup adalah karmamu

Jangan berbuat jail jika tak ingin dijaili
Jangan menghina jika tak ingin dihina
Itu hukum alam
Tak akan dapat kau ubah!!

Menyakiti dan disakiti
Mendusta dan didustai
Menjaili dan dijaili
Menghina dan dihina
Adalah ironi alam tak terpisahkan.

Hidup kan terus berputar
Kadang melambung, kadang terperosok
Jangan salahkan takdir
Jangan pula salahkan makhluk lain
Salahkan dirimu yang berbuat
Karena hidup adalah karmamu

Aku dan Kau

Aku dan Kau
Oleh A'may Dewi Zentoel
Aku adalah Kau

Kau adalah Aku
Kita adalah satu, kekasih hatiku

Aku tanpa kau bagai mendung tanpa hujan
Kau tanpa aku bagai lebah tanpa madu
Aku ada dalam panahmu
Kau ada dalam lingkaranku

Kau dan aku bergelora dalam Cinta membara
Kau dan aku bergulat dalam pertarungan Cinta
Dalam resah aku menyebut indahmu
Dalam suka kau merajuk khilapku

Kita adalah satu, kekasih hatiku
Tak terpisah, tak lekang oleh waktu

Tuhan


Tuhan
Oleh A'may Dewi Zentoel

Aku disini
Di tengah hujan badai kehidupan
Mencoba untuk menerobos angkara
Menghalau segala belenggu hati

Namun jurang kenistaan begitu dalam
Tembok amarah kian menjulang tinggi
Kian menghimpit raga
Dalam duka yang menyesak hati

Ingin ku berteriak!
Ingin ku hempaskan segala sesak
Hancurkan segala rintang
Dan menendang kerikil-kerikil tajam

Tuhanku…
Kuatkanlah raga ini
Bimbinglah jiwa ini
Agar tegar jalani takdirmu

Tuhanku…….
Jagalah diriku dalam jalan-Mu
Giring hatiku menuju ikhlas-Mu
Isilah hatiku dengan tulus-Mu

Di setiap hembusan nafas
Dalam aliran darah
Di setiap denyut nadi hidupku
Aku akan dan selalu memuja cahya suci-Mu

Dua Sisi Hati


Dua Sisi Hati
Oleh A'may Dewi Zentoel


Aku adalah hitam
Aku tak selamanya jahat
Aku hanya sisi gelap dari kehidupan
Aku gelap tapi tak berarti tanpa cahaya
Aku ada pada sisi hatimu yang beku dan tertutup ego

Aku adalah putih

Aku tak selalu baik hati
Aku ada pada sisi terang kehidupan
Terang tak berarti tanpa noda
Aku ada pada sisi hatimu yang lembut dan berbalu kasih

Kami hitam dan putih

Bercampur dalam jahat dan baik
Kami ada pada dua sisi hatimu
Kami saling menodai dan saling merangkul
Sadarkah dirimu akan adanya kami?
Sadar ataupun tidak, kami akan ada di hati dan hidupmu
Kami ada dan selalu menghiasi hari-harimu
Kamu tak sendiri!
Karena kami selalu menyertai langkahmu!

Mayun Tinggalkan 'Kulit'

 Mayun Tinggalkan 'Kulit'
Oleh A'may Dewi Zentoel

Di sebuah sudut ruangan yang agak besar, Mayun duduk termenung mengingat-ingat masa remajanya. Masa-masanya menjadi sekuntum mawar merah yang merekah, anggun menatap sang mentari. Saat semua berubah ketika dia dipetik oleh seorang yang “biasa” menurut mereka. Saat dia bersukarela melepaskan diri dari tangkai yang agung dan menetapkan hati di tangan penuh luka seorang lelaki. Ketika dirinya melangkah melawan arus demi cinta. Cinta memaksanya memilih untuk bernaung di sebuah puri atau gubuk cinta.

Mayun lahir di Desa Kusamba, Kecamatan Klungkung pada tahun 1960 di tengah-tengah keluarga Puri Kusamba. Anak Agung Mayun Muliati adalah nama yang dianugerahkan oleh anak Agung Gede Anom kepada putri kelimanya ini melalui upacara lepas aon saat usianya 12 hari. Anak Agung Gede Anom seorang kepala desa saat itu. Mayun sempat merasakan kebingungan masyarakat saat si gunung Agung memuntahkan darah panas kehidupan yang merupakan akhir kehidupan dan awal dari kesuburan. Saat umurnya 3 tahun, gadis berwajah bulat dengan mata tajam ini terbiasa hidup di puri yang penuh dengan aturan dan bertentangan dengan sifatnya yang nakal. Saat itu yang ia takutkan hanyalah cubitan dari biangnya Gusti Biang Jero, yang sakitnya luar biasa karena terbiasa memilin roko ganda.

Saat Mayun dewasa, banyak laki-laki dengan kasta tinggi menginginkannya. Tapi entah kenapa dia menyerahkan dirinya kepada seorang sudra. Cintakah yang membuatnya berani menentang orang tua? Ataukah obsesinya untuk terlepas dari segala ikatan yang membelenggu? Sebuah tantangan. Ya…. arus belenggu yang mengatasnamakan dirinya kastalah yang hendak dia lawan. Tantangan untuk mengalahkan belenggu kasta. I Ketut Jendra adalah orang yang dia pilih untuk menjadi penopang jalan untuknya. Seorang pegawai Telkom yang rendah, tak berkasta dan tak berharta. Sejak itu Mayun melangkah melawan aturan Puri untuk menggapai cinta yang diinginkannya. Kawin lari adalah jalan yang dipilih oleh mereka. Walaupun orang tuanya menentang dengan mengutus seluruh keluarga Puri untuk mencari Mayun dan Ketut, dan akhirnya mereka ditemukan di Banjarangkan oleh salah satu paman Mayun. Saat itu Mayun berkata dengan mantap, “Kalau paman masih ingin melihat saya tetap hidup, tolong biarkan saya mengikuti jalan yang saya inginkan”. Sebuah gertak sambal memang, tapi cukup untuk membuat nyali mengendur. Dengan berat hati, sang paman melepas kepergian Mayun dan Ketut. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan dada berdebar. Hingga sampailah Mayun di sebuah rumah yang mungil dengan 2 KK yang berada di sebuah dusun terpencil di Gianyar. Siyut nama dusun itu. Nama yang aneh memang, tapi dia adalah saksi bisu dari kisah perjuangan cinta sepasang anak manusia.

Kasta telah Mayun tinggalkan. “Kulit”nya ditanggalkan demi perjuangan cinta. Namun tak cukup dengan itu, dia juga harus berjuang menghadapi kerasnya hidup sebagai orang “berbeda”. Dia harus menerima konsekuensi dari jalan yang dipilihnya. Memasuki sebuah keluarga sudra yang tak dikenal dan tidak terbayangkan olehnya.
Hal pertama yang Mayun dapati di keluarga itu adalah kesederhanaan. Jangankan meja rias tempatnya mematut diri, lemari untuk menyimpan pakaian pun tidak tersedia. Yang tersedia hanya sebuah kasur kapuk sebagai alas tidur. Tidak ada kemewahan. Tapi ini tidak menyurutkan hasratnya. Rindu pada puri selalu mengusik hatinya. Tapi tak cukup juga untuk menghentikan langkahnya. “Care benang ne sube kadung meceleban. Sube kadung belus!”, sesal yang juga menjadi motivasinya. Jalan inilah yang telah ia pilih maka jalan inilah yang harus ia lalui.

Seirang berjalannya waktu, Mayun baru menyadari bahwa dirinya ada ditengah keluarga babotoh dan “bermasalah”. Tajen salah satu kebiasaan I Ketut Cedit, mertuanya. Ya... sebuah kebiasaan yang turun temurun di desa itu. Di mana ada piodalan di sana pasti ada Tajen. Tajen menjadi sebuah ciri dari piodalan itu sendiri. Bahkan itu ada sampai saat ini. Mungkin watak keras yang dimiliki mertuanya itu adalah efek dari dunia babotoh. Tidak hanya itu, ternyata suaminya pun adalah seorang babotoh. Ketut tidak suka ber tajen seperti ayahnya, tetapi ternyata dia gemar bermain ceki. Saking gemarnya, Ketut mampu bermain satu hari penuh pada hari raya Nyepi. Sebuah kebiasaan yang berbanding terbalik dengan kehidupan puri. Di puri, Mayun dididik untuk menjauhi judi terlebih saat hari raya Nyepi, karena Nyepi merupakan hari untuk merenungi dan memperbaiki diri, dan bukannya menambah dosa. Tapi ternyata kebiasaan ini tidak berlaku di keluarga suaminya. Apakah Mayun akan mekirig? Tidak! Hal ini justru membuatnya tertantang untuk memperbaiki keluarga ini. Tidak hanya dalam kepribadian, tingkat spiritual pun ingin Mayun tingkatkan di keluarga ini. Di keluarga ini Mayun mengalami kebingungan akibat kebiasaan salah yang mentradisi. Masyarakat hanya mabanten pada hari-hari tertentu saja. Pada "rahina-rahina" biasa mereka tidak menghaturkan puji syukur melalui persembahan canang.

Mayun telah masuk ke keluarga baru yang harus dia pahami dan bergabung di dalamnya. Kesabaran dan ketegarannya dalam menghadapi tantangan hidup tampaknya tidak patut diragukan lagi. Berbagai hal yang harus dia hadapi di keluarga suaminya telah menambah kekuatan hatinya. Tapi apakah ini telah membuatnya jauh dari keluarga kandungnya? Kekuatan cinta orang tua kepada anaknya tidak dapat dibendung oleh keangkuhan kasta. Cinta itulah yang mampu membawa orang tua Mayun untuk menerima anak dan menantunya apa adanya. Tanpa identitas kasta dan harta. Hanya dengan substansi dari cinta itu sendiri.

Pada tahun 1983 Mayun dan Ketut memeroleh seorang putra yang diberi nama Agus Mayendra Purnawan. Agus diambil dari bulan kelahirannya. Mayendra terlahir dari akar nama Mayun dan Jendra. Dan purnawan tercipta dari kata purnama yang menerangi malam kelahirannya. Buah hati mereka yang pertama. Buah cinta dan buah dari kebulatan tekad melawan keangkuhan sebuah kasta. Dengan lahirnya Agus sebagai anak sulung, semakin dekat pula ikatan yang terjalin diantara keluarga Anak Agung Gede Agung dengan keluarga I Ketut Cedit. Bahkan tempramen dari Ketut dan keluarganya pun secara perlahan berubah lebih baik. Tidak terlalu kasar dan mampu untuk matur menggunakan aturan sor singgih basa.

Enam tahun kemudian lahirlah seorang putri mungil di keluarga itu. Dia diberi nama Ayu Mayendri Septia Dewi. Ayu diambil nari nama tokoh ayu wandira pada sebuah drama radio saat itu. Mayendri adalah adik perempuan dari Mayendra, sekaligus anak dari Mayun dan Jendra. Septia berasal dari bulan kelahirannya, dan Dewi adalah harapan Mayun dan Jendra. Anehnya, Mayun dan Ketut tidak memakai nama Putu ataupun Kadek yang merupakan ciri dari orang Bali kepada anak-anaknya. Tapi toh itu tidak mengurangi rasa cinta mereka terhadap Bali walaupun tidak pernah mengelu-elukan ajeg Bali mereka meyakini bahwa ajeg Bali hanya dapat terwujud dengan sikap dan bukan dengan kata-kata hampa.

Aku adalah buah cinta kedua dari pasangan ini. Aku ada karena perjuangan mereka. Aku tercipta bersama cinta yang bersemi karena keteguhan hati salah satunya dan ketulusan cinta yang lainnya. Aku bangga terlahir di keluarga ini. Aku bangga menjadi “orang peralihan”. Ya... peralihan dari kasta sudra dengan kasta ksatria. Aku memperoleh banyak pelajaran dari keduanya. Kasta sudra yang penuh kebebasan tanpa aturan dibalik identitasnya sebagai kaum pengayah. Kasta ksatria yang penuh dengan pelajaran hidup yang terikat dan berlindung di balik tembok keangkuhan. Aku terbiasa hidup di Puri dan Gubuk, walaupun tidak menetap di salah satunya. Aku senang ada di tengah-tengah keluarga puri yang tidak panatik tapi mendidikku sebagai individu yang berdharma. Dan aku juga senang ada di tengah-tengah kaum sudra yang mengajariku tentang kebebasan. Oleh kerena itu, kini aku hadir sebagai individu yang bebas dengan ikatan. Aku cinta keluargaku terlepas dari berkasta atau tidak. Aku sayang keluargaku terlepas dari kaya atau tidaknya. Karena cinta tak terbatas status, ekonomi, ataupun perbedaan. Jika cinta itu ada, maka segala yang jauh menjadi dekat dan segala yang berbeda dapat disamakan. Kekuatan cinta bukanlah sekadar mimpi karena bisa diwujudkan dengan kesabaran dan kekuatan hati, plus bumbu pengorbanan. Hal senada dikatakan Gibran dalam Cinta, Tawa, dan Air Mata (Yogyakarta, Narasi, 2006, sampul). "Manusia tak bisa merasakan cinta, sebelum mengecap kesedihan dan perpisahan, kesabaran yang pahit, dan kesulitan yang membuat putus asa." Oleh karena itu, saat kau menemukan cinta jangan sia-siakan dia tapi jangan pula kau menggenggamnya. Karena cinta berdasarkan kekuatan dan kekuatan manusia tak sama dengan manusia yang lainnya.