Monday, 17 February 2014

Meleset 9 Hari dari Prediski USG



Malam Kedua Setelah Lahir. By Ayah

Meleset 9 Hari dari Prediksi USG

Oleh Ubay KPI

Pada tanggal 6 Januari 2014, sekitar jam 8 malam, saya bersama istri ke Rumah Bersalin Jeumpa, di Jalan Sultan Abdurahman, Pontianak. Ini merupakan kali kedua saya bersama istri ke rumah sakit tersebut. Tak lain, untuk memeriksaan keberadaan calon anak kami yang telah berusia sekitar 7 bulan.
Hasil pemeriksaan USG oleh dr. Taufik, usia kandungan sudah masuk 7 bulan. Posisi bayi menurutnya bagus, yakni kepala berada di bawah, dan keadaannya sehat. Pada saat itu, dr. Taufik juga memberitahukan jenis kelamin janin.
Prediksi melalui alat kesehatan, janin yang dikandung istri saya tercinta akan lahir pada bulan Februari, sekitar tanggal 22. Namun, prediksi ini meleset. Si kecil lebih dulu keluar 9 hari dari prediksi USG. Tepatnya pada tanggal 13 Februari lalu. 
Malam Kedua, Mama Sudah Bisa Duduk Usai Operasi

Sungguh sangat mengagetkan bagi saya, saya tidak menyangka akan lebih cepat dari prediksi hasil alat kesehatan. Bukan tidak siap kehadirannya di keluarga kecil, melainkan kaget penuh bahagia dengan kehadirannya bersama kami, yang akan mengisi ruang keluarga dengan keceriaan.
Sungguh anugerah yang tak terhingga bagi saya atas kehadirannya. Menjadi harta yang tak ternilai. Keberadaannya akan menjadi penguat dan penyemangat tentunya bagi saya dan istri sebagai orangtuanya.
Di Teras Rumah Menjaga Counter Pulsa
Minggu, 16 Februari 2014. Pukul 20.46

Si Kecil Lincah Dalam Perut



2 jam setelah lahir. By Ayah

Si Kecil Lincah Dalam Perut

Oleh Ubay KPI

Satu meinggu setelah resepsi pernikahan pada awal Mei 2014, saya bersama istri langsung pindah dari rumah mertua. Bersama istri tercinta, saya tinggal di sebuah rumah yang tak jauh dari rumah mertua.
Sejak itu, hari-hari saya di rumah hanya bersama istri. Berdua saja. Kadangkala, ada keluarga dari istri yang datang, kadang sepi melempem. Hiburan hanya nonton TV atau game di komputer. Untuk jalan keluar kadang kasihan istri, karena pulang kerja jam 6 sore. Jadi, malam kebanyakan di rumah.
Kadangkala, untuk menghilangkan kejenuhan bersama istri di rumah. Saya selalu mengajak mama (begitu saya menyebut istri saya) untuk bergurau. Topiknya beda-beda. Kadang gurauan yang bisa ketawa-ketiwi. Juga biasa diskusi soal keilmuan dan pekerjaan masing-masing.
Nah, sejak usia kandungan 7 bulan. Gurauan kami tak lagi berdua. Namun bertiga meski kami hanya tinggal di rumah. Siapa lagi kalau bukan si calon bayi dalam perut mama yang menjadi orang ketiga.
Meski dalam kandungan, seringkali si kecil saya ajak bicara. Soal cita-cita, soal mamanya. Sampai soal embahnya.
Asyiknya, saat bergurau bertiga ini. Kadang si kecil bergerak kencang dalam janin mamanya, tambah asyik rasanya saya bersama mama bergurau. Melihat perut mama seperti bergelombang saat si kecil bergerak. Saat-saat seperti itu, biasa saya sempatkan untuk dipotret, terutama saat permukaan perut mamanya seperti ada berjolan besar. Nampak sekali kalau dilihat dari samping. Bahkan, pernah saya video gerakan yang kerap berubah itu. Kadang bergerak ke kanan. Di tengah, bahkan di kiri. Sambil megang HP, saya sama mamanya ketawa-ketawa kegirangan melihat si kecil agresif.
Tak enaknya neh, sampai saya kasihan sama mamanya. Kalau si kecil seperti keram. Kondisi seperti itu, mengharuskan mamanya berdiam sebentar menahan sakit. Katanya sih, saat seperti keram itu, rasanya sakit sekali. Berbeda kalau saat bergerak saja.
Setelah menahan sakit yang hanya sebentar, kami melanjutkan gurauan bersama si kecil. Sambil saya cium perut mamanya, sambil saya elus-elus perut si mama, tak lupa, saya ajak bicara si kecil.
Gurauan seperti itu buat kami happy, menghilangkan kejenuhan setelah sehari bekerja. Apalagi saat usia kandungan memasuki usia 9 bulan. Si kecil semakin agresif. Ingin sekali segera menciumnya, namun kami harus sabar sampai pada waktunya ia lahir.
Perkiraan dokter hasil USG di usia 7 bulan lalu, katanya sih sekitar tanggal 22 Februari. Moga dedek baik-baik saja dalam kandungan yah, sehat dan nanti jadi anak yang bertaqwa pada Tuhannya. Amin.

Di Samping Istri Kamar Berdua Menjelang Subuh
Rabu, 12 Februari 2014. Pukul 04.31

Wednesday, 12 February 2014

Dari “Lubang Jurnalistik”, Saya "Intip" Purwokerto

FOTO vaquitabandpurwokertopamijen.blogspot.com
Dari “Lubang Jurnalistik”, Saya "Intip" Purwokerto

Oleh Ubay KPI

Langkah saya terasa semakin jauh, namun jauhnya langkah ini, tak sejauh lorong yang ditapaki kedua orang tua yang sangat saya banggakan. Kini tak hanya Pontianak atau Kubu Raya yang saya tapaki. Melainkan merambah ke daerah lainnya di Kalbar. Bahkan, tanah Jawa dan Sumatera pun saya jangkau.
Ini bagi saya sebuah perkabulan dari Tuhan atas angan yang ada dalam hati sejak kecil. Namun, saya juga tak memungkiri, hal ini terjadi lantaran organisasi Forkomnas KPI, juga profesi saya sebagai jurnalis.
Kabupaten dan kota di Kalbar nyaris akan tertapaki semua, dan waktu terdekat, saya akan melangkahkan kaki ke tanah Purwokerto.
Sejak beberapa waktu lalu, saya sudah membayangkan, akan indahnya Batu Raden dan kampus STAIN Purwokerto. Namun hal itu hanya sebatas bayangan dari lubang kecil yang mungkin saja benar, mungkin juga selisih.
Dari “lubang jarum” jurnalisme, Purwokerto saya “intip”.
Begitulah ungkapan saya belakangan hari ini. Tak lain, lantaran 17 Februari mendatang, saya akan berangkan ke tanah penuh sejarah tersebut. Kali ini, berkat pencapaian di dunia jurnalistik.

sedikit mengulas, menjadi jurnalis sudah saya lakoni sejak 18 Januari 2010. Suatu impian pertama, bagaimana menjadi penulis yang baik. Menyajikan informasi yang akurat dan enak dibaca. 
Tak hanya sampai di situ, profesi wartawan juga sarat dengan bumbu kebahagian yang menantang profesi itu sendiri. 
Bukan dalam melakukan liputan rutin, hal itu sudah menjadi rutinitas. Melainkan lomba jurnalistik. Baik artikel maupun foto. 
Ini menjadi tantangan, peluang, sekaligus tambahan pemasukan bagi wartawan. Bila karya mendapat predikat tiga besar. Enak juga kan?
Apalagi, lomba jurnalistik kerap kali diselenggarakan. Bukan hanya oleh instansi pemerintah, pihak swasta, BUMN juga kerap menggelar kompetisi ini.
Kepiawaian merangkai kata dan menyajikan cerita melalui gambar menguntungkan bagi siapa saja. 
Nah, beberapa hari lalu, saya mendapat sebuah email dari seseorang bernama Kian. Ia merupakan pihak penyelenggaran lomba jurnalistik tahun lalu. Ia merupakan perwakilan dari Sampoerna Kretek. 
Tahun lalu, sewaktu Sampoerna menggelar Asyiiik Fest 2013, sekaligus dibarengi dengan lomba jurnalistik berkaitan dengan acara tersebut. Kebetulan, pada kesempatan itu, Sampoerna Kretek melaksanakan Asyiiik Fest di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Indonesia. Momen tersebut saya manfaatkan.
Alhamdulillah, hasilnya memuaskan. Dalam kompetisi dua aspek, yakni cerita asyiiik dan foto cerita. Saya terpilih menjadi juara di dua kategori tersebut. 
Pada cerita asyiiik saya menjadi terbaik ketiga, dan pada foto cerita saya menjadi terbaik kedua. Lumayan, hadiahnya untuk nambah biaya persiapan persalinan istri yang diprediksi akan melahirkan bulan ini. Asyikkan kalau dapat informasi seperti itu?
Tak hanya uang tunai lho, ternyata tanpa diduga, panitia juga menyiapkan paket liburan kepada pemenang. Nah, kali ini paket liburan gratis tujuannya ke Jawa Tengah. Daerah Purwokerto. Gimana? Tertarik ndak?
Coba bayangkan, kalau jalan-jalan menggunakan dana sendiri, akan berapa habis uang tabungan kita. Tentunya akan berpikir sepuluh kali, gaji dari kantor digunakan untuk jalan-jalan.
Namun, jalan-jalan gratis bagi wartawan itu bukan hal yang aneh. Bisa saja wartawan itu berkeliling Indonesia, bahkan dunia dengan biaya yang ditanggung pihak ketiga. Bisa melalui paket liburan prestasi. Bisa juga melakukan liputan yang biayanya ditanggung kantor, atau pihak lain.
Kembali ke soal lomba, liburan ke Purwokerto bagi saya mengejutkan. Sebab, beberapa bulan lalu, sebenarnya saya punya agenda organisasi ke daerah tersebut, namun saya urung berangkat lantaran ada kendala. 
Bagaimana tidak mengejutkan bagi saya, sebab daerah yang sudah pernah saya bayangkan, akhirnya bakal saya tapaki juga. Ini sungguh di luar dugaan bagi saya. Ke Purwokerto bakal terwujud, berkat sebuah prestasi dalam jurnalisme. 

Purwokerto, kan saya tapaki tanah agungmu.
Salam Jurnalisme.
Beretika, Idealis, dan untuk bangsa.

Di Teras Rumah, Sambil Jaga Konter
Minggu, 9 Februari 2014

Sunday, 29 December 2013

ATM Bank Kalbar Tak Masalah Tarik Uang di ATM BCA

BUKTI PENARIKAN di ATM BCA
ditunjukkan oleh Dirut Bank Kalbar
Sudirman HMY. Selembar Bukti
penarikan tersebut merupakan
uji coba saat usai melakukan
kerjasama dengan ATM BCA beberapa
pecan lalu.FOTO Ubay KPI
ATM Bank Kalbar Tak Masalah Tarik Uang di ATM BCA

Oleh Ubay KPI

Setelah  sukses melakukan kerjasama dengan ATM Bersama dan Meps di Malaysia, kali ini BPD Bank Kalbar telah melakukan kerjasama baru dalam penarikan uang melalui ATM.

Ialah, Bank Kalbar telah meneken kerjasama dengan BCA dalam penarikan uang melalui ATM. Direktur Utama Bank Kalbar Sudirman HMY saat usai melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan kantor cabang baru di Untan Jumat lalu mengatakan, ATM Bank Kalbar sudah dapat melakukan penarikan di setiap ATM milik BCA.

Kerjasama ini menurut Sudirman telah resmi dilakukan sejak sekitar 2 Minggu. “Kami sudah mencoba melakukan penarikan di ATM BCA, beberapa pegawai (Bank Kalbar) pun sudah mencoba, hasilnya bisa,” ujar Sudirman sembari menunjukkan struk penerikan uang berlogo BCA.

Sudirman menambahkan, kerjasama dan kemudahan baru ini perlu diketahui masyarakat luas, khususnya nasabah Bank Kalbar. Selain melalui informasi ini, Sudirman menjelaskan pihak bank juga turut memberikan informasi kepada nasabah secara personal.

“Kita sukuri, Bank Kalbar semakin menguatkan sayapnya dalam persaingan. Mari kita harapkan bersama, Bank Kalbar mampu berbuat lebih lagi buat Kalimantan Barat,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, di penghujung 2013 kali ini, Bank Kalbar dengan melihat skala prioritas dan kebutuhan menambah satu kantor cabang baru. Kantor tersebut terbilang special, karena berada di kawasan kampus Universitas Tanjungpura.

Tak hanya ada di kawasan kampus, nantinya setelah diresmikan. Kantor baru tersebut tak akan dinamai kantor cabang pembantu, melainkan “Kantor Cabang Untan”.


Thursday, 19 December 2013

Ingin Kembali Suci dalam Tetesan Wudlu'

Foto atin-syakirah.blogspot.com
Ingin Kembali Suci dalam Tetesan Wudlu'

Catatan Ubay KPI


Seorang kawan dari Purwokerto mengirimkan sebuah broadcast, isinya tentang faedah wudlu. Lebih khusus BC tersebut menjelaskan manfaat wudlu' menjelang tidur.
BC ini mengingatkan pada kebiasaan saya beberapa tahun lalu. Bukan hanya ketika berada di pesantren, sampai boyong dari pesantren pun saya tetap membiasakan diri dalam keadaan suci (baca; tidak batal wudlu').
Juga, bukan hanya menjelang tidur. Saat-saat biasa pun saya selalu dalam keadaan belum batal wudlu'.
Kebiasaan itu tanpa saya ketahui manfaat dan faedahnya jelas. Hanya saja, waktu saya ingin sekali selalu dalam keadaan suci. Pikiran pun tenang bila dalam kondisi demikian. Bahkan, sampai saya menjual koran di perempatan jalan beberapa tahun silam. Kadang saya sangat menghindar dengan pelanggan perempuan, terutama dalam mengembalikan sisa pembayaran. Menghindar maksudnya sebisa mungkin mengembalikan uang tanpa bersentuhan dengannya.
BC yang dikirim sahabat Naynie Wijaya tersebut amat mengingatkan saya. Dalam BC tersebut juga dijelaskan berdasarkan hadits Nabi serta kajian kedokteran. Sungguh runut sekali, dan sangat tinggi sekali faedah wudlu'.
Ingin sekali rasanya mengulang kebiasaan itu. Sejak beberapa tahun terakhir, entah sejak kapan saya lebih banyak lepas dari air wudlu'.
Subhanullah, semoga Allah membukakan mata hati saya untuk kembali pada kebiasaan itu.
Sahabat, terutama yang mengamalkan anjuran Nabi sebagaimana saya ceritakan. Semoga selalu istiqomah, dan kepada kawan-kawan yang belum melaksanakannya, mari sama-sama berniat untuk mengamalkannya.
Berikut BC yang disampaikan kepada saya oleh Naynie Wijaya.

MANFAAT WUDHU SEBELUM TIDUR

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidur dimalam hari dalam keadaan suci (berwudhu’) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap ‘Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, kerana ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci’”. (HR Ibnu Hibban dari Ibnu Umar r.a.)

Hal ini juga ditulis dalam kitab tanqih al-Qand al-Hatsis karangan syekh muhamad bin umar an-nawawi al-mantany. Dari umar bin harits bahwa nabi bersabda :“barangsiapa tidur dalam keadaan berwudhu ,maka apabila mati disaat tidur maka matinya dalam keadaan syahid disisi allah.
Maksudnya orang yang berwudhu sebelum tidur akan memperoleh posisi yang tinggi disisi Allah.

Manfaat Wudhu Sebelum Tidur

Pertama, merilekskan otot-otot sebelum beristirahat. Mungkin tidak terlalu banyak penjelasan. Bisa dibuktikan dalam ilmu kedokteran bahwa percikan air yang dikarenakan umat muslim melakukan wudhu itu merupakan suatu metode atau cara mengendorkan otot-otot yang kaku karna lelahnya dalam beraktifitas. Sangat diambil dampak positifnya bahwa jika seseorang itu telah melakukan wudhu, maka pikiran kita akan terasa rileks. Badan tidak akan terasa capek.

Kedua, mencerahkan kulit wajah. Wudhu dapat mencerahkan kulit wajah karena kinerja wudhu ini menghilangkan noda yang membandel dalam kulit. Kotoran-kotoran yang menempel pada kulit wajah kita akan senantiasa hilang dan tentunya wajah kita menjadi cerah dan bersih.

Ketiga, didoakan malaikat. Dalam sabda Beliau yang disinggung pada bagian atas, malaikat akan senantiasa memberikan do’a perlindungan kepada umat muslim yang senantiasa wudhu sebelum tidur. Padahal malaikat adalah makhluk yang senantiasa berdzikir kepada Allah. niscaya do’anya akan senantiasa dikabulkan pula oleh Allah. Oleh karena itu, senantiasa berwudhu itu adalah hal yang wajib kita lakukan.

Mudah2n bermanfaat. :)

Kata Mereka, Ini Undangan Unik

Kata Mereka, Ini Undangan Unik

Catatan Ubay KPI

Saat saya menyebarkan undangan pesta pernikahan saya, beberapa kawan yang menerima undangan mengatakan design undangan pernikahan sagak unik. Seketika, saya jawab biasa saja. Pikiran saya, barang kali masih sangat langka, terutama di Kota Pontianak bila pada undangan menyertakan sebuah foto karikatur.
Umumnya, pada undangan yang sering saya terima biasa menggunakan foto preewed asli wajah mereka. Meskipun ada variasi, hanya pada pose dan latar belakang foto saja.
Namun tidak dengan foto yang sertakan pada undangan. Saya lebih memilih foto karikatur yang dibuat oleh Joko, rekan wartawan saya yang bekerja di Tribun Pontianak.
Seperti anda lihat di atas, tampilan asli pada foto hanya wajah saja, sedangkan lainnya merupakan karikatur buatan. Awalnya saya ragu membuat karikatur berdasarkan etnis, namun setelah dipikir-pikir. Hal itu sangatlah tidak masalah. Saya mengaca pada umumnya sebuah undangan, kadang menggunakan pakaian khas daerah, sebut saja seperti Jawa.
Sedikit menjelaskan, dalam foto tersebut, saya sepenuhnya menggunakan pakaian khas Madura. Karena saya emang asli Madura. Sedangkan istri saya, berpakaian khas Tionghoa.
Keputusan saya menyandingkan dua khas tersebut sangat beralasan, karena istri saya dari bapak memang asli Tionghoa, meskipun sejak kecil ia hidup bersama warga Madura (diangkat anak).
Alasan lain, ingin menonjolkan kepada keluarga sekaligus mengingatkan kepada anak-anak saya nantinya, untuk tidak melupakan bahwa nenek moyang dari kakeknya adalah asli Tionghoa. Meskipun keluarga kakeknya tak satu pun dijumpai sampai saat ini.
Awalnya saya ragu-ragu membuat design undangan menyertakan foto tersebut. Namun setelah dikomunikasikan dengan istri, ia menerima. Terlebih, undangan tersebut saya design dan cetak sendiri untuk mengirit biaya. Dengan mengandalkan photoshop yang diketahui sangat dasar, saya design undangan tersebut seminimalis mungkin.
Hasilnya, sedikit memuaskan seukuran undangan kertas satu lembar.
Awalnya juga, saya tak yakin kawan-kawan akan menilai undangan tersebut unik. Namun, beberapa hari kemudian, banyak sekali kawan-kawan mengatakan kalau undangan yang saya buat benar-benar unik, langka, dan merupakan inovasi baru di Pontianak. Dikatakan inovasi baru, lantaran sangat jarang di Pontianak menggunakan foto karikatur dan berlatar perpaduan etnik.
Nah, kawan-kawan dapat bisa sepuasnya mendesign undangan seunik mungkin sesuai hati dan kemampuan ekonomi. Cukup pandai photoshop dan printer saja, hal unik tersebut dapat kawan-kawan dapatkan.
Demikian goresan singkat Catatan Anak Desa kali ini, nantikan goresan dan cerita lain selanjutnya.

Tampilan muka dan bagian dalam

Tampilan dalam setelah dilipat

Tampilan keseluruhan bagian 2

Tampilan luar di belakang karikatur

Monday, 2 December 2013

Si Dia Ngajak Ketemuan, Semoga Tak Kena Omel

Janjian yang Mencemaskan

Catatan Ubay KPI

kring kring kring. Jam 19.42 hape Nokia kecil saya berbunyi. Berisi sebuah pesan dari orang yang saya kasi nama Nyasar.
"ass. bay di mana posisi?" demikian isi pesannya.
Langsung saya jawab "lagi di rumah pak".
Kemudian SMS berlanjut soal kandungan istri yang juga calon anak saya. Setelah menerima pesan selanjutnya ternyata SMS itu hanya basa-basi. Sebab kemudian Nyasar ngajak ketemuan. 
Sontak saya kaget banget. Tumben banget neh orang ngajak ketemuan. Karena kangen, tak mungkin banget.
Saya masih menerka apa tujuan ngajak katemuan. Bagaimana tidak saya kaget diajak ketemuan orang yang satu ini. Neh orang bukan sembarang di mata saya. Neh orang punya jasa besar hingga menjadi orang.
Bingung, takut, dan terus menerka. Ada perlu apa ngajak ketemuan?
Sejak membaca SMS dia yang ngajak ketemuan, saya ingat bagaimana keadaan perkuliahan. Sejak semester 4 saya sering bolos murokkab (tersusun) alias berkali-kali lipta bolos. Takutnya neh orang mau bicarakan soal kuliah. Yang endingnya membuat telinga merah dan mata pun ikut merah. Mata merah bukan karena ngantuk, tapi karena tak kuat menahan malu dan segan.
SMS pun berlanjut. Saya pancing ketemuan dimana dan jam berapa. Kemudian dibalasnya Jam makan sianglah. kalau masih ada file foto ..... vs ..... dibawa ya" balas SMS dia. (dua kata disensor).
Hmmmm, agak tenang jadinya. Berarti ngajak janji ada keperluan bukan hanya soal mau ngomel atau interogasi keburukan saya dalam kuliah.Enak tenang, ngajak janjiannya makan siang dan sharing. Tapi, tapi neh. Jangan kira neh orang cuma ada perlu soal file foto. Kadang, biasanya, dan selalu terjadi saat ketemu. Pasti nenh orang nanya soal kuliah. 
Hmmm, pokok soal kuliah pasti kena tanya. Tapi, yang penting makan siang, bukan fokus soal integogasi. Selesai!!!!!
Masalah nanti tanya soal kuliah. Siap-siap jawab aja dan merubah wajah seperti tak berdosa. Ahay.
Besok siang, siap bertemu denganmu sobat.  Kkkkkkkkkkkkkkkkkkk

Warung Internet
Jalan 28 Oktober, Kota Pontianak
Senin, 2 Desember 2013. Pukul 20.35

Thursday, 28 November 2013

Ingat, Bekal Wartawan Tak Hanya Ilmu

Ingat, Bekal Wartawan Tak Hanya Ilmu

Catatan Ubay KPI

Sudah lama sekali rasanya saya tak menulis soal penglaman jurnalistik. Kesibukan sehari-hari dan terlalu banyak membuang waktu tanpa manfaat, adalah alasan dari kekosongan jemari ini membuat catatan.
Kali ini kawan-kawan, saya kembali akan berbagi penglaman soal jurnalistik. Terutama bagi kawan-kawan yang baru masuk dunia jurnalistik atau baru akan memulai, dan atau ingin masuk ke dunia jurnalistik.
Di awal saya turun ke lapangan untuk menghimpun bahan yang akan dijadikan berita. Hanya sekelumit, atau bahkan tidak ada sama sekali mungkin trik dan teori yang sama miliki untuk menulis berita. Jangankan cara bagaimana menulis berita yang baik. Dasar menulis berita saja masih belum saya pelajari di kampus. Waktu itu saya baru semester awal, bahkan masih sangat awal. Karena tulisan pertama saya yang terbit di Borneo Metro tentang olahraga, terbit tak lama ketika saya mid semester satu di kampus.
Bisa dikatakan, berbekal ID card calon anggota baru LPM STAIN Pontianak. Saya menerobos GOR Pangsuma Pontianak. GOR terbesar yang ada di Kalbar. Berbekal ID card itu, saya memberanikan diri masuk untuk menulis berita olahraga. Waktu itu sedang ada pertandingan bola voli yang dilaksanakan oleh salah satu fakultas di Univesitas Tanjungpura.
Dengan  rasa malu, saya masuk berkenalan dengan panitia dengan maksud mencari informasi soal event tersebut. Sebelum masuk, saya masih cukup lama berdiam diri di luar GOR. Malu dan takut ditolak, namun bermodal nekad dan berani, ternyata kehadiran saya disambut hangat oleh panitia.
Hasil dari wawancara di GOR tersebut kemudian saya tulis untuk memenuhi tugas LPM yang tenga tahap penyeleksian. Saya tidak tahu, apakah kaidah jurnalistik sudah saya penuhi dalam tulisan saya. Waktu itu, yang ada dalam benak saya adalah menjadi anggota LPM dan menulis. Itu saja.
Selain isu olahraga, kadang saya juga belajar menulis tentang isu lainnya. Dalam belajar menulis berita, saya lebih banyak belajar pada otodidak. Saya katakan otodidak lantaran saya banyak menyontoh berita-berita yang telah terbit di Koran local. Saya meng-kliping berita dari Koran-koran.
Tumpukan kliping Koran dari berbagai tegmen seperti pemerintaha, politik, olahraga, dan lainnya saya staples dan selalu saya bawa. Kliping itu selalu saya masukkan ke dalam tas saat akan berangkat kuliah.
Dari kliping itu saya coba menerka bagaimana menulis berita. Sembari memadukan dengan teori yang say abaca dibuku.
So, berani adalah modal pertama saya selain secuil pengetahuan saya tentang jurnalistik saat akan masuk ke dunia jurnalisme.
Kedua, adalah kemauan. Dari kemauan akan muncul keinginan yang mendobrak rasa malu untuk bertemu orang lain (baca; narasumber). Mungkin rasa malu ini dirasakan oleh siapa saja yang baru masuk ke dalam jurnalistik. Dari beberapa rekan yang baru bergabung ke jurnalistik, menuturkan ada rasa malu saat akan memulai pembicaraan. Namun, dengan keberanian dan kemauan. Hal itu akan terlewatkan.
Jadi, jangan hanya karena tahu teori menulis berita dan tahu teori wawancara sudah mau mendongakkan kepala. Ingat, belajar teori itu lebih mudah ketimbang praktik. Meskipun sudah tahu bagiamana cara dan trik wawancara,  namun di lapangan anda akan menemukan perbedaan dari apa yang anda pelajari.
Ketiga, perlu kawan-kawan lakukan adalah bergaul dengan wartawan yang telah lebih dulu di lapangan. Anda jangan sampai menjauh dari lingkaran mereka, sebab keuntungan besar bersama mereka selain akan mendapat informasi lebih mudah, dari mereka nantinya akan belajar bagaimana memulai atau mengawali sebuah wawancara.
So pasti, tentunya mereka sudah kenal dengan siapa yang akan diwawancara. Atau pun kalau tidak kenal, namun mereka sudah punya trik lapangan bagaimana membuat suasana keakraban. Yah, itulah ilmu pengalaman.
Mungkin sampai di sini dulu catatan kecil saya, selanjutnya nanti akan saya lanjutkan bekal wartawan sebagaimana menurut para ahli.

Di Tempat Tidur Sederhana
Sembari Mendampingi Istri yang Terlelap

Kamis, 28 November 2013. Pukul 23.53

Calon Anakku Usia 4 Bulan

Calon Anakku Usia 4 Bulan

Catatan Ubay KPI

Seperti masyarakat pada umumnya, setiap usia kandungan calon bayi berusia 4 bulan dalam rahim, maka dilakukan selamatan meski sederhana.
Bertepatan dengan hari Minggu, 29 September 2013. Usia kandungan istri tercinta telah genap 4 bulan. Saya bersama istri sebelum menyambut bahagia akan usia kandungan yang semakin tua. Bukan hanya karena akan segera menjadi mama dan papa dari calon anak. Namun, selematan kecil-kecilan tersebut juga sebagai ajang silatuhmi bersama tetangga terdekat.
Maklum saja, bersamaan dengan usia kandungan empat bulan. Saya bersama istri kurang lebih empat bulan juga menempati rumah baru. Tentunya harus beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Selamatan kandungan tersebut saya jadikan pula sebagai tempat mengenal masyarakat di sekitar rumah.
Dengan acara selamatan empat bulanan tersebut, saya mengundang para tetangga ke rumah. Juga para keluarga dari kampong. Ada rasa kebersamaan yang hangat saat bisa berkumpul dengan tetangga dan keluarga. Asyik sekali rasanya.
Sebelum melaksanakan acara tersebut, saya tak lupa merundingkan bersama istri soal waktu pelaksanaan selamatan. Karena sama-sama bekerja, dan istri hanya punya waktu libur hari Minggu. Akhirnya sepakat melaksanakan selamatan pada hari Minggu. Hanya saja, saat itu saya masih sempat bekerja melaksanakan kewajiban di kantor. Namun, sekitar pukul 2 siang saya sudah ada di rumah melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Sejak siang, ternyata satu persatu saudara saya dari kampong datang ke rumah. Ada yang bertepatan saat saya ada di rumah, namun ada juga saat  saya sedang keluar.
Namun, istri satu hari tersebut stand by di rumah.  Sambil membantu memasak dan menemui saudara-saudara saya yang juga iparnya saat datang.
Rasa syukur saya seakan tiada henti bila merasakan bahwa dalam 5 bulan lagi saya akan menjadi seorang ayah. Meski masih belum tahu jenis kelaminnya seperti apa, namun kebahagian ini sangat terasa dengan telah adanya si calon bayi.
Di saat istri hamil tersebut pula, saya punya cerita yang mungkin berguna bagi kawan-kawan yang sedang membaca. Sejak mengetahui istri hamil dan khususnya menjelang 4 bulan, saya tak lagi keluyuran malam seperti sebelum-sebelumnya.
Keluyuran malam maksudnya, tak ada lagi aktifitas saya di warung kopi di malam hari. Padahal, pada awal menikah saya masih sangat rajin di warkop, kadang sampai jam 11 atau 12 malam hanya nongkrong dan online di warkop. Namun sejak kandungan istri semakin berusia, saya memutuskan untuk banyak bersamanya setiap malam. Terlebih, pada waktu siang kami sama-sama kerja, saya pulang tak tentu jam, sedang istri pulang jam 6 petang.
Saya memilih keluar malam hanya kalau ada keperluan penting bersama kawan. Yang memang memutuskan saya untuk keluar. Atau sedang ada liputan malam, atau juga kalau ada pertandingan sepakbola.
Untuk nonton sepakbola, ini sangat jarang. Saya baru nonton bareng sepakbola di luar (warkop) kalau Mancester City yang main saja. Sedang lainnya, tidak terlalu tertarik.
Keputusan nonton di luar bukan karena ketertarikan saya nobar, namun juga lantaran televise di rumah juga sedang rusak. Hehehehe.
Sejak usia 4 bulan itu, sejak itulah saya jarang sekali keluar rumah di malam hari. Ada rasa sayang saat akan meninggalkannya sendiri di rumah.  Kasihan kalau istri harus termangu sendiri. Maklum saja, eminggu setelah pesta pernikahan, saya langsung pindah rumah memutuskan tinggal berdua. Alasannya simple, ingin menikmati bagaimana indahnya berkeluarga.
Buat calon anakku, semoga kamu kuat di rahim mama sampai masa  engkau dilahirkan ke bumi ini. Jadilah anak yang berbakti pada orang tua, bangsa dan agama. Takut pada Tuhannya serta tiada henti mencari ilmu Allah dan mengamalkannya.

Bersama Istri Tercinta
Di Ranjang Kamar yang Sempit

Kamis, 28 November 2013.  Pukul 21.31

Wednesday, 27 November 2013

Kapan Saya Ikut JS?

Kapan Saya Ikut JS?

Catatan Ubay KPI

Je Es, atau JS. Sebuah singkatan kursus kepenulisan yang dilaksanakan Yayasan Pantau. JS kepanjangan dari Jurnalisme Sastrawi. Pelatihan ini ada sejak tahun 2001 dengan pembimbing orang-orang yang pandai dipenulisan panjang. Di luar negeri pelatihan ini lebih dikenal dengan naratif reporting.
Saya tahu program ini sejak beberapa tahun lalu dari senior di kantor tempat saya bekerja. Ia merupakan satu dari beberapa alumnus JS di Pontianak. Beberapa alumni JS yang saya kenal di Pontianak seperti Nur Iskandar, Subro, dan QomaruzZaman.
Beberapa senior seperti Subro dan Izam, sering dan mengharapkan saya untuk mengikuti pelatihan ini. Beberapa bulan lalu, saya sempat mau ikut pelatihan ini. Namun gagal lantaran waktu itu mepet dengan acara pernikahan saya. Harapan ikut JS di tahun 2013 pupus. 2013 sebagaimana yang saya harapkan sebelumnya bisa ikut JS, harus gigit jari.
Nah, Senin (25/11) dini hari. Saya menyempatkan online di kamar kerja meski mata sudah sangat ngantuk. Maklum, modem di rumah hanya bisa digunakan jam 00.01 ke atas. Dengan mata yang sayu dan koneksi internet seadanya, saya masih buka email untuk mengirim berkas undangan Pra Kongres Forkomnas KPI dan Undangan Olimpiade KPI 2013 ke kawan-kawan KPI yang belum dapat undangan.

Setelah tugas organisasi mengirimkan undangan via email selesai. Saya teringat soal “jilbab hitam” yang sempat menyerang Tempo dan sedikit menyerempet nama Mas Andreas Harsono. Saya coba searching di mbah google tentang perkembangan isu tersebut. Ternyata, informasinya sama dengan yang say abaca hari sebelumnya.
Saya inisiatif masuk ke blog Mas Andreas. Mungkin saja ada tulisan terbaru Mas AHA (demikian biasa kawan-kawan memanggil Mas Andreas) tentang kerudung hitam ini. Di postingan paling atas blog andreasharsono.net ternyata masih belum ada tulisan terbaru.
Terperangaknya saya sehingga membuat pikiran tak lagi memikirkan “jilbab hitam” ketika saya membuka blog archive Mas AHA. Di postingan pertama bulan Oktober, ada sebuah judul Junalisme Sastrawi XXII. Saya klik judul tersebut, dan isinya?
Bukan soal lain, melainkan tulisan dalam judul tersebut sebuah pengumuman bahwa Yayasan Pantau kembali mengadakan pelatihan jurnalisme sastrawi. Sebuah pelatihan yang sangat saya harapkan kembali diadakan. Senang sekali ketika saya membaca paragraph awal. Dengan sebuah harapan saya dapat mengikuti pelatihan 2 minggu ini. Meskipun biayanya terbilang tinggi dengan seukuran saya.
Sejak kenal JS langsung saya masukkan dalam target besar saya. Masuk dalam catatan kegiatan yang harus saya ikuti. Kapan pun itu dan berapa pun biayanya.
Hanya saja, kegembiraan pada informasi yang say abaca tersebut sontak membuat saya melepas napas kuat-kuat, dan mneggiring tangan saya ke dahi. Ketika, saya membaca JS akan dilaksanakan bulan Januari 2014.
Lesu, lemah, dan kurang bersemangat jadinya mau ikut JS pada kesempatan terdekat ini. Pikiran saya langsung mengarah ke istri yang sedang tidur di kamar. Bukan kasian karena akan meninggalkan dia dalam 2 minggu, tapi lebih kepada usia kandungannya.
Saat ini, usia kandungan sudah 6 bulan. Pada Maret nanti usia kandungan calon bayi pas 9 bulan. Tentu menjadi pemikiran  besar bagi saya. Terutama biaya persalinan. Bagaimana caranya? Itulah pertanyaan besar saya dalam hati. Ikut JS dengan catatan menggunakan uang yang ada. Namun ada kekhawatiran dalam diri, apakah saya mampu mencukupi kebutuhan setelah Januari nanti sampai Maret? Sungguh menjadi pertimbangan besar.
Terlebih lagi, di akhir Desember nanti saya masih ada agenda ke Purwokerto acara Forkomnas KPI. Sedangkan, waktu senggangnya cukup lama dari kegiatan di Purwokerto ke JS. Otomatis saya harus pulang dulu ke Pontianak.
Sampai dengan saat ini, saya masih belum ada keputusan antara ikut atau tidak di pelatihan Jurnalisme Sastrawi ke-22. Keputusan tersebut menjadi pertimbangan besar. PR bagi saya sebelum kuota peserta JS terpenuhi.
Soal JS Januari mendatang, saya juga sempat sharing dengan alumni JS, yakni Subro. Sebuah masukan darinya untuk saya. Adalah menyuruh saya untuk ikut. Menjawab alasan saya tentang financial, Subro hanya menjwab pendek, jangan mengatur rezeki, sebab rezeki sudah ada yang mengatur. Dan uang tidak mencetak sendiri, tapi sudah ada yang mencetakkan.
Sebuah alasan yang cukup bagi saya. Cukup untuk kembali memikirkan dan member keputusan. Secara logika, alasan Subro sangat tepat. Namun, tidak tepatnya bagi saya adalah mepetnya waktu tersebut.
JS ada di antara acara Forkomnas KPI dan persalinan. Sedangkan saya, harus tetap menunaikan keharusan saya sebagai jurnalis yang setiap hari harus punya setoran ke redaksi.
Cukup pelik untuk memberi keputusan. Tapi JS, adalah mimpi. Ikut JS harus saya wujudkan sebelum JS tutup. Wallahu a’lam. Semoga JS bersama saya, kapan pun dan semoga dalam waktu yang terdekat.

Pojok Warung Kopi Jalan 28 Oktober
Rabu, 27 Desember 2013, Pukul 20.26  


Wednesday, 23 October 2013

Telok Belanga dan Baju Kurung sebagai Identitas Orang Pontianak

IDENTITAS PONTIANAK
Di sisi budaya ditandai dengan pakaian khas, yakni telong belanga dan baju kurung.
Tampak dalam peringatan hari jadi Kota Pontianak ke-242, anak-anak yang ikut dalam upacara turut mengenakan pakaian khas Melayu. FOTO: Jemi Ibrahim

Telok Belanga dan Baju Kurung sebagai Identitas Orang Pontianak

Pagi, Rabu (23/10), ruas Jalan Rahadi Usman atau tepatnya di depan Kantor Walikota Pontianak, tiba-tiba dipadati orang-orang berpakaian adat melayu, pakaian telok belanga dikenakan kaum pria, sedangkan wanita mengenakan baju kurung.
Mereka mengenakan pakaian itu bukan karena ada yang menggelar prosesi pernikahan maupun festival budaya, tetapi untuk mengikuti upacara sebagai puncak peringatan Hari Jadi (harjad) Kota Pontianak ke 242.
Tradisi ini sudah menjadi agenda rutin yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak untuk melestarikan dan menanamkan kecintaan terhadap adat budaya yang dimiliki terutama budaya melayu. Selain itu sebagai penghormatan kepada pendiri Kota Pontianak yang didirikan 23 Oktober 1771 silam.
Bahkan Walikota Pontianak, Sutarmidji menginstruksikan seluruh jajarannya untuk mengenakan pakaian telok belanga dan baju kurung sebagaimana yang tertuang dalam Instruksi Walikota Pontianak Nomor 2/Pem/2013 tanggal 3 Oktober 2013 tentang pemakaian pakaian adat khas Melayu Pontianak pada Hari Jadi Kota Pontianak ke 242 tanggal 23 Oktober 2013. “Pontianak sudah dihebohkan dengan hampir semua orang mencari telok belanga dan baju kurung. Makanya saya ingatkan, sebagai orang Pontianak yang laki-laki minimal punya satu baju telok belanga dan yang perempuan punya satu baju kurung,” ujarnya yang disambut tepuk tangan oleh peserta upacara Harjad Kota Pontianak ke 242.
Wajar saja, beberapa hari belakangan hampir semua tempat penyewaan pakaian adat diserbu masyarakat. Mereka mencari pakaian telok belanga dan baju kurung untuk dikenakan pada peringatan Harjad Kota Pontianak ke 242. “Dari sini kelihatan yang mana pakaiannya sewa, yang mana milik sendiri,” candanya dan disambut gelak tawa peserta upacara.
Sejatinya, pakaian telok belanga ini dilengkapi tanjak (penutu kepala berbentuk segitiga, red.). Untuk itu, Midji mengingatkan supaya tahun depan bagi kaum pria selain mengenakan telok belanga juga dilengkapi tanjak. “Tunjukkan identitas kita dan lebih baik lagi memaknai pakaian yang dikenakan,” ucapnya. (*)