Thursday, 20 February 2014

Adzan Maghrib Sambut Tangis Weisha



Dedek Masih Dibedong

Adzan Maghrib Sambut Tangis Weisha

Oleh Ubay KPI

Langit Pontianak masih seperti hari biasanya. Berasap dan lebih satu bulan tak ada mengguyur Kota ini. Sore itu, selepas menyelesaikan administrasi sekaligus pernyataan setuju  untuk dilakukan operasi. Saya meninggalkan istri yang tengah berada di ruang bedah. Di ruang tunggu RS Bhayangkara hanya Abah dan Umi yang menunggu. Saya ke musolah di kantor DPRD Kota Pontianak untuk menunaikan salat Ashar.
Istri dibawa ke ruang bedah sekitar jam 5 sore lantaran panggul sempit, sehingga janin yang dikandungnya tak bisa lahir dengan normal. Padahal, proses persalinan sudah sampai ke bukaan tujuh. Bersama Abah dan Umi, saya terus mendampingi selama proses persalinan, kecuali di ruang operasi.
Meski keadaan jiwa berkecamuk dengan tekanan, namun saya tetap berusaha membawa diri ini tenang. Walaupun, saya sadar keadaan istri jauh lebih tidak tenang karena proses persalinan yang sulit. Ditambah rasa sakit yang ia tahan.
Salat Dzuhur tetap saya dirikan, begitu juga Ashar. Selepas salat Ashar, saya kembali ke rumah sakit. Abah dan Umi masih berada di ruang tunggu. Saya ikut bergabung duduk sembari menunggu kabar dari dokter terkait operasi persalinan istri saya.
Langit Pontianak kian gelap sedikit demi sedikit. Lampu rumah sakit terlihat sudah mulai dihidupkan. Hilir mudik keluarga pasien sore itu cukup ramai. Tak lama berselang, adzan Maghrib pun berkumandang. Cemas, dan tak sabar ingin tahu kabar dari dokter. Begitu juga terkait hasil operasi. Lafadz adzan belum selesai dikumandangkan, seorang perawat dari pintu rumah sakit bersuara “keluarga ibu Settiyawati”.
Langsung saya berdiri dan mengikuti perawat tersebut. “ia ,” jawab saya.
Sembari menanyakan hasil operasi, perawat melangkah ke dalam dan diikuti oleh saya. “anak bapak sudah lahir,” ujarnya.
Puji sukur saya lafadzkan dalam hati. Sesampainya di ruang bedah, seorang dokter perempuan dengan kerudung dan menggunakan masker mulut menyerahkan seorang bayi yang telah dibedong. “Anaknya cewek, beratnya 2,6 kilo gram,” kata dokter tersebut.
Tanpa kata-kata yang terucap dari mulut saya. Saya langsung mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga bayi yang baru lahir ini. Saat lafadz adzan berkumandang dari lisan saya, terdengar pula suara adzan dari pengeras masjid dan musolah di sekitaran rumah sakit. Dengan penuh rasa syukur dan khusu’. Lafad demi lafad adzan saya kumandangkan. Dua dokter yang mengantar bayi kepada saya tadi, tetap tak beranjak dari tempat semula. Mendengarkan dan menunggu sampai adzan selesai dikumandangkan.
Selepas iqomah, saya menyerahkan kembali kepada dokter dan dibawa masuk. Tak lupa, saya menanyakan kondisi mamanya yang masih di dalam. “Ibunya baik-baik saja, masih proses penjahitan,” kata dokter.
Saya meninggalkan ruang bedah, menyampaikan kalau proses operasi berjalan dengan baik dan berhasil. Langsung saya cium tangan mertua, Abah dan Umi yang ada di teras rumah sakit. “Sekelangkong Bah, Umi. Alhamdulillah”.
Setelah kabar tersebut, baru saya mengabari keluarga saya di kampong. Memberitahu kalau istri sudah melahirkan lewat operasi. SelepasMaghrib, keluarga dari istri berdatangan.  Selepas Isya’, ibu saya dari kampong datang bersama saudara datang ke rumah sakit. Kemudian kakak dan keponakan juga turut datang.
Di Ruang Tamu, Menjaga Si Kecil
Rabu, 19 Februari 2014. Pukul 03.48

No comments:

Post a Comment