Thursday, 28 June 2012

Untung Ada ATM BCA

Untung Ada ATM BCA

“Mau transfer uang dari mana?” pertanyaan itu muncul dari laki-laki separoh baya yang kerjanya memelihara ayam. Satu sisi, ia harus segera mentransfer uang ke agen penjual bibit ayam ras. Di sisi lain, ia tak bisa bertransaksi langung karena pengiriman uang harus via bank. Ia mencoba keluar dari kebuntuan. Agar bisa secepatnya bibit ayam dikirim.

Oleh Ubay KPI

Akhir bulan lalu, di sebuah warung kopi kecil tak jauh dari jembatan Landak, Kota Pontianak, Asmuki (42 tahun) warga Wajok, Kabupaten Pontianak yang telah empat tahun memelihara ayam ras bingung karena harus segera mentransfer uang ke agen penyedia bibit ayam ras. Kebingungan itu bukan karena tidak memiliki uang, namun Asmuki bingung harus dikirim menggunakan rekening siapa. Sebab, ia sendiri tidak pernah menjadi nasabah bank manapun.
Sebelumnya, Asmuki selalu bertransaksi dalam setiap pembelian bibit ayam menggunakan uang tunai. Sebab biasanya ia membeli bibit ayam di agen Pontianak. Namun kali ini, agen langganannya yang di Pontianak sedang kehabisan stok bibit. Akhirnya, Asmuki memutuskan membeli bibit di Kota Singkawang.
Kota Singkawang adalah salah satu kota di Kalimantan Barat yang maju perekonomiannya. Kota berjuluk  Seribu Kelenteng ini memang banyak dihuni etnis Tionghoa. Jarak tempuh dari Pontianak ke Singkawang kurang lebih 2 jam menggunakan jalur darat.
Agen penyedia bibit ayam tak mau mengirim bibit sebelum pembayaran dilunasi. Bagi Asmuki, tak mungkin berangkat ke Singkawang hanya untuk melakukan pembayaran itu. Pihak agen akhirnya meminta Asmuki mengirim via Bank BCA pada nomor rekening dan nasabah yang telah diberitahukan melalui SMS.
Saya sendiri yang yang berada dengan Asmuki sejak pagi di warung kopi itu juga tak bisa berbuat. Sebab saya tak pernah menjadi nasabah bank manapun. Kami berdua yang sekitar pukul tujuh pagi telah ada di warung itu hanya menikmati segelas kopi dan sambung-menyambung rokok. Serta menikmati bubur ayam untuk sarapan pagi. Sesekali kami membahasa dan mencari solusi yang tengah dihadapi Asmuki. Namun berkali-kali buntu. Sekitar tiga jam di bangku warung kopi itu, kami banyak bicara soal politik dan isu pemerintahan di Kota Pontianak.   
Kebingungan itu akhirnya lebur dan secerah cuaca hari itu yang matahari masih belum bergeser ke ufuk barat. Saat rekan yang juga peternak ayam datang menghampiri kami. Usman (32 tahun). Ia peternak ayam ras juga yang lokasi kandangnya di Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Sebuah desa kecil yang hanya berjarak sekitar 7 kilo meter dari Kota Pontianak.
“Sudah dari tadi,” sapa Usman kepada kami berdua.
“Ia. Sekitar empat jamlah kami di sini,” jawab saya.
Usman dan saya telah kenal lama. Bahkan sejak saya duduk di bangku madrasah ibtidaiyah. Kami tinggal satu daerah. Usman dan Asmuki kenal karena sama-sama peternak ayam. Hubungan keduanya lebih banyak tentang soal ayam. Baik tentang perawatan, harga pakan dan bibit yang kerap naik. Serta soal harga penjualan ayam, dan sejenisnya.
Asmuki yang masih bingung soal pembayaran itu tak banyak bersuara saat Usman datang. Bahkan, Usman bertanya kepada saya soal Asmuki yang tak biasanya murung.
“Dia bingung mau transfer uang ke agen. Dia pesan bibit ke Singkawang, tapi harus bayar via  Bank BCA,” saya memulai percakapan soal transfer itu kepada Usman.
Dengan tanpa basa-basi, Usman langsung menawarkan untuk menggunakan ATM-nya untuk membayar uang bibit tersebut. Asmuki yang murung itu langsung segar bak habis mandi. “Kamu punya BCA?” tanya Asmuki pada Usman.
“Ada, emang mau transfer berapa?” Usman balik tanya ke Asmuki.
Dengan semangat Asmuki menjawab jumlah nominal yang akan dikirim seraya menyodorkan nomor rekening tujuan. Usman yang langsung paham dengan keinginan itu dan paham mengirim dan menarik uang melalui ATM atau teller langsung mengiakan.
Usman menjadi nasabah di Bank BCA sudah sekitar empat tahun. Rekening tersebut selain digunakan untuk bertransaksi untuk keperluan usahanya, juga kerap menjadi perantara pengiriman uang warga di sekitar rumahnya  yang bekerja di luar negeri untuk keluarganya di kampung.
Waktu hampir pukul 12 siang. Usman tak sempat memesan minuman di warung kopi itu, langsung pergi lagi untuk segera mentransfer uang milik Asmuki. Hanya sekitar 15 menit, Usman datang lagi ke warung kopi itu dan bersama kami.
“Sudah,” tanya Asmuki kepada Usman yang masih belum membuka helmnya.
“Beres, tenang aja. Coba kamu telepon bosmu suruh cek uangnya. Jangankan cuma empat juta. Puluhan juta pun kalau BCA pasti bisa,” jawab Usman.
Asmuki langsung menelpon agennya memberitahukan kalau uang sudah dikirim via rekening Usman. Tak lama berselang, Asmuki menerima pesan dari bosnya kalau uang sudah diterima. Dan bibit ayam akan segera dikirim.
Saya dan Asmuki mulai tertegun dan kagum dengan kecepatan itu. Maklum kami berdua belum pernah menjadi nasabah. Asmuki mulai bertanya kepada tentang Bank BCA, bahkan Asmuki minta kepada Usman di lain kesempatan untuk menemaninya mendaftar jadi nasabah Bank BCA. Pasalnya, Asmuki berencana akan tetap di agen yang di Singkawang untuk keperluan bibit. Sehingga untuk transaksi tak lagi harus repot. Cukup via bank.
Saya juga ikut tergelitik untuk mengetahui tentang BCA yang sepengetahuan saya melalui internet. Bank BCA adalah bank kelas atas. Baik laba, pelayanan, transaksi, dan program-programnya yang banyak dikatakan orang cocok untuk kebutuhan masa depan.
“Saya sudah empat tahun menjadi nasabah. Tak pernah saya menemukan kendala dalam transaksi. Bahkan saya sangat nyaman, cepat, dan ATM-nya ada di mana-mana. Sangat mudah sekali,” ujar Usman kepada kami berdua.
Hanya saja. Usman belum pernah mengikuti program atau fiture yang telah dilaksanakan bank BCA. Seperti financial pendidikan, asuransi jiwa dan kesehatan, serta investasi. Usman hanya sebagai nasabag penabung saja. Namun menurut Usman, ia tertarik pada satu fiture yang akan diincarnya dalam waktu dekat. Yakni ia akan mengajukan untuk kredit rumah melalui Bank BCA.
Saya juga bertanya pada Usman tentang transaksi via SMS yang kerap dilakukan oleh kawan-kawan saya. Usman menjelaskan, transaksi itu juga ada di Bank BCA. Namun ia mengaku masih belum mempelajari caranya. Padahal menurutnya sangat mudah bila ia mau belajar.
“Saya pernah membaca caranya transfer melalui SMS. Sepertinya mudah, tapi saya malas. Namun, ke depan saya akan belajar biar mudah untuk transfer uang dan transaksi dengan kawan-kawan,” tuturnya kepada kami.
Usman juga memberi tahu kami, kalau BCA tak hanya khusus transaksi sesame BCA. Saat ini BCA sudah bisa transfer atau transaksi dengan bank lain yang telah melakukan kerjasama. “Saya di Kalbar ini sudah pernah saya kunjungi semua. Dan ATM BCA semua ada di daerah ini. Makanya, saya jarang bawa uang tunai kalau bepergian. Sebab saya lebih senang, mudah, dan cepat menarik uang kalau butuh melalui ATM. Mau transaksi juga enak dan mudah,” jelasnya kepada kami.
Obrolan siang itu menjadi melulu ke soal bank BCA. Soal bibit ayam tak lagi diingat. Begitu juga saya, sampai lupa kalau jam 12.30 ada kuliah. Kami bertiga baru bubar dari warung itu jam sekitar jam 2 sore. Kemudian Asmuki pulang karena harus mempersiapkan kandang ayam. Sedangkan saya dan Usman, langsung ke Jalan Tanjungpura Pontianak. Saya  bermaksud membeli kamera, sedangkan Usman ingin membeli laptop.
Di sebuah toko elektronik, saya menemukan kamera yang saya cari, begitu juga Usman, cocok dengan laptop yang ada di toko tersebut.
Yang terjadi saya juga mengalami kebingungan, uang tunai yang saya bawa tak cukup untuk membayar harga kamera itu. Uang saya kurang ratusan ribu. Sedangkan Usman, memang telah siap dengan uang tunai yang diprediksi sesuai harga laptop yang ia cari.
Tak ingin buang waktu dengan harus kembali lagi ke toko tersebut. Saya meminjam uang Usman untuk mencukupi pembayaran kamera.
“Boy, pinjam uangnya. Punya saya kurang neh,” kata saya bisik pada Usman.
“Berapa?” jawab Usman.
Dengan suara kecil saya sampaikan ke Usman. Dia melihat uang tunai yang ia bawa. Ternyata tak cukup juga uang Usman.
Karyawan di toko tersebut seolah paham komunikasi saya dengan Usman. “Di sini juga bisa pakai Credit card mas, tapi BCA,” ujar karyawan itu.
Usman tak ada credit card, yang ada hanya ATM BCA. Tak mau repot Usman langsung meninggalkan saya keluar dari toko. Saya tak paham tingkah Usman saat itu. Sekitar 10 menit ia datang lagi menemui saya di toko itu.
“Pakai uang saya aja dulu,” ujarnya pada saya.
“Eh, kamu dapat darimana. Bukannya uang kamu tadi tak cukup?” tanya saya pada Usman.
“Saya ke ATM di sana. Kebetulan di situ ada ATM BCA,” jawan Usman.
ATM BCA di Jalan Tanjungpura memang tak jauh dari toko tersebut, hanya sekitar 100 meter. Usman ke ATM tersebut berjalan kaki.
Kemudian kami berdua membayar dengan uang tunai. Di perjalanan, dengan rasa senang karena saya telah punya kamera SLR. Dalam hati saya berkata sendiri untung Usman ada ATM BCA.



Wednesday, 20 June 2012

Pencetus Teori 5W + 1H


Pencetus Teori 5W+1H
Oleh UBAY KPI

Tahun 2006 silam, satu tahun setelah saya lulus sekolah madrasah aliyah. Saya pernah ikut pelatihan jurnalistik yang dilaksanakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa STAIN Pontianak. Tak tahu apa alasannya saya mengikuti kegiatan itu. Padahal yang tak pernah berpikir akan menjadi wartawan. Hanya saja, kakak saya, Nursiti Yinwana yang sudah kuliah mengajak saya ikut pada pelatihan itu.
Tiga hari lamanya pelatihan itu berlangsung. pemberian materi dan juga praktik. Tapi saya seakan tak ada yang saya dari pelatihan itu melainkan sebuah pengalaman dan teman baru.
Yang saya ingat dari pelatihan itu, adalah rumus berita 5W + 1H dan bagaimana memegang kamera agar tidak goyang. Yang lain nol besar meski sampai praktik wawancara dan membuat berita saat itu.
Yang paling saya ingat dari pelatihan itu adalah 5W + 1H. Mungkin karena mudah menyebutnya. Rumus ini kembali saya temukan saat saya masih di semester pertama tahun 2009 lalu. Saat mengikuti tes menjadi anggota LPM STAIN Pontianak. Satu-satunya organisasi bidikan saya saat itu. Sebab saya niat kuliah untuk mendalami ilmu kewartawanan, makanya saya pilih KPI di STAIN Pontianak.
Pada pelatihan itu saya bertemu kembali 5W + 1H. Ini lagi, ini-lagi pikir saya. Apa sih pentingnya rumus itu dalam membuat berita? Benak saya bertanya pada diri sendiri. Jangankan maksud dan artinya. Kepanjangannya saja saya tidak tahu. Maklum, saat aliyah ketika mata pelajaran bahasa Inggris selalu molor, tapi UAN tahun 2005 nilai bahasa Inggris saya dapat 5 (lulus dong). Sebab, dapat suntikan jawaban dari guru yang mengisi di luar. Weleh weleh weleh, buka rahasia.
Setelah mendapat penjelasan kembali dari mentor saya saat itu, Hanisa Agustin. Baru saya saya sadar kalau rumus itu adalah kunci utama sebuah berita. Yah, 5W + 1H itu adalah singkatan dari What, Where, When, Why, Who, dan How. (sampai sekarang saya belepotan menyebutkan kosa kata itu. Hehehehe). Dan pada tes menjadi anggota baru LPM STAIN Pontianak tersebut saya tidak lulus.
Dua tahun lebih sudah saya menjadi wartawan sejak akhir semester awal dulu tahun 2010. Saya masih penasaran dengan rumus itu. Penasaran siapa yang membuat rumus itu?
Penasaran itu ternyata berbuah hasil dari sekian lama pencarian saya terhadap pencipta konsep itu. Saya menemukan di buku Jurnalistik Teori dan Praktik. Pada pendahuluan buku tersebut, Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat menuliskan, bahwa teori penulisan berita yang berpedoman pada rumus tersebut diciptakan oleh Rudyard  Kipling yang disajikan sesuai bentuk aslinya dalam bentuk puisi yang tujuannya agar mudah diingat.
I have six honest serving-men
[They’ve taught me all I knew]
Their nama are what and Where and When
And How and Why and Who
Mengenai Rudyard  Kipling, siapa dan dari mana? Saya masih belum mendapatkan keterangan dalam buku tersebut. Atau mungkin saya belum sampai membacanya yang menjelaskan tentang tokoh tersebut. Namun, saya berkayikan Rudyard  Kipling juga jurnalis.

Di Gubuk Kelahiran
Rabu, 20 Juni 2012 setelah Subuh

Bentuk Lead Berita


Bentuk Lead Berita
Oleh UBAY KPI

Hmmmm, usai sudah pertandingan antara Inggris melawan Ukraina pada turnamen piala Eropa tahun 2012. Saya bangun dari baringan di depan televisi dengan kekecewaan. Kecewa karena Inggris menang tipis dengan skor 1-0. Ukraina sebagai tuanrumah selanjutnya harus menjadi penonton dan pelayan setiap tim yang masih bertahan.
Saya pendukung Inggris, namun saya tak menafikan kalau saya tak suka dengan Rooney. Pahlawan setan merah itu adalah musuh bebuyutan tim kebanggaan saya, Manchester City. Makanya, sepanjang pertandingan selalu berharap Ukraina menang meski Seva masuk di akhir babak kedua.
Ukraina kalah, tapi saya tak mau kalah dengan nafsu yang mengajak saya untuk terbaring berlayar dalam tidur. Selain pagi-pagi nanti saya harus menemui kegiatan Wakil Walikota Pontianak, Paryadi. Bila saya tidur, akan rugi dua kali. Tak salat Subuh dan bakal tak bisa liputan karena sibuk kepala di atas bantal. Waktu sudah hampir Subuh. Tarhim anak di musolla dekat rumah saling bersahutan. Ibu masih terbaring tidur bersama keponakan di ruang tengah. Mending saya ke kamar menyantap kembali tulisan Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat dalam rangkaian karyanya pada buku “Jurnalistik Teori dan Praktik”.
Dua bulan ini, saya memang seakan tak bisa lepas dari membaca buku. Setiap hari seakan wajib membaca buku meski hanya lima menit. Itu berangkat dari kesadaran bahwa saya masih harus banyak belajar untuk lebih pandai. Saya percaya sebuah omongan bahwa tak ada orang pintar itu yang tidak suka membaca. Makanya, saya ikut melaksanakan hal itu. Beberapa buku jurnalistik telah saya baca meski tak semuanya saya ingat. Mana duli, yang penting saya membaca, toh saya yakin dari sekian banyak yang saya, meski sedikit pasti ada yang saya ingat.
Sejak kemarin, dari buku itu saya mulai mempelajari tentang pembuatan lead berita. Ternyata, banyak yang tidak saya ketahui dari lead itu sendiri meskipun telah ratusan berita telah satu tulis sejak 18 Januari 2010 lalu.
Hmmm, menulis buta dan menulis tanpa tahu ilmunya, hanya bermodal pengetahuan lapangan dan di meja redaksi. Itulah yang saya rasakan. Mungkin, bagi sekian banyak orang itu tak penting. Seng penting adalah berita selesai dan masuk ke redaksi, lalu cetak. Tapi tidak bagi saya, saya harus tahu dan mengembangkan tulisanku. Maklum, meski telah tiga tahun kuliah, alias semester enam dan baru dua semester mata kuliah yang selesai. Gini-gini masih punya cita-cita ke Harvard University, Amerika Serikat untuk belajar pada kampus yang bombing oleh Bill Kovack. Apes-apesnya, yah lanjut S2 di Jakarta pada fakultas jurnalistik. Hehehe, amin.
Kawan-kawan semua. Yang mungkin baru belajar menulis berita atau yang belum tahu ada berapa bentuk lead berita itu. Saya akan membagi apa yang telah saya baca dari buku Jurnalistik Teori dan Praktik.
Cukup banyak kawan, dan saya sendiri sangat sulit mengingat dan membedakannya meski kadang-kadang saya pernah menggunakan bentuk lead itu pada tulisan berita saya. Yang namanya orang tahu, yah menulis sesuai dengan apa yang saya inginkan asal tidak melenceng dari kaidah penulisan berita.
Seperti biasa, rumusnya adalah piramida terbalik dan memenuhi syarat 5W+1H.
Sebagai tulisan awal dari saya, saya akan menulis kembali bentuk-bentuk lead itu di sini. Sedang kejelasan dan contohnya, nanti insya Allah saya lanjutkan dengan tulisan satu persatu sesuai bentuk lead.
Sebelumnya, kepada siapa saja yang telah mengetahui tentang teori ini, saya mohon maaf bila ada ketidaksamaan atau kesalahan.
Berikut bentuk lead menurut pandangan saya dari buku tersebut dibagi ke dalam dua sub:
1.      Lead retorika
2.      Lead stilistik
Lead retorika ini seperti menggambarkan atau efek dramatic suatu tulisan. Seperti memulai kepala berita dengan “Saya sampai ke lokasi tenpat pembuangan akhir (sampah) itu matahari belum sepenuhnya terbit di ufuk timur. Namun telah banyak ibu-ibu menyanggul karung, dan sebagian lagi menjinjingnya menuju lokasi pembungan sampah itu”.
Itu contoh kecil dari saya. Dan kawan-kawan mungkin bisa menerkanya persamaan dari contoh itu.
Nah, dari lead retorika ini punya kontruksi gramatikal yang dapat digunakan untuk menyusun sebuah kisah berita yang akan kita tulis. Yakni frasa partisipial, infinitif, preposisional, kalimat kata benda, dan kalimat bersyarat.
Sedangkan lead-lead stilistik memiliki kontruksi. Seperti lead menonjok, deskriptif, kontras, bertanya, kutipan, kepenasaran kumulatif, berurutan, parody, epigram, tersendat-sendat, ledakan, dialog, dan sapaan.
Banyak kan kawan? Mungkin kalian ada yang telah memiliki gambaran dari beberapa kontruksi tersebut. Dan mungkin juga sebagian dari sekian banyak itu ada yang telah anda praktikkan. Nah, dari sekian banyak kontruksi lead stilistik itu, nanti akan saya jabarkan satu persatu. Mungkin saya bisa dan tentu isi dari penjabaran itu akan sesuai dengan kemampuan saya.
Jadi, tunggu aja tulisan saya selanjutnya. Mungkin besok saya bisa menuliskan satu kontruksi dan begitu seterusnya. Sekarang, saya mau salat subuh dulu. terima kasih kawan dan semoga CATATAN ANAK DESA ini bisa memberikan sedikit pengetahuan dan semoga bermanfaat. Wassalam.
Di Gubuk Kelahiran
Rabu, 20 Juni 2012 sebelum Subuh

Thursday, 7 June 2012

Proyek Jalan Panglima Aim Baru Pasang Pelang


PELANG PROYEK ditancapkan di tepi parit Jalan Panglima Aim. Pelang ini masih baru dan kemungkinan baru dipasang beberapa hari lalu. Padahal pengerjaan proyek mulai dilakukan sejak 13 Maret lalu. Rabu (6/6) sore. FOTO: Ubay KPI

Proyek Jalan Panglima Aim Baru Pasang Pelang
Oleh UBAY KPI

Sampai betonisasi Jalan Panglima Aim, Pontianak Timur sekitar 300 meter tersebut usai, tak ada papan nama pengerjaan. Sekarang, dalam masa pengaspalan muncul pelang nama pekerja proyek tersebut. Hanya saja tak ada rincian yang jelas apakah proyek itu betonisasi atau pengaspalan. Serta panjang dan luas proyek tersebut.
Tinjauan ke lokasi kemarin, papan nama pengerjaan itu hanya menyebutkan pemeliharaan periodic jalan kota dengan nomor kontrak 05/SPK/PPK/DPU-BM/2012 dengan tanggal 13 Maret 2012, masa kerja 180 hari. Sedangkan anggaran pembangunan jalan tersebut sebesar RP 980 juta.
Pekerja pembangunan jalan tersebut tertanda CV Putra Indonesia Maju dengan alamat kantor Jalan Adi Sucipto Pontianak.
Warga di sekitar penancapan pelang pengerjaan saat ditanyai mengenai keberadaan pelang tersebut tidak tahu kapan di pasang. Hanya saja, menurut salah satu warga di dekat pelang tersebut. Yang sehari-hari bekerja di bengkel kawasan pengerjaan itu menyebutkan, pelang itu ada beberapa hari terakhir. Dari awal tidak ada. “Kayaknya itu yang masang malam hari,” ujar warga yang tak mau menyebutkan namanya tersebut.
Kejanggalan masih mengahantui beberapa warga Jalan Panglima Aim. Seperti Pengurus RW Dalam Bugis, M. Ali menyebutkan sepengetahuannya dari masyarakat dan pihak Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak, serta DPRD Kota Pontianak saat melakukan krocek beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa proyek tersebut bukan sampai pada aspal, namun betonisasi seperti kebanyakan proyek jalan di beberapa tempat di Kota Pontianak.
“Bisa jadi aspal itu untuk menutupi keburukan mutu beton yang telah dikerjakan,” ujarnya.
Pantauan ke lapangan sore kemarin sekitar pukul 15.00, tak ada karyawan yang bekerja di lokasi proyek. Hanya tampak aspal anyar yang baru diratakan. Wartawan koran ini mencoba mencari pengawas pekerjaan untuk dimintai penjelasan, namun tak ada ditemukan di lapanga.
M. Ali menyebutkan, proyek tersebut milik Satarudin. Satarudin yang dimaksud M. Ali adalah salah satu anggota DPRD Kota Pontianak yang juga Ketua Komisi B.
Sore kemarin, saat Satarudin ingin dikonfirmasi mengenai kebenaran proyek tersebut. Saat dihubungi via telepon beberapa kali tak pernah diangkat, begitu juga SMS yang dikirim kepadanya, juga belum dibalas.

Tuesday, 5 June 2012

Proyek “Siluman” Jalan Panglima Aim


Proyek “Siluman” Jalan Panglima Aim
Ali: Pemerintah Perlu Audit Ulang
Oleh Ubay KPI

Pembangunan jalan di Jalan Panglima Aim, Pontianak Timur yang bersumber dari APBD Kota Pontianak sekitar kurang lebih Rp 1 miliar selesai. Namun hasil proyek pembangunan jalan itu berderai tak lama dari akhir pengerjaan.
Bahkan, masyarakat menilai pembangunan jalan itu proyek “siluman” karena tak ada plang nama dan sosialisasi.
Seperti dikatakan oleh pengurus RW 16 Kelurahan Dalam Bugis, M. Ali menuturkan masyarakat memang tak mengerti tentang proyek namun jangan dibodoh-bodohi. Pantauan M. Ali mewakili masyarakat menilai pengerjaan itu sangat tidak layak sebab kualitasnya sangat rendah.
Kondisi pembangunan itu saat ini berdebu, batu-batu yang sudah banyak lepas. Tak hanya kerusakan jalan saja yang diderita masyarakat sepanjang jalan sekitar 300 meter itu. Akibat proyek yang asal jadi tersebut, beberapa warga di pembangunan jalan yang melintas di tiga kelurahan, yakni Kelurahan Dalam Bugis, Saigon, dan Tanjung Hulu tersebut beberapa waktu terakhir terkenan demam dan batuk.
Jalan Panglima Aim menurut Ali merupakan jalan sentral. Perlu perhatian dari pemerintah dan bila ada pembangunan harus dilaksanakan dengan tepat dan baik. Bukan dengan pengerjaan asal jadi.
“Kami mewakili masyarakat meminta kepada pemerintah untuk mengaudit ulang proyek tersebut,” ujarnya.
Menurut penuturan salah satu pengurus RT 9 RW 5, Kelurahan Tanjung Hulu, Ade saat dihubungi kemarin penyakit tersebut ada sejak usai pngerjaan proyek itu.
Anehnya lagi di mata masyarakat sekitar yang sempat melakukan protes ke DPRD Kota Pontianak dan PU melalui Kasi Pemeliharaan Jalan, pembangunan jalan tersebut tidak jelas.
Ketidakjelasan itu menurut Ade, tidak adanya sosialisasi kepada masyarakat sekitar. Tidak adanya transparansi pemeliki proyek mengenai pagu anggaran, perusahaan pekerja proyek, penaggung jawab, lebar dan panjang pembangunan. “Kami tidak tahu sama sekali, sebab dari awal sampai selesai tak pernah ada kami lihat papan proyek di lokasi pembangunan jalan itu,” tutur Ade.
Ade melanjutkan, pembangunan jalan itu semakin tidak jelas akhir-akhir ini. Pasalnya, sepengetahuan warga proyek itu adalah betonisasi namun sekarang sudah mulai diaspal. “Yang mana yang benar. Kalau proyek itu aspal, dari mana lagi anggarannya?” tanya Ade.
Beberapa perwakilan dari warga setempat menuturkan pernah bertemu dengan PU Kota Pontianak, dan mengatakan dengan jelas bahwa proyek itu adalah betonisasi bukan aspal.
“Di awal pengerjaan juga terkesan pemilik proyek memang mau ambil untuk banyak. Jalan itu tanpa pengerasan, tumpuk pasir dan langsung timbus semen,” tambahnya.
Proyek itu belum pandangan mengarah pada korupsi, sebab belum ada tindak lanjut dari Dinas Pekejaan Umum dan Inspektorat.
Proyek jalan “siluman” itu tak hanya mendapat sorotan dari masyarakat. Namun mendapat perhatian dari sejumlah organisasi. Seperti dari Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Badko Himpunan Mahasiswa Islam Kalbar.
PKC PMII Kalbar, Syahril mengatakan, bila sudah berkenaan dengan anggaran APBD, maka seyogyanya  ada transparansi agar tidak kecurigaan dari masyarakat. Pemerintah harus menjelaskan dengan rinci.
Sedangkan menurut pandangan Ketua Badko HMI Kalbar, Wahyu kemarin mengatakan dengan anggaran dana kurang lebih Rp 1 miliar, sangat tidak realistis kalau hanya untuk pembangunan jalan sekitar 300 meter.
Tata aturan yang tidak dilaksanakan oleh pemegang proyek seperti plang nama mengundang curiga masyarakat. “Itu kan proyek public, dan harus disampaikan kepada public,” ujarnya.

Monday, 4 June 2012

Mbutakkan Pak Tua


Berkubang di pantai Pasir Panjang, Singkawang. Dari kiri, Jumita, Mahmudah, dan Ubay KPI (memegang kayu). Di belakang, pasangan suami istri, Supriadi dan Ayu.  @Mahmud Alfikri

Mbutakkan Pak Tua

Oleh Ubay KPI

Ada bpak2 udh uban pngen duduk dpling dkt kaca bus. 
Llu naik si anak muda ke bus itu.
Kursi pling smping sblm'y msh ad pnumpang, stlh trun tuh pnumpang, bpk yg uban itu lgsung geser ke tepi. Tp si anak muda blg, "pak boleh sy d stu".
Bpak uban jwb, "kan byran'y sm".
Si muda ngmong lg, "sy suka mabuk pak".
Tk ad jwbn, si bpk yg uban lgsung pndh.

Apelah sbnr'y, trnyta si anak muda tuh tk prnh mbuk naik bus. Alsan die jak pngen hmpasan udra dri luar bus.
"cerita Ubay dalam bus"

Dua paragraph itulah yang saya tulis pada dinding facebook-ku saat berada di bus tujuan Singkawang-Pontianak, Minggu (3/6) sore lalu. Status itu tak ada yang mengomentari, hanya ada empat teman di jejaring sosial facebook-ku yakni Nabila Caiank Edo', Jumita Kpi, Shasa Iliana, dan Novie Susandt Nindita Syahara. Me-like status itu.
Tulisan memang nampak tak dimengerti, maklum saja saya bergelut tawa dalam hati seraya merasa bersalah karena telah membohongi si Pak Tua itu.
Saya naik ke bus dari arah Kabupaten Sambas. Saat saya naik, bus itu memang telah terisi penuh. Namun si kernet bus tetap memintaku naik sebab aka nada 3 penumpang yang akan turun tak jauh dari lokasi tempatku menunggu bus. Betul sekali, sekitar 15 menit, tiga penumpang turun. Dan tiga kursi di paling belakang itu kosong  hanya ada Pak Tua itu. Sebelumnya Pak Tua yang saya “mbutakkan” itu duduk di kursi kedua dari jendela.
Semenjak saya naik ke bus itu, sasaran saya memang kursi paling tepi, sebab bisa melihat dengan leluasa pemandangan di luar dari dalam bus. Melihat laut yang jauh dari sungai raya. Dan melihat gunung-gunung, serta abrasi yang sedang dikerjakan di bibir laut.
15 menit saya berdiri di bus itu saya sempatkan menulis berita untuk dikirim ke redaktur si kantor Borneo Tribune. Saya menulis berita pada jejaring FB-ku agar mudah ditarik oleh redaktur dari kantor. Maklum saja, HP yang saya gunakan bisa membuka email. Satu-satunya untuk tetap mengisi halaman Koran menulis di dinding FB itu.
Sebelumnya, FB-ku sudah saya setting untuk setiap status yang saya tulis. Yakni hanya akun FB redaktur saya, Aulia Marti yang bisa membaca status itu. Jadi tak akan ada yang tahu tentang berita yang tulis di dinding FB itu.
Satu berita hampir selesai, sekitar menyisakan satu alenia. Lalu tiga penumpang itu turun. Saya mendapat kesempatan untuk duduk. Tapi apa dikata, seperti pada ceritaku di atas, si Pak Tua itu ternyata pengen juga duduk di samping. Tapi dengan muka yang bisa dipercaya, saya katakan sama Pak Tua itu, kalau saya mudah mabuk. Dengan tak ada niko-niko Pak Tua itu mempersilahkan saya lewat di depannya.
Tak ada lain saya meminta duduk paling dekat jendela bus selain ingin menikmati desiran angin dan pemandangan. Padahal, tak ada cerita pada saya mabuk saat naik bus.
Bus terus berlanjut, dan saya melanjutkan beritaku yang menyisakan satu alenia. Setelah selesai, saya tetap mengaktifkan FB-ku sambil kirim dna balas pesan dengan kawanku, dan komentar di status rekan-rekanku.
Sepanjang perjalanan, tak ada rasa jemu. asyik dan seru meski duduk berhimpitan. Perjalanan Singkawang-Pontianak ditempuh dalam waktu 3 jam. Sempat saya tidur saat perjalanan. Bahkan, saya tidak tahu saat Pak Tua itu turun dari bus. Tujuan Pak Tua itu memang lebih dulu dari saya, yakni di Jungkat. Sebelum Kota Pontianak.
Sekitar jam 7 malam, bus sudah masuk Kota Pontianak. di persimpangan lampu merah Siantan, tempat saya dulu mengecer Koran, saya meminta kernet berhenti. Huuppppz, saya sampai Pontianak. dan selanjutnya mengambil motor bututku di parkiran ojek dekat perempatan itu. Tancpa gas ke kawasan Budi Utomo menemui rekan di sebuah warung internet.
Jam sepuluh malam, saya pulang ke rumah dan tanpa mandi terlebih dahulu, saya langsung menemani bapak yang telah dua hari saya tak melihatnya.

Catatan:
Mbuttakkan dapat diartikan membohongi

Sunday, 3 June 2012

Andrea JK. Bongkar Bank Soal


Andrea Juliati Kurniasari 

Andrea JK. Bongkar Bank Soal
Oleh Ubay KPI

Ada tips menarik dan patut ditiru oleh siapa saja yang akan mengikuti ujian nasional. Meksi tips ini telah banyak dilakukan oleh calon peserta UN, namun ada yang beda dengan yang dilakukan oleh Andrea Juliati Kurniasari.
Ia adalah anak yang berhasil memperoleh nilai tertinggi UN di Kalimantan Barat tahun 2012 dengan hasil UN 9.472. keberhasilan itu diapresiasi oleh Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Pendidikan dengan memberikan bonus senilai Rp10 juta yang diberikan bersamaan dengan pengumuman guru, kepala sekolah, dan pengawas berprestasi di Gedung Terpadu Kota Pontianak, Jumat (1/6) pagi lalu.
Bicara soal UN, Andrea, biasa ia disapa membagi pengalaman menjelang pelaksanaan UN. Jauh-jauh hari ia mempersiapkan diri dengan kerap membuka bank soal. Bank soal yang dimaksud Andrea adalah kumpulan soal-soal UN tahun sebelumnya yang baik dijual di toko-toko buku.
Dari buku itulah ia belajar dan mengerjakan kembali. Bank soal tersebut menurut Andrea adalah peruntungan. Sebab dipastikan ada kesamaan soal UN dari tahun ke tahun. “Setidaknya ada 1 atau 2 persamaan karakter dari soal tersebut,” ujar anak kelahiran 20 Juli 1994 ini.
Siswa lulusan SMA Santu Petrus Pontianak ini juga berbagi pengalaman dengan kemudahan akses internet saat ini. Teknologi internet oleh Andrea dijadikan sebagai tempat berlatih dan mengasah sejauh mana kemampuannya pada enam mata pelajaran yang diujikan saat UN. Yakni dengan mengerjakan soal-soal yang tersedia di internet. “Saya sangat aktif mengerjakan soal-soal di internet selain membuka bank soal itu,” ujarnya.
Meski menjadi sisa peraih UN tertinggi di Kalbar, Andrea juga mengakui ada kelamahan dalam dirinya, khususnya di bidang biologi. “Gak kebayang dan sangat tidak terprediksi soal biologi akan sesulit itu,” ungkapnya.
Ditanya soal pendidikan lanjutan, Andrea menuturkan telah diterima di kampus luar negeri. Yakni di Universitas Hong Kong. “Saya kemarin ada empat pilihan kampus, 2 di Singapura, 1 di Korea Selatan, dan 1 di Hong Kong,” tuturnya.
Dan nasib berpihak pada Andrea diterima di Hong Kong. Dan telah dinyatakan lulus. “Saya sudah lulus sejak pendaftaran sebelum pengumuman hasil UN. Dengan sayarat nilai UN saya di atas 9. Dan hasilnya UN saya 9.47” kata alumni SMP Santu Petrus dan SD Gembala Baik ini.
Orang tua Andrea Juliati yang ikut mendampingi saat pemberian reward dari pemerintah Kota Pontianak Jumat lalu. Ayahnya, Sunardi menerangkan bahwa Andrea adalah anak yang punya usaha tinggi dan pantang menyerah dengan apa yang diinginkan. “Saya tak pernah mengarahkan ia untuk masalah pendidikan, saya beri kebebasan. Hanya saja saya terus mengontrol,” tutur Sunardi.
Begitu juga dengan ibunya, Iliana Tanusi terpancar raut wajah bahagia saat pemberian reward itu. “Saya hanya berharap ia bisa mencapai cita-citanya. Dan sesuai keinginan dia melanjutkan kuliah konsen pada ilmu teknologi computer,” terangnya.

Nilai Kelulusan SMP Meningkat 0.58 Persen


Nilai Kelulusan SMP Meningkat 0.58 Persen
Oleh Ubay KPI

Ada kemajuan dan ada pembaharuan dalam pendidikan di Kota Pontianak. Itu dibuktikan dengan meningkatnya nilai kelulusan tingkat sekolah menengah pertama di Kota Pontianak. Keputusan yang telah ditetapkan panitia UN menunjukkan kelulusan tingkat SMP di Kota Pontianak meningkat 0.58 persen pada tahun ini.
Yakni dengan nilai 99.05 meningkat sedikit dari tahun 2011 yang hanya 18.47 persen. Tak hanya itu, prestasi siswa Kota Pontianak cukup membanggakan di tingkat Kalimantan Barat. Kota Pontianak menduduki peringkat pertama dengan rata UN dan nilai akhir sekolah 29.49 persen.
Nilai ujian tertinggi yang diperoleh siswa Kota Pontianak ialah 39.15 atas nama Maybelline dari SMP santu Petrus. Disusul siswa SMPN 3 Pontianak dengan nilai 38.95 atas nama Abdillah yasir Wicaksono.
Tak hanya itu, ada 107 siswa Kota Pontianak yang berhasil mencapai nilai UN 10 yang terdiri dari 1 siswa di mata pelajaran bahasa Indonesia, 97 siswa pelajaran matematika, dan 9 siswa pelajaran IPA. Dalam rangking 30 besar peraih nilai tertinggi di Kalimantan Barat, ada sebanyak 27 siswa asal Kota Pontianak yang masuk di dalamnya. Tiga siswa lainnya diisi oleh siswa SMP Tunas Bangsa Sungai Raya, Kubu Raya.
Walikota Pontianak usai memberikan sambutan pada lomba guru sekolah di Gedung Terpadu Pontianak kemarin menyampaikan, tingkat kelulusan sudah baik meski belum mampu menempatkan siswa masuk dalam sepuluh besar nilai tertinggi nasional.
Upaya yang akan dilakukan pemerintah ke depan selain memperbaiki kinerja guru serta melakukan koordinasi dengan pihak orang tua, Sutarmidji kembali menegaskan akan melibatkan pakar pendidikan dalam menopang kemajuan pendidikan di Kota Pontianak.
“Tahun depan harus ada yang masuk 10 besar nasional,” kata Midji.
Terkait nilai, Sutarmidji juga mencemaskan guru-guru di sekolah yang takut memberikan nilai tinggi kepada siswanya. Pasalnya, hasil ujian nasional beberapa waktu lalu, banyak anak yang memperoleh nilai bagus (10) namun pada nilai sekolah cukup rendah. “Ini menunjukkan guru tidak berani memberi nilai bagus ke siswa, padahal sebenarnya mereka punya kemampuan dan layak mendapat nilai bagus,” tuturnya Midji.
Angka ketidaklulusan tingkat SMP pada tahun ini di Kota Pontianak hampir menjejaki tiga angka. Yakni 94 anak gagal lulus. Yang terdiri dari 14 siswa dari sekolah negeri dan 80 siswa dari sekolah swasta.

Mempertahankan Tradisi Medali Olimpiade

56 peserta Olimpiade Sains Nasional tingkat Kalbar mengikuti acara pembukaan yang dihadiri langsung oleh Kedis Pendidikan Kalbar, Alexius Akim di Kapuas Dharma II Pontianak. FOTO: Ubay KPI

Mempertahankan Tradisi Medali Olimpiade
Oleh Ubay KPI

Dalam dua tahun terakhir, Kalbar selalu memberikan sumbangsih bagi Indonesia untuk peserta olimpiade sains tingkat internasional. Dan sumbangsih itu tak sekesar sumbangsih, namun juga memberikan prestasi bagus untuk Indonesia dengan torehan medali perunggu. Karenanya, Dinas Pendidikan Kalbar bercita-cita tetap mempertahankan tradisi medali itu.
Langkah awal, Dinas Pendidikan Kalimantan Barat melaksanakan seleksi untuk siswa SMP guna mencari siswa terbaik di bidang matematika, biologi, fisika dan IPS. Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Kalbar dilaksanakan selam tiga hari, 1-3 Juni 2012 bertempat di Hotel Kapuas Dharma II Pontianak.
Ajang penyeleksian tersebut diikuti oleh seluruh kabupaten dan kota yang ada di Kalbar. Sebanyak 56 siswa SMP berkompetesi untuk dicari empat terbaik pada masing-masing cabang sains yang diperlombakan.
Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat, Alexius Akim usai membuka OSN tingkat Kalbar kemarin menyampaikan, hal penting yang perlu diingat bahwa Kalbar sering memberikan prestasi gemilang untuk Indonesia di bidang sains. Akan  tetapi, Dinas Pendidikan tak akan berbangga diri dengan prestasi itu, sebab pelaksanaan olimpiade sains terus digulir.
“Sekarang bagaimana kembali kita memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Sebisa mungkin setiap tahun tradisi medali tetap aman, dengan tahap awal Kalbar memiliki siswa yang juara di tingkat nasional,” ujarnya.
Meksi terbilang sangat sempit waktu pelaksanaan OSN dengan penyeleksian yang dilakukan saat ini. Akim menegaskan konsentrasi tetap difokuskan untuk setiap peserta yang akan menjadi wakil ke tingkat nasional.
Akim juga mengatakan, bahwa tak ada training center pada tahun ini untuk empat anak yang nanti akan menjaid wakil Kalbar. Walau demikian, waktu yang sudah dekat dengan pelaksaan OSN yang akan digelar pada tanggal 28 Juni mendatang, Dinas Pendidikan telah mempersiapkan siapa saja nanti yang lolos.
“Kami telah memberikan pelatihan kepada guru pembina mereka di masing-masing sekolah. Nanti mereka akan dibimbing di sekolah hingga tanggal pelaksanaan,” jelas Akim.
Akim yang didampingi oleh Marjono R Asan Jumat malam lalu sangat berharap anak Kalbar kembali bisa mengharumkan  nama bangsa di tingkat internasional. “Kami yakin, kami tidak akan ada memihak salah satu daerah. Sebab pelaksaan ini dilakukan oleh pusat langsung, daerah sebagai penyedia. Soal-soal dari pusat bukan daerah yang membuat,” tuturnya. 

Friday, 25 May 2012

Awas TV Langganan dan Kabel!


Idy Muzayyad

Awas TV Langganan dan Kabel!
Oleh Ubay KPI

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia, Idy Muzayyad memperingatkan masyarakat untuk mewaspasai peredaran TV kabel dan langganan yang marak dalam beberapa tahun terakhir. Karenya, televise tersebut dapat menangkap berbagai siaran dari luar negeri yang sudah pasti tak sesuai dengan siaran televisi Indonesia.
Hal itu disampaikan KPI Pusat pada seminar terbuka bersama mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam beberapa waktu lalu.
TV langganan dan kabel saat ini memang marak dilakukan. Namun control yang kurang kadang memjadi pemicu kelalaian konsumen serta kurangnya informasi yang disampaikan oleh kontributer atau penyedia jasa tersebut.
Siaran berbau seks dan di luar norma-norma ketimuran mewabah melalui film-film mancanegara yang bisa disaksikan kapan saja oleh masyarakat. Khwatirnya menurut Idy, siaran tersebut disaksikan oleh anak-anak yang lepas dari control orang tua.
Dijelaskan oleh Idy, TV kabel dan langganan sebenarnya harus melalui izin penyiaran, dan penyedia layanan tersebut seharusnya memutus siaran yang berbahaya terhadap generasi muda terlebih lagi anak-anak.
Seperti film barat yang banyak menampilkan peran fulgar serta adegan berbahaya seperti smack down dan lainnya.
“Memang kita susah mengontrol itu, sebab banyak penyedia yang tidak menggunakan izin alias illegal,” tutur Idy.


Wednesday, 16 May 2012

Benarkah Itu Monas?


Benarkah Itu Monas?
Oleh Ubay KPI

Seakan tak percaya, seakan dalam mimpi, seakan dalam hayalan, seakan suatu yang bukan sebenarnya. Siang itu, entah tanggal berapa, yang pasti bertepatan dengan hari Minggu. Setelah dari Dufan Ancol Jakarta pagi menjelang siang itu saya mengikuti busway. Kendaraan yang menurut orang lebih efektif dan menghemat waktu karena memiliki jalur tersendiri di Jakarta. Tujuan saya dari Ancol ingin menuju Gelora Senayan Jakarta. Entah berganti busway berapa kali perjalanan saya waktu itu. Yang kuingat hanyalah selalu bertanya tujuan Gelora Senayan kepada satpam atau kernit di setiap terminal busway untuk ganti busway. Maklum saja, ini adalah perjalanan pertama ke ibukota Indonesia. Katrok wal kampungan melekat dalam diri ini. Malu bertanya sesat di jalan, dari pada sesat lebih baik sering-sering bertanya. Malu? No way coy.
Sambil menyaksikan gedung tinggi bertingkat seperti yang saya lihat dalam sebuah sinetron di televise. Tak kulepas pandangan saya ke setiap bangunan tinggi menjulang itu melalui kaca busway, meskipun kadang sesekali saya berpaling memperhatikan penumpang lain. “Siapa tahu ada yang cantik dan mau dengan saya,” hehehe.
Dengan selembar kertas yang berlukiskan rute perjalanan busway, sembari saya simak suara rekaman nama-nama terminal busway yang selalu tersiar ketika hampir sampai ke terminal. Setiap pemberitahuan dari operator selalu saya lihat lembaran kertas itu, karena khawatir lepas dari tujuan saya, Gelora Senayan.
Lima terminal busway telah saya lewati, Pademangan, Gunung Sahari Mangga Dua, Jembatan Merah, Pasar Baru Timur, dan Budi Utomo. Sampai saya di terminal Sentral Senen. Di terminal itu saya ganti busway ikut jalur kuning di rute perjalanan yang finish di Pecenongan yang kemudian berganti busway lagi untuk menuju Gelora Senayan mengikuti jalur merah. Sontak saya berubah tujuan ketika berhenti di terminal kedua dari Sentral Senen, yakni di terminal Gambir 2. Di terminal itu saya melihat moncong emas di atas menara tinggi yang tak lain adalah mascot Indonesia (Monas). Tanpa pikir menyesal tidak sampai ke Gelora Bung Karno, kubuka kembali lembaran peta busway, tertera tinggal dua terminal lagi saya bisa sampai ke Monas. Ialah terminal Balai Kota dan Monas. Terasa ingin meloncat ketika busway berhenti di terminal Monas. Nampak jelas mascot itu ketika saya keluar busway.
Kusempat tergumam ketika berada di luar terminal. Seakan tak percaya kalau saya betul-betul ada di Jakarta. Kota yang dulu ketika saya kecil sangat saya impikan dan sangat mustahil bisa saya jejaki. Dulu saya sangat bermimpi bisa ke Monas yang berada di kota metropolitan itu. Setiap kali ada tayangan televisi memperlihatkan Monas, impian itu selalu ada. Namun bagi saya, dulu mimpi hanyalah mimpi, dan sangat mustahil bagi saya mewujudkan. Sebab saya hanyalah anak desa yang hanya kerja noreh getah dan menjual es manis keliling kampung sebelum berangkat sekolah, dan menjual kedondong ke sekolah ketika pohon kedondong di rumah telah berbuah.
Masih berada di luar kawasan Monas, saya masih terdiam berdiri. Masih kagum dan terenyak seakan mimpi. Benarkah ini Monas yang sering saya lihat di TV dulu? seakan tak percaya, namun kutelah berada di dekatnya. Ingin sekali berteriak ketika kusaksikan Monas, namun aku malu pada orang sekitar yang pada pagi menjelang siang itu sangatlah ramai karena bertepatan dengan hari Minggu.
Entah saya masuk dari arah mana ke kawasan Monas itu. Yang pasti saya masuk ke kawasan Monas melewati celah pagar besi yang terbengkas di dekat stasiun Gambir tepatnya di bawah tol rel kereta api. Nampak gagah, besar, tinggi, dan kokoh bangunan itu dalam pandangan saya. Setelah kuberada dalam kawasan Monas, baru kurasakan mimpi waktu kecil dulu terwujud. Kubetul-betul berada di Jakarta, tanah Abang dan None, tanah kota metropolitan, tanah banyak artis bertumpuk, dan politisi beradu argument. Kulangkahkan kaki menuju mascot Indonesia sembari mengeluarkan kamera dari tas murahan souvenir dari Yamaha. Terasa bangunan itu dekat, namun begitu lama saya untuk sampai ke pelatarannya.
Begitu saya dekat, kulepaskan blit kamera saya mengarah ke Monas. Beberapa foto telah ku dapat. Foto Monas hasil jepretan sendiri. Amat bangga rasanya bisa memotret monas dan memiliki koleksi gambar Monas hasil jepretan sendiri meski tak sebagus foto koleksi saya yang diunduh melalui om google.
Bangga dengan jepretan hasil karya sendiri. Saya mulai bingung sendiri di halaman Monas itu. Bingung karena saya ke Monas hanya sendiri. Sebab mengajak kawan-kawan di camp Ragunan tak ada yang mau. Kurang puas rasanya bila tidak memiliki foto berlatar belakang Monas. Bingung mau minta bantu siapa untuk memotret. Sebab orang-orang yang ada sibuk dengan refresingnya sendiri. Mataku terpandang kepada dua anak yang mengarah ke pelataran Monas. Langsung kudekati dua anak itu sambil menanyakan mau kemana. Basa-basi komunikasi dengan mereka berdua, tujuan saya tak ada lain, kecuali mereka bisa membantu saya untuk memotret. Beberapa menit komunikasi dan saya menyampaikan bahwa saya baru pertama kali sampai ke Jakarta dan asal saya dari Pontianak. Mereka berdua langsung akrab dengan saya. dan saya minta tolong untuk memotret saya.

Untuk yang di Gang Baru


Untuk yang di Gang Baru
Oleh Ubay KPI

Selamat malam Yan, moga malam ini Yani tetap semangat dalam melaksanakan aktifitas, baik kuliah, organisasi, atau lainnya.
Sebelumnya Emji mohon maaf telah menuangkan ungkapan kata ini melalui radio Primadona lewat suara Bang Aris yang memancar mengikuti angin malam ini. Yang pastinya, ungkapan ini adalah bagian dari perjalanan kita.
Emji masih ingat Yan, pertama kali kita bertemu, pertengahan tahun lalu di kegiatan Opak STAIN Pontianak, Yani sebagai peserta, dan Emji datang untuk membuat liputan kegiatan itu. Emji yakin Yani pasti masih ingat memori itu, menjelang sore di bulan Ramadan, Emji minta no mor HP Yani, dan kemudian sampai ke rumah Emji telepon Yani, begitulah seterusnya Emji dan Yani berkomunikasi yang akhirnya kita bertemu di Idukfitri tahun lalu bersama kita ke Sungai Nipah tempat Syarifah Syahara, dan di sanalah kita berdua mengikat kata, kita mulai pacaran.
Patut Emji katakan maaf pada Yani, karena selama kita menjalin hubungan seakan Emji lebih mencintai profesi kerja Emji,  sehingga Emji kadang tak sempat untuk menanyakan kabar.
Di ruangan kampus dakwah STAIN Pontianak, dua bulan yang lalu kan Yan. Kita menyatakan menyudahi hubungan kita. Sebenarnya Emji tak tega pada perasaan Yani yang pastinya masih mencintai Emji, tapi Emji tak mau menyiksa Yani menjalin hubungan tapi kenyataannya sendiri.
Jujur, Emji masih ada rasa cinta, apalagi Yani seringkali datang ke kantor menunggu Emji menyelesaikan tulisan meskipun sampai dengan pukul 10 malam. Jujur Yan, emji sebenarnya tidak tega melihat harapan Yani yang begitu amat mengharap kita kembali seperti dulu menjalin hubungan kasih. Tapi,apakah Yani sanggup dengan kesibukan Emji, apa Yani sanggup menahan diri lantaran kurang peduli Emji, dan apakah Yani sanggup untuk kecewa kembali. Yan, tolong fikirkan kembali?
Bukan maksud Emji untuk mempermainkan dan memberikan harapan kepada Yani, meskipun kita seringkali makan di kantin kampus, santai di café GOR Pangsuma, dan jalan malam meski hanya sebatas makan bakso jumbo.
Yan, Emji harap Yani mengerti dengan kebutuhan Emji saat ini, bukan berarti Emji tak mau pacaran, dan bukan berarti Emji tak mau menghargai Yani? tapi Emji khawatir kuliah Emji terganggu, dan kerja Emji juga terganggu. Yani sudah tahukan, kalau Emji kuliah dengan kemandirian, makanya, emji lebih prioritaskan kerja dan kuliah, sebab itu adalah masa depan Emji, dan mungkin kalau kita dipertemukan kembali, itu adalah masa depan kita.
Tang terakhir dari Emji, terimakasih ya Yan, dalam beberapa minggu ini sejak Emji tak pulang ke rumah di Sungai Ambawang dan tinggal nginap di kantor Jalan Purnama, Yani telah bersedia membantu Emji meski hanya sebatas mengambil baju dan melipat dalam keadaan bersih dan dikembalikan ke Emji. Semoga saja pengharapan Yani tidak sia-sia di kemudian hari. Untuk pengetahun Yani, Emji masih cinta pada Yani tapi Emji masih ingin fokus kuliah dan kerja.

Yang masih mencintaimu,
Emji 2187  


Catatan. Surat Cinta ini diikutsertakan dalam lomba menulis surat kasih sayang Rasio Primadona, Pontianak.

Tak Ada Tikar, Koran pun Jadi


Bimillahirrahmanirrahim
Tak Ada Tikar, Koran pun Jadi
Oleh Ubay KPI

“Tak ada rotan, akar pun jadi” suatu ungkapan yang sering terlontar kala pilihan utama tidak ada atau selalu menjadi alternative kedua dalam kebutuhan. Dalam bagian cerita ini, ungkapan itu saya kaitkan dengan alternative kedua saya ketika saya awal-awal menjadi wartawan dan masih belajar menulis berita untuk dikirim ke Borneo Tribune dan atau Borneo Metro.  
Sebagaimana judul di atas, pepatah itu saya renovasi menjadi “Tak ada tikar, koran pun jadi.”
Seperti biasa orang kelas mengenah ke bawah, alas tidurnya ialah tikar atau orang yang berpunya, alas tidurnya menggunakan kasur atau sprim bead, saya kalau di rumah juga menggunakan alas tikar untuk tidur karena masih belum mampu untuk membeli kasur, dan karena sudah terbiasa menggunakan tikar, malah kadang susah tidur kalau berbaring di kasur empuk apalagi yang sampai bertingkat dua atau tiga.
Pada awal saya mengirim berita ke Borneo Tribune atau Borneo Metro kadang saya sampai larut malam pulang dari kantor redaksi di Jalan Purnama Dalam karena ketika awal belajar nulis berita, kadang satu judul berita memerlukan waktu satu setengah jam atau 2 jam untuk menyelesaikannya dan itu masih banyak yang dipertanyakan oleh redaktur karena tidak jelas pokok pembahasannya. Rumahku yang di Sungai Ambawang Desa Mega Timur Parit Lambau sangat jauh dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar, apalagi ketika musim hujan yang otomatis jalan masuk dari Jalan 28 Oktober Pontianak sejauh 4 kilo meter pasti becek, sedangkan esok paginya harus kuliah mulai jam 07.30. Maka, untuk mendapatkan keduanya yakni bisa kuliah tidak terlambat masuk dan menulis berita tetap lancer, maka alternativnya saya memutuskan menginap di kelas KPI semester satu tempat yang sehari-hari saya dan kawan gunakan untuk proses kuliah. Di sudut kelas gedung dakwah lantai dua, dengan ber-alaskan koran yang memang sengaja dari kantor Borneo Tribune saya bujurkan tubuh hitam ini dengan tanpa beban karena telah dihantui rasa ngantuk. Pada awalnya saya tidak menggunakan kain penutup untuk selimut, sehingga ketika paginya bangun, tubuhku yang tidak terkena tutup baju dan celana tampak bentol-bentol oleh jarum suntik nyamuk-nyamuk lapar yang haus akan darah. Malam pertama terkaparku di pojok kelas sedikit menderita dan tak enak tidur oleh nyanyian sayap nyamuk yang naksir dengan darahku, karena nyamuk itu, tidurku terganggu karena harus garuk-garuk bagian yang gatal oleh sengatannya. Namun, oleh karena mata yang sudah tak mampu bertahan untuk terbelalak, meski nyamuk berkaraoke di telingaku, dan menari di tubuh mulus hitamku serta mencium bagian sensitifku yang mudah ditembus oleh jarum suntiknya untuk bertahan hidup, saya tetap tidur pulas sampai dengan jam enam pagi.
Ketika ku terbangun, selain merasakan gatal dan bagian tubuhku bengkak kecil, aku dikejutkan oleh binatang yang berasal dari jentik yang bertengger di dinding kelas dekat tempat saya membaringkan badang tadi malam. Meski tidak membentuk lukisan yang biasa dipajang di rumah-rumah, namun nyamuk yang bertengger di sekitar tidurku sangat banyak sekali, perkiraanku nyamuk itu berjumlah lebih dari seratus dengan perut yang berisi tanda kekenyangan. Dalam benakku, ini pasti mengisap darah saya, karena tak ada lagi manusia yang ada di ruangan tersebut malam itu. Meski ia bertengger dengan perut yang berat dan dihasilkan dari badanku, namun saya enggan menggilasnya untuk wafat sampai hari kiamat, hatiku hanya berkata pada nyamuk-nyamuk kenyang itu bahwa darahku yang telah ia hisap anggaplah sebagai shadaqahku yang nanti akan aku tagih di hari kiamat untuk meringankanku dari panas api neraka.
Namun untuk kedua kalinya, sebelum saya berangkat ke kampus untuk kuliah, saya siapkan seuntai kain yang berjahit menjadi bulat (sarung) dan dimasukkan ke dalam tas bersama buku pelajaran dan juga kadang dengan pakaian ganti untuk persiapan esok harinya. (Bersambung)Untuk keduakalinya saya tidur di sudut kelas yang kadang terbujur di atas bangku dosen (Kepada Dosen, maaf saya telah tidak sopan dengan tempat kekuasaan anda, itu ku lakukan karena ku menjaga pakaian saya agar tidak kotor dan supaya saya mudah bangun). Saya sedikit terlindung dari dinginnya angin malam dan juga gigitan kecil makhluk Tuhan penghisap darah yang bernama nyamuk.

Apes Melulu


Apes Melulu
Oleh Ubay KPI

Ini kisah terjadi ketika saya memulai sesuatu yang menurut saya awal atau embrio dari profesiku saat ini. Dua kisah yang amat saya senangi dan ikhlas melaksanakan dan menerima meski ada kekesalan sedikit dalam diri.
Pertama terjadi pada awal tahun 2009 atau di awal Januari, saya pertama kali memutuskan kerja sebagai pengecer Koran di perempatan Jalan Gusti Situt Mahmud-Sultan Hamid 1-28 Oktober-Selat Panjang Pontianak Utara. Di situ pertama kali saya memampangkan muka di depan khalayak ramai, anggap saja perempatan itu adalah media bagi saya sebab di situ saya banyak dikenal orang terutama pengguna jalan khususnya pelanggan koran.
Di hari pertama saya mengecer koran, saya tempatkan motor saya pas di sudut jalan atau tikungan dari arah Siantan ke Jalan 28 Oktober. Di situ saya parkir motor. Alasan saya parkir di situ agar mudah dipantau khawatir dipinjam orang tanpa izin alias dicuri. Pagi itu juga sekitar pukul setengah tujuh, ada polisi lalu lintas yang bertugas, saya tetap saja menikmati profesi baruku menawarkan Koran kepada pengguna jalan ketika lampu lintas menstruasi atau berwarna merah. Sekitar pukul setengah delapan saya dikagetkan dengn motor saya yang sudah tidak ada di tempat semula. Bergegas saya tengok dan ternyata motor dipindahkan polisi ke depan ruko yang tak jauh dari persimpangan. Setelah saya ketahui motor KTM butut saya tetap utuh  dengan tonggak penahannya, saya lanjutkan kembali menjual Koran. Awalnya tidak ada curiga motor saya akan diseret oleh polisi dan firasat saya mungkin agar tidak mengganggu pengguna jalan. Namun saya sontak kaget ketika saya hendak pulang kala itu Koran saya banyak belum laku terjual karena panas saya memutuskan untuk pulang yang masalah Koran sisa biar diretur pada agen. Kagetnya bukan main, motor saya hanya meninggalkan bekas tonggaknya, raib tanpa kabar.
Persaannku motor hilang, motor hilang. Kemudian saya tanya pada paman yang kerja becak di perempatan itu juga, namun paman juga tidak tahu dan tak melihat siapa yang membawanya. Dan bahkan paman seolah-olah menyalahkan saya karena tidak memarkir motor di warung dekat keponakan saya yang berdempetan dengan pangkal ojek juga tepatnya di sudut Jalan Selat Pangjang-Sultan Hamid I. “kenapa tidak dititipkan di warung sana, kan banyak orang di warung, lagian di sana juga banyak keluargamu ,“ kata paman sambil meembantu mencari motor saya.
Saya kala itu tidak menitipkan motor di warung keponakan saya itu karena saya merasa malu sebab sebagai penjual koran. Mau ketemu saja rasanya malu apalagi sampai mau nitip motor dengan alasan mau jualan Koran.
Apes memang apes! Setealh sekitar setengah saya cari di sekitar tempat motor atau di depan ruko itu, kemudian paman meminta saya mengecek ke kantor Polsek Utara yang jaraknya sekitar 300 meter dari simpang itu, dengan jalan kaki sambil menjinjing Koran saya ke Polsek, dan melihat motor saya yang berwarna krim ternyata sudah ada disana bergabung dengan motor yang terjaring razia. Melihat motorku masih ada saya sedikit tenang meskipun saya sudah yakin harus berurusan dengan polisi. Bingungnya kala itu, motor saya blong banget bukan hanya remnya, namun surat-suratnya juga tidak ada, jangankan STNK, BPKB-pun saya tak pegang. STNK motor saya tinggal di daerah Sungai Kunyit dekat Sungai Duri Bengkayang di sebuah kios bensin ketika saya kehabisan bensin habis pulang dari Sungai Duri’ dan tak sempat ambil selama dua bulan sehingga STNK itu setelah mau diambil sudah tidak ada. Sedangkan BPKB-nya saya gadaikan ke agen counter pulsa elektrik di daerah Siantan ketika saya butuh modal untuk berjualan pulsa, yang akhirnya bisnis kecilan itu bangkrut dan gulung tikar dengan modalnya dan tak sempat tebus BPKB.
Di kantor polisi saya tanyakan baik-baik kepada anggota yang ada di situ, kenapa motor saya dibawa tanpa izin? Salah satu polisi bertanya mana motornya? Saya tunjuk motor saya. Saya sempat bersitegang dengan polisi kala itu yang berjumlah tiga orang, saya selalu menyudutkan polisi dengan alasan membawa tanpa izin, tapi yang namanya polisi pasti tak mau kalah dengan begitu saja karena seragamnya. Setelah saya sudutkan terus kemudian ada mimic wajah polisi itu marah dan membentak saya. Namun saya tetap saja melawan dengan dalih kalau saya kena razia tak mungkin kunci motor itu masih ada dengan saya.
Setelah polisi itu tahu kalau kuncinya masih dengan saya, kemudian marahnya sedikit berkurang namun tetap saja mempertahankan dirinya benar. Karena polisi tak ada alasan lagi dan saya memang yang benar polisi membawa motor saya tanpa izin, kemudian polisi meminta surat-surat motor saya, dengan blak-blakan saya bilang tak ada suratnya, “STNK saya hilang, dan BPKB saya gadaikan dan belum diambil, serta kaca spion memang saya tidak pasanga,” kata saya kepada polisi.
Akhirnya, motor saya tidak bisa dibawa sebelum surat-surat khususnya BPKB-nya ada. Dengan itu saya pulang dengan jalan kaki ke Gang Blitar I tempat sepupu yang saya jadikan tempat menginap di Siantan. Selam tujuh hari atau satu minggu motor saya di Polsek karena saya belum bisa menebus BPKB saya. Setelah hari ke delapan, saya baru bisa tebus BPKB, dan meminta tolong anggota polisi yang kebetulan kenal dengan sepupu saya untuk mengeluarkan dengan membawa BPKB, tujuannya agar saya tak perlu lagi mengeluarkan uang untuk sopui anggota polisi.
Akhirnya sore harinya bisa keluar motor saya, kepada polisi temannnya sepupu yang membantu saya, saya kasikan uang, namun ia tidak mau dan bilang suruh beli rokok Dji Sam Soe saja satu bungkus untuk penjaga malam, saya belikan rokok dan saya kasikan ke satpam, begitu juga saya paksa polisi temannya sepupu itu untuk menerima namun tetap tidak mau. Akhirnya saya isikan ia pulsa sepuluh ribu sebagai ucap terima kasih. Selama motor saya berdomisili di Polsek, selama tujuh hari saya minjam motor kawan untuk mengambil Koran subuh hari ke Plamboyan. Setelah itu kemudian saya pakai motor saya lagi. Apes ya apes bener berjualan Koran yang kali pertama.
Apes juga saya rasakan ketika pertama kali saya belajar meliput berita waktu itu saya belum wartawan namun mulai suka dengan profesi sebagai wartawan sehingga saya belajar meliput meski belum tahu bagaimana cara menulis berita.
Pada waktu itu saya meliput partai final futsal piala KORPRI yang diadakan di lapangan futsal Andaria Jalan 28 Oktober. Kejuaraan antar pegawai kala itu juara pertama diraih tim Soedarso yang mengalahkan tim PU di final.
Waktu itu saya lupa bulan apa, namun yang pasti akhir tahun 2009. Waktu liputan saya tinggalkan helm GM saya di kursi penonton, dan setelah saya pindah helm yang saya simpan awalnya di dekat saya itu ketingggalan karena saya lupa karena mau menyaksikan pertandingan dari tempat yang bagus yakni sebelah tepi barat lapangan, sedangkan awalnya saya duduk di sebelah tepi utara lapangan.
Saya lupa benar dengan helm itu, dan baru saya ingat ketika saya hendak pulang, setelah dilihat ke tempat semula raib tanpa bekas, kala itu memang masih ngetrennya helm GM dan tidak boleh simpan disembarang tempat sebab rawan pencurian. Kala itu juga masih belum ada helm KYT yang lebih negtren setelah beberap bulan GM laris.
Apes lagi, apes lagi. Namun meski helm saya hilang, saya tidak terlalu memikirkan dan saya mengikhlaskan betul kehilangan itu. Seakan tiada nyesal atau berat. Dan saya meniatkan dalam hati helm itu saya sedekahkan pada orang yang mengambil. Entah kenapa kala itu saya ingat pada pelajaran Alquran Hadis ketika aliyah, pernah saya mendengarkan penjelasan dari bapak guru amat besar orang mengikhlaskan dengan menganggap menjadikan sedekah apabila kehilangan sesuatu. Dan bahkan kala itu saya yakin, dan sangat yakin bahwa Allah akan memberi yang lebih kepada ketimbang jumlah helm saya yang hilang. Apes ya tetap apes.
Sampai di rumah, setelah ibu tahu helm saya hilang beliau sedikti ngomel, “nyimpan gimana, tidak hati-hati, bukan murah harga helmnya,” begitulah omelan itu kala itu. Namun saya tetap saja diam dan lebih mengikhlaskan.
Syukurnya, meski sampai kehilangan helm, berita olahraga itu yang saya kirim pada bang Yus (Redaktur Borneo Metro) diterbitkan. Saya tahu karena beliau mengirim SMS kepada saya pada seok paginya. Setelah saya beli Koran dan ada nama Ubay KPI sebagai penulis, saya sangat merasa bangga karena telah punya karya yang dibaca banyak orang meskipun itu kala pertama nama saya tercantum di media massa. Terharu, bangga, dan sangat senang. Sampai-sampai tulisan itu saya kasi tahukan kepada kawan-kawan sekelas waktu itu masih semester pertama. Saking senengnya sampai saya kliping dan foto kopi berita itu dan saya tempelkan di madding dakwah di kantor Jurusan Dakwah STAIN Pontianak.
Keyakinan saya bahwa Allah akan memberi lebih dari nilai kehilangan helm saya ternyata betul. Sat ini bukan hanya mampu untuk kembali membeli helm GM atau KYT, namun sekarang sudah mampu kredit note book, belii kamera, biaya kuliah sendiri, dan bantu biaya sekolah keponakan. Alhamdulillah, ternyata musibah itu datang hanya sebagai ujian atau cobaan. Dan saya berharap kebahagian yang saya terima saat ini bukanlah suatu suapan dari Allah.
Al Yakiinu la yuzaku bissyak “Keyakinan yang kuat tidak bisa dihapus oleh keraguan”  alhadis aukama qol.